Tentang satu kisah pada sebuah waktu di tahun 1997.
TAK terhitung berapa lama Pria itu membiarkan hatinya tak berpenghuni. Sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri terkenal di Surabaya, dia terlalu menghayati perannya sebagai pribadi yang harus belajar. Dia terlalu sibuk menjejali otaknya dengan referensi keilmuan. Dan untuk bidang satu itu, dia boleh bangga. Dia unggul. Kawan-kawan dan dosen menyebutnya cerdas.
Tapi, sebagai manusia lengkap, yang juga punya afeksi di samping kognisinya yang mumpuni, pria itu bersikap tidak adil. Entah disengaja atau tidak, dia lebih memanjakan kemampuannya bernalar dan mengabaikan kebutuhannya untuk merasa. Hatinya dibiarkan terbengkalai.
Hingga waktu menyadarkannya dengan sebuah sentilan dalam gulirnya.