PEREMPUAN ini komplit; cantik, seksi, gemulai dan menggoda. Dia juga cerdas. Sayangnya dia menjual diri dan jiwanya.
Perempuan ini adalah Margaretha Geertruida (baca: Grietje) Zell.
PEREMPUAN ini komplit; cantik, seksi, gemulai dan menggoda. Dia juga cerdas. Sayangnya dia menjual diri dan jiwanya.
Perempuan ini adalah Margaretha Geertruida (baca: Grietje) Zell.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
PROLOG di atas adalah cara Pramoedya Ananta Toer menyampaikan pesan tentang begitu mulianya aktivitas menulis –melalui tokoh Minke dalam buku Rumah Kaca, episode terakhir tetralogi Pulau Buru.
SAYA selalu ingat masa-masa indah itu. Ketika masih berstatus wartawan magang, saya sering kena semprot redaktur yang biasa saya panggil “Mas” –kendati jika melihat jarak usia kami beliau lebih pantas saya panggil “Pak”.
Hardikan penguasa halaman surat kabar itu terlontar karena alasan yang wajar. Saya malah sangat berterimakasih sudah dibegitukan.
HANYA sedikit yang saya tahu tentang sosok ini. Tapi, dari sedikit referensi yang saya kumpulkan dengan cara menjahit beberapa sumber yang berserakan itu, saya langsung memutuskan kalau seharusnya jurnalis itu seperti dia.
Karakter seperti inilah yang selalu ingin saya duplikasi sejak saya mulai memutuskan untuk menjadi seorang wartawan. Jurnalis yang bekerja dalam “jurnalisme bebas ongkos balas budi terhadap kapital” dan tak akan membuat sebuah repotase menjadi canggung. Dia adalah seorang pria tua 79 tahun yang hidup di Prancis. Namanya Claude Angeli.
SAYA bukan ahli bahasa. Tapi, dengan intuisi dan logika yang sederhana, saya merasa ada yang sedikit janggal dengan pemilihan kata ganti yang seringkali itu dikutipkan di berbagai media, baik cetak, online, bahkan televisi.
Kata ganti itu adalah “kami” dan “kita”.