“Aku tak tahu, apakah yang aku lakukan sekarang dosa atau bukan. Yang pasti aku percaya Tuhan punya cara sendiri ketika memutuskan apakah seseorang harus masuk surga atau neraka. Tuhan Maha Adil.” –Yoen, seorang wanita panggilan—
“Aku tak tahu, apakah yang aku lakukan sekarang dosa atau bukan. Yang pasti aku percaya Tuhan punya cara sendiri ketika memutuskan apakah seseorang harus masuk surga atau neraka. Tuhan Maha Adil.” –Yoen, seorang wanita panggilan—
NoName
KETIKA pertama kali kata ”politik” mampir di telinga kecilku, rasa ingin tahu mendorongku untuk bertanya pada Bapak –yang sedang sibuk membereskan berkas salah satu partai oposisi di era Orde Baru yang beliau ikut merawatnya; ”Politik itu apa sih, Pak?”
Beliau hentikan sejenak beres-beres berkas. Lalu Bapak tampak berfikir. Mungkin mencoba mencari analogi jawaban yang pas, yang bisa diterima otak 7 tahunku. Dan Beliau menjawab; ”Politik itu bermain layang-layang.”
INI adalah catatan kecil lama, yang saya modifikasi ulang sesuai situasi kekinian. Ini adalah cerita tentang mindset keagamaan sekarang, yang kalau boleh saya beropini, benar-benar mbeleset.
Umat modern, yang mengaku percaya Tuhan sebagai pemilik dan pengendali seluruh isi semesta alam ini, terkesan malah sama sekali tak punya takut pada Dzat serba-Maha itu. Umat lebih lebih takut pada imam, se-mbeleset apapun ajarannya. Padahal, jelas-jelas seorang imam itu nggak ada apa-apanya dibanding Tuhan. Lha wong imam itu kan juga manusia, ciptaan Tuhan.
Ini catatan kecil tentang ke-taktakut-an umat pada Tuhan, lebih tunduk pada titah imam dan mengesampingkan firman Tuhan. Daripada nantinya cerita ini jadi fitnah yang terkesan menjelek-jelekkan orang lain, saya contohkan pengalaman diri saya sediri saja.
DI ANTARA lipatan ingatan ini terselip sebuah cerita tentang gunung; panggung yang selalu menyuguhkan rasa nyaman. Disediakan pada siapa saja yang mau menyapanya sebagai sahabat. Mendiami gunung adalah pilihan bersahaja. Mereka yang berdomisili jauh dari peradaban kota itu tak pernah berhitung sedemikian rumitnya.
Di gunung pula aku kenal Pak Rebo. Atau Rabu dalam bahasa Indonesia. Nama yang sederhana, memang. Begitu simpel orangtua “nggunung” menamai anak mereka, sebagaimana bapak-ibu Pak Rebo menamainya, sesimpel cara hidup mereka. Tak perlu berpikir terlalu rumit untuk menandai anaknya. Lahir hari apa, begitulah si anak dinamai.