<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362</id><updated>2012-01-04T10:29:13.202+07:00</updated><category term='Hot'/><category term='Uneg-uneg'/><category term='Sport'/><category term='History'/><category term='Romance Story'/><category term='Dunia Masa Depan'/><category term='Buka Mata'/><category term='Sekitar Kita'/><category term='Politik'/><category term='Memori'/><category term='Opiniku'/><category term='Curhat'/><title type='text'>Meniti Alur Imajinasi</title><subtitle type='html'>Nikmati, Pahami, dan Beraksi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>106</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-5345338120290500598</id><published>2012-01-04T10:29:00.000+07:00</published><updated>2012-01-04T10:29:13.216+07:00</updated><title type='text'>Setia Hati Menghantarkan Selamat Lahir-Batin</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.adakita.com/article-717-setia-hati-menghantarkan-selamat-lahir-batin.html#.TwPHaicGWeE.blogger"&gt;Setia Hati Menghantarkan Selamat Lahir-Batin&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-5345338120290500598?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.adakita.com/article-717-setia-hati-menghantarkan-selamat-lahir-batin.html#.TwPHaicGWeE.blogger' title='Setia Hati Menghantarkan Selamat Lahir-Batin'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/5345338120290500598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2012/01/setia-hati-menghantarkan-selamat-lahir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5345338120290500598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5345338120290500598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2012/01/setia-hati-menghantarkan-selamat-lahir.html' title='Setia Hati Menghantarkan Selamat Lahir-Batin'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-637551387662927803</id><published>2012-01-04T08:28:00.001+07:00</published><updated>2012-01-04T08:29:25.698+07:00</updated><title type='text'>Menelusuri Fondasi Setia Hati</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-t63m1WjD9Sg/TwOqUhGCDvI/AAAAAAAAAc8/OpnnbhPsFko/s1600/Eyang+Suro.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="198" src="http://2.bp.blogspot.com/-t63m1WjD9Sg/TwOqUhGCDvI/AAAAAAAAAc8/OpnnbhPsFko/s200/Eyang+Suro.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ki Ngabehi Surodiwiryo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;SETIA HATI. &lt;/b&gt;Sudah, itu saja nama asli perguruan asli Madiun ini. Tanpa embel-embel nama lain di belakangnya. Hanya SH. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setia Hati bisa disebut sebagai organisasi yang lengkap. Mengajarkan bagaimana cara keluar dari permasalahan hidup, dengan menggabungkan kebutuhan jasmani dan rohani. Dua kebutuhan itu lalu dilebur dalam gerak indah untuk pertahanan diri, yang akhirnya diberi nama pencak silat. Pencak silat dalam arti untuk pertahanan lahir batin, bukan untuk gubrak-gabruk adu fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ki Ngabehi Surodiwiryo yang punya inisiatif untuk melahirkan ajaran Setia Hati. Di Jl Gajah Mada No 41, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, ajaran ini mulai diperkenalkan oleh pria flamboyan yang akrab disapa Eyang Suro itu pada khalayak pada tahun 1903. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Filosofi dasar ajaran Setia Hati sebenarnya sangat luhur dan manusiawi. ”Setia Hati memiliki makna setia menuruti kehendak hati yang luhur untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa,” papar Koes Soebakir, pengesuh Setia Hati –atau menurut istilah SH disebut pengecer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SH, kata Koes, memberikan suatu pelajaran untuk mendapatkan keselamatan. Secara teknis, memberikan pelajaran lahiriah berupa pencak silat dan pelajaran batiniah berupa upaya sungguh-sungguh untuk mendalami ajaran ke-Tuhan-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dua hal tersebut dipadukan sehingga melahirkan satu gerak, baik refleks fisik maupun rasa, sehingga bisa memecahkan permasalahan yang dihadapi, menghindarkan diri dari marabahaya, dan dengan begitu seorang warga SH bisa selamat. Dan perpaduan itulah yang disebut sebagai pencak silat, buah dari kolaborasi jasmani dan rohani yang luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencak silat SH itu untuk melindungi diri. Untuk mengeluarkan seorang SH dari permasalahan hidupnya. Bukannya untuk mencari masalah dengan main hajar orang lain. ”Kalau saja semua SH berpedoman pada pakem yang diajarkan Ki Ngabehi Surodiwiryo, tidak akan pernah ada insiden. Karena seorang SH sejati pasti akan menghindari perbuatan yang tidak pantas, seperti mencelakai orang lain,” kata Koes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SH asli, yang saat ini lebih dikenal dengan nama SH Panti, tidak pernah merekrut anggota. Tapi, para pengurus memilih istilah “menghantar” siapa yang berminat untuk masuk ke dalam SH. Mereka pun cukup selektif untuk memilih calon warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Calon warga SH harus memenuhi dua syarat. Pertama, benar-benar punya niat kuat untuk mempelajari SH yang murni. Yang kedua dewasa, dalam artian sudah bisa membenarkan mana yang baik dan buruk atau benar dan salah,” kata Koes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan SH lainnya, seperti SH Terate dan Tunas Muda --keduanya turunan dari SH Panti—yang umumnya merekrut calon warga dalam skala massif, di SH Panti sekali masuk maksimal hanya dua orang. ”Menurut perhitungan ajaran SH tidak boleh lebih dari orang. Ajaran itu murni dari Ki Ngabehi Surodiwiryo,” terang pengecer ke-7 SH Panti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang membuat SH Panti terkesan adem ayem. Pemilihan anggotanya cukup selektif, sehingga pengajaran benar-benar fokus dan mengena. Menurut Koes Soebakir, seorang SH Panti dijamin tidak akan melenceng dari ajaran dan tujuh sumpah yang diucapkan ketika ditahbiskan sebagai seorang SH. ”Kalau melanggar sumpah tidak akan selamat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga karena alasan itulah SH Panti bukan tipikal SH yang suka menggelar unjuk kekuatan massa. Karena memang bukan itu tujuan SH. Tapi lebih pada pengajaran pada masing-masing individu SH menjadi pribadi yang matang lahir-batin dan selamat dunia-akhirat. Ajaran SH untuk individu, bukan untuk kelompok. Dan ajaran SH hanya diberikan pada warga yang sudah memenuhi syarat dan dikecer, tidak disebarluaskan secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, SH masih eksis dengan nama SH Panti. Pusat kegiatannya di rumah yang pernah ditempati Eyang Suro bersama istrinya, Ny Sariati. Suasana rumah yang kemudian disebut panti itu memang adem ayem, jauh dari kesan ingar-bingar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana itu seperti pencerminan dari kehidupan Ki Ngabehi Surodiwiryo, seorang pekerja di Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) Madiun pada zaman kolonial Belanda, yang menjalani hidup bersahaja dan tenang. Tidak mengangkat dagu kendati dia adalah keturunan darah biru bila ditarik dari garis darah Betoro Katong penguasa Ponorogo zaman dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dijalankan Tiga Badan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zBrTJFKckfI/TwOqtKWSIKI/AAAAAAAAAdI/VxWgslyPOVE/s1600/4-Januari-2012_Suasana+SH+Panti.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-zBrTJFKckfI/TwOqtKWSIKI/AAAAAAAAAdI/VxWgslyPOVE/s200/4-Januari-2012_Suasana+SH+Panti.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pengurus organisasi SH Panti sekarang.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Secara organisasi, SH Panti dijalankan oleh tiga unsur, yaitu Badan Pengesuh atau Pengikat, Badan Pengasuh, dan Badan Pertimbangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut Pengesuh, berasal dari  kata dasar esuh, dalam bahasa Jawa berarti pengikat lidi. Pengesuh bisa diartikan sebagai pemersatu yang bertanggung jawab terhadap SH. Yang bisa menjadi seorang pengesuh harus warga tingkat tiga, seperti Koes Soebakir. Dari Badan Pengesuh inilah akan diangkat juru kecer, yang akan mengesahkan seseorang sebagai warga SH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Badan Pengasuh bertanggung jawab atas rumah tangga SH. Yang mengemban peran ini tidak harus tingkat tiga layaknya Pengesuh. Tugasnya sebagai pelaksana upacara kecer, Suran, atau silaturahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Pertimbangan bertugas memberikan pertimbangan, referensi, dan bagaimana keputusan yang akan diambil oleh organisasi. ”Tapi bukan berarti mendominasi badan pengesuh maupun pengasuh,” Koes menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pecah Karena Pilihan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya SH memang hanya satu. Tapi, dalam kondisi kekinian, ada empat SH yang eksis, yaitu SH Panti, SH Terate, SH Organisasi, dan SH Tunas Muda. SH Panti, Terate, dan Tunas Muda terpusat di Madiun, sementara SH Organisasi lahir dan besar di Semarang, Jawa Tengah. Mereka pecah karena pilihan sikap masing-masing. Dan hanya SH Panti yang mengaku masih menjalankan pakem ajaran asli Ki Ngabehi Surodiwiryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan sejarah Setia Hati, SH Terate didirikan oleh Hardjo Oetomo di Desa Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun pada tahun 1922. Sampai sekarang, pusat kegiatan SH Terate ada di Jl Merak, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Taman, Kota Madiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pada tahun 1932, Munandar Hadiwijoto memilih mendeklarasikan SH Organisasi di Semarang. Selang tiga dikade setelah SH Organisasi lahir, R Djimat Soewarno juga memisahkan diri dari SH Panti, untuk kemudian mendirikan SH Tunas Muda Winongo yang berpusat di Jl Doho, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang asli berdiri dari tahun 1903 sampai sekarang adalah SH Panti,” kata Koes Soebakir. Tentang latar belakang kenapa ada perpecahan, kata Koes, ”Itu pilihan kepentingan masing-masing pendiri yang tak ada hubungannya dengan SH Panti.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SH Terate, Organisasi, dan Tunas Muda memisahkan diri dari SH Panti. Tak ada hubungan organisasi atau keilmuan, kendati pada dasarnya berasalah dari fondasi yang sama. “Secara prinsip hubungan kami dengan semua SH baik-baik saja,” Koes memastikan.(tofikpram)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuh Pengesuh atau Pengecer Setia Hati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ki Ngabehi Surodiwiryo (1903-1944)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Koesnandar (1944-1947/Bupati Madin kala itu)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kolonel Singgih dari Akademi Militer Nasional Magelang (1947-1957)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadi Subroto (1957-1977)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karyadi (1957-1977)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Soemarto (1978-1998)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Koes Soebakir (1998-Sekarang)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-637551387662927803?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.adakita.com' title='Menelusuri Fondasi Setia Hati'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/637551387662927803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2012/01/ki-ngabehi-surodiwiryo-setia-hati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/637551387662927803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/637551387662927803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2012/01/ki-ngabehi-surodiwiryo-setia-hati.html' title='Menelusuri Fondasi Setia Hati'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-t63m1WjD9Sg/TwOqUhGCDvI/AAAAAAAAAc8/OpnnbhPsFko/s72-c/Eyang+Suro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-7191592657438169296</id><published>2011-12-15T11:54:00.001+07:00</published><updated>2011-12-15T11:55:35.394+07:00</updated><title type='text'>Pohon Mangga di Depan Rumah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QFL7gPQlPUM/Tul9PQhlAOI/AAAAAAAAAcs/qN0DcJZonu0/s1600/CircleOfLife.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-QFL7gPQlPUM/Tul9PQhlAOI/AAAAAAAAAcs/qN0DcJZonu0/s320/CircleOfLife.jpg" width="281" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;SEISI &lt;/b&gt;kampung tahu kalau pohon mangga di depan rumah, yang ditanam Bapak lebih dari sepuluh tahun lalu itu, adalah pohon paling dahsyat. Setiap kali berbuah, selalu saja bikin keki yang melihat. Mangganya gumandul, sangat lebat. Bahkan bisa saja jumlah buahnya nyaris sama dengan daunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara dua-tiga bulan lalu adalah puncaknya musim mangga. Pohon di depan rumah begitu seksi. Sangat menggoda. Tetangga kanan-kiri pada melirik. Orang luar kampung yang melintas di depan rumah selalu menancapkan pandangan pada pohon itu. Mereka terkesima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara dan sahabat pun demikian. Jauh-jauh mereka datang, berkumpul, bersenda gurau, berbagi cerita di rumah kecil kami ini sambil menyinggung-nyinggung mangga yang begitu wah itu. Karena mangga itu tidak mungkin habis kami makan sekeluarga, kami membagikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tidak pernah berniat menjualnya, padahal tak cuma sekali-dua kali pemborong menawarnya. Kata Bapak, mangga itu adalah rezeki yang harus dibagikan, bukan diuangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menumbuhkan mangga itu untuk merekatkan dan mengikat persaudaraan. Saudara dalam bentuk luas, yaitu orang-orang yang mau bersama kita, siapapun itu; saudara kandung, kerabat, tetangga, kawan, kenalan, rekan kerja, siapapun itu. Kerekatan itu bisa dibangun dengan berbagi. Salah satu caranya, membagikan buah musiman tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bapak mengajarkan berbagi, bukan jual beli. Berbagi akan melahirkan sebuah hubungan dan pengertian yang berumur panjang. Sedangkan hubungan jual-beli akan berhenti jika sudah tak ada lagi transaksi, tak lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang, sejauh pohon mangga depan rumah berbuah, banyak yang datang ke sini. Kami menikmati bersama-sama manisnya buah itu. Kami seperti benar-benar terikat. Dan mangga itu hanyalah perantara, bukan inti dari ikatan itu. Tapi tetap saja ampuh. Kami senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami optimistis, karena kami bersama-sama. Sudah sewajarnya manusia merasa aman dan nyaman dalam kebersamaan, karena makhluk satu ini selalu tidak siap untuk hidup sendiri –sekiranya itulah kesimpulan para maestro psikologi behavioris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim mangga telah berlalu. Buahnya habis. Tak ada lagi yang bisa dinikmati. Daun-daun pohon idola di depan rumah itu kering dan meranggas. Rontok, untuk kemudian digantikan daun-daun muda yang akan meneruskan proses fotosintesis menuju musim mangga berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya harus sendirian membersihkan rontokan daun-daun kering itu. Semua memang kewajiban saya sebagai yang bertanggung jawab terhadap rumah. Membersihkan sampah daun mangga, merawat pohonnya, menyiramnya jika hujan tidak turun, dengan harapan dia mau berbuah lagi musim depan. Sehingga ada lagi yang datang kembali ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan memang sebuah siklus. Begitu juga yang diintepretasikan pohon mangga di depan rumah. Ada saatnya berbuah, ada saatnya meranggas, ada saatnya tumbuh. Tapi, kadang kita tidak siap menerima sirkulasi itu. Terutama ketika sampai pada tahap meranggas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita begitu optimistis ketika berbuah, namun gembos ketika meranggas. Padahal, meranggas bukanlah tujuan akhir. Itu adalah salah satu proses untuk menuju musim buah berikutnya. Jika kita tangguh dalam merawat ranggasan itu, memelihara pohonnya dengan telaten dan penuh harapan, sangat mungkin musim depan buahnya lebih dahsyat. Hanya saja, tak banyak yang bisa bersabar menunggu musim depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberi pelajaran pada manusia melalui isyarat seisi alam semesta ciptaan-Nya. Dan saya berusaha belajar pada pohon mangga di depan rumah. Memandanginya sembari duduk di kursi sofa di depan rumah –kursi yang setia menemani almarhumah Ibu menikmati hari-hari terakhir beliau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-7191592657438169296?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/7191592657438169296/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/12/pohon-mangga-di-depan-rumah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7191592657438169296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7191592657438169296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/12/pohon-mangga-di-depan-rumah.html' title='Pohon Mangga di Depan Rumah'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-QFL7gPQlPUM/Tul9PQhlAOI/AAAAAAAAAcs/qN0DcJZonu0/s72-c/CircleOfLife.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-1377534983789596964</id><published>2011-12-14T12:54:00.002+07:00</published><updated>2011-12-14T13:08:21.155+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>Situs Berita-Jejaring Sosial dalam Satu Paket</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dCeLQagOAwc/Tug5rDDWAbI/AAAAAAAAAb0/Hv47jSm0c9I/s1600/Adakita.png" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="88" src="http://2.bp.blogspot.com/-dCeLQagOAwc/Tug5rDDWAbI/AAAAAAAAAb0/Hv47jSm0c9I/s320/Adakita.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;ANDA &lt;/b&gt;ingin menjadi jurnalis? Melaporkan banyak hal yang terjadi di sekitar Anda? Menganalisa, mungkin? Atau beropini? Bahkan menambah jaringan pertemanan? Meleburlah bersama &lt;a href="http://adakita.com/"&gt;&lt;b&gt;adakita.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Situs yang lahir di sebuah kota kecil tapi dinamis, di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah bernama Madiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;@dakita.com &lt;/b&gt;adalah sebuah portal yang menggabungkan dua tren pola komunikasi yang sedang digandrungi di dunia maya: situs berita dan jejaring sosial. Menu utama &lt;b&gt;@dakita.com&lt;/b&gt; memang layaknya sebuah portal berita. Eits, tapi jangan salah. Berita yang kita sajikan di sini bukan hanya informasi yang diproduksi oleh internal situs, tapi lebih diutamakan dari pengunjung &lt;b&gt;@dakita.com.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bisa menyumbang informasi apa saja tentang semua hal yang mungkin penting bagi banyak orang tapi luput dari bidikan wartawan. Dan inilah yang disebut dengan citizen journalism, jurnalisme yang melibatkan publik untuk berperan aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun bisa menjadi wartawan yang menyumbangkan informasi berita tertulis, foto, maupun rekaman video. Untuk mendaftar sebagai jurnalis cukup mudah. Mendaftar saja pada tab di sebelah kiri atas halaman situs. Tunggu hingga admin kita mengonfirmasi, dan Anda pun resmi menjadi wartawan yang bisa menyumbangkan berita di adakita.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda sudah tercatat sebagai jurnalis adakita.com, maka Anda bisa berinteraksi langsung dengan teman-teman kita jurnalis lain dalam bentuk pertemanan. Anda bisa saling berkirim pesan dan berkomunikasi layaknya di jejaring sosial. Juga bisa berkonsultasi langsung dengan editor yang menyaring berita-berita Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;@dakita.com &lt;/b&gt;dibangun layaknya ruang redaksi dunia maya. Ada proses komunikasi dinamis dan belajar bersama. Semua bisa jadi wartawan, dan semua wartawan bisa berkunsultasi dengan editor, dengan catatan sudah terdaftar sebagai jurnalis yang di-approve oleh admin kita. Jika enggan menulis berita utuh tapi tetap ingin berpendapat, ada kolom komentar yang mewadahi opini-opini singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin beriklan? Cukup mudah. Dalam tab interaktif, &lt;b&gt;@dakita.com&lt;/b&gt; juga menyediakan tab yang memungkinkan siapa saja bisa beriklan secara langsung. Tapi, untuk bisa tayang, sebuah iklan harus melalui proses verifikasi, layaknya pemasangan iklan di media lain. Hanya saja, kita lebih bebas menentukan materi maupun tampilan sesuai dengan keinginan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal menarik yang bisa kita dapat pada situs&lt;b&gt; @dakita.com&lt;/b&gt;. Karena itu, marilah bergabung. Marilah berinteraksi, berdiskusi, promosi, dan memperluas relasi, dan menjadi satu kesatuan dalam KITA di &lt;b&gt;@dakita.com&lt;/b&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-1377534983789596964?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.adakita.com' title='Situs Berita-Jejaring Sosial dalam Satu Paket'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/1377534983789596964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/12/situs-berita-jejaring-sosial-dalam-satu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1377534983789596964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1377534983789596964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/12/situs-berita-jejaring-sosial-dalam-satu.html' title='Situs Berita-Jejaring Sosial dalam Satu Paket'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-dCeLQagOAwc/Tug5rDDWAbI/AAAAAAAAAb0/Hv47jSm0c9I/s72-c/Adakita.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-4989206618563395280</id><published>2011-09-28T17:48:00.001+07:00</published><updated>2011-09-28T17:51:28.795+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>Syarat Administrasi</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ini cerita dari sebuah kota kecil.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-61FCHGJ9gEg/ToL7XmmIUOI/AAAAAAAAAbg/0dfT122pbmw/s1600/malaikat2bmaut.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-61FCHGJ9gEg/ToL7XmmIUOI/AAAAAAAAAbg/0dfT122pbmw/s200/malaikat2bmaut.jpg" width="128" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Sebut &lt;/b&gt;saja namanya Pipit. Umurnya 3 tahun. Bocah yang masih dalam tahap mengenal dunia ini kebetulan mbrojol dari rahim seorang ibu yang suaminya hanya berpenghasilan Rp 400 ribu per bulan. Sesuai dengan standar taraf hidup di Indonesia, keluarga Pipit hidup di bawah garis kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari badan Pipit panas tinggi. Obat penurun panas yang dibeli bapaknya di warung pracangan tak mampu menurunkan panasnya. Tiga hari tiga malam Pipit tak bisa tidur tenang. Badannya digerogoti demam luar biasa. Kondisi yang sangat menyiksa untuk bocah seumuran dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Bapak-ibunya bingung. Dengan sisa uang yang sebenarnya lebih perlu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, orangtua Pipit memanggil mantri yang tinggal tak jauh dari rumah. Oleh si mantri, Pipit divonis demam berdarah gawat yang harus segera dirujuk ke rumah sakit daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga yang tak punya dana cadangan bingung. Lalu mereka mendapatkan arahan untuk mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk jadi bekal rekomendasi pengurusan di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipit makin kritis dan harus segera dibawa ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak-ibu Pipit bingung cara mengurus SKTM. Sosialisasi tidak pernah dilakukan efektif oleh pemerintah daerah. Dengan bimbingan tetangga yang ngerti, mereka mulai menyusuri langkah-langkah administratif untuk penerbitan surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengurus hak jatah negara sepertinya masih menjadi hal yang sulit. Ganjalannya masih saja soal administrasi. Untuk mendapatkan layanan harus ada surat pengantar RT – kelurahan mengetahui – kecamatan mengesahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, ketika Pipit sekarat Pak RT sedang tidak ada di tempat. Pengantar tak bisa didapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermaksud tempuh jalan pintas ke kelurahan, Pak Lurah malah ogah. Tidak berani bertindak tanpa pengantar karena takut salah arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga yang semakin bingung coba langsung ke Pak Camat. Tapi si pejabat angkat tangan. Khawatir menyeleweng dari syarat administrasi. Tidak ada pengesahan pengantar untuk berobat si Pipit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Pipit tak berhasil dirujuk ke rumah sakit. Terlalu banyak syarat membuat sistem kerja jadi lambat. Demamnya makin gawat. Sekitar dua jam setelah upaya bapaknya memohon tanda tangan Pak Camat, cerita hidup Pipit yang singkat pun lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuslah harapan keluarga Pipit untuk melihat si kecil selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat maut bekerja lebih cepat karena Tuhan tidak pernah menetapkan syarat administrasi dalam struktur kerja-Nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-4989206618563395280?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/4989206618563395280/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/09/ini-cerita-dari-sebuah-kota-kecil.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/4989206618563395280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/4989206618563395280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/09/ini-cerita-dari-sebuah-kota-kecil.html' title='Syarat Administrasi'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-61FCHGJ9gEg/ToL7XmmIUOI/AAAAAAAAAbg/0dfT122pbmw/s72-c/malaikat2bmaut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-6736267804661468750</id><published>2011-09-26T16:04:00.001+07:00</published><updated>2011-09-26T16:06:39.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>Catatan Iseng Panas-panas</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-OT8_t7aZmvU/ToA_3QzehfI/AAAAAAAAAbQ/wKJ0IcnGh9A/s1600/Aliran+Sesat.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-OT8_t7aZmvU/ToA_3QzehfI/AAAAAAAAAbQ/wKJ0IcnGh9A/s200/Aliran+Sesat.jpg" width="143" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Mindset &lt;/b&gt;keagamaan sekarang benar-benar mbeleset. Umat, yang mengaku sangat percaya Tuhan, malah sama sekali tak punya rasa takut pada dzat serba-Maha itu. Tapi lebih takut pada imam, se-mbeleset apapun ajarannya. Padahal, jelas-jelas seorang imam itu nggak ada apa-apanya dibanding Tuhan. Lha imam itu kan juga ciptaan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini catatan kecil tentang ke-tak takut-an umat pada Tuhan, dan lebih memilih tunduk pada imam. Daripada jadi fitnah yang terkesan menjelek-jelekkan orang lain, saya contohkan saja diri saya sediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sahibul hikayat, awal tahun ini, saya yang kebetulan punya hajat untuk “mencoba kenal” Tuhan mendapat bimbingan dari seorang imam. Orang ini rock ‘n roll abis. Dia selalu memandang Islam dalam koridor paling sederhana tapi mengena. Panggil saja namanya Mas Topan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi jiwa yang sangat terkoyak-koyak saya datang padanya minta petunjuk. Dengan tangan terbuka dia mengingatkan kembali saya pada syariat sebagai seorang muslim. Yang harus saya lakukan untuk menambal iman saya yang jebol adalah salat, baca Quranulkarim, selanjutnya puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya saya nurut, lha yang merintah orang ngerti. Nurut, karena saya waktu itu merasa tidak mengerti apa-apa. Segala petunjuknya saya ho-oh saja. Disuruh salat, saya salat. Disuruh ngaji, saya ngaji. Disuruh puasa, ya saya puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari yang sangat terik, saya dianjurkannya menjalankan puasa sunah. Katanya, untuk membersihkan jiwa saya dan mendekatkan diri pada Sang Khalik. Puasa memang satu-satunya ibadah khusus untuk Tuhan. Sementara profit dari ibadah lain adalah untuk manusia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di tengah-tengah acara puasa di hari yang begitu menyembelih tenggorokan itu, saya diajak Mas Topan berkeliling kota. Tepat jam 12 siang. Matahari sedang angkuh-angkuhnya. Saya nurut saja, lha yang minta imam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia mengajak saya mampir ke warung nasi sate-gule kambing. Padahal saya puasa! Lalu disuruhnya saya pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Monggo, Mas, sampean pesan saja,” kata Mas Topan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, saya kan puasa? Nggak apa-apa to, Mas,” jawab saya bimbang tak karu-karuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah nggak apa-apa. Sekalian pesan minum,” katanya seolah-olah benar-benar yakin yang dikatakannya. Karena yang menyuruh imam, saya ya nurut. Lalu saya pesan makan-minum, dan batallah puasa saja dengan sengaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai makan, Mas Topan tanya pada saya, “Enak, Mas?” Ya saya jawab, “Iya, Mas,” dengan mimik innocent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya gitu itulah, Mas, orang Islam sekarang,” katanya tiba-tiba. Ya saya heran, kenapa tiba-tiba dia berkata begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Mas?” tanya saya dengan nada yang sangat kebingungan menangkap maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang Islam sekarang kebanyakan lebih takut pada imam daripada sama Gusti Allah. Lha sampean puasa itu kan yang merintah Gusti Pengeran. Untuk Gusti Allah. Sementara sampean makan itu yang nyuruh saya. Lalu, mana yang sampean turuti?” pertanyaan itu jelas menohok saya.  Saya cuma bisa cengar-cengir...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, memang begitulah. Perintah Tuhan seringkali diselewengkan hanya karena terlalu berkiblat pada imam. Kepercayaan tanpa disertai dalil kuat dan kecintaan kepada Tuhan malah membuat umat berbuat seenaknya sendiri. Dan umat lupa, bahwa Islam adalah agama orang berakal. Sementara terlalu membabi buta percaya pada imam tanpa pertimbangan rasio, jelas itu telah membunuh Islam dalam pikiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terjadilah aksi bom bunuh diri, baik di Solo maupun Cirebon. Dalam Alquran, Allah jelas tidak pernah memerintahkan membunuh, kecuali untuk mempertahankan diri dan keyakinan. Islam melarang umatnya melakukan pembunuhan tanpa alasan yang haq. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS. Al-Mâidah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kenyataannya? Dalil itu dikesampingkan, lalu terjadilah suicide bomber Solo dan Cirebon. Itu dilakukan karena perintah imam, pimpinan mereka yang salah kaprah dalam memahami Tuhan dan ke-Tuhan-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, memang inilah yang terjadi sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya kiamat memang benar-benar sudah dekat. Wallahualam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-6736267804661468750?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/6736267804661468750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/09/catatan-iseng-panas-panas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6736267804661468750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6736267804661468750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/09/catatan-iseng-panas-panas.html' title='Catatan Iseng Panas-panas'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-OT8_t7aZmvU/ToA_3QzehfI/AAAAAAAAAbQ/wKJ0IcnGh9A/s72-c/Aliran+Sesat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-7803890205126382601</id><published>2011-06-21T16:13:00.002+07:00</published><updated>2011-06-21T16:13:33.086+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uneg-uneg'/><title type='text'>Seharusnya...</title><content type='html'>&lt;b&gt;DALAM&lt;/b&gt; situasi yang sama, setahun lalu mungkin saya akan mengumpat. Ya, karena menunggu adalah situasi yang paling tidak diharapkan. Apalagi tidak jarang menunggu itu harus berakhir dengan kecewa. Menunggu naskah yang tak jarang harus hadir dalam bentuk yang “mengerikan” kendati dalam proses pengerjaannya sudah terkawal penuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu setahun lalu. Saat ini saya memilih untuk bersyukur dan bersabar. Toh, barangkali “anak-anak” masih mendapat rintangan di lapangan, persis seperti yang pernah saya alami di masa-masa itu. Maka dari itu, kini adalah saat yang tepat untuk memahami mereka, dan belajar untuk bersabar menghindari marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena setelah kejadian “yang itu” saya banyak belajar dan terngiang-ngiang terus oleh ucapan Benjamin Franklin: “Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu.” Dan itu memang sudah terbukti sahih. Dan hanya keledai yang harus terperosok ketiga kalinya di lubang yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabar itu memang perlu, dan Alquran –kitab yang semakin saya yakini setelah saya pelajari dengan sungguh-sungguh –mengajarkan itu. Kemarahan tak akan menghasilkan apa-apa kecuali penyesalan yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dialami Musa dalam petualangannya bersama Khidr, yang tertuang dalam Al-Kahf. Karena tak bisa mengendalikan kemarahan dan memilih untuk tidak bersabar, Musa pun urung mendapatkan ilmu dari Khidr. Padahal, sebelum mengikuti perjalanan spiritual Khidr, Musa sudah diperingatkan untuk bersabar dan tidak banyak bertanya agar ilmu kalam yang dianugerahkan Allah SWT pada Khidr bisa ditularkan pada Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  perjalanan itu, ada tiga momen yang membuat “ego kenabian” Musa mencuat dengan arogan. Khidr tiba-tiba melubangi dan menenggelamkan perahu yang baru saja ditumpanginya dengan Musa; membunuh seorang anak kecil yang bermain; dan membantu membangun tembok rumah seorang warga sebuah permukiman yang tak mau memberi bantuan pada Musa dan Khidr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musa melontarkan pertanyaan penuh emosi hanya karena melihat yang tampak, tapi lupa untuk menelaahnya. Memang, apa yang dilakukan Khidr itu sangat tidak berfaedah dan anti-agama. Merusak barang orang lain, membunuh, dan membantu orang yang jelas-jelas membenci mereka adalah hal yang menurut Musa harus dipertanyakan dan dikoreksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Musa lupa, kalau ilmu Khidr itu lintas-waktu. Dia tahu apa yang akan terjadi, di mana itu tidak diketahui oleh Musa. Khidr melakukan tindakan preventif yang tak bisa dipahami Musa karena sang nabi membunuh rasa sabarnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu ditenggelamkan karena itu adalah milik dari rakyat sebuah negeri yang dipimpin oleh pemimpin lalim yang suka merampas. Khidr menenggelamkannya agar tak dirampas oleh si pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil yang bermain dibunuh karena, menurut ilmu Khidr, ketika besar nanti dia akan menjadi kafir dan membunuh kedua orangtuanya. Dan ketika anak itu dibunuh, orangtua si anak akan melahirkan seorang anak yang berbakti, patuh, dan mengerti agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah warga sebuah negeri yang enggan membantu itu ditambal karena itu adalah rumah anak yatim yang berisi harta. Kalau tidak ditambal, harta itu akan dirampas penduduk yang serakah dan itu akan menyengsarakan anak yatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja Musa tahu itu semua, tentu sebagai nabi dia tak akan marah. Tapi kenyataannya, seperti terkutip dalam Quran, dia memilih marah. Walhasil, ilmu lintas-waktu yang seharusnya bisa dia dapat lepas begitu saja. Marah telah mencuatkan egonya sehingga dia lupa kalau ilmu Khidr itu jauh di atasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya malu yang Musa dapat, situasi yang persis seperti dikatakan Benjamin Franklin berabad-abad kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar itu memang perlu. Dengan mengendalikan tensi, banyak faedah yang akan didapat. Hati tidak akan meranggas, ilmu bermanfaat didapat, dan rezeki barokah pun diraih. Begitulah Quran mengajarkan bagaimana semestinya umat berbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan bersabar menunggu kiriman naskah, saya mengisinya dengan menulis corat-coret ini. Yang otomatis saya mendapat kesempatan untuk kembali mengasah kemampuan menulis saya yang hampir lapuk lantaran tak pernah saya asah selama satu semester penuh. Ini tentu bermanfaat untuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya hidup itu memang harus dijalani dengan hati yang bersih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-7803890205126382601?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/7803890205126382601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/06/seharusnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7803890205126382601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7803890205126382601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/06/seharusnya.html' title='Seharusnya...'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-4694898548813658426</id><published>2011-06-20T17:33:00.001+07:00</published><updated>2011-06-20T17:35:25.037+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uneg-uneg'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Give Thanks to Allah</title><content type='html'>&lt;b&gt;SEBELUMNYA &lt;/b&gt;permisi; kalau saja saya boleh menyeberang-artikan kata “kutuk” dalam ranah denotatif, saya memilih kalimat ini: sepertinya Tuhan mengutuk  saya untuk tak bisa lepas dari ide, komputer, dan cara mikir yang seringkali “gila” yang harus saya tuangkan dalam tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, setelah satu semester penuh absen dari dunia tulis menulis, akhirnya saya kembali menjahit kata dan kalimat. Oleh suratan saya kembali “dicemplungkan” dalam dunia ini. Saya cukup terkejut sekaligus senang. Karena memang, setelah sempat “purik” ingin “siwak” dengan dunia ini, saya akhirnya ditampar oleh takdir bahwa saya “diharamkan” meninggalkan dunia yang pernah membesarkan sekaligus membenamkan saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, setelah sempat hancur karena kebodohan luar biasa, kemarahan-kemarahan yang malah mempermalukan diri sendiri, remuknya motivasi hingga menyisakan serpihan-serpihan debu yang diembus badai, Allah Ta’Ala masih memberi saya kesempatan untuk reborn. Dan saya pun semakin sadar bahwa idiom “Tuhan menyayangi umat-Nya” itu seratus persen tepat. Kaisar Semesta Alam tak pernah membiarkan umatnya terpuruk, selama masih ada upaya untuk mereparasi diri, hati, dan berbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa berat untuk menutup yang telah lewat alhamdulillah berhasil saya lalui dengan sehat. Bayang-bayang kedigdayaan yang harus saya bangun dari nol dan hancur dalam hitungan detik karena salah langkah sudah berhasil saya hapus. Memang belum semua, tapi setidaknya sebagian besar telah hilang. Itu cukup untuk membuat jiwa ini enteng. Lalu siap melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, sekarang saya memang harus me-reply momen-momen seperti sepuluh tahun lalu, ketika semua harus saya bangun dari fondasi paling elementer. Start benar-benar nol. Tapi, wafatnya Ibu setelah tabah memendam sendiri sakitnya selama lima tahun, ketabahan dan suntikan semangat dari Bapak –pria idaman menurut mata saya –dan gerojokan sayang yang tak pernah habis dari kakak-kakak yang cantik, saya punya energi untuk terus berbuat dan berbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama Tuhan juga sudah membuka mata saya kalau TEMAN –orang yang datang saat kita jatuh, memapah kita untuk kembali belajar berjalan– itu benar-benar ada. Justru orang-orang yang dikirim Allah itu adalah orang-orang yang di masa lalu tak begitu saya anggap. Ternyata malah kehadiran mereka di masa-masa gelap saya adalah barokah dari Raja Semesta untuk saya. Dan ini membuat saya sangat malu pada Yang Punya Hidup, sekaligus mengucapkan terima kasih yang tak putus-putus pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naluri saya pun tumbuh. Rentetan prestasi yang pernah dirampas oleh kezaliman subyektif saya, harus saya rebut kembali. Kalau sepuluh tahun lalu saya bisa melakukannya, tentu sekarang saya pun bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berpegang teguh pada Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya. Adapun jika segumpal darah tersebut rusak, maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...insya Allah saya bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan hidayah-Nya, bersama dukungan dan kasih sayang Ibu di Surga, bersama dorongan keluarga, bersama teman-teman berusaha untuk mengubah nasib sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, seperti dalam QS Ar-Ra’d ayat 11;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah, saya mulai kembali semuanya dari awal. Saya sedang kembali bermetamorfosa untuk kedua kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I give thanks to Allah for this second chance. Hamdalah....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-4694898548813658426?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/4694898548813658426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/06/give-thanks-to-allah.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/4694898548813658426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/4694898548813658426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2011/06/give-thanks-to-allah.html' title='Give Thanks to Allah'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-718020942853282440</id><published>2010-11-07T18:23:00.004+07:00</published><updated>2011-03-09T10:16:41.312+07:00</updated><title type='text'>Jangan Dulu Tutup Dolly  </title><content type='html'>&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-dlqaHNJwl6k/TXbxAckXgPI/AAAAAAAAAZM/O02iQ8AFA2U/s1600/dolly.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="227" src="https://lh3.googleusercontent.com/-dlqaHNJwl6k/TXbxAckXgPI/AAAAAAAAAZM/O02iQ8AFA2U/s320/dolly.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gang Dolly&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Norma kesopanan rupanya sedang booming di Surabaya. Akhlak dibicarakan, dijunjung, bahkan disembah-sembah. Yang bertentangan dengan itu harus diberangus. Dan yang (lagi-lagi) jadi sasaran adalah kawasan wisata birahi paling top bernama Dolly.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kondangnya sentra bisnis esek-esek ini rupanya membuat Surabaya risih. Masalahnya, lagi-lagi, soal citra dan norma. Soal ancaman terhadap moral generasi penerus. Surabaya yang di Indonesia ini memang masih "timur". Penganut dogma orientalisme yang memutuskan untuk bersikap kaku terhadap hal yang (dengan semena-mena) dikategorikan tak pantas. Dan seksualitas --yang dijual bebas di Dolly-- adalah salah satu ketakpantasan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dolly yang begitu kondang sampai ke luar negeri --bahkan ada pameo wisatawan manca belum "melihat Surabaya" sebelum menjelajah kawasan Jalan Jarak dan sekitarnya itu-- membuat pemerintahan "ngeri". Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengawali lontaran wacana tutup Dolly, didukung oleh Pemerintah Kota Surabaya yang berniat membuat risih para tamu "perempuan etalase" dengan memata-matai mereka via CCTV, sampai Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jatim pun menyerukan "berangus" maksiat di Dolly.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yah, apapun itu, alasannya klise. Karena itu merusak akhlak, amoral, porno, atau apalah rentetan istilah jelek lainnya yang bisa "menciderai" citra Surabaya dan Jatim yang "nyantri" atau Nahdliyin. Parameternya adalah sesuatu yang tampak. Karena "lonte-lonte" diumbar di depan etalase, untuk dipilih, lalu disenggamai tanpa ikatan pernikahan yang itu diartikan dosa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ya cuma yang tampak itu saja. Citra kasat mata yang jadi dasar pemikiran "babat Dolly". Di saat bersamaan, peran lokalisasi buah karya seorang perempuan Belanda yang namanya diabadikan sebagai "merk" kawasan tersebut diabaikan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sudahlah, buka mata dan jujurlah pada nurani. Tanpa mengabaikan bahwa norma itu "penting", yang ujung-ujungnya adalah perintah agama, bukankah memelihara hidup dan menafkahi diri itu juga titah Sang Khalik? Bukalah kembali kitab suci agama apapun, dan Anda akan mendapati esensi pemahaman bahwa kehidupan adalah anugerah yang harus disyukuri dan dirawat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk merawat hidup perlu nafkah yang didapatkan melalui usaha dan memanfaatkan peluang. Kapitalisme, mau tak mau, telah menyebarkan pemahaman bahwa harus ada transaksi jual-beli kebutuhan untuk menghidupi diri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Transaksi ilmu di lembaga pendidikan tempat para pengajar menafkahi diri, transaksi wacana di perusahaan media tempat para jurnalis berkarya, transaksi benda-benda konsumsi di pasar (tradisional maupun modern). Semua hal yang dibutuhkan manusia untuk bisa terus survive bisa ditransaksikan. Itulah fakta yang tengah dilakukan seluruh umat manusia di muka bumi. Tak terkecuali mereka-mereka yang ada di Dolly.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seksualitas adalah salah satu kebutuhan manusia. Bahkan kebutuhan paling mendasar. Libido adalah id --meminjam istilah psikoanalis Sigmund Freud-- sifat dasar yang dibawa manusia secara naluriah dan bisa dilakukan tanpa dipelajari. Bersenggama adalah aktivitas paling purba yang sudah dilakukan sejak manusia diciptakan, sebelum ada aktivitas transfer ilmu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut telaah para cendikiawan humaniora dan genealogi, ada dua tujuan kenapa manusia berhubungan seks: menyalurkan energi positif untuk mencari kesenangan &amp;amp; berkembang biak demi eksistensi. Dalam pernikahan, dua tujuan itu terangkai dalam satu kesatuan: berusaha untuk eksis dengan cara menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam beberapa situasi, setelah aktivitas seksual didefiniskan dalam aneka macam pandangan oleh manusia sendiri, kedua tujuan nge-seks tersebut tidak bisa berjalan seiring. Kebutuhan untuk bersenang-senang terpisah dengan tujuan berkembang biak. Alasannya macam-macam: bisa karena pasangan nikah tidak memuaskan, atau tidak bisa menemukan pasangan resmi karena berbagai macam persoalan (biaya nikah terlalu mahal atau selalu tak sepandangan dengan lawan jenis yang pernah merencanakan hubungan resmi, misalnya). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika energi positif yang seharusnya disalurkan melalui aktivitas seksual terhambat, jadinya akan terkonversi dalam bentuk lain. Jika tersumbat bisa menumpuk dan mengarah ke arah destruktifitas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ambil contoh, untuk mengalihbentukkan hasrat bercinta yang tersumbat, orang melontarkannya dengan marah atau melakukan kekerasan. Setidaknya inilah hasil penelitian Freud yang dibuktikan dalam banyak kasus. Banyak perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, yang berujung perceraian (keputusan yang sangat dibenci Tuhan itu) terjadi karena ada pasangan yang bermasalah di ranjang. Intinya, hasrat atau energi seksual harus dipuaskan sampai tuntas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Nah, untuk mengantisipasi kecenderungan buruk manusia-manusia yang kebingungan menuntaskan hasrat itu, sekaligus menjawab tuntutan kewajiban menafkahi diri, Dolly lahir. Kesenangan, kebutuhan manusia itu, ditransaksikan. Dalam kacamata perputaran modal, itu sah. Juga tak ada yang dirugikan. Yang membayar maupun dibayar sama-sama puas. Sama-sama senang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kapital juga berputar lancar di antara kesenangan itu. Selain para wanita tuna susila, ada tukang parkir, penjual makanan-minuman dan obat kuat, makelar jasa yang ikut menggerakkan roda perekonomian Surabaya. Orang yang awalnya luntang-lantung mendapat kegiatan yang menghasilkan. Kampung sekitar lokalisasi pun mencicipi manisnya dengan menerima sumbangan dari pemilik wisma untuk keamanan dan kegiatan kampung.     &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika dalil yang dikemukakan adalah norma kesopanan, mungkin juga kurang tepat. Bukankah persetubuhan di Dolly berlangsung di tempat tertutup? Tidak diumbar di pinggir jalan yang bisa dilihat banyak orang layaknya topeng monyet kan? Dan itu artinya orang-orang di sana masih memperhatikan norma. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kalau moral dan agama yang jadi senjata --karena persetubuhan dilakukan oleh sepasang manusia lawan jenis yang bukan muhrim dan para pemancing birahi dipajang dalam etalase yang dipandang sebagai sesuatu yang tidak pantas-- sepertinya itu juga tidak adil. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Moral seseorang, menurut Aristoteles, rusak ketika berperilaku menyimpang yang itu mencabik-cabik keselarasan sosial. Selama masyarakat tentram, berarti moral hidup dengan seharusnya Sepanjang sejarah berdirinya Dolly, tak pernah ada keresahan massif yang berujung pada kisruh massal yang bersumber dari situ. Malah tempat ini menarik minat wisata, dan itu artinya pemasukan untuk daerah. Sumbangsih dari aktivitas apapun di Dolly tak bisa dimungkiri telah ikut membangun Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika moral berpijak pada agama, ingat, ajaran tersebut menyerukan umat untuk merawat hidup. Dan itu yang dilakukan para pekerja seks Dolly. Banyak jalan mencari nafkah. Salah satunya menjual seksualitas yang memuaskan orang. Bukankah menyenangkan orang lain juga ibadah?  Dolly memberikan "kedamaian". Justru kalau ditutup secara tergesa-gesa dengan alasan moral, bakal lahir sekelompok besar manusia yang mendadak amoral, berontak, menimbulkan keributan karena merasa hak menghidupi diri --yang digaransi UUD 1945-- direbut paksa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Apalagi, seperti yang dilansir lembaga sosial Abdi Asih pimpinan Mbak Vera yang peduli Dolly, kebanyakan para pekerja seks adalah perempuan-perempuan kampung yang berniat menghidupi diri mereka sendiri tapi tak mendapat kesempatan di jalur "halal" karena banyak alasan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Misalnya tingkat pendidikan atau kecakapan yang tak memenuhi syarat di instansi mana pun. Jangan langsung justifikasi itu terjadi karena yang bersangkutan malas. Tapi, masih menurut lansiran Abdi Asih, semangat mereka untuk berubah hanya didukung pemerintah (yang punya ide menutup Dolly) dengan setengah-setengah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seperti yang dikutip salah satu portal berita dari Mbak Vera, lembaga pelatihan milik pemerintah yang selama ini digembar-gemborkan sebagai pioner teknis untuk merealisasikan penutupan itu ternyata tidak optimal. Wahana itulah yang diharapkan bisa mengajarkan keterampilan pada para PSK, selain nge-seks. Tapi buktinya, "Lembaga pelatihan itu hanya memberikan pelatihan selama 1-3 bulan. Waktu itu kurang, terutama untuk PSK yang tak punya dasar sama sekali. Seharusnya paling tidak setahun," kata Mbak Vera.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dinas Sosial Surabaya maupun Jatim juga masih gelagapan ketika ditodong data berapa PSK yang berhasil mereka entas dari "lembah nista". Pasalnya, dibanding rekan seprofesi yang masih "melacur", yang berhasil dengan keterampilan barunya hanya berkisar 5-10%. Tak efektif. Dolly yang segede itu baru layak ditutup kalau setidaknya 80% pekerja seks di dalamnya sukses alih profesi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selama lembaga tidak mampu menjalankan tugas dengan maksimal, sehingga PSK benar-benar punya keterampilan selain "menggoyang" tamu, tak perlu grusa-grusu menutup. Ketika "kepantasan sosial" diangkat sebagai senjata utama menutup areal prostitusi itu, apakah "pantas" pemerintah membiarkan mereka yang selama ini menafkahi diri dengan bersenggama itu keleleran tanpa kecakapan khusus? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selama belum siap dalam banyak hal, janganlah dulu metutup Dolly. Karena, mau tak mau, mereka-mereka yang melacur itu sampai pada profesinya sekarang juga karena ulah pemerintah sendiri yang kurang (mau) cerdik merancang sistem pendidikan dan lapangan kerja yang "adil dan bermartabat". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selama manusia-manusia udik masih berbondong-bondong ke pusat-pusat perputaran modal, seperti Surabaya, karena di asal mereka "nabrak tembok" ketika hendak menafkahi diri dengan keterampilan yang "harap maklum", untuk kaum perempuan yang masih sering tergencet kebijakan gender ala timur terjun ke dunia prostitusi adalah cara terakhir yang bisa dipilih agar bisa tetap hidup. Agar bisa merawat pemberian yang Kuasa, seperti yang selalu diserukan-Nya di kitab suci agama apa pun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dolly itu soal pencukupan nafkah dengan "cara terakhir yang terpaksa dipilih" karena lembaga negara ini malas mencukupi hak dasar warganya. Dolly hanya bisa ditiadakan ketika sistem sudah berbenah, bukan hanya gara-gara tuntutan dakwah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dakwah memang penting. Tapi nafkah jauh lebih penting. Kalau saja semua "balon" Dolly piawai berdakwah untuk mendapat nafkah, seperti mereka-mereka yang "risih" menyaksikan praktik prostitusi terbuka itu, areal wisata malam tersebut tentu tak akan pernah ada. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Para pendakwah itu mungkin lupa kalau manusia lahir membawa takdir dan perannya masing-masing. Tanpa orang-orang di Dolly, upaya dakwah itu hanya seruan biasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sementara seksualitas adalah fakta yang tak bisa diingkari. Bahkan Tuhan sendiri yang menghendaki manusia berhubungan kelamin. Karena itu, ketika Adam kesepian, Dia menciptakan Hawa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-718020942853282440?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/718020942853282440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/11/jangan-dulu-tutup-dolly.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/718020942853282440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/718020942853282440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/11/jangan-dulu-tutup-dolly.html' title='Jangan Dulu Tutup Dolly  '/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh3.googleusercontent.com/-dlqaHNJwl6k/TXbxAckXgPI/AAAAAAAAAZM/O02iQ8AFA2U/s72-c/dolly.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-5343713117446842917</id><published>2010-11-04T23:27:00.004+07:00</published><updated>2011-09-26T17:45:37.611+07:00</updated><title type='text'>Cinta (Dengan "C" Kapital)</title><content type='html'>&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-BrsBVtm4t8c/TXbxgv1wmpI/AAAAAAAAAZQ/az8YfwrPy9U/s1600/godslove.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://lh5.googleusercontent.com/-BrsBVtm4t8c/TXbxgv1wmpI/AAAAAAAAAZQ/az8YfwrPy9U/s320/godslove.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Surabaya hari ini terasa lain sejuknya. Kesegaran yang tulus, bukan hawa yang pura-pura dan berlalu begitu saja. Empat hari sudah aku memaksa lepas sementara dari rutinitas "yang itu". Menyepi, sengaja mengucilkan diri dari keramaian dan kebiasaan untuk selalu curiga. Begitu tenang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan hujan di Surabaya yang kubelah tanpa mantel --demi upaya meyakinkan diri kalau aku akan hidup lebih lama-- meyakinkanku bahwa sesuatu yang aku cari-cari selama ini tanpa sadar sudah aku dapat: Cinta (dengan "C" kapital).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perasaan yang oleh dunia manusia didefinisikan sebagai muara dari segala keindahan itu begitu menggerojokku yang sedang kering. Keangkuhanku, yang pernah meleleh namun menguat kembali dan menolak segala tawaran "cinta" (terkutip karena artinya menyesatkan) yang terlontar dari mulut-mulut ingkar, mendadak luluh. Lalu aku pasrah begitu saja kepada Cinta (dengan "C" kapital) yang datang dibawa angin dari arah yang tak pernah aku duga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Cinta. Tangkupan suasana yang aku cari selama ini. Penampung yang ikhlas ketika aku limbung. Rasa yang begitu tenang. Tanpa gairah. Tanpa tuntutan. Tanpa obsesi. Tanpa libido. Tanpa kalkulator. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Cinta itu dari Kakak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perempuan yang cantik di luar dan indah di dalam. Yang tiba-tiba saja datang ketika aku sedang terperosok dalam kesendirian yang muram. Saat aku berteriak-teriak memohon pada mereka yang pernah mengaku teman agar sudi membantuku yang sedang terjerembab --tapi tetap melenggang kian jauh dan hanya melemparku dengan uang seperti pengemis-- Kakak datang dari belakang, bersama sunyi, meraih ketiakku, lalu membantuku yang lunglai berdiri. Seperti mengajarkan bayi berjalan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika aku tak juga berdiri, dia tetap berusaha membantuku belajar tegak kembali. Energi yang habis tak membuatnya putus asa. Dengan kakinya sendiri yang mulai bergetar, dia tetap memapahku, meyakinkan aku bahwa aku bisa tegak seperti waktu itu. Ketika semua "teman" dengan segala ikrar tentang kesetiaan di masa laluku yang bersinar, menjauh dan hilang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika aku terjebak dalam pesimisme dan kesepian, ketika dia yang pernah berikrar "Aku akan menemanimu sampai mati," kabur begitu sinarku padam, Kakak datang seperti angin musim semi yang membawa dian. Hangat dan meniupkan semangat. Setahap demi setahap optimisme yang kosong mulai terisi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kakak yang tak pernah meminta secuil pun tawaku ketika aku sedang gembira, tapi selalu merebut semua tangisku ketika aku sedang megap-megap dalam sunyi. Dia yang tak pernah mengambil tempat dalam tiap pestaku, tapi selalu di sampingku ketika aku kelelahan mengemasi sendiri sisa-sisa kemeriahan yang tercecer sebagai remah-remah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lalu dia memelukku, mengelus-elus kepalaku. Sebelum aku berangkat tidur, dia selalu berbisik; "Kamu bisa, Le... Jadilah lelaki untuk keluarga... Kamu tidak sendirian. Kami selalu menyayangimu...". Lalu membiarkanku lelap dalam ketenangan dan mengumpulkan energi. Agar ketika bangun aku sanggup merapikan cita-cita yang porak poranda. Membangun kembali harapan yang hancur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hujan gemericik dan sepoi-sepoi yang melengkapinya hari ini pun membuatku harus menangis. Begitu angkuh aku selama ini menafikkan Cinta, bukan sekadar "cinta", dari Kakak. Cinta yang selalu datang bergemuruh meski tanpa suara. Yang memberi, tanpa meminta. Yang tak pernah datang ketika aku senang, tapi selalu hadir ketika aku sampai di titik nadir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Surabaya yang panas ternyata masih memberikan tempat untuk sejuk. Nuansa yang begitu sedap hadir ketika akhirnya aku dapati sendiri pameo yang aku anggap hanya omong kosong, terlebih beberapa bulan ini, ternyata benar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Cinta (dengan "C" kapital) hanya dimiliki orang yang datang ketika kita diombang-ambing sepi dan terjerembab dalam pesimisme yang ngilu. Bukan "cinta" (dikutip karena membawa makna yang menyesatkan) yang terlontar melalui mulut ketika kita dimanja kejayaan, tapi kabur begitu saja ketika roda kehidupan menggencet kita di bawah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terima kasih Kakak. Kalau mukjizat sudi datang lagi padaku, dan waktu masih sudi memberiku tempat lebih lama, Surabaya yang adem hari ini menjadi saksi: "Setiap tetes keringat dan air matamu untuk adikmu ini akan terbayar dengan kegembiraan yang meluap-luap ketika darah dan keringatku yang kau bangkitkan kembali menjadi laki-laki berbuah kejayaan untuk keluarga." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk Bapak, untuk Ibu, untuk Kakak-kakak. Terutama untukmu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="background-color: white; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terima Kasih --bukan sekadar "terima kasih"-- kau buktikan padaku bahwa Cinta itu bukan takhayul. Segala Cinta, Hormat, dan tiap tetes keringat dari adik, yang kau bimbing agar kembali menjadi lelaki ini, semua untukmu.   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-5343713117446842917?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/5343713117446842917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/11/cinta-dengan-c-kapital.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5343713117446842917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5343713117446842917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/11/cinta-dengan-c-kapital.html' title='Cinta (Dengan &quot;C&quot; Kapital)'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh5.googleusercontent.com/-BrsBVtm4t8c/TXbxgv1wmpI/AAAAAAAAAZQ/az8YfwrPy9U/s72-c/godslove.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-5593803453412213503</id><published>2010-11-02T04:33:00.004+07:00</published><updated>2011-09-26T17:42:59.544+07:00</updated><title type='text'>Bahwa</title><content type='html'>&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-kPu8reZdkn0/TXbyHeihr4I/AAAAAAAAAZU/3c9fEgctJ9k/s1600/Great+God.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://lh5.googleusercontent.com/-kPu8reZdkn0/TXbyHeihr4I/AAAAAAAAAZU/3c9fEgctJ9k/s1600/Great+God.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahwa manusia adalah makhluk yang angkuh, sejauh pengetahuanku itu betul. Manusia ingin menaklukkan apa saja. Kadang juga ada yang nekat melawan Tuhan. Mungkin ini "salah" Tuhan juga menciptakan manusia sebagai "makhluk paling mulia". Dengan status tersebut, manusia pun semena-mena.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Riwayat lahirnya keanekaragaman bahasa di dunia ini begitu cerdas menceritakan epistemologi manusia dan konflik. Syahdan, awalnya manusia diciptakan dalam bahasa yang serupa. Komunikasi berjalan begitu mudahnya, semudah tercapainya sebuah kesepakatan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika banyak manusia yang angkuh sepaham dan dalam banyak hal bersatu, mencuatlah ide untuk mengkudeta Tuhan. Bersama keangkuhan dan kesepahaman yang "klik", bahu-membahulah manusia membangun menara menuju langit untuk menyingkirkan Tuhan dari kedudukan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Riwayat yang diceritakan oleh Ferdinand de Saussure tersebut bahkan menggambarkan Tuhan sempat panik ketika manusia nyaris berhasil menggapai kaki singgasana-Nya. Tuhan dikisahkan marah sekaligus merasa bersalah karena terlalu memberikan kesempurnaan pada makhluk ini, di mana keangkuhan menjadi pelengkap sempurnanya manusia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika menara tinggal sejengkal dari langit, Tuhan pun menggunakan jurus pamungkas: kun fayakun. Dengan kehendak-Nya kesepahaman manusia yang membentuk kesatuan yang menakutkan itu diubah dalam ketaksepahaman. Sekelompok manusia se-bahasa diceraiberaikan menjadi beberapa kelompok dengan bahasa yang berbeda-beda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kesamaan visi yang terbangun dari keseragaman bahasa, yang menjadikan manusia sepaham, berubah menjadi tragedi. Komunikasi, yang kata Harold Laswell adalah sebuah upaya manusia menyampaikan apa-kepada siapa-menggunakan media apa-dan apa efeknya, berjalan begitu sakit. Bahasa tak lagi serupa, dan timbullah keterpatahan pemahaman. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Situasi itu membuat manusia jadi sesat tujuan. Mereka jadi sibuk dengan keributan antar-mereka sendiri. Kelompok A bermaksud mengajak kelompok B yang bahasanya jadi beda untuk cepat-cepat menyelesaikan menara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perbedaan struktur dan cara penyampaian, baik lisan maupun kinesik, melahirkan kesalahpahaman, kendati sebenarnya punya tujuan yang sama. Lahirlah pertengkaran. Satu kelompok berusaha membuat, cenderung memaksa, kelompok lain memahami maksud mereka. Tapi usaha itu sia-sia karena tak ada lagi rasa saling mengerti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perbedaan membuat mereka saling bertengkar, sampai akhirnya lupa proyek pembangunan menara yang sempat membuat Tuhan cemas itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Akhirnya situasi menjadi sampai yang terjadi sekarang: manusia dengan perbedaan-perbedaan mereka saling bertengkar, dan Tuhan masih nyaman duduk di singgasana-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Keangkuhan manusia memang selalu tak bisa menerima perbedaan, kendati secara azasi sebenarnya semua makhluk jenis ini punya tujuan serupa: menggapai bahagia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Keangkuhan juga yang membuat manusia harus menjadi makhluk yang berkonflik sepanjang sejarah. Dihukum Tuhan karena nekat melawan kehendak-Nya dengan keangkuhan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Manusia yang awalnya begitu rukun karena sepaham, sampai sekarang selalu saja terlibat dalam pertengkaran dan saling menerkam. Berhantam karena semua ingin kehendak mereka yang saling beda diikuti yang lainnya. Inilah buah dari upaya mengusik Tuhan. Melawan Tuhan? Sudah pasti berakhir konyol.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan sampai sekarang, pola hubungan manusia dengan Tuhan atau aupun manusia dengan sesama berjalan seperti yang kita lihat dan rasakan sekarang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sejarah pun mencatat tegas bahwa pada dasarnya semua manusia itu angkuh. Semua ingin menguasai yang "lain." Utamanya menaklukkan "yang berbeda".  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sementara Tuhan tetap menjadi zat yang bisa berkehendak apa saja dan tak mungkin dilawan. Manusia terberai dan Tuhan tetap berkuasa menikmati ketaksepahaman yang akan berlangsung hingga akhir zaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketika ada sebuah dogma yang menyebut kebersamaan itu ada untuk menolak perbedaan, itu hanya ilusi. Kebersamaan itu tak pernah ada dan perbedaan tak akan bisa ditolak. Itulah fakta, bukan sekadar dogma.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kebersamaan hanya ada di secuplik bagian awal hikayat keanekaragaman bahasa dan selarik syair White Lion dalam When the Children Cry: "..One united world under God.." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Anak-anak pun tetap menangis ketika dilahirkan. Karena mereka merasa dipaksa sebagai makhluk angkuh dan harus selalu berkonflik karena "karunia" sifat tersebut. Apalagi "karunia" tersebut tak mungkin ditolak, terlebih dilawan. Itu adalah kehendak-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan ketika keangkuhan manusia tak mampu melabrak Tuhan, sesama pun dijadikan pelampiasan. Karena keangkuhan adalah hasrat yang harus dipuaskan. Bahkan, sedikit berfikir nakal saja, kalau mau fair sebenarnya Tuhan pun bisa dikatakan "angkuh" dengan takdir-takdir-Nya. Dan keangkuhan manusia wajib tunduk pada kehendak ala Sang Khalik itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yah, seangkuh apapun manusia, jangan pernah berharap Tuhan mau membuka ruang negosiasi, terutama tentang jodoh, hidup, dan mati. Sekeras apapun menawar, pada akhirnya manusia harus sadar bahwa Tuhan memaksa ciptaan-Nya itu untuk selalu tertunduk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-5593803453412213503?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/5593803453412213503/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/11/bahwa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5593803453412213503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5593803453412213503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/11/bahwa.html' title='Bahwa'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh5.googleusercontent.com/-kPu8reZdkn0/TXbyHeihr4I/AAAAAAAAAZU/3c9fEgctJ9k/s72-c/Great+God.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-7010545065638004893</id><published>2010-10-28T22:11:00.003+07:00</published><updated>2011-03-09T10:23:44.341+07:00</updated><title type='text'>Catatan Penutup: Cita-cita Bersama Membuat Saya Menjadi Tolol</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-RBNgGuvfHjo/TXbysB9l8yI/AAAAAAAAAZY/dZbYVC2os2A/s1600/Stupid.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="https://lh4.googleusercontent.com/-RBNgGuvfHjo/TXbysB9l8yI/AAAAAAAAAZY/dZbYVC2os2A/s320/Stupid.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;"Manusia digerakkan oleh kepentingan"&lt;br /&gt;Karena secara materi otak saya sudah rusak dan semakin parah cenderung&lt;br /&gt;membusuk setelah genap sedasawarsa digerogoti bakteri busuk --di mana&lt;br /&gt;kondisi ini malah jadi bahan fitnah dan cemoohan orang-orang yang&lt;br /&gt;mengaku pernah dekat dengan saya-- saya tak bisa lagi mengingat&lt;br /&gt;kalimat pembuka itu teori siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari itu, saya setuju sekali dengan premis tersebut. Saya, yang&lt;br /&gt;masih merasa sebagai manusia kendati tak sedikit manusia lain yang tak&lt;br /&gt;lagi memanusiakan saya, bergerak karena saya punya kepentingan. Saya&lt;br /&gt;menyimpan tujuan. Termasuk kenapa saya memaksakan, bahkan dengan&lt;br /&gt;merebut hak rekan, untuk permanen di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang "dikarbit" untuk menjadi pengambil keputusan, saya&lt;br /&gt;punya cita-cita dan kewajiban untuk mengubah sesuatu yang selalu&lt;br /&gt;dikeluhkan menjadi lebih nyaman. Keluh kesah jelas tak akan bisa&lt;br /&gt;mengubah keadaan yang sudah terlalu gundah. Karena itu, bukan sok&lt;br /&gt;pahlawan, lebih tepatnya kesadaran diri sebagai manusia yang ingin&lt;br /&gt;berbagi dan bersama --seperti Aristoteles pernah katakan itu-- saya&lt;br /&gt;pulang kandang membawa optimisme untuk bisa berbuat sesuatu untuk&lt;br /&gt;"kita" (sengaja saya kutip karena, jujur saja, kata ganti untuk orang&lt;br /&gt;jamak yang melibatkan saya di dalamnya itu artinya sangat bias bagi&lt;br /&gt;saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ketika itu benar-benar sudah kelewat parah. Persuasif tak akan&lt;br /&gt;bisa mengubah keadaan yang kadung abnormal. Dalam situasi seperti itu,&lt;br /&gt;sebagai orang yang dipercaya mengambil keputusan demi "sebuah keadaan&lt;br /&gt;yang lebih baik" (saya kutip lagi karena artinya juga sangat bias,&lt;br /&gt;saya rasa), ya saya mengambil keputusan. Represif saya pilih. Tapi,&lt;br /&gt;represif pula yang akhirnya saya dapat setelah saya malah&lt;br /&gt;dicabik-cabik oleh mereka-mereka yang pernah menghiba-iba di depan&lt;br /&gt;saya mohon pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang merobek-robek saya dari belakang itu adalah mereka-mereka yang&lt;br /&gt;pernah memohon-mohon pada saya agar dibantu mendapatkan hak yang sudah&lt;br /&gt;berbulan-bulan tak mereka dapat. Anak-anak daerah. Setelah mereka&lt;br /&gt;dapat yang mereka mau, kenapa saya diinjak-injak dengan&lt;br /&gt;menyebarluaskan fitnah berbentuk "dongeng" tentang kekerasan yang&lt;br /&gt;membabi buta? Apakah mengeroyok dan menggebuk orang yang pernah&lt;br /&gt;berupaya keras membantu mereka mendapatkan hak itu bukannya juga&lt;br /&gt;kekerasan??? Violence yang hanya bisa dilakukan para banci???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menuntut, kenapa kejadian itu --yang jadi biang situasi serbakaku&lt;br /&gt;ini-- tidak dipandang dari dua sisi atau dilihat sisi baiknya? Kenapa&lt;br /&gt;banci-banci yang bersemayam di dalam otak-otak picik itu makin&lt;br /&gt;kerasan??? Kalau punya kepentingan ingin berubah, ya bergeraklah.&lt;br /&gt;Jangan cuma berani mengumpat dan menyebar fitnah. Katanya kita ini&lt;br /&gt;semua saudara, tapi secara sepihak memutus silaturahmi. Lalu&lt;br /&gt;menuding-nuding dan menuduh. Apa memang begitu tata kramanya???&lt;br /&gt;Tai!!! Dasar mental banci!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, maaf kalau saya harus jujur mengatakan, kalau saya dan&lt;br /&gt;beberapa gelintir saudara yang punya kehendak untuk maju dan&lt;br /&gt;"berbahagia bersama" lama-lama merasa makin tolol saja.&lt;br /&gt;Tolol akibat terlalu sungguh-sungguh berusaha untuk mewujudkan&lt;br /&gt;"cita-cita bersama", sementara kebersamaan itu sendiri sebenarnya tak&lt;br /&gt;pernah ada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersamaan untuk bergerak dan maju itu hanyalah ilusi, tempat&lt;br /&gt;pelarian para banci yang cuma berani bermimpi dan onani untuk&lt;br /&gt;mengingkari hati nurani!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bisa berfikir waras mungkin akan tersadar. Tapi yang&lt;br /&gt;berkarakter picik tentu bakal lebih picik lagi mendapati opini saya&lt;br /&gt;ini. Tapi, tenang saja, Bung. Anggap saja ini adalah cindera mata&lt;br /&gt;terakhir dari saya. Karena, mengutip dari judul opini ini, "Catatan&lt;br /&gt;Penutup", ini adalah akhir dari corat-coret ungkapan cara berfikir&lt;br /&gt;saya --yang bagi kebanyakan orang, termasuk bekas calon istri, sangat&lt;br /&gt;nyeleneh dan tak pernah bisa diterima ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, di tengah kegelisahan saya, akhirnya saya harus takluk pada&lt;br /&gt;prediksi medis yang menyebut saya tak bisa lagi menghindari hitungan&lt;br /&gt;mundur menuju selesai, setelah satu dasawarsa saya simpan rapi tragedi&lt;br /&gt;pribadi yang terjadi secara kontinu ini. Kecuali Tuhan kembali berbaik&lt;br /&gt;hati menurunkan mukjizat pada saya, kelak kita akan kembali beradu&lt;br /&gt;argumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ingat, se-"aneh" apapun karakter seseorang, pada dasarnya manusia&lt;br /&gt;selalu  ingin maju, bergerak, untuk bahagia. Bersama-sama. Karena&lt;br /&gt;itulah Adam tidak diciptakan sebagai manusia tunggal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-7010545065638004893?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/7010545065638004893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/10/catatan-penutup-cita-cita-bersama_28.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7010545065638004893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7010545065638004893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/10/catatan-penutup-cita-cita-bersama_28.html' title='Catatan Penutup: Cita-cita Bersama Membuat Saya Menjadi Tolol'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh4.googleusercontent.com/-RBNgGuvfHjo/TXbysB9l8yI/AAAAAAAAAZY/dZbYVC2os2A/s72-c/Stupid.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-164882323992640126</id><published>2010-09-20T04:24:00.002+07:00</published><updated>2011-03-09T10:25:56.583+07:00</updated><title type='text'>Claude Angeli</title><content type='html'>&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-xplH1vZgnQ0/TXbzKlcgkyI/AAAAAAAAAZc/CabFT9yhrac/s1600/Claude+Angeli.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://lh5.googleusercontent.com/-xplH1vZgnQ0/TXbzKlcgkyI/AAAAAAAAAZc/CabFT9yhrac/s320/Claude+Angeli.jpg" width="267" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hanya sedikit yang saya tahu tentang sosok ini. Tapi, dari sedikit referensi yang saya kumpulkan dengan cara menjahit beberapa sumber yang berserakan itu, saya langsung memutuskan kalau seharusnya jurnalis itu seperti dia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Karakter seperti inilah yang selalu saya ingin saya duplikasi ketika saya memutuskan untuk menjadi seorang wartawan yang bekerja dalam "jurnalisme "bebas ongkos balas budi terhadap kapital" dan tak akan membuat sebuah repotase menjadi canggung.  Dia adalah seorang pria tua 79 tahun yang hidup di Prancis. Namanya Claude Angeli.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di usia yang menurut standar Indonesia tentunya sudah kedaluwarsa, Angeli adalah pria yang "paling ditakuti" di Prancis. Tak ada satu pun pemimpin Prancis yang pernah memilih berhadapan dengan si Mbah yang ke mana-mana selalu membawa tongkat ini. Dia sangat disegani. Renta tapi sangar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Banyak orang tabik pada Angeli, itu bukan tanpa alasan. Kakek itu punya sesuatu yang tak dipunyai individu lain di era kekuasaan modal seperti sekarang. Angeli begitu lurus tanpa pernah sedetik pun bisa ditekuk, bahkan oleh guturan modal sesegar dan semelimpah apa pun. Dan dia adalah satu dari sedikit jurnalis di muka Bumi yang memilih tak membiarkan mindsetnya tergelitik oleh godaan duit. Karena itulah dia menjadi sosok yang sangat spesial. Karena ketika kebanyakan orang memilih lentur, Angeli memutuskan tetap kokoh hingga usianya nyaris memasuki delapan dasawarsa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam uzurnya Angeli masih cakap memimipin redaksi Le Canard Enchaine, sebuah mingguan satir di Prancis yang menolak segala bentuk dan jenis iklan dalam publikasinya. Ketika sebagian besar media di seantero jagat memilih berkompromi dengan kapital untuk meraup iklan demi "kelangsungan hidup", Angeli membuktikan bahwa media tetap bisa survive tanpa iklan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk kelanggengan mingguannya yang bergaya khas investigasi itu, Angeli memanfaatkan "cara kuno" yang di masa lampau harus dilakukan media massa cetak, terutama koran, untuk bisa survive dan mendapat posisi yang kokoh di tengak khalayak audiens. "Jurnalisme investigasi sangat bisa dikembangkan sebagai bisnis independen tanpa iklan. Kami semata-mata hidup dari pembaca," kata Angeli, ketika dia ditahbiskan sebagai "bintang" dalam Konferensi Jurnalisme Investigasi Global di Jenewa, Swiss, 24 April lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Berharap bisa hidup dari oplah tanpa iklan, bagi sebagian besar pemilik media modern sepertinya nyaris tak mungkin. Tapi, Angeli membuktikan bahwa itu mungkin terjadi. Resepnya adalah; "Gunakan keenam indera sebaik-baiknya untuk menulis. Karena tulisan yang bagus akan menyedot perhatian dari segala penjuru." Itulah rahasia dapur Angeli dan Le Canard yang dibeber dalam konferensi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ya, itu betul. Semua jurnalis (yang menempatkan jurnalisme sebagai profesi yang dijalani dengan penuh komitmen, bukan tempat untuk cari nafkah), terutama di media cetak  tentunya ingin bisa menulis menggunakan keenam inderanya. Tapi itu hanya mungkin dilakukan ketika pikiran si jurnalis bisa tenang. Ketika tak perlu pusing memikirkan uang untuk susu dan sekolah anak atau ongkos hidup sebulan lantaran gaji begitu cekak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Apalagi ketika jurnalis itu bekerja di sebuah media berlabel "PT" yang jelas punya banyak kepentingan bisnis untuk untung. Jelas perlu banyak kompromi, karena hanya dengan itu laba bisa datang. Yang akhirnya membuat naluri pekerja pers sebagai pilar keempat sebuah negara harus dibonsai ketika mereka ditarik paksa pulang kandang ketika hendak mengurai sebuah kebobrokan hanya karena induk perusahaan media mereka "ada perlu" dengan situasi yang bobrok itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Definisi Karl Marx tentang jurnalisme sebagaii "anjing penjaga" tatanan sosial itu sudah sangat langka. Apalagi di negara berkembang yang sedang tergesa-gesa berburu keinginan membangun diri sebagai penyedot kapital dan perputaran uang. Ya seperti Indonesia ini. Sampai-sampai semua hal, termasuk jurnalisme, ditarik masuk dalam wilayah perputaran modal. Demi iklan. Demi pemasukan. Demi "keberlangsungan hidup karyawan dan keluarganya". Ujung-ujungnya, ya duit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Situasi pun membuat insting jurnalisme menjadi tumpul. Enam indera, terutama hati si indera keenam, terlalu sering dibohongi. Jurnalisme dibiarkan larut dalam definisi yang salah. Jurnalis tak bisa menulis. Jurnalis bingung, ambigu, serba salah. Analisis tumpul dan investigasi menjadi kegiatan yang paling tidak diminati. Karena jurnalis telah diseret menjadi onderdil dalam sebuah mesin bisnis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Claude Angeli boleh berbangga dengan kemampuannya menulis bersama enam indera. Ya jelas dia bisa, karena dia hidup di sebuah negara yang sangat menghargai kebebasan berfikir dan optimalisasi akal budi. Liberte, egalite, fraternite.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Beruntung sekali Angeli hidup jauh dari Ibu Pertiwi. Bebas mengumbar imajinasi di dalam sebuah bangsa yang tak pernah memaksa manusia-manusia di dalamnya selalu sibuk membujuk perut yang terus merengek karena kosong. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT" style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Prancis tentu juga bukan negeri yang membimbing warga negaranya secara sadar diri bermetamorfosa menjadi robot: benda  yang selalu berakhir sebagai rongsokan lalu dilupakan begitu saja oleh zaman yang terus melenggang maju. Lalu hilang atau hanya menjadi mitos karena tak pernah membangun monumen budi daya yang bisa membuktikan bahwa mereka pernah ada. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-164882323992640126?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/164882323992640126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/09/claude-angeli.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/164882323992640126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/164882323992640126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/09/claude-angeli.html' title='Claude Angeli'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh5.googleusercontent.com/-xplH1vZgnQ0/TXbzKlcgkyI/AAAAAAAAAZc/CabFT9yhrac/s72-c/Claude+Angeli.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-7945515261158685834</id><published>2010-09-13T18:06:00.004+07:00</published><updated>2011-03-09T10:27:43.254+07:00</updated><title type='text'>"Maaf"</title><content type='html'>&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-84-SOnD8CWQ/TXbzoTcGNII/AAAAAAAAAZg/JqWhJVBYgCM/s1600/sorry_comment_04.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="303" src="https://lh6.googleusercontent.com/-84-SOnD8CWQ/TXbzoTcGNII/AAAAAAAAAZg/JqWhJVBYgCM/s320/sorry_comment_04.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;AKU tidak akan minta maaf pada siapa pun di "Hari Fitri" ini. Aku takut suatu saat (sengaja/tidak) akan menghina maaf yang aku terima.&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;Ketakutanku ini bukannya tanpa sebab. Karena pada dasarnya tak ada maaf yang tulus. Maaf adalah upaya transaksional agar keadaan bisa membaik sebentar untuk sebuah kepentingan yang sering kali tidak adil, lalu kesalahan dilakukan lagi. Dan itu berarti  pengingkaran terhadap maaf yang pernah diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;Maaf yang terucap hanya aksesoris yang hanya diambil keindahan bentuknya. Orang mengucapkan maaf hanya karena merasa "perlu". Sekadar syarat kepantasan dalam sebuah hubungan tapi tanpa esensi. Maaf terlontar bukan karena orang yang mengucapkannya "butuh" itu, ketika "benar-benar merasa bersalah" dan tak akan mengulangi kesalahan serupa (mungkin juga kesalahan dalam bentuk lain). Aku pribadi tak yakin ada orang yang pernah "merasa benar-benar bersalah", karena tolok ukur untuk dua keadaan itu begitu subjektif dan lentur. Benar menurutku belum tentu tepat dalam kesimpulan Anda.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;Karena itu aku tak akan meminta maaf. Bukan lantaran sombong, arogan, atau sok suci tak pernah salah. Terlalu sering aku khilaf, beberapa di antaranya adalah "kesalahan yang (sengaja atau tidak) begitu aku 'gemari' sampai-sampai berulangkali aku melakukannya". Andai ada neraca untuk membandingkan bobot antara "benar" dan "salah", saya yakin sisi saya yang tidak benar jauh lebih berat daripada yang benar.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;Aku tidak minta maaf karena  tidak ingin mengkhianati sebuah pemberian maaf  --yang tentunya tulus dan mulia--  karena masih sangat mungkin aku melakukan sebuah kesalahan yang pernah dimaafkan. Bahkan bisa jadi lebih parah. Aku tak mau menistakan sebuah pemberian maaf yang tentunya mulia itu. Aku tak mau membalas ikhlas dengan ingkar. &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;Maaf baru benar-benar menemukan esensinya ketika terlontar dari seseorang yang "bisa dipastikan" tak akan pernah lagi mengulangi kesalahan yang sudah terampuni, dengan atau tanpa niat/sengaja maupun tidak. Dan itu hanya terlontar dari orang yang hampir mati. Dan memang, salah-benar itu hanya berlaku di kehidupan duniawi. &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, di hari raya umat Islam ini aku hanya mengucapkan "Selamat Hari Fitri". Hanya mengucapkan saja karena kewajibanku sebagai bagian dari masyarakat yang selalu terpesona pada momentum. Aku tak mau latah ikutan orang-orang yang berbondong-bondong minta maaf. &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;Karena hari itu, menurut aku,  sebenarnya hanyalah "perayaan sebuah kemenangan yg aneh". Siapa menang? Yang tak makan dan tak minum sebulan penuh? Yakinkah esensi puasa sudah Anda penuhi? Yakinkah sudah benar-benar bersih atau sekadar "merasa" bersih? Kalau Anda "merasa" telah menjalankan puasa secara utuh, Anda berhak "merasa" menang. Tapi cukup dengan "merasa", klaim, tapi secara esensi hanya Anda dan pemilik hidup Anda itu yang tahu. &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya Idul Fitri memang bukan suatu waktu di mana manusia tiba-tiba menjadi lebih beradab  dan suci --layaknya kesan yg selalu dimunculkan oleh Idul Fitri. Karena setelah lepas tahun ini, setelah momentum "obral ketulusan" ini selesai, maaf harus diproduksi lagi tahun depan. Bahkan mungkin saja secara kuantitatif mengalami peningkatan. &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;Semoga Anda semua  yakin tak akan mengkhianati maaf yang terucap atau terima. Memang, dalil "manusia tempatnya khilaf" selalu membuat permohonan maaf terkesan mengharukan. Tapi justru sifat itulah yang membuat maaf sebenarnya selalu sia-sia.  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;br /&gt;(Aku tak akan meminta maaf jika ada yang tersinggung dengan opini apa adanya ini. Karena aku merasa tak salah. Aku hanya beropini, bukan cari masalah. Bagi yang merasa sebuah pendapat adalah masalah, ya itu masalah orang itu sendiri. Aku tak mau minta maaf bukan karena menghinakannya. Tapi aku terlalu takut mengkhianati sebuah ampunan yang begitu luhur)  &lt;/div&gt;&lt;div align="LEFT"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-7945515261158685834?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/7945515261158685834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/09/maaf.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7945515261158685834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7945515261158685834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/09/maaf.html' title='&quot;Maaf&quot;'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh6.googleusercontent.com/-84-SOnD8CWQ/TXbzoTcGNII/AAAAAAAAAZg/JqWhJVBYgCM/s72-c/sorry_comment_04.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-4323645328174773755</id><published>2010-08-30T04:40:00.003+07:00</published><updated>2011-03-09T10:38:29.850+07:00</updated><title type='text'>"Kita" Tak Pernah Menuntut</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-i8yjpvwQsGk/TXb2KNpM0FI/AAAAAAAAAZk/xCrxAP_8OB0/s1600/togetherness.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://lh3.googleusercontent.com/-i8yjpvwQsGk/TXb2KNpM0FI/AAAAAAAAAZk/xCrxAP_8OB0/s320/togetherness.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;BAHASA tubuh bapak dari dua bocah laki-laki ini memang menggambarkan&lt;br /&gt;sebuah arogansi dalam bersikap. Sok belagu, atau dalam istilah Jawa&lt;br /&gt;yang paling kasar disebut (maaf) "nggatheli".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang merasa santun, kinesik laki-laki itu bisa menimbulkan&lt;br /&gt;muak. Sedangkan bagi para pencari masalah, sikap petinggi sebuah&lt;br /&gt;stasiun televisi lokal itu biasanya diartikan sebagai "upaya untuk&lt;br /&gt;memancing kerusuhan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki dengan gestur layaknya jagoan itu adalah salah satu kawan&lt;br /&gt;terbaik saya. Namanya Hendri Tri Sugara. Oleh orang-orang dekatnya,&lt;br /&gt;termasuk saya, dia akrab dipanggil Ganden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganden, yang dalam pengucapan lidah Jawa biasanya berbunyi (ng)Ganden,&lt;br /&gt;adalah kata sifat dalam bahasa Jawa untuk menerangkan bentuk tengkorak&lt;br /&gt;belakang sangat menonjol hingga mirip sanggul. Kalau Anda penggemar&lt;br /&gt;sepak bola, lihat atau ingat-ingatlah bentuk kepala belakang bomber&lt;br /&gt;Tim Nasional Prancis, Thiery Henry. Itulah yang dimaksud (ng)ganden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kepala Ganden tidak ganden. Bahkan, setidaknya menurut&lt;br /&gt;saya, bentuknya proporsional. Istilah "ganden" untuknya memang bukan&lt;br /&gt;berarti harfiah. Panggilan itu adalah hiperbola untuk bagian belakang&lt;br /&gt;kepalanya yang "cacat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa remajanya, kepala belakang Hendri sering dihantam benda keras&lt;br /&gt;--paling sering palu-- oleh orang-orang yang "gemas" padanya tapi tak&lt;br /&gt;berani berhadapan muka. Tiap ada yang dongkol pada Hendri ketika itu,&lt;br /&gt;menyerang dari belakang memang pilihan tepat. Sebab, kalau face to&lt;br /&gt;face bisa-bisa jadi&amp;nbsp;bulan-bulanan jurus silat si Ganden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendri waktu itu adalah seorang petarung yang menunjukkan eksistensi&lt;br /&gt;melalui kepiawaiannya memeragakan jurus silat dan main hajar. Dia juga&lt;br /&gt;sempat dicap sebagai raja tega. Kecenderungan itulah yang menimbulkan&lt;br /&gt;kesan dia sama sekali tak ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang asing, Hendri memang terlihat jahat. Tapi bagi orang-orang&lt;br /&gt;dekatnya, Ganden adalah pribadi yang hangat. Loyalitasnya pada kawan&lt;br /&gt;tak perlu ditanyakan. Di balik fisik yang sangar dan gaya bicara&lt;br /&gt;semaunya itu hidup jiwa yang menjunjung tinggi persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kesan dari dua sisi berbeda itulah yang saya tangkap setelah&lt;br /&gt;melakukan "observasi dan wawancara" terkait Ganden si preman. Ketika&lt;br /&gt;itu saya masih tercatat sebagai siswa SMA dan belum bergaul dengannya.&lt;br /&gt;Lulus sekolah saya merantau ke Surabaya. Setelah itu saya mulai lupa&lt;br /&gt;sepak terjang Hendri alias Ganden. Bahkan saya sempat tak ingat kalau&lt;br /&gt;dia ada di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun berkelebat. Perjalanan karir membawa saya kembali ke&lt;br /&gt;kampung, sebagai reporter daerah. Saat itulah saya melihat Hendri&lt;br /&gt;lagi. Gayanya masih "nggatheli". Yang benar-benar berubah pada dia&lt;br /&gt;adalah profesinya: dulu preman kini wartawan. Bukan meremehkan, tapi&lt;br /&gt;saya sempat heran. Proses seperti apa yang dilaluinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya terjawab setelah saya kerap bekerjasama dengan dia&lt;br /&gt;ketika berburu berita. Sebenarnya Ganden melakukan hal yang biasa&lt;br /&gt;dilakukan manusia. Semua orang bisa asal mau. Mantan preman itu mau&lt;br /&gt;belajar. Tekat pantang mundur yang dia anut sejak zaman "mreman" jadi&lt;br /&gt;nilai lebihnya. Dengan itu dia maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendri tertarik jurnalistik setelah kepincut kamera. Dia mulai dengan&lt;br /&gt;magang sebagai fotografer salah satu koran lokal dan berhasil. Setelah&lt;br /&gt;melewati proses yang tak pernah dia ceritakan utuh, Ganden akhirnya&lt;br /&gt;tercatat sebagai reporter televisi lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang baru di sebuah wilayah, ketika itu saya sangat terbantu&lt;br /&gt;olehnya. Saya membalasnya dengan beberapa ilmu praksis jurnalistik&lt;br /&gt;yang belum sempat dia pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah saya rasakan sendiri loyalitas Ganden untuk orang yang&lt;br /&gt;mau berkawan dengannya. Dia tak pernah ngitung untung-rugi. Asal&lt;br /&gt;perkawanan sehat, sama-sama "86", itu cukup bagi dia. Saya lalui&lt;br /&gt;banyak hal dengan dia di kota kecil itu. Sampai akhirnya saya pun&lt;br /&gt;dipanggil ke Ibu Kota. Seiring berjalannya waktu, komunikasi kami&lt;br /&gt;menjadi jarang. Kami sibuk urusan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama jarang terhubung, saya pulang kampung setelah tahun&lt;br /&gt;pertama di Jakarta. Ganden adalah orang yang pertama menyambut saya.&lt;br /&gt;Saya pun sadar kalau jarangnya komunikasi tak memutus perkawanan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu saya terkaget-kaget (lagi), sama kagetnya seperti saat&lt;br /&gt;bertemu dia dua tahun sebelumnya. Ganden berkembang pesat. Dari&lt;br /&gt;dulunya preman, lalu jadi wartawan, akhirnya jadi penguasa biro&lt;br /&gt;stasiun TV lokal! Luar biasa pesat perkembangan lulusan Sekolah&lt;br /&gt;Menengah Pertanian, sekolah kejuruan yang dilikuidasi karena kurang&lt;br /&gt;bermutu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya salut, Ganden yang membangun statusnya dari nol&lt;br /&gt;hingga mampu jadi bos itu tetap percaya kebersamaan. So, dia masih&lt;br /&gt;kawan saya yang mengacuhkan laba-rugi. Bahkan, tiap pulang dari&lt;br /&gt;Jakarta, dulu, dia selalu bersedia menjemput saya ketika kereta yang&lt;br /&gt;saya tumpangi masuk stasiun pukul 3.30 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sampailah pada suatu malam bulan Ramadan di Surabaya, ketika&lt;br /&gt;saya pindah tugas (lagi) ke kota itu. Saya dan Ganden sua kembali&lt;br /&gt;setelah berkali-kali pisah-temu. Lima tahun telah lewat dan Ganden&lt;br /&gt;tetap seperti yang saya kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat dia sedikit beda malam itu adalah isi dompet dan&lt;br /&gt;kebanggaan. Fulusnya kian bejibun. Dia dimanja bos besar lantaran&lt;br /&gt;prestasi biro yang dia komando terus melejiit. Tapi, setebal apapun&lt;br /&gt;isi dompetnya, lelaki yang delapan tahun lebih tua dari saya itu tetap&lt;br /&gt;teman saya. Tangguh dan paham arti empati di balik cover-nya yang&lt;br /&gt;"nggateli".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbincang lama. Saya terhibur di tengah situasi yang amat&lt;br /&gt;menghujam ini. Ya, syukurlah, kendati makin langka, setidaknya masih&lt;br /&gt;ada orang yang mau mengerti bahwa kebersamaan itu berarti "kita",&lt;br /&gt;bukan "aku" atau "kau" yang senantiasa saling menuntut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-4323645328174773755?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/4323645328174773755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/08/kita-tak-pernah-menuntut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/4323645328174773755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/4323645328174773755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/08/kita-tak-pernah-menuntut.html' title='&quot;Kita&quot; Tak Pernah Menuntut'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh3.googleusercontent.com/-i8yjpvwQsGk/TXb2KNpM0FI/AAAAAAAAAZk/xCrxAP_8OB0/s72-c/togetherness.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-5702846672422652264</id><published>2010-08-21T17:13:00.002+07:00</published><updated>2011-03-09T10:45:28.546+07:00</updated><title type='text'>Jean Valjean</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-80fY462g-CQ/TXb3tlENiyI/AAAAAAAAAZs/CJnSuhtAQg4/s1600/Les+Miserables.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://lh6.googleusercontent.com/-80fY462g-CQ/TXb3tlENiyI/AAAAAAAAAZs/CJnSuhtAQg4/s320/Les+Miserables.jpg" width="317" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;SALAH&lt;/b&gt; satu pagi buta Ramadan ini. Mataku, lagi-lagi, terlalu sombong&lt;br /&gt;untuk dipejamkan. Serasa ada kusut dalam kepala yang tak terurai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkal sebabnya adalah, pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin aku&lt;br /&gt;abaikan tiba-tiba begitu menggigit di benak; Apakah kita harus&lt;br /&gt;berkoar-koar pada dunia ketika kita punya niat memberi dengan tulus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bulan suci ini dibuka, pertanyaan seperti itu seperti terus&lt;br /&gt;memburuku. Seolah selalu memaksa aku untuk menjawab: "Ya, niat baik&lt;br /&gt;harus kau pamerkan di depan banyak orang. Kalau tidak, kau tak akan&lt;br /&gt;dipandang baik karena orang-orang tak akan mau melihat kebaikanmu. Kau&lt;br /&gt;akan dicurigai, bahkan kau akan dituding menyimpan niat jahat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ya, seolah-olah di pagi buta ini aku merasa dipaksa untuk menyetujui&lt;br /&gt;jawaban itu. Tapi aku tak bisa. Karena yang aku tahu, niat baik itu&lt;br /&gt;bukanlah sesuatu yang harus terpajang di etalase agar tampak oleh&lt;br /&gt;semua orang.  Tapi sesuatu yang harus dilakukan, kendati dalam diam&lt;br /&gt;sekalipun, dan membawa kebaikan. Sesuatu yang harus diberikan.&lt;br /&gt;Tak perlu menuntut balasan atas kebaikan itu. Karena kebaikan tak&lt;br /&gt;pernah menuntut imbalan --bukan sesuatu yang harus dihitung dengan&lt;br /&gt;kalkulasi untung-rugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kerapkali orang tak menyadari niat baik kita dan malah menuduh&lt;br /&gt;kita punya maksud jahat dengan melakukan itu. Menempatkan kita sebagai&lt;br /&gt;orang licik, yang harus dicurigai, yang selalu berharap keuntungan&lt;br /&gt;pribadi dengan "pura-pura baik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ketika niat baik tak bisa dibuktikan dengan cepat karena&lt;br /&gt;bermacam-macam sebab. Atau telah berhasil dibuktikan, hanya saja&lt;br /&gt;kebanyakan orang tak sadar atau enggan mengakui bahwa itu adalah bukti&lt;br /&gt;perbuatan baik yang kita lakukan secara diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin membantu dituduh mencari untung. Berniat mengabdi dituding cari&lt;br /&gt;muka. Berniat maju dicap angkuh dan pamer. Memberikan kesempatan&lt;br /&gt;dipandang pilih kasih. Menyumbang saran disangka menghasut. Tulus&lt;br /&gt;mencintai dituding menipu. Respon tak baik kerap hadir untuk sebuah&lt;br /&gt;niat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan inilah yang membuat kemarahan --yang sebenarnya telah&lt;br /&gt;kupendam dalam-dalam dengan usaha yang sangat keras-- menyeruak dan&lt;br /&gt;meledak-ledak di bulan suci ini. Awalnya aku menuntut, kenapa mereka&lt;br /&gt;tak bisa melihat sisi baik dari wujud yang --memang aku akui-- "tampak&lt;br /&gt;jahat" lantaran sifat temperamental yang melekat dan kadang meledak&lt;br /&gt;ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kebanyakan orang selalu menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan&lt;br /&gt;apa yang mereka lihat atau rasakan sekilas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu marahnya aku pada keadaan ini, sampai aku nyaris memutuskan,&lt;br /&gt;mungkin lebih baik semua niat baik ini aku tiadakan saja sama sekali.&lt;br /&gt;Kenapa harus berbuat baik kalau kita malah selalu menuai keburukan&lt;br /&gt;dari upaya itu? Bukankah lebih baik aku manjakan diri sendiri dengan&lt;br /&gt;sesuatu yang menguntungkan, termasuk dengan melakukan hal tidak baik&lt;br /&gt;sekalipun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama ego yang tiba-tiba muncul lagi, awalnya aku ingin berpikiran&lt;br /&gt;begitu saja. Tapi, setiap kali ingat bahwa kebaikan bukanlah sesuatu&lt;br /&gt;yang sifatnya transaksional, aku kembali memutuskan untuk&lt;br /&gt;meneruskannya. Apalagi pribadiku dibentuk bukan untuk mencari laba&lt;br /&gt;dengan cara-cara yang hina. Bapak selalu mengajarkan aku untuk memberi&lt;br /&gt;dengan tulus. Kalau memang mau berbuat baik, ya jangan minta imbal&lt;br /&gt;balik. Tapi, sebagai manusia biasa yang ber-ego, bisakah aku melakukan&lt;br /&gt;itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya sosok Jean Valjean itu nyata, aku pasti akan banyak beguru&lt;br /&gt;padanya. Aku ingin belajar dari dia bagaimana cara agar marahku tak&lt;br /&gt;meledak ketika niat baikku berbalas cacian yang sering menyakitkan.&lt;br /&gt;Jean adalah pria Prancis yang hidup di abad ke-16, atau ketika Negeri&lt;br /&gt;Anggur dilanda resesi ekonomi paling parah sepanjang sejarah. Mantan&lt;br /&gt;narapidana yang pernah dipenjara 19 tahun hanya gara-gara mencuri&lt;br /&gt;sepotong roti untuk keponakannya yang lapar itu selalu berupaya untuk&lt;br /&gt;memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berikan semua yang dia punya dan bisa, untuk siapa saja yang&lt;br /&gt;membutuhkan, dengan tulus berdasarkan niat baik. Sayang, niat baiknya&lt;br /&gt;selalu dipandang dengan cibiran, tudingan, atau dilihat sebagai sebuah&lt;br /&gt;kejahatan terselubung --hanya lantaran dia pernah dipenjara karena&lt;br /&gt;sebuah sebab yang seharusnya tak pantas mengantarkannya ke bui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujatan yang menyakitkan itu tak pernah menghentikan upayanya untuk&lt;br /&gt;berbuat kebaikan dengan tulus dan tak pernah meminta balasan. Caci dan&lt;br /&gt;hinaan untuk niat baiknya itu tak pernah membuat&amp;nbsp;Jean marah. Luar&lt;br /&gt;biasa. Berjuta sayang, Jean Valjean hanyalah sosok fiktif rekaan&lt;br /&gt;Victor Hugo, yang diposisikan sebagai protagonis dalam lakon  "Les&lt;br /&gt;Miserables". Dia tak pernah ada di dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;SAMBIL berharap kemarahan bisa perlahan berkurang sampai benar-benar&lt;br /&gt;hilang, kubawa tubuh dan pikiran yang masih saja enggan kuistirahatkan&lt;br /&gt;ini menikmati pagi di perbatasan Surabaya-Sidoarjo yang masih sepi.&lt;br /&gt;Kulepaskan pandang ke alang-alang yang membentang di tanah lapang.&lt;br /&gt;Begitu segar dengan taburan embun sebagai pengganti hujan yang tak&lt;br /&gt;jadi datang. Kuhirup sepuasnya sejuk ini. Kuredam marah yang membakar&lt;br /&gt;benak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah orang-orang memandang niat baik dari sisi yang paling gelap.&lt;br /&gt;Yang penting, sebagai manusia biasa yang punya banyak sisi  buruk,aku&lt;br /&gt;berusaha sebisa mungkin menyelipkan selarik hal baik di antaranya,&lt;br /&gt;meski aku tak sehebat Jean Valjean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin satu-satunya babak dalam kisah "Les Misserables" yang identik&lt;br /&gt;dengan dunia nyata adalah ketika orang-orang baru menyadari kebaikan&lt;br /&gt;Jean Valjean setelah sang tokoh mangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita baru menyadari makna kehadiran seseorang ketika dia tak pernah lagi datang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-5702846672422652264?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/5702846672422652264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/08/jean-valjean.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5702846672422652264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5702846672422652264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/08/jean-valjean.html' title='Jean Valjean'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh6.googleusercontent.com/-80fY462g-CQ/TXb3tlENiyI/AAAAAAAAAZs/CJnSuhtAQg4/s72-c/Les+Miserables.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-1002060034171459930</id><published>2010-08-18T05:24:00.002+07:00</published><updated>2011-03-09T10:41:16.159+07:00</updated><title type='text'>Kalau Saya...</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-qXOEYCXEtlE/TXb2zu3WuRI/AAAAAAAAAZo/QB-rUqucQhc/s1600/Angel.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://lh3.googleusercontent.com/-qXOEYCXEtlE/TXb2zu3WuRI/AAAAAAAAAZo/QB-rUqucQhc/s320/Angel.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;KALAU saya mendapatkan keistimewaan seperti Musa, yang boleh&lt;br /&gt;bernegosiasi langsung dengan Tuhan, pertama yang akan saya minta&lt;br /&gt;adalah ganti isi kepala saya dengan yang baru. Yang bisa mengajak saya&lt;br /&gt;untuk menikmati hak terlelap di malam hari. Dengan bisa menikmati&lt;br /&gt;istirahat, badan dan pikiran saya tentu jadi sehat. Barulah saya&lt;br /&gt;memimpin umat-Nya menuju tanah yang dijanjikan berbekal 10&lt;br /&gt;perintah-Nya. Kalau umat bawel, yang bisa membuat isi kepala saya yang&lt;br /&gt;baru diganti oleh Tuhan itu bobrok seperti yang lama, saya akan&lt;br /&gt;langsung kabur, seperti ketika Musa meninggalkan kaum Yahudi begitu&lt;br /&gt;saja di tepi sungai Yordan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya jadi Roqib --malaikat pencatat amal baik dalam terminologi&lt;br /&gt;Islam itu-- saya akan menghadap Tuhan dan minta reposisi. Karena saya&lt;br /&gt;malaikat yang penuh kebaikan, saya akan minta agar diperbolehkan&lt;br /&gt;membantu Atit membereskan pekerjaannya menginventarisir keburukan&lt;br /&gt;manusia. Saya sungkan sama sohib, masa ketika dia kerepotan mencatat&lt;br /&gt;sampai sehari harus berganti ratusan buku, sementara seharian penuh&lt;br /&gt;saya menganggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja saya ini Ifrid, saya akan melayangkan protes kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Dalam kesepakatan kontrak saya saat pertama saya diciptakan sebagai&lt;br /&gt;jin dari api, saya seharusnya menjadi yang paling jahat. Tapi pas saya&lt;br /&gt;coba menjalankan kontrak itu, ternyata ada 2 miliaran makhluk yang&lt;br /&gt;katanya paling mulia itu jauh lebih jahat daripada saya. Saya merasa&lt;br /&gt;Tuhan telah melanggar kontrak dengan menciptakan makhluk yang lebih&lt;br /&gt;kejam dari saya. Saya akan minta revisi kontrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya malaikat Ridwan, saya akan sering-sering memeriksa engsel&lt;br /&gt;dan kunci pintu surga. Kalau tidak, saya khawatir berkarat. Sudah&lt;br /&gt;terlalu lama saya tidak membukakan pintu itu untuk siapapun setelah&lt;br /&gt;terakhir kali saya persilahkan Muhammad. Saya juga akan minta&lt;br /&gt;remunerasi. Karena jelas saya mendapat tugas baru untuk menghibur&lt;br /&gt;bidadari-bidadari yang kesepian dan nyaris putus asa itu. Saya juga&lt;br /&gt;akan minta penambahan budget untuk jaminan kesehatan karena saya harus&lt;br /&gt;minum semua arak suci itu yang mengalir di sungai itu. Daripada&lt;br /&gt;mubazir, sudah diciptakan tapi tak ada yang minum. Sesekali saya juga&lt;br /&gt;akan menjenguk Malik sohib saya. Hanya untuk menghibur dan memijatnya&lt;br /&gt;setelah kerepotan luar biasa mengurus penghuni neraka. Mungkin dia&lt;br /&gt;perlu sedikit bantuan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya Munkar atau Nankir, saya akan menyiapkan banyak cambuk&lt;br /&gt;cadangan. Saya kesal, karena manusia-manusia yang mati itu pada bodoh&lt;br /&gt;semua. Padahal pertanyaan saya seharusnya mudah dijawab: "Siapa&lt;br /&gt;Tuhanmu", atau "apa yang kau lakukan selama hidupmu". Tapi mereka kok&lt;br /&gt;jawabnya tidak tahu. Betulan atau pura-pura tidak tahu, saya tetap&lt;br /&gt;harus mencambuk untuk pertanyaan yang tak terjawab. Dan semua jenazah&lt;br /&gt;tak bisa menjawab itu. Cambuk saya jadi terlalu sering dipakai&lt;br /&gt;sehingga cepat soak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya Israfil, saya akan mengajukan permohonan mempercepat&lt;br /&gt;peniupan sangkakala. Saya tidak enak sama rekan-rekan saya lainnya.&lt;br /&gt;Atit kerepotan mencatat sampai Roqib menawarkan bantuan; Malik&lt;br /&gt;kesulitan menerima pesanan tempat di nerakanya sampai minta bantuan&lt;br /&gt;Ridwan; Munkar-Nankir sampai pegal-pegal karena terlalu sering&lt;br /&gt;mencambuk; atau Izrail yang terpontang-panting karena seringkali&lt;br /&gt;mendadak harus menjemput nyawa yang lepas tanpa perintah Tuhan&lt;br /&gt;lantaran manusia makin hobi main bunuh. Sementara saya? Saat kolega&lt;br /&gt;sedang sibuk, saya menganggur karena meniup sangsakala adalah&lt;br /&gt;satu-satunya jobdesk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya memang sudah saatnya saya bekerja. Dunia harus segera&lt;br /&gt;diakhiri. Semakin banyak hal memuakkan di sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-1002060034171459930?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/1002060034171459930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/08/kalau-saya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1002060034171459930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1002060034171459930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/08/kalau-saya.html' title='Kalau Saya...'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh3.googleusercontent.com/-qXOEYCXEtlE/TXb2zu3WuRI/AAAAAAAAAZo/QB-rUqucQhc/s72-c/Angel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-5833605071036354640</id><published>2010-08-17T15:13:00.001+07:00</published><updated>2010-08-18T21:54:39.461+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>"Mendirikan Salat"</title><content type='html'>&lt;b&gt;PADA&lt;/b&gt; salah satu malam suci umat Islam, sebuah kampung kecil di Surabaya tempat saya menumpang hidup, tubuh saya yang tiba-tiba drop mendadak ingin merokok. Wah, sial, stok di kamar ternyata nihil! Dengan amat malas luar biasa, saya paksakan tubuh untuk mengantar saya ke warung rokok terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjual kretek-filter terdekat sedang penuh. Beberapa pemuda tanggung asli kampung sedang berkumpul selepas salat Tarawih berjamaah di masjid yang agak jauh dari kostku. Sembari kompak menikmati rokok ketengan masing-masing, mereka sedang membicarakan sesuatu. Dari kejauhan terlihat seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya sedang menunggu penjual mengambilkan rokok bermerk yang saya sebut, beberapa potong dialog mereka berhasil saya rekam di kepala. Kira-kira seperti ini (nama objek sengaja saya ganti, alias bukan sebenarnya, untuk menghindari kerusuhan. Bahasa saya sulih ke Indonesia biar tulisan ini tidak terkesan rasis):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa?" kata Badrun, yang mengenakan peci berwarna sangat kontras dengan jidatnya yang gelap mengkilap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dikasih tahu tak percaya. Yo uwes," sahut Sidik yang berambut keriting. Lalu Sidik menghisap bara di tembakaunya, yang jaraknya kian dekat dengan filter. "Dia ada di shaf ketiga," lanjut Sidik. Dia embuskan asap pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badrun diam berfikir. "Kalau kamu kasih tahu aku dari tadi pas bubaran, sudah aku kasih pelajaran dia," Badrun seperti menyesal. "Dua tahun dia menghilang setelah kejadian. Sialan!" dia banting puntung rokoknya yang masih panjang. Seolah dia sedang melampiaskan sebuah dendam menahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana, mau dicari lagi sekarang? Apa nanti selesai salat Subuh kita kerjai dia ramai-ramai," Udin, pemuda yang lain lagi dalam "forum rembukan" di depan warung rokok itu seperti berusaha menyulut permusuhan atas nama solidaritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ide bagus," Badrun langsung oke. "Tapi..." tiba-tiba dia bimbang, "Ini kan bulan puasa. Masa ribut-ribut?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya kalau mau sekarang, daripada ilang lagi," Tohir, pemuda lainnya,mengingatkan. "Biar kesannya tak terlihat ribut-ribut, kita lempar saja dia dengan petasan. Dijamin beres. Kalau dia luka atau apa, kita bilang saja tak sengaja mengenainya," sambil membetulkan letak sarungnya, Tohir kian bersemangat mengembuskan semangat untuk ribut-ribut. Dia menyeringai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ide bagus," Badrun tampak puas. Lalu mereka sepakat pertemuan ditutup. "Sampai nanti Subuh. Assalamualaikum," kata salah satu di antara pemuda-pemuda itu, entah yang mana, lalu semuanya pulang ke rumah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah saya menerima rokok yang saya mau sekaligus uang kembalian dari pemilik warung. "Itu tadi anak kampung sini ya, Pak?" saya bertanya tentang "forum menghasut" itu. "Iya, Mas. Mereka itu pemuda-pemuda yang biasa mengurus masjid," jawab si bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo," sahutku apa adanya. Remaja masjid? Saya kantongi rokok dan uang kembalian, lalu pulang ke kost sembari membawa kepala yang makin pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DRAMA&lt;/b&gt; kecil di depan warung itu membuat saya semakin sadar bahwa kehidupan beragama di sekitar saya ini makin lama makin paradoks. Saya letakkan kepala di atas bantal berharap pusing akan teredam. Tapi apa daya, gara-gara lupa jadwal rutin penanganan medis siang sebelumnya --yang membuat saya mendadak drop padahal membuka hari dengan tubuh fit-- malam itu saya kesulitan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara upaya saya untuk memaksa tidur dengan membiarkan imajinasi bebas liar ke mana saja, pikiran saya selalu bermuara pada adegan kecil tentang perilaku "orang-orang muslim" yang giat beribadah, terutama di bulan Ramadan ini, di depan warung rokok tadi. Akibatnya, kantuk pun serasa kian jauh karena, terus terang saja, saya merasa sangat-sangat heran dengan perilaku seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataanya,fragmen seperti itu hanyalah satu contoh kecil. Banyak lagi perilaku sejenis yang menyebar di sekeliling kita: ketika sebuah ibadah ritual itu hanya didefinisikan sebagai atribut. Aksesoris sosial. Ibadah yang hanya dilakukan agar mendapat label sebagai seorang muslim yang utuh "hanya karena" rajin salat --lima waktu plus sunnah Tarawih tiap Ramadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah ritual berakhir, ya sudah. Tak ada makna yang bisa dibawa dari sebuah upaya berdialog dengan Tuhan di rumah-Nya itu dalam kehidupan sosial. Setelah memuja-muji Tuhan dengan segala ke-Maha-an-Nya, manusia-manusia itu menghasut, menghina, dan merendahkan sesamanya. Entah apa yang mereka cari dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, dalam pandangan saya sebagai pribadi yang oleh kebanyakan orang dicap sebagai atheis lantaran tak menjalankan ritual dengan tertib ini, mereka-mereka ini sama saja dengan atheis dalam konteks "penghinaan terhadap Tuhan dan ciptaan-Nya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika atheis dipandang sebagai sebuah paham yang merendahkan Tuhan karena menganggap Dia tidak ada, lalu, apakah orang-orang yang paling doyan salat berjamaah tapi mensyiarkan permusuhan itu tak menghina Tuhan? Bahkan bisa jadi mereka menganggap Tuhan itu pembual yang tak perlu diikuti perintah-Nya. Atau orang-orang berpikiran cetek yang merasa Islam, tapi tak tahu apa maksud ajaran agama rahmatanlil'alamin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang seperti itu membaca Alquran sama seperti ketika menyimak buku petunjuk pengoperasian ponsel. Hanya "melakukan" apa yang diinstruksikan di dalamnya, tapi gagap dalam memahami maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang saya tangkap dari pembacaan saya terhadap Alquran dan beberapa dialog dengan ulama-ulama bijak, bukankah menjalankan salat itu tak sekadar sebuah upaya menggugurkan kewajiban terjadwal lima kali sehari plus beberapa sunnah, lantaran merasa muslim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Allah memerintahkan umatnya salat bukan hanya sekadar mengolah fisik dengan gerakan-gerakan tawaduk, rukuk, atau sujud saja? Ya, Allah memerintahkan umat muslim untuk menempatkan salat sebagai sebuah sebuah fondasi perilaku orang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, melalui Alquran Allah memerintahkan umatnya untuk "mendirikan" salat, bukan menjalankannya. Bagi yang merasa pernah membaca Quran, dalam Al Baqarah: 43 Allah memerintahkan umatnya dengan titah, "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu cara memaknai kalimat itu berbeda dengan kalimat, "masukkanlah kartu SIM anda, pasang baterai, lalu nyalakan," seperti yang tercantum dalam buku petunjuk ponsel. Kalau petunjuk dalam buku operasional ponsel itu untuk dilakukan, Alquran lebih dari itu. Ayat-ayat dalam 30 juz itu untuk diamalkan, dilakukan dengan sepenuh hati dan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Alquran perlu pemahaman filosofis, bukan pemahaman statis seperti membaca buku petunjuk teknis --begitulah wejangan salah satu ulama bijak tempat saya pernah belajar Islam. Karena itulah, dalam Alquran juga Allah "memberi catatan" bahwa Islam adalah agama untuk orang yang berakal. Yang mau menggunakan nalar dan perasaan untuk memahami petunjuk di dalamnya. Karena bahasa kitab suci adalah sebuah metafora yang tak hanya cukup dibaca saja, tapi diselami maknanya untuk mencapai sebuah pemaknaan tentang bagaimana cara seorang muslim itu hidup dan memandang dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang salat, kenapa Allah memerintahkan umat untuk mendirikannya? Ya karena, menurut penjelasan kiai saya yang juga bisa saya pahami, karena Allah ingin, dalam salatnya itu manusia mendirikan, atau membangun sebuah perilaku kehidupan yang benar-benar Islam. Dalam semua gerakan atau bacaan di dalamnya, yang sarat makna filosofis itu, Allah mengajarkan kita bagaimana caranya menjalani hidup penuh rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salat, seorang muslim diajarkan berpasrah dan berserah dengan gerakan berdiri tertunduk sembari melipatkan tangan. Pasrah dan berserah menghindarkan seorang muslim dari sifat serakah yang bisa menghancurkan kehidupan pribadi atau sosialnya. Karena Allah tak menyukai sesuatu yang berlebihan. Karena keserakahan bisa menimbulkan peperangan, kerusuhan, kekacauan, penindasan, pembunuhan, di mana semua itu adalah hal-hal yang tak pernah diinginkan manusia mana pun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruku' dan sujud mengajarkan muslim untuk ikhlas dan tahu diri, bahwa sehebat apa pun kemampuan manusia, masih ada yang jauh di atas itu. Gerakan ini mengajak orang untuk sadar diri, atau tahu diri, bahwa manusia itu adalah makhluk yang sama sekali tak sempurna, tempatnya berbuat salah, serba terbatas. Gerakan ini mengajarkan manusia untuk menepis rasa sombong, angkuh, congkak, atau memandang rendah orang lain. Bahwa semua manusia sama kedudukannya di hadapan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dalam penutup salat mengajarkan manusia untuk saling mendoakan dan berbuat baik pada sesama. Dari bagian ini Allah mengajarkan kerukunan antarsesama pada umat. Salat mengajarkan ukhuwah. Mengajarkan agar jangan sampai manusia saling menyakiti, baik fisik maupun psikis. Allah memperingatkan umat agar jangan saling menggunjing, menghasut, apalagi memfitnah, yang bisa menyebabkan perpecahan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Allah menyatukan umat itu juga terlihat jelas dalam janji ganjaran berlipat jika muslim menjalankan jamaah. Allah sangat berharap umat-Nya damai, di mana ajaran yang damai itu diserukan dalam beberapa surat yang mengajarkan tentang perilaku sosial yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salat tak hanya mengajarkan cara manusia absen di hadapan Tuhan. Tapi juga mengajarkan bagaimana seharusnya sesama umat membangun hubungan yang sehat. Bersama salat dan pengamalan terhadap pesan-pesan filosofisnya dalam kehidupan sosial itulah seorang muslim melakoni kehidupan. Karena itulah dalam Islam ada istilah "salat adalah tiang agama". Adalah penyangga yang selalu menjaga agar keyakinan seorang muslim kokoh tegak berdiri, sejauh orang-orang berakal memahami maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MASIH &lt;/b&gt;bersama kepala di atas bantal kamar kost, saya teringat pelajaran dari Alquran di mana untuk memahami maknanya saya dibantu Pak Kiai Bijak itu. Saya pun sangat heran ketika mendapati fragmen di depan warung rokok di kampung tempat saya numpang hidup itu. Juga adegan-adegan lain di sekitar saya, baik di lingkungan kerja, kampung orang tua, atau di manapun tempat-tempat di mana saya pernah singgah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh memang, ketika salat mengajarkan umat untuk ikhlas, berserah, tahu diri, rukun, menjaga persatuan umat, berkata yang baik-baik, di saat bersamaan, orang-orang yang sehari semalam bersujud minimal 17 kali itu saling menghasut, menebar kebencian, dengki melihat keberhasilan orang lain, tak mau berbagi, seakan-akan Allah "merestui" tingkah laku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak orang yang merasa Islam (setelah mendapatkan agama itu melalui warisan, bukan pemahaman) mengartikan salat hanya sesuatu yang harus "dilaksanakan", sekadar absen biar Tuhan senang. Bukan "mendirikan". Kasihan sekali orang-o.rang itu. Karena mereka tak sadar kalau ternyata mereka tak berakal karena gagal memaknai Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka membaca perintah Allah layaknya menyimak panduan teknis yang tercantum dalam buku petunjuk penggunaan ponsel.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-5833605071036354640?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/5833605071036354640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/08/mendirikan-salat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5833605071036354640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5833605071036354640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/08/mendirikan-salat.html' title='&quot;Mendirikan Salat&quot;'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-2301595468505820684</id><published>2010-08-16T06:00:00.002+07:00</published><updated>2010-08-18T22:09:05.835+07:00</updated><title type='text'>Bukan untuk Para Pengoceh</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:8OQdDZDAp6rbgM:http://i706.photobucket.com/albums/ww70/trollydodgers/godfather.jpg&amp;amp;t=1" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:8OQdDZDAp6rbgM:http://i706.photobucket.com/albums/ww70/trollydodgers/godfather.jpg&amp;amp;t=1" width="145" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;"NARKOTIKA?"&lt;/b&gt;  pertanyaan bernada heran itu terlontar dalam kemasan suara serak namun tenang, khas pita suara Vitto "The Godfather" Corleone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, Don Corleone. Tuan Bruno Tataglia sangat mengharapkan Don Corleone bermurah hati memberikan perlindungan untuk bisnis kami. Kami akan mengganti kemurahan keluarga Corleone dengan 20% keuntungan bersih kami," Bruno Tasci masih berusaha meyakinkan si "pemilik wilayah bisnis" di Distrik Chicago, Amerika Serikat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godfather bertopang dagu dan termangu memandang lantai dari permadani, seperti sedang serius menimbang-nimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah kanan gembong mafia berdarah asli Sisilia, Italia, itu Tom Hagen --anak angkat berdarah Amerika sekaligus pengacara khusus keluarga-- duduk takzim sembari menunggu sang ayah merespons tawaran menggiurkan itu. Tom juga siap memberi masukan. Tak sedikit keputusan strategis Vito Corleone yang lahir berkat bisikan si putra tiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakangnya berdiri Pedro, putra kandung kedua sang Don yang kurus, sakit-sakitan, dan tak pernah bisa mengambil keputusan apapun. Muka pucatnya penasaran ingin tahu apa jawaban bapaknya. Dalam situasi menegangkan itu muka Pedro selalu dilelehi keringat dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sang Don masih memikirkan jawaban yang paling tepat, tiba-tiba dari sebelah kiri dedengkot mafia yang paling dihormati di Chicago itu terlontar pertanyaan. "20%? Kau yakin?" suara bernada tinggi khas Sony --putra pertama keluarga-- spontan memecah ketegangan yang sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau..." Sony yang tak bisa menyembunyikan ketertarikannya terhadap tawaran Tasci dan membuka ruang negosiasi harus memutus sisa kalimat yang hampir melompat dari mulutnya. Sang ayah mengangkat tangan kiri dan menghadapkan punggung telapak tangannya tepat di muka Sony. Si sulung yang kerap meledak-ledak itu langsung paham. Itu adalah tanda haknya bicara sudah cukup. Dan adat keluarga mafia Corleone mengharamkan bantahan terhadap Instruksi ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitto sang Don yang paham betul karakter sulungnya berusaha menenangkan Sony dengan bahasa tubuh; telapak tangan dan lengan kirinya dinaik-turunkan pelan-pelan seperti orang melambai, jemari tangan kanannya menopang dagu kepalanya yang miring ke kanan dan mengangguk-angguk pelan. Matanya melirik tajam pada sang anak. "Tenang, Nak," begitulah arti kinesik itu kalau dilisankan. Yang diperingatkan mengerti. Sony mengunci penasarannya di balik mulut yang harus tertutup rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don Corleone mengangkat telunjuk kirinya untuk si pemarah. Tanda kalau Sony tak lagi punya hak bicara hingga forum diakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saudaraku Tuan Bruno Tasci," Godfather menyambung kembali dialognya dengan utusan orang yang ingin "berbisnis" dengannya. Suaranya agak parau termakan usia dan asap cerutu. Yang diajak bicara langsung mengambil posisi duduk tegak, matanya tajam menatap Don Vito, berharap gayung tuannya bersambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami sangat tersanjung mendapat tawaran yang luar biasa menguntungkan dari seorang pria terhormat layaknya Don Tataglia," lanjut Corleone tua. Senyum tipis dia hadiahkan dari bibir yang mengapit cerutu di sudut kirinya. Seketika senyum Bruno Tasci ikut mengembang. Dia membayangkan akan membawa pulang kabar baik untuk Bruno Tataglia --Don Italia lain yang memilih narkotika sebagai bisnis utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, dengan segala hormat, kami terpaksa menolak tawaran Don Tataglia karena keluarga Corleone tidak berbisnis narkoba." Kalimat lanjutan dari Don Corelone itu membuat senyum Bruno "Si Mulut Besar" Tasci kabur, di mana masam menggantikan tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi..." si utusan coba membuka kembali ruang negosiasi. Tapi si tuan rumah buru-buru memotong, "Sampaikan salam hormatku pada Don Tataglia. Sebenarnya aku akan lebih menghargai Don Tataglia kalau dia sudi menemuiku langsung. Mungkin kalau dia sendiri yang datang, aku akan mempertimbangkan tawaran itu. Aku sambut siapa saja yang datang padaku sebagai saudara dan aku akan melindunginya tanpa dia harus membayar. Tapi kalau Don Tataglia sahabatku tak mau menemuiku, aku juga tak punya kewajiban memenuhi permintaannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruno Tasci seketika itu langsung paham kalau Vitto Corleone tidak suka Bruno Tataglia hanya mengirim utusan untuk mengajukan proposal perlindungan pada keluarga mafia paling kuat se-Chicago tersebut. Sebagai kepala keluarga yang paling disegani di dunia para mafioso, Vitto Corleone pantas tersinggung ketika harus hanya bernegosiasi dengan kurir. Situasi itu membuat Tasci --yang mendapat mandat penuh untuk tawar menawar dengan keluarga Corleone-- mendadak kelu lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi sampaikan juga padanya, keluarga Tataglia kami persilahkan berbisnis di wilayah kami, berdampingan dengan bisnis keluarga Corleone, sejauh tidak menyentuh bisnis kami. Aku rasa bisnis narkotika tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga Corleone. Tapi seluruh risiko harus ditanggungnya sendiri." Penjelasan yang sopan dan dingin, sekaligus menunjukkan kalau Vitto Corleone adalah mafia yang sangat pemurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar tuan rumah sudah memutuskan proses tawar menawar itu selesai, muka Si Pembual langsung tertekuk. Dia pungut topi bulat khas mafioso di pangkuannya, menenggerkannya di kepala, "Terima kasih atas waktu Anda, Don Corleone," lalu buru-buru menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Negosiasi gagal dan dalam dunia bisnis mafia itu berarti "perang terbuka dimulai".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MAFIA &lt;/b&gt;Italia memang punya adat sendiri ketika hendak mengembangkan bisnis mereka, baik bisnis "hitam" --seperti narkoba, minuman keras, prostitusi dan judi ilegal-- maupun yang "putih" layaknya bisnis penginapan, tempat wisata, arena kebugaran, manufaktur, atau produksi barang-barang konsumsi masyarakat --makanan, minuman, bahkan obat-- yang penjualannya sah secara hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membangun market place di wilayah baru, para mafioso wajib mencari tahu siapa keluarga mafia yang menguasai pasar dan keamanan wilayah tersebut. Si calon investor perlu mempelajarinya. Berbekal seluruh informasi tentang plus-minus keluarga paling kuat, keluarga mafia investor yang ingin mengembangkan bisnis itu harus pintar memilih cara agar keluarga penguasa bersedia memberi mereka "tempat buka lapak" dan tak akan mengganggu bisnis mereka kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama yang wajib dijalankan adalah "silaturahmi" pada penguasa, minta izin ikut meramaikan perputaran modal di wilayah kekuasaannya. Kepala keluarga penguasa di tiap daerah punya cara komunikasi yang berbeda-beda. Ada yang mau berembuk dan mencapai kesepakatan kendati hanya dengan kurir; ada yang baru bersedia bicara bisnis hanya kalau tamunya membawa oleh-oleh untuk sogokan di depan;, ada juga kepala keluarga yang mewajibkan kepala keluarga calon investor datang sendiri, karena menganggap mengirim kurir untuk bicara bisnis adalah pelecehan terhadap martabat. Don Corleone adalah penganut cara komunikasi yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjumpaan pertama antara mafia calon investor (yang datang sendiri maupun mengirimkan orang kepercayaan) dan keluarga penguasa wilayah adalah tahap yang sangat menentukan bagaimana hubungan kedua pihak nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar fase krusial itu berlangsung menyenangkan dan melahirkan kesepakatan yang sama-sama menguntungkan, sebelum menghadap mafia penguasa area, calon investor wajib menghimpun informasi sebanyak mungkin tentang karakter si Don. Dari situ si mafia baru bisa menentukan gaya "kulonuwun" yang disesuaikan dengan "selera" pemilik wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau cara yang dipiluh tepat, negosiasi bisa "klik". Tapi, kalau keliru memilih cara di saat pertama, sudah pasti akan bernasib seperti Bruno Tasci, meninggalkan rumah si penguasa dengan kepala menunduk, langkah gontai, dan perasaan mendongkol. Keluarga calon investor juga harus selalu siaga karena sewaktu-waktu si penguasa bisa saja mengacak-acak mereka. Ujung-ujungnya pun harus berdarah-darah karena perang antar-kelompok mafia pasti pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahap awal proses tawar menawar itu, si calon pemodal harus berupaya mengambil hati penguasa. Lazimnya penguasa mendapat sejumlah iming-iming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sering dipilih kebanyakan new comer sebagai "pengikat komitmen" adalah menawarkan sejumlah upeti, yang biasa mereka istilahkan "berbagi keuntungan". Ini adalah kompensasi untuk "kemurahan hati dan perlindungan" dari keluarga penguasa. Harapannya, selama setoran lancar bisnis dijamin melaju tanpa hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opsi setoran biasanya ditawarkan oleh mafia yang bisnisnya sama sekali tak bersinggungan dengan bidang yang digeluti pemilik wilayah. Mereka hanya "pinjam tempat dan sewa perlindungan". Untuk itu mereka merasa wajib membayar sewa rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitungan kompensasi ini lebih jelas. Ketika pemodal baru untung banyak, setoran yang persentasenya dihitung berdasarkan total laba bersih itu juga besar. Kalau para wajib setor sedang pailit, penerima ya cuma dapat sedikit. Besaran upeti berbanding lurus dengan total netto kas masuk penyetor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar hubungan pemilik dan penyewa lahan itu sehat juga transparan, biasanya sebelum membayarkan jatah, penyetor wajib melaporkan neraca keuangan disertai lampiran dokumen untuk memastikan laporan tersebut tanpa rekayasa pada raja area. Dari sinilah bisa dipastikan berapa nominal yang seharusnya masuk ke rekening pemilik wilayah, berdasarkan persentase yang disepakati sejak awal perjanjian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau investor baru kedapatan curang, penguasa tak segan-segan memberangus mereka dengan berbagai macam cara, mulai dari menutup paksa kanal bisnis sampai menghabisi seluruh klan mafia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian upeti itu tidak bersifat saklek. Kemungkinan direvisi masih terbuka lebar. Pasalnya, naluri bisnis para mafia ini tak pernah berhenti bekerja, di mana mereka selalu memburu kans baru untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dan lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika investasi menunjukkan tren positif, atau pemilik modal menemukan peluang baru, bisa saja terjadi pertemuan insidentil untuk membahas beberapa "kesepakatan yang lebih menguntungkan". Dengan tawaran menguntungkan itu mereka ingin menarik lebih banyak simpati dari keluarga terkuat. Kalau itu sudah didapat, mafia rendahan itu akan lebih leluasa bergerak mengembangkan investasi tanpa perlu khawatir menyinggung penguasa karena sudah ada "saling pengertian".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang umum dipilih para mafioso baru sebagai bahan revisi perjanjian lama di masa awal "kerja sama" adalah merayu pemilik wilayah agar mau membantu mengembangkan, bahkan terlibat langsung, dalam rencana bisnis mereka dengan Iming-iming tambahan laba. Biasanya, mafia yang mengambil keputusan ini melihat peluang bisnis yang lebih menggiurkan daripada yang sedang dijalankannya, tapi menemui banyak hambatan. Seperti kurang modal atau tak punya jaminan keamanan untuk masuk ke sana. Dan semua masalah itu hanya bisa dibereskan oleh kekuatan dan kekuasaan pemilik wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan bisnis ini, bisa juga penguasa yang awalnya tak tertarik menggeluti bisnis yang dijalankan mafia baru lama-lama berminat. Setelah mencuri ilmu dari anggota konglomerasi paling bungsu itu, di mana bagi penguasa upaya tersebut adalah hal yang sangat mudah, bisa saja si orang kuat benar-benar ikut menyelami bisnis yang sama persis dengan bidang yang digeluti mafioso lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau situasinya begini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, timbul persaingan tak sehat antara dua keluarga yang menjalankan bisnis serupa. Mereka berebut pasar. Bisa juga memantik perang jalanan yang biasanya makan korban dari kedua kubu yang berseteru. Situasi bisa memburuk ketika wajib setor menyetop pasokan upeti lantaran merasa dicurangi ketika pemilik wilayah latah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan jadi lebih parah lagi jika komunikasi kedua pihak kurang sehat lantaran masing-masing keluarga terlalu fokus pada bisnis masing-masing hingga tak punya waktu untuk saling mengunjungi. Lebih parah lagi kalau tak pernah ada proses komunikasi antar-famili sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putusnya koneksitas selalu melahirkan curiga berlebihan, bahkan hasrat saling membabat. Terutama dari kubu mafia yang wajib setor, ketika lama-lama merasa terhina karena diwajibkan menyerahkan laba hasil kerja keras sekaligus simbol kehormatan keluarga (status yang selalu dijunjung tinggi oleh nyaris semua mafioso) pada keluarga yang sebelumnya asing sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak yang wajib setor terus menerus berusaha mencari peluang untuk menelikung pemilik wilayah. Di antara hubungan kerja sama yang terpaksa itu spionase bekerja untuk mengukur kekuatan sasaran. Kalau kesimpulan intelijen menyebutkan si pemilik wilayah ternyata tak begitu kuat --baik dari sisi jumlah anggota, simpatisan, maupun modal-- sesegera mungkin disusun strategi untuk mengambil alih tempat si penguasa atau kudeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya upaya pemberontakan diawali dengan membujuk orang-orang dekat penguasa yang hendak disingkirkan agar bersedia membantu mereka dengan tawaran pekerjaan dan gaji yang lebih baik. Ketika umpan iming-iming itu disambut baik, peluang berhasilnya kudeta sangat besar. Dan kalau keluarga penguasa wilayah kurang peka menangkap gejala-gejala upaya makar ini, mereka harus rela kehilangan pengaruh, kekayaan, dan martabat --tiga hal utama yang selalu diperebutkan atau dipertahankan mati-matian oleh semua klan mafia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SETELAH&lt;/b&gt; Bruno Tasci menghilang di balik pintu ruang pertemuan resmi si rumah mewah keluarga Corleone dari Sisilia, buru-buru Sony, yang tak lagi bisa menahan diri dan penasarannya, protes; "Tapi, Papa, itu 20%. Sangat menguntungkan kita!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vito si negosiator tanpa tanding dan lihai melihat peluang itu menjawab anaknya dengan nada yang masih tanpa emosi. "Keluarga Corleone tak akan pernah terlibat dalam bisnis narkoba, sampai kapan pun atau berapa pun besar keuntungan dari situ." Matanya yang agak sipit menatap tajam pada anak sulungnya. Godfather menyampaikan pesan bahwa keputusannya mutlak, melalui sorot tajam matanya. Si anak hanya bisa diam tanpa ekspresi, lalu mengangguk tanda menurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingat, Sony: jangan sekali-sekali mengatakan apa yang kau pikirkan di depan orang lain," Don Corleone memperingatkan calon penerus posisinya dalam keluarga itu karena menilai si sulung dari empat bersaudara lebih memilih menggunakan emosi dari pada berpikir dengan hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, Papa," jawab Sony singkat, lalu meninggalkan ruang pertemuan sembari masih membawa rasa penasaran yang beralih menjadi kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan pada suatu sore dalam sebuah rumah mewah dan megah di Chicago, Amerika Serikat, ketika mayoritas sektor perekonomian Negeri Paman Sam itu dikuasai penuh oleh kongsi keluarga mafia imigran dari Italia, di medio 1960-an itu, adalah sebuah adegan elegan yang dibayangkan Mario Puzzo lalu dituangkannya dalam salah satu bab karya tulis monumental bertajuk "The Godfather". Adegan yang "sangat khas mafia" itu divisualkan dengan cerdas oleh Copolla dalam seri pertama film trilogi dengan judul yang sama dengan buku yang disadur. Kian terkesan cerdas dan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MUNGKIN &lt;/b&gt;sebagian kecil penyimak drama ini, yang kebetulan tertarik pada cara pandang kepala keluarga Corleone yang selalu berlandaskan argumen logis akan bertanya: alasan rasional Vitto manakah yang membuatnya menolak tawaran Bruno Tataglia? Satu-satunya alasan yang terungkap eksplisit, hanya pernyataan "keluarga Corleone tak akan pernah menjalankan bisnis narkoba". Tapi, apa latar belakang keputusan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak disebutkan jelas secara verbal. Tapi, kalau menyimak latar belakang, pandangan hidup, maupun cara pandang Corleone terhadap keluarga, di mana ikatan darah selalu jadi pertimbangan utama kepala keluarga dalam menentukan metode untuk mengambil keputusan,alasan itu akan muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam drama keluarga mafia itu Vitto memang digambarkan selalu berusaha menempatkan keluarganya dalam posisi paling terhormat di tengah masyarakat. Mafioso satu itu juga merasa penuh kasih sayang. Dia selalu membantu orang yang mendatanginya sebagai saudara dan selalu menolak mereka yang menghampirinya sebagai kolega bisnis. Apalagi yang menawarkan sejumlah uang. Bagi Vito, kehormatan dan persaudaraan jauh di atas segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berpatokan pada cara pandang Vitto tentang kerelasian dan bagaimana dia menempatkan diri, jelas si Don dari Sisilia punya alasan menolak tawaran Bruno Tataglia . Ada dua alasan bagi seorang Don Corleone untuk menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Tataglia mengajukan penawaran melalui perantara. Bagi Vitto yang ingin bersaudara dengan siapa saja, cara ini dirasanya menghina. Tataglia terkesan ingin menjaga jarak dengan menghindari tatap muka langsung dengannya. Dia selalu memandang sebuah keluarga yang sengaja menjaga jarak dengan keluarga lain punya maksud buruk. Vito tak akan sudi mengambil risiko mengorbankan keselamatan keluarganya ketika harus berhubungan dengan mafia berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga mafia mana pun yang pernah terlibat perjanjian atau kerja sama dengan Tataglia selalu bangkrut atau keluarga mereka dihabisi dalam skenario pembunuhan berencana. Kemungkinan ini tentunya akan dihindari oleh Vitto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Corleone membina hubungan baik dengan pejabat negara level atas. Karena itu dia merasa perlu menjaga citra bersih keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak ingin mencari untung dengan memanfaatkan kewenangan para penentu kebijakan tersebut, kendati kalau mau dia bisa mendapatkan itu dengan mudah dibantu uangnya yang kian hari menumpuk makin tinggi --keuntungan dari semua bisnisnya yang legal: hotel, tempat wisata, dan prostitusi berizin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi upaya menjaga citra demi kehormatan keluarga inilah yang mengajak Vito menolak melindungi bisnis narkoba, meski dijanjikan pemasukan dalam jumlah besar. Dia memilih bisnis yang secara hukum tanpa risiko. Memang, tangan Vito muda pernah berdarah-darah ketika harus membangun usahanya dari nol. Keras memang cara dia, tapi itulah satu-satunya metode yang dia kuasai ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan analisis yang aku simpulkan setelah merangkai beberapa variabel yang muncul di antara alur lakon The Godfather, Vito punya alasan yang kuat untuk menolak Tataglia. Keputusannya sudah bulat: tolak bisnis narkoba, meski keputusan itu mengecewakan anak sulungnya yang bertemperamen tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri begitu terkesima pada sosok Vito Corleone, bapak semua mafia yang membangun kejayaannya dari nol itu. Terutama pada secuplik fragmen yang aku kutip di bagian terdahulu catatan ini. "Jangan pernah mengatakan apa yang kau pikirkan pada orang lain." Pesan yang sederhana, tapi begitu dalam dan bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari karakternya yang cenderung pendiam bahkan misterius, di mana ayah tiga putera dan seorang putri ini hanya berbicara jika benar-benar dirasanya perlu, pesan Senor Vito untuk anak sulungnya yang meledak-ledak itu memang banyak benarnya. Pada intinya dia sangat mengagungkan kehati-hatian dan keputusan yang benar-benar matang setelah melalui pertimbangan yang rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terbangun dalam plot drama pergulatan manusia rekaan Mario Puzzo itu, bekal Vito Corleone hingga sukses menjadi pebisnis yang menguasai sebagian besar pasar minyak zaitun lintas Amerika-Italia, hotel, prostitusi, dan perjudian di Chicago itu karena sikap dan pola pikir yang terus menerus ditransfer pada anak-anaknya itu. "Jadilah seorang yang rasional dan jangan pernah mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal berharga yang akan didapat siapapun yang bisa mengejawantahkan amanat Si Godfather itu adalah tak akan pernah menyesali keputusan dan selalu memenangkan segala hal. Bahkan, saking pedenya pada cara berpikir dan keputusannya, Don Vito Corleone "selalu memberikan tawaran yang tak akan bisa ditolak oleh siapa pun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang "slogan" mantan penjaga toko kelontong sebuah lingkungan kecil Chicago di tahun 1940-an itu terkesan angkuh. Tapi dia selalu bisa membuktikan mottonya tersebut. Tak ada satu pun pihak yang terlibat negosiasi atau transaksi dengan Vito Corleone berhasil menyeret laki-laki sayang keluarga itu dalam kemauan mereka. Pasti keputusan ayah kandung Sony, Pedro, Michael, dan Constanza alias Conie yang diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bapak angkat Tom Hagen bilang "tidak", semua bak diwajibkan menggeleng. Dan saat figur yang memandang laki-laki yang selalu meluangkan waktu untuk keluarga adalah pria sejati tersebut memutuskan"iya", siapa pun seperti diharuskan ikut mengangguk. Pada kenyataannya, dengan menuruti keputusan Don Corleone itu selalu saja berada dalam situasi yang tepat. Mereka yang sekubu dan mengikuti arus dedengkot mafia Chicago itu selalu merasa keputusan mereka tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan tepat yang diambil oleh pemikiran matang lazimnya memang menghadirkan hasil sempurna. Rumah mewah, kerajaan bisnis di wilayah strategis dalam sebuah negara adidaya, keluarga (yang awalnya) harmonis (tapi harus berakhir tragis sepeninggal Sang Don), adalah rentetan hasil dari sebuah proses berpikir yang matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"JANGAN&lt;/b&gt; mengatakan apa yang kau pikirkan pada orang lain," adalah sebuah upaya mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa menggagalkan kita mencapai tujuan. Untuk mencapai sebuah cita-cita seseorang harus punya rencana yang tak perlu digembar-gemborkan sebelum ada jaminan harapan itu pasti tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita membiarkan semua orang tahu apa tujuan kita dan bagaimana rencana kita untuk mencapainya, saat itu juga kemungkinan kita gagal mencapai maksud itu menganga lebar. Kalau kita mempersilahkan semua orang tahu apa yang akan kita lakukan, itu sama artinya kita menelanjangi diri sendiri dan siap dipermalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau mengingat kita tak pernah tahu isi hati orang lain, pun mereka yang secara kasat mata tampak "dekat" atau "mengerti" kita. Selalu ada kemungkinan orang lain menyimpan segudang iktikad buruk pada kita dengan dalil yang tak pernah kita ketahui, sementara wajahnya menawarkan persahabatan. Di balik mimik yang begitu menenangkan pun masih mungkin sebuah niat jahat memasang kuda-kuda untuk menyerang kita dan meluluhlantakkan kita di saat yang tak pernah kita duga sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan itulah Vitto Corleone memilih menyimpan sendiri semua rencananya dan mewujudkannya diam-diam tanpa menyita perhatian orang lain. Orang-orang baru sadar ketika merasakan langsung hasil dari tujuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian kedua trilogi The Godfather, dikisahkan bagaimana rapinya Vito muda menyimpan rencana besarnya. Ketika masih hidup sebagai kepala keluarga miskin dengan seorang istri dan dua anak yang menggantungkan penghidupan pada gaji seorang penjaga toko kelontong kecil di sebuah wilayah kecil di Chicago, Vito selalu mencari cara untuk membawa Maria, istrinya, dan anaknya pada sebuah kehidupan yang lebih layak secara ekonomi. Dia harus mendapat banyak uang, hal yang tak akan pernah dia wujudkan selama masih berkutat menjaga toko kelontong ala kadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seolah menemukan inspirasi tentang apa yang harus dilakukannya ke depan ketika sedang menikmati pertunjukan dalam sebuah gedung teater sederhana bersama temannya. Ketika pertunjukan hendak mencapai klimaks, tiba-tiba seorang pria paruh baya bertubuh tambun, dengan jas dan pentalon putih, lengkap dengan topi berwarna sama, masuk seenaknya di deretan kursi terdepan dan berdiri lama di situ. Pandangan Yang duduk di bangku deretan belakang, termasuk Vito dan temannya, terhalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman Vito langsung meneriaki orang itu agar cepat duduk. Bukannya menuruti permintaan untuk duduk, masih sambil berdiri dia menoleh ke sumber suara dan menatap tajam tanpa ekspresi. Begitu melihat wajah pria yang semaunya sendiri itu, teman Vito langsung gelagapan dan buru-buru minta maaf. Orang itu adalah Don Fanucci, preman misterius yang ditakuti orang sekota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fanucci orang yang tak banyak bicara. Kepribadiannya adalah sebuah misteri yang sulit terungkap. Dia adalah pribadi tertutup yang kemuannya sulit diprediksi. Dengan ekspresi wajah yang selalu dingin dan kepribadian misteriusnya, Fanucci menjadi sosok yang ditakuti. Berbekal pencitraan diri itulah Fanucci bisa mendapatkan apa yang dia mau dari seluruh penjuru kota. Uang, benda yang ketika itu sangat dibutuhkan Vito tapi sangat sulit didapat, bisa dikumpulkan dengan mudah oleh Fanucci. Vito melihat sendiri pengelola gedung pertunjukan yang harus setor rutin ke si Don.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya setelah mengenal sosok Fanucci untuk pertama kali, tiba-tiba Vito terpaksa dipecat dari toko kelontong karena pemiliknya "harus" memberikan tempatnya pada keponakan Don Fanucci. Sebelum dia keluar toko berstatus pekerja yang di-PHK dengan sekantung besar roti sebagai pesangon sekaligus tanda maaf dari pemilik toko karena memecatnya lantaran tak berani menolak kemauan Don Fanucci, tapi dia tolak, dia melihat dengan tenangnya Fanucci minta jatah pada pemilik toko kelontong yang usahanya sedang kembang kempis dan baru saja memberi keponakannya pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitto tak suka dengan premanisme ala Fanucci itu. Selama si Don ada, orang selingkungan bakal sengsara dan senantiasa ketakutan. Nuraninya sebagai penyelamat langsung bekerja: Fanucci harus dilenyapkan. Tapi dia tak pernah mengungkapkan rencana itu pada siapapun, bahkan istrinya sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitto mulai mempelajari segala hal tentang Fanucci dengan sembunyi-sembunyi. Dia perlu melakukan itu agar Fanucci bisa dibunuh dengan rapi. Karena Vitto tak ingin "niat baik"nya menghilangkan penyebab ketakutan warga selingkungan itu malah membawanya pada masalah.Vtito menguntit si preman hingga berhari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari proses observasi tersebut, Vito menyimpulkan: Don Fanucci adalah seorang penyendiri penggemar sepi yang berhasil membangun sebuah karakter penuh misteri, dingin, tanpa kompromi. Dia jarang sekali berbincang dengan orang. Hanya bersuara kalau dia rasa benar-benar penting. Fanucci seolah tak mengizinkan seorang pun mengenal pribadinya. Dia adalah jenis individu "yang tak pernah diketahui orang lain" dan penyendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresinya yang senantiasa dingin itu memperkuat karakternya sebagai sosok yang menakutkan. Umumnya orang mengungkapkan apa yang dirasakannya melalui ekspresi wajah. Senang terungkap melalui senyum atau tawa, sedih, marah, penasaran, benci, puas, dengan bentuk ekspresi masing-masing yang lazimnya mudah dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ketika wajah seseorang nihil ekspresi, apa itu artinya? Kalau mimik yang jadi parameter suasana hati, muka tanpa ekspresi itu diartikan oleh banyak orang sebagai wajah orang yang tak punya perasaan. Datar. Kejam. Raja tega. Sadis. Kesan itulah yang ditangkap semua orang --kecuali Vito-- di sebuah lingkungan kecil bagian Chicago itu tentang Fanucci. Tak ada yang berani menyentuh Fanucci dan enggan berurusan dengannya. lantaran khawatir akan mengalami hal buruk atau celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Vito yang punya penilaian lain tentang si preman. Mengutip logika Power and Knowledge ala filsuf genealogis Prancis, Michel Foucault, ketika Fanucci tak mengijinkan orang untuk "mengetahui" bagaimana dia, dia leluasa bergerak bebas karena tidak ada yang "kekuasaan di luar dirinya" yang bisa membatasi dia. Bisa semau gue. Dan bisa melakukan apapun seperti yang dimau tanpa harus ada kekuasaan yang membatasi adalah sebuah situasi yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Foucault, umumnya, ketika kita kita "mengetahui" sesuatu, itu sama artinya dengan kita "menguasai" dan bisa mengendalikannya. Contoh, ketika kita tahu atau mengenal kepribadian seseorang, misalkan suka menyendiri, saat itu juga kita bisa menguasainya. Kita tahu apa yang dia maksud atau tuju sekaligus apa yang dihindarinya. Kita tahu apa yang bisa membuatnya sedih atau gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyendiri selalu menghindari interaksi dan keramaian. Dia perlu suasana sepi. Ketika ada orang lain yang kebetulan punya masalah atau tak senang dengan si penyendiri yang pemarah itu, dan ingin membuatnya tersiksa, mudah, seret paksa saja dia ke tepi jalan protokol kota besar saat jam sibuk. Dia pasti tak nyaman dan marah-marah dan orang yang tak senang dengan sikap penyendirinya jadi senang. Si penyendiri harus mengalami situasi yang tak diinginkannya setelah kemauannya diketahui orang lain. Setelah orang lain tahu tentang dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita membiarkan orang lain kenal kita, saat itu juga kita mengizinkannya "menguasai" kita, di mana salah satu bentuknya adalah, orang lain yang tak suka kita berhasil bisa "menghalangi" kita untuk mencapai tujuan. Orang itu memanfaatkan kelemahan kita setelah dia mengenal kita. Atau setelah dia tahu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitto pun menyimpulkan, maksud Fanucci membangun karakter individu yang tertutup agar bisa berbuat sesuka hati. Dia tak pernah membiarkan orang lain tahu kelemahannya. Fanucci tak pernah mengizinkan orang lain menguasainya. Di saat bersamaan justru dia bisa menguasai rasa takut orang lain dengan misterinya. Kepribadian Fanucci yang penuh rahasia dan asing bagi siapa saja menjaminnya bisa melakukan atau merencanakan apa saja untuk mencapai tujuan tanpa direcoki orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitto sendiri sebenarnya punya potensi untuk membangun kepribadian yang tak tertebak. Dia terbiasa mandiri dan sendiri dan tak pernah mengungkapkan apa yang direncanakannya. Upaya memata-matai Fanucci itu tak pernah diketahui siapapun, termasuk istrinya sendiri. Setelah mempelajari Fanucci, Vitto pun berminat menyadur caranya. Tapi, untuk bisa menjadi "Fanucci" yang bisa berbuat apa saja sesuai versinya sendiri, dia harus menyingkirkan Fanucci si preman yang merasa harus dipanggil dengan predikat Don.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah yakin skenarionya akan berjalan lancar berdasarkan beberapa pertimbangan, pada sebuah hari ketika jalanan kota dimeriahkan suara musik pengiring karnaval Ave Maria, Vitto menghabisi Fanucci di apartemennya. Dia tembak tubuh tambun si Don enam kali menggunakan pistol yang ditemukannya secara tak sengaja. Tak ada saksi dalam peristiwa tersebut. Enam kali suara letusan pistol Vitto tenggelam di antara musik Ave Maria yang begitu riuh. Setelah menghabisi Don kampung itu dan mengambil tumpukan uang hasil rampasan (karena memang sangat butuh alat tukar tersebut setelah lama harus nganggur gara-gara Fanucci), Vitto kabur dan menghilangkan barang bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skenarionya berjalan sempurna karena dia tak pernah menceritakan rencana itu pada siapa saja, bahkan sang istri. Dia bekerja dalam diam dan menuai hasil yang sempurna. Polisi tak pernah bisa mendeteksi di tangan siapa Fanucci mati. Rencana Vitto memang sangat matang. Tak ada setitik petunjuk pun tertinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermodal uang hasil kejahatan Fanucci itu Vitto merintis bisnis minyak zaitun, yang selanjutnya membawa dia menjadi Don Corleone yang kharismatik, pemurah, dan merencanakan segala hal dengan rapi. Rencana yang tak pernah gagal karena tak pernah diceritakannya pada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitto Corleone adalah orang yang bekerja dengan perhitungan yang matang. Karena dia tahu; pembual tak akan pernah jadi pemenang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-2301595468505820684?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/2301595468505820684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/08/bukan-untuk-para-pengoceh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/2301595468505820684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/2301595468505820684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/08/bukan-untuk-para-pengoceh.html' title='Bukan untuk Para Pengoceh'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-6495086682723946614</id><published>2010-07-26T03:13:00.002+07:00</published><updated>2010-08-12T22:09:25.550+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memori'/><title type='text'>Dicumbu Si Genit</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TGQOg8CyurI/AAAAAAAAAYw/_Mml54YZVlU/s1600/Logo_surabaya.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TGQOg8CyurI/AAAAAAAAAYw/_Mml54YZVlU/s200/Logo_surabaya.gif" width="159" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;CUK&lt;/b&gt;, kota ini memang genit! Biar malam ini hujan turun di&lt;br /&gt;luar jadwal, riasan Surabaya tak luntur. Hujunggaluh tetap seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, selepas menyelesaikan tugas kantor --sembari membawa&lt;br /&gt;sedikit celemong kecewa lantaran tak seluruhnya sesuai rancangan--&lt;br /&gt;tiba-tiba keinginan untuk bersantai mendorong begitu kuat. Sayang,&lt;br /&gt;yang tersisa di kantong hanya selembar sepuluribuan, selembar&lt;br /&gt;limaribuan, dan dua lembar duaribuan --setelah semua isi rekening&lt;br /&gt;harus terkuras untuk mengusir penyakit j*nc*k yang aneh, yang&lt;br /&gt;mengharuskanku off seminggu penuh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untung masih ada teman. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, bahkan sampai&lt;br /&gt;ngobrolin tentang "hakekat agama" (padahal kami sama-sama tak tertib&lt;br /&gt;lima waktu), kami sepakat untuk santai sejenak di Circle K Klampis.&lt;br /&gt;Biasa, hanya untuk rileks, bersama beberapa kaleng Heineken yang&lt;br /&gt;semuanya dibayar oleh teman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas di dalam minimarket 24 jam itu, aktivitas belanja sempat terjeda&lt;br /&gt;ketika seorang perempuan cantik dengan rambutnya yang basah tepat&lt;br /&gt;berada di sebelahku, memilih mi instan. Tapi, setelah mendapat yang&lt;br /&gt;dicarinya, dia pergi begitu saja dengan mobil Toyota Kijang berleter&lt;br /&gt;W. Dan kami meneruskan belanja. Yah, memang begitulah wanita: selalu&lt;br /&gt;datang dan pergi. Hanya kesan saja yang membuat beberapa di antara&lt;br /&gt;mereka kentara beda. Tapi, setelahnya semua jadi biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menikmati hujan yang salah jadwal ini, di depan Circle K, kami&lt;br /&gt;bercerita tentang banyak hal. Mulai menyerempet soal agama (lagi),&lt;br /&gt;sampai curhat tentang masa lalu. Tapi secara keseluruhan, kami saling&lt;br /&gt;melempar ide tentang koran. Terutama tentang beberapa hal yang&lt;br /&gt;sepertinya perlu dikemasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya malam itu memang terasa seksi. Ide-ide kami menyembul begitu&lt;br /&gt;saja, bergairah, dilarut Kota Buaya dengan cuacanya yang salah itu.&lt;br /&gt;Setelah sempat merekam beberapa yang brilian dalam memori, kami pun&lt;br /&gt;berbenah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sepanjang perjalanan hendak pulang, hujan terus mengguyuriku dengan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;air yang turun malu-malu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan basah. Permukaannya yang tak rata, meliuk-liuk, membuat secara&lt;br /&gt;fisik Surabaya benar-benar seksi. Meliuk-liuk dan basah. Seseksi&lt;br /&gt;beberapa bagian memori yang tiba-tiba menggamit roda depan motorku&lt;br /&gt;agar berbalik arah menuju tempat-tempat yang memanjakan kenangan.&lt;br /&gt;Masih di bawah curah hujan yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pertamaku adalah sebuah kampus swasta di kawasan Semolowaru.&lt;br /&gt;Bangunan itu masih saja persis Titanic yang siap tenggelam. Megah,&lt;br /&gt;tapi ragu-ragu. Apalagi di bawah hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah kulepas sudah masa-masaku mencuri sedikit ilmu di situ.&lt;br /&gt;Sedikit, memang, karena sebagian besar justru kudapat dari jibaku di&lt;br /&gt;luar pagar kampus. Yang jelas terpatri dalam pagar ingatan adalah&lt;br /&gt;cerita tentang dia, dia, dan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dia pertama:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tak kau katakan tiga hari lalu? Padahal berbulan-bulan aku&lt;br /&gt;menunggumu mengatakan itu di depanku. Aku sampai putus asa. Dan tiga&lt;br /&gt;hari lalu, orang lain lebih dulu mengatakan apa yang kau katakan&lt;br /&gt;sekarang. Aku mengiyakan." Lalu kuteguk kopi yang masih panas itu&lt;br /&gt;begitu saja, baru berhenti setelah ampasnya membuatku terbatuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dia kedua:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Isi mangkuk bakso itu habis kumakan. Kunyalakan rokok. "Tiga bulan&lt;br /&gt;lagi aku menikah." Kuhisap rokokku sedalam mungkin. Baru berhenti&lt;br /&gt;setelah terbatuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dia ketiga:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kusimpan saja bagian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah disentil sedikit memori tentang gita cita di kampus, aku&lt;br /&gt;lajukan matic berpelat nomor F ini ke Gubeng Kertajaya VF. Jalan yang&lt;br /&gt;kulintasi makin seksi saja. Makin meliuk dan basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap rumah bernomor 28 itu. Sekarang pagarnya begitu tinggi. Tak&lt;br /&gt;ada lagi Pak De dan Tono, dua drunken itu, duduk di kursi panjang yang&lt;br /&gt;sembilan tahun lalu terpajang di situ. Duo mabok itu adalah intermezo&lt;br /&gt;dari upaya keras kami berempat --yang dulu tinggal di sebuah bangunan&lt;br /&gt;los, 2x6 meter yang disekat jadi tiga bagian-- mengejar mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan sederhana tapi optimis tempat di mana kami saling melecut&lt;br /&gt;dengan hinaan yang membangun. Ah, kontrakan inklusif itu sekarang&lt;br /&gt;telah diganti dengan bangunan megah yang asing dari sekitarnya. Aku&lt;br /&gt;tak lagi punya monumen yang mengingatkan aku pada sebuah tempat, di&lt;br /&gt;mana aku "dibangunkan dari tidur panjangku" oleh Bukik, Sam, dan&lt;br /&gt;Kelmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang sekarang ini memang tak lepas dari proses "pencetakan"&lt;br /&gt;dalam bangunan minimalis yang kini tak berbekas. Sekaligus saksi&lt;br /&gt;bagaimana kami berempat begitu tak diminati wanita, ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya sudah berlalu. Tapi tetap saja semua seksi. Masih sangat&lt;br /&gt;seksi. Mematri dalam ingatanku dan selalu membuatku bergairah. Kota&lt;br /&gt;inilah yang telah "melahirkanku". Kota ini selalu saja membuatku&lt;br /&gt;bergairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah mereka datang dan pergi. Tapi, kesan apapun yang mereka tatah&lt;br /&gt;di memori dan hatiku, tetap tak bisa mengalahkan kegenitan gairah&lt;br /&gt;Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku basah. Giringan rendezvous di peralihan hari dengan hujan ini&lt;br /&gt;membuatku lupa: aku tak bermantel. Ah, biarlah. Kunikmati saja siraman&lt;br /&gt;eksotis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah Surabaya yang genit ini mencumbuku malam ini. Juga untuk seterusnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-6495086682723946614?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/6495086682723946614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/07/dicumbu-si-genit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6495086682723946614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6495086682723946614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/07/dicumbu-si-genit.html' title='Dicumbu Si Genit'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TGQOg8CyurI/AAAAAAAAAYw/_Mml54YZVlU/s72-c/Logo_surabaya.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-3060131425195586408</id><published>2010-07-24T23:19:00.004+07:00</published><updated>2010-08-12T22:39:28.942+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memori'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance Story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Rin</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TGQNh2VbPuI/AAAAAAAAAYo/hxM7lP1cCtk/s1600/image.php.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TGQNh2VbPuI/AAAAAAAAAYo/hxM7lP1cCtk/s200/image.php.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RIN &lt;/b&gt;adalah dua tahun penuh rahasia paling sempurna, pewarna masa&lt;br /&gt;remajaku. Rin, seorang perempuan muda dengan kulit cokelatnya yang&lt;br /&gt;eksotis, semampainya, tatapannya yang selalu membuatku teduh dalam&lt;br /&gt;sayu. Juga dilengkapi kecerdasan yang melengkapi karakter seorang&lt;br /&gt;wanita yang benar-benar wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rin adalah sebuah ketulusan yang terjebak olehku melalui sebuah kisah&lt;br /&gt;perjudian antara aku dan tiga orang kawan: Siapa berhasil menaklukkan&lt;br /&gt;Rin, dia berhak atas uang 300 ribu dari tiga rival yang kalah. Sepekan&lt;br /&gt;tenggat waktu untuk kami. Lewat waktu itu, pertaruhan batal dan uang&lt;br /&gt;100 ribu kembali ke kantong kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu sampai batas akhir waktu, cukup 3x24 jam, berpasrahlah Rin&lt;br /&gt;dalam pelukan dada kurusku --sebagai wanita ketiga yang pernah&lt;br /&gt;mengelus hatiku. Bersamaan dengan umpatan tiga kawan yang&lt;br /&gt;masing-masing harus melepas 100 ribu dan kesempatan untuk beromansa&lt;br /&gt;dengan adik kelas yang ayu, anak seorang petinggi bank negara dari&lt;br /&gt;Manado --yang kebetulan sedang bertugas di kota kecil kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu pulalah awal kisah keterjebakannya dalam sebuah ego&lt;br /&gt;mahadahsyat yang hidup dalam pribadiku. Aku memang piawai menyimpan&lt;br /&gt;rahasia. Bahkan keluargaku tak pernah menyadari kalau ada seorang&lt;br /&gt;perempuan bernama Rin pernah mengisi hidupku. Tapi, jujur aku&lt;br /&gt;mengakui, 99% masa dalam kebersamaanku aku rasa menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya Rin, dengan segala harapannya, harus terjebak dan&lt;br /&gt;tersiksa dalam pusaran egoku yang begitu kuat. Semua harus seperti&lt;br /&gt;mauku. Uniknya, selama sekitar 730 hari dia mengisi hidupku, tak&lt;br /&gt;sekalipun terlontar keluh. Yang selalu aku ingat dari Rin adalah&lt;br /&gt;ketulusannya itu: "Ayah-ibu mengajarkan aku bahwa cinta itu memberi,&lt;br /&gt;bukan menuntut." Pernyataan istimewa dari seorang perempuan muda, kala&lt;br /&gt;itu 17 tahun, yang sayangnya tak pernah kusadari selama dia ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu petang yang hujan, egoku yang sangat gila ini ingin&lt;br /&gt;mendepaknya. Aku tampik segala permintaan maafnya dan permohonan untuk&lt;br /&gt;bisa kembali bersama. Dia minta maaf atas kesalahan yang jelas-jelas&lt;br /&gt;akulah biang keladinya! Gila, apa Tuhan sedang menerjemahkan&lt;br /&gt;kebaikan-Nya dalam pribadi Rin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku masih begitu kokoh mengeras, dia rela tembus hujan deras di&lt;br /&gt;kota kecil itu, dengan sepeda motor Honda Astrea Grand, hendak&lt;br /&gt;menyongsongku di mana pun aku ada. Hingga sampai di simpang lima&lt;br /&gt;dengan traffic light yang mati, lalu semuanya menjadi sesal yang harus&lt;br /&gt;aku gotong ke mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roda depan bus antar kota dalam provinsi menggilas harapannya untuk&lt;br /&gt;bertemu aku dan meminta maaf untuk kesalahan yang aku perbuat! Aku&lt;br /&gt;salah, dia yang minta maaf, karena dia selalu yakin bahwa "Cinta itu&lt;br /&gt;memberi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Tuhan, kebodohan macam apa yang aku perbuat...?&lt;br /&gt;Hari itu adalah petang di 24 Juli 1999. Sebuah hari yang membuka&lt;br /&gt;kesadaranku, bahwa ternyata aku bodoh! Aku sia-siakan berlian yang&lt;br /&gt;jelas-jelas hanya punya satu tujuan dalam hubungan kami ketika itu:&lt;br /&gt;dia ingin aku bahagia. Memang kami masih sangat muda. Tapi, tak&lt;br /&gt;sekalipun aku dapati emosi timbul dari Rin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah bisa mendapat maaf dari Rin. Menjenguk nisannya pun aku&lt;br /&gt;tak mampu. Ayah-ibunya memilih membawa jasad Rin pulang ke ujung utara&lt;br /&gt;Celebes sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa salah membuat sisi traumatikku cacat permanen. Ada rasa bersalah&lt;br /&gt;yang harus aku bawa, mungkin sampai mati. Lima kisah setelah Rin&lt;br /&gt;selalu menghadapkanku pada dosa luar biasa yang pernah aku perbuat.&lt;br /&gt;Juga selalu saja berakhir dengan rasa sakit --tapi, mungkin tak&lt;br /&gt;sesakit rasa yang dibawa Rin mati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga di kisah terakhir, selangkah lagi aku nyaris berhasil melupakan&lt;br /&gt;Rin dan rasa bersalahku karena mengingkari sebuah ketulusan dalam&lt;br /&gt;upaya memberi. Tapi kenyataan membawaku pada fakta bahwa aku tak akan&lt;br /&gt;pernah bisa lari dari bayang-bayang rasa sakit, seperti apa yang&lt;br /&gt;dirasakan Rin hingga akhir riwayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya aku tiba kembali di 24 Juli ini. Aku ingat kau lagi, Rin...&lt;br /&gt;Sakit yang aku rasakan ini mungkin baru seujung kuku dari sakitmu,&lt;br /&gt;yang kau bawa sendiri hingga berakhir di bawah roda bus jurusan&lt;br /&gt;Malang-Ponorogo itu. Di sebuah senja hujan, 24 Juli, 11 tahun lalu.&lt;br /&gt;Ah, tapi mungkin lebih baik begini. Kau tentu merasakan bahagia di&lt;br /&gt;langit sana, Rin. Sesuatu yang tak pernah kau dapat, tapi selalu kau&lt;br /&gt;berikan tanpa embel-embel untukku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rin, seandainya waktu masih mengizinkanku untuk membahagiakanmu...&lt;br /&gt;(In Loving&amp;nbsp;Memory: Airina Mahadewi, 5 Mei 1982-24 Juli 1999)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-3060131425195586408?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/3060131425195586408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/07/rin-rin-adalah-dua-tahun-penuh-rahasia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/3060131425195586408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/3060131425195586408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/07/rin-rin-adalah-dua-tahun-penuh-rahasia.html' title='Rin'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TGQNh2VbPuI/AAAAAAAAAYo/hxM7lP1cCtk/s72-c/image.php.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-3765874655310034414</id><published>2010-07-11T06:22:00.002+07:00</published><updated>2010-07-11T06:59:59.796+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Seniman Siksa yang Sangat Menikmati Korbannya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TDkI83SEm5I/AAAAAAAAAYg/tW30OVhpGNA/s1600/Insomnia.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TDkI83SEm5I/AAAAAAAAAYg/tW30OVhpGNA/s320/Insomnia.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TDkI83SEm5I/AAAAAAAAAYg/tW30OVhpGNA/s1600/Insomnia.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;GENAP&lt;/b&gt; sepekan kekejamannya yang genit itu menertawaiku. Merampas begitu saja hakku sebagai makhluk yang harus istirahat.&amp;nbsp; Meremukredamkan mimpi yang aku susun dari nol dan nyaris jadi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia cerdas. Sebelum menghabisi korbannya, dia koyak kehidupannya dengan cara yang paling menyakitkan. Dia halau mimpi-mimpi indah. Dia bukakan pintu selebar-lebarnya untuk kebuasan dalam diri korbannya untuk mengumbar diri. Dia sekap akal sehat korbannya. Dia obrak-abrik mangsa-mangsanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bangunan kehidupan si korban hancur, mimpi-mimpinya remuk, baru dengan gayanya yang flamboyan itu dia nikmati inci demi inci nyawa yang tercerabut dari raga. Seringainya itu menjelaskan bahwa kematian adalah tragedi yang paling dahsyat. Bahkan mungkin juga dia akan jadi teman setia jiwa-jiwa yang ingin menyongsong ketenteraman di alam abadi. Dia adalah; INSOMNIA.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sebagai tamu jiwa, INSOMNIA tak kenal etika. Dia menyeruak begitu saja tanpa mengetuk, lalu menguasai seluruh ruang di dalamnya. Menjadi penguasa tunggal, membawa si pemilik jiwa menuju sebuah situasi yang jauh lebih menyakitkan daripada yang bisa dibayangkan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSOMNIA. Wikipedia menjelaskan, itu adalah gejala kelainan berupa kesulitan tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu, yang terjadi berulang-ulang. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun. INSOMNIA disebabkan oleh penyakit atau permasalahan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya? Adalah sebuah cara pembunuhan paling sadis sekaligus elegan. Sebuah survei yang dilakukan American Cancer Society terhadap 1,1 juta penduduk Negeri Paman Sam menyimpulkan bahwa maut selalu lebih cepat mencaplok wanita yang tidur kurang dari 3,5 jam dan pria yang tidurnya kurang dari 4,5 jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survei yang dilakukan belum lama itu menemukan risiko kematian bagi korban-korban INSOMNIA –yang tidurnya minus– lebih tinggi 15% daripada yang bisa mendapatkan hak tidur penuh. Sebenarnya pembunuh itu bisa dilawan dengan obat tidur. Tapi, masih menurut hasil survei tersebut, melawan INSOMNIA dampaknya idem dito dengan ketika mengikuti irama permainannya. Obat tidur juga memberikan garansi kematian lebih cepat bagi yang mengonsumsinya. Singkat kata, korban-korban INSOMNIA ini –menurut atau melawan– selalu berada di barisan terdepan menyongsong maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSOMNIA juga selalu membawa pada korban-korbannya dalam sebuah pertunjukan teror yang lebih mengerikan daripada tragedi yang sanggup dibayangkan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Journal Sleep, sebuah jurnal kesehatan di Amerika, menyebutkan hampir 24% orang yang kurang tidur mengalami depresi,di mana seperlima dari jumlah itu punya pikiran bunuh diri dan sebagian besar memilih benar-benar melakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mengakhiri hidup secara swadaya adalah akhir cerita dari depresi tak berkesudahan akibat kurang tidur. Setidaknya itulah analasis James Gangwisch dari Columbia University, New York, yang pernah dilansir Dailymail, Januari tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depresi adalah "asisten utama" INSOMNIA. Pribadi-pribadi yang dilandanya selalu bertindak di luar koridor kewarasan. Luapan emosi tanpa kompromi, yang menjurus pada upaya destruktifitas, identik dengan mereka-mereka yang terbelenggu depresi. Kehidupan sosial mereka pun kacau balau. Mereka dikonversi menjadi pribadi dengan jiwa yang sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depresi menyeret individu dalam kesunyian. Mereka yang tak pernah kenal INSOMNIA tak bisa menerima mereka lantaran khawatir ikut larut dalam ombang-ambing depresi kalau terlalu meladeni si manusia yang tertekan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikucilkan keluarga. Dijauhi teman. Dicampakkan kekasih. Ditertawakan orang asing. Kehidupannya hancur. Secara sosial dia resmi almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangwisch&amp;nbsp; juga mengingatkan kalau kecukupan tidur memengaruhi bagaimana otak merespons sesuatu dan menangani stres. Kurang tidur akan berdampak kurang baik pada tingkat konsentrasi dan upaya pengambilan keputusan. Intelejensi orang-orang sial yang hanya bisa menikmati tidur akan sekelibatan itu melorot tajam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka gagap, akhirnya gagal mengatur kehidupan. Mereka jadi bahan cemooh yang dipandang orang-orang sekitarnya dengan mata terpicing, bahkan buru-buru membuang muka begitu melihat si pandir di kejauhan. Satu lagi sisi kehidupan hancur luluh akibat teror tanpa henti yang dihujamkan INSOMNIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mempermalukan korban di hadapan dunia, INSOMNIA akan membawanya dalam kelelahan luar biasa. Energi, yang harusnya dikumpulkan melalui tidur, tak pernah terisi ulang. Akhirnya benar-benar habis. Organ dalam tubuh pun dibuat lumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak yang tak pernah diistirahatkan akan berontak dengan menghadirkan ketakutan secara kontinyu. Akal sehat mati. Benak menciptakan mahakarya kengerian yang sebelumnya tak pernah ada di luar kehendak. Setelah puas menghantui pemilik kepala tempatnya bertengger, otak akan mengobral darah dari dalamnya, yang leluasa meleleh melalui lubang-lubang di kepala: mata, hidung, telinga, mulut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika otak akhirnya memutuskan mogok lantaran keletihan yang luar biasa, walhasil, saat itulah malaikat maut mencatat namamu dalam daftar jiwa-jiwa yang baru saja masuk gerbang kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kudet otak itu tak hanya berlangsung sekejap, tapi berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Ketakutan, depresi, stres tingkat tinggi, adalah hal yang harus dilayani dalam durasi yang cukup lama. Berlama-lama dalam teror, sebelum akhirnya binasa dengan cara yang sesuai syarat-syarat tragedi. Suasana paling mengerikan di depan gerbang ajal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kematian paling memuakkan akhirnya melengkapi kehidupan yang sudah lebih dulu menjadi puing. Inilah fase-fase dalam proses penciptaan mahakarya si pembunuh jenius dengan ciri khas kekejaman yang mendayu-dayu; INSOMNIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial betul. Genap sepekan namaku tercantum dalam daftar korban pembunuh itu. Aku “dikerjakan” dengan cara yang tak pernah aku bayangkan. Dan entah berapa lama tenggat waktunya untuk membuatku benar-benar mampus secara lahiriah. Karena secara batiniah, secara sosial, INSOMNIA yang disupport dedikasi bergaransi asisten setianya, depresi, telah sukses meraih nilai paling sempurna dalam tugas menghancurkan kehidupanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan mimpi yang bertahun-tahun susah payah aku bangun setapak-demi setapak, yang hanya butuh satu polesan saja untuk selesai, dibombardirnya dengan nuklir yang mengandung radiasi ekstra tinggi, melebihi toleransi yang disanggupi bumi. Bahkan puingnya pun tak mereka sisakan untukku. Sama sekali lenyap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhitung sejak start hari Minggu, 4 Juli 2010, hingga Minggu menjelang lagi pada 11 Juli, dia begitu menikmatiku sebagai objek mahakarya seni penyiksaan yang paling mengerikan. Dia paksa ketakutanku menjadi hiburan yang wajib ditertawakan dan harus diputar berulang-ulang. Dia memandang kelelahanku sebagai parodi. Ketika orang-orang bisa tersenyum di waktu pagi setelah malamnya bercanda dengan mimpi-mimpi menghibur, aku seperti alien yang tersesat dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Aku tak lagi bisa membedakan makna siang dan malam. Semuanya sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu terjaga. Daya ini makin habis setelah sepekan melayaninya, tapi INSOMNIA masih memaksaku untuk terus menjadi bagian dari sebuah orkes kematian, di mana dia mengambil tempat sebagai dirijen. Cambukan berkesinambungan mendera otakku. Luka pun tercipta dengan sempurna,&amp;nbsp; mengalirkan darah dari hidung dan telinga. Tapi itu belum juga membuatnya klimaks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolonglah aku, Tuhan. Kalau Kau memang ingin mencabut nyawaku, aku mohon segera lakukanlah. Aku juga sangat memohon ganti INSOMNIA ini dengan Freddy Krueger saja. Aku lebih memilih monster berjari pisau yang bisa membunuh manusia melalui mimpinya itu sebagai algojo. Asalkan aku diizinkan tidur, kendati harus berjumpa maut di dalamnya. Terjaga tanpa putus ini membuatku benar-benar lelah, Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 10 tahun bertugas, INSOMNIA tak pernah sekali pun absen mengerjaiku tiap enam bulan sekali. Sebelum-sebelumnya, Kau hanya memberi predator itu durasi paling lama tiga hari untuk bercanda denganku. Kenapa kali ini lama sekali..? Sudah sepekan penuh, Tuhan... Kau yang Maha Pengasih dan Penyayang, aku mohon buktikanlah kemahaan-Mu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum puaskah meluluhlantakkan hidup dan mimpiku, meremukkan batinku, sehingga Kau harus mengutus INSOMNIA, algojo yang paling piawai menikmati korban-korbannya dan membuat mereka-mereka yang dieksekusi itu bahkan telah merasakan neraka sebelum benar-benar dicemplungkan dalam kawah yang khusus Kau bangun untuk aktivitas penyiksaan yang lebih pedih daripada kepedihan paling pedih yang pernah dirasakan manusia itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mahabesarkah dosaku sehingga aku harus melewati dua gerbang kematian: ketika kehidupanku batinku remuk sama sekali –seperti yang sudah terjadi sekarang– juga ketika nanti kehidupan biologisku berakhir, ujung dari mahakarya kepedihan yang agung, aransemen seniman ilmu siksa bernama INSOMNIA ini…? Apakah dibunuh dua kali itu adalah satu-satunya hukuman yang yang pantas untukku, hai ZAT MAHA PENGASIH….?????&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-3765874655310034414?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/3765874655310034414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/07/seniman-siksa-yang-sangat-menikmati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/3765874655310034414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/3765874655310034414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/07/seniman-siksa-yang-sangat-menikmati.html' title='Seniman Siksa yang Sangat Menikmati Korbannya'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TDkI83SEm5I/AAAAAAAAAYg/tW30OVhpGNA/s72-c/Insomnia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-598308940504664728</id><published>2010-07-10T07:33:00.000+07:00</published><updated>2010-07-10T07:33:29.998+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memori'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opiniku'/><title type='text'>Si Hitam Menyalahkan Takdir</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TDe_WHQcRcI/AAAAAAAAAYQ/LxNGel854_E/s1600/item+putih.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="247" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TDe_WHQcRcI/AAAAAAAAAYQ/LxNGel854_E/s320/item+putih.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;LAKON&lt;/b&gt; seorang kawan yang berupaya melawan situasi ini tiba-tiba berkelebat dalam ingatan saya. Sejak lahir dia membawa gen kulit hitam –bahkan ketika baru saja keluar dari rahim ibunya dia berwarna ungu, sementara lazimnya bayi berkulit merah atau cerah. Sampai dewasa hitam tetap menjadi warna kulitnya. Dan setelah cukup umur pula dia memandang kulit hitamnya itu sebagai ““nasib”” buruk yang harus dibuang jauh-jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai jurus untuk mengusir kulit hitamnya ditempuh. Bahkan sampai menghabiskan banyak uangnya hanya untuk memborong aneka rupa krim yang –menurut bujukan iklan– cukup sakti untuk “menanggalkan” warna hitam dari kulitnya dan menjadikannya putih berseri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dia berkukuh ingin jadi putih? Menjawab pertanyaan yang kerap terlontar dari kebanyakan teman yang mendapati usahanya itu, kawan saya berdalih pigmen kulitnya itu dia rasa sebagai ““nasib”” sial yang ingin dihelanya jauh-jauh. Panggilan si hitam yang terlanjur disandang membuat dia tak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 10 tahun dia berharap sembari berusaha –sejak berstatus mahasiswa hingga jadi seorang pekerja mapan. Setiap keluar produk krim pemutih baru yang –masih menurut rayuan iklan– lebih sakti dari produk sebelumnya, dia selalu jadi konsumen nomor wahid yang memburunya. Tapi, nawaitunya jadi putih itu tak pernah kesampaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dia begitu yakin bisa jadi putih dengan caranya, di saat yang sama, tanpa dia sadari, uang dalam jumlah besar telah terbuang sia-sia. Kulitnya tak juga mengkonversi jadi putih seperti bintang iklan krim itu. Seorang teman yang prihatin dengan kecerobohan si hitam buang-buang uang itu pun memperingatkannya dengan nada bercanda:”Sudahlah, simpan saja uangmu. Menyerahlah pada “takdir”.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat olok-olok bijak itu, si hitam yang awalnya tak pernah setuju dengan kulit gelapnya itu seolah “tersadar”. Dia mulai merasa kulit hitamnya itu adalah sebuah takdir yang tak mungkin diubahnya. Dengan perasaan berat dia mulai membiasakan kompromi dengan kondisi bawaan lahirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengerti alasannya kenapa akhirnya memilih takluk: karena kawan itu percaya Tuhan, zat yang menentukan “takdir”. Dan sebagai pribadi bereligi, sedari kecil dia membawa pemahaman bahwa melawan kehendak sesembahan adalah sebuah usaha yang mubazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Takdir”. Menyitat dari Wikipedia, kata itu berarti suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini, yang meliputi semua sisi kejadiannya, baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempat maupun waktunya, yang sudah ”ditentukan”. Siapa yang menentukan? Ya kalau mengingat kata ini lahir dari koridor teologis, jelas Tuhan lah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang beragama, seperti teman saya yang hitam tapi ingin putih itu, ketika suatu hal masuk dalam preogratif Tuhan, jelas tak bisa bisa ditawar, apalagi diubah. Siapa pula manusia –khususnya yang beragama– berani menentang kemauan Yang Kuasa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman tentang takdir inilah yang akhirnya dengan ikhlas tapi terpaksa diterima si hitam. Tapi sekali waktu dia masih tetap tak bisa menerima. Dia hanya bisa menggerutu, tanpa melakukan usaha apapun, karena dia takut melawan kehendak Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lama-lama dia mengutuki kulitnya itu dengan menggerutu, “Oalah, nasib, nasib…” Ya, dia merasa “takdir” telah mematenkan warna kulitnya. Dan “nasib” selalu diolok-olok orang-orang sekitarnya dia rasa sebagai suratan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib dan takdir. Dua kata itulah yang sering membuat banyak orang ambigu, dan pada akhirnya memilih menggugat “takdir” ketika ditimpa “nasib” buruk. Hal yang menimpanya tersebut diejawantahkan semena-mena sebagai “takdir”, kehendak Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, bicara soal “takdir” idem dito dengan memperbincangkan sesuatu yang tanpa kompromi. Berontak terhadap “takdir” tak akan mendatangkan faedah sama sekali. Misal, berusaha melawan jodoh, durasi hidup, atau waktu kematian–  tiga hal yang ketentuannya jelas di luar kemampuan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, ketika menghadapi situasi yang seolah tak bisa diubah, di mana keadaan itu membuat mereka tak nyaman –misal ketika mengalami “nasib” buruk– banyak orang buru-buru menyimpulkan itu adalah ”“takdir””. Apalagi setelah merasa berusaha keras tapi tak tampak secuil pun hasil. Pada akhirnya Tuhan Yang Maha Baik itu dituduh sebagai penyebab yang menentukan nasib buruk mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada situasi ini, seperti pemahaman si hitam itu, muncul sebuah definisi keliru dengan mencampuradukkan wilayah kerja “nasib” dan “takdir”. Takdir jelas tak bisa dinego. Sementara “nasib” –menurut jabaran Kamus Besar Bahasa Indonesia– adalah suatu keadaan yang dialami manusia akibat dari sikap atau perbuatan yang sengaja atau tidak dilakukannya, sehingga mengalami akibat dari perbuatan tersebut. Akibat itu bisa diubah, karena “nasib” itu adalah pilihan. Dan untuk menghindari nasib buruk, perlu sangat berhati-hati dan penuh perhitungan dalam menentukan langkah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kasus si hitam, seandainya dia tak salah memilih cara untuk mengubah ”nasib” buruk gara-gara kulit hitamnya itu, tentu dia tak akan “tersesat” dengan menyalahkan Tuhan –yang dituduhnya kejam karena memberinya warna kulit yang tak diinginkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan mustahil si hitam bisa mengubah “takdir” yang terlanjur dituduhnya sebagai biang “nasib” buruknya itu menjadi “nasib” baik begitu kulit idamannya sukses menggantikan yang hitam. Sekarang ini banyak metode untuk mewujudkan keinginan si hitam kawan saya. Bisa melalui terapi kecantikan, mengonsumsi vitamin pengubah pigmen, atau operasi plastik –seperti yang pernah dilakoni almarhum Michael Jackson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si hitam tak mampu mewujudkan impiannya itu (tanpa bermaksud mendahului kehendak-Nya) tantu bukan karena Tuhan menakdirkannya sebagai pria sial berkulit hitam. Dia hanya salah dalam memilih jalan untuk mengubah “nasib”. Dalam Alquran, kitab suci yang dipercayai si hitam, jelas Tuhan pernah mengeluarkan statemen bahwa: “Aku tidak akan mengubah nasib kaum-Ku kecuali hanya mereka mengubahnya mereka sendiri.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan jelas-jelas mengizinkan umatnya untuk menciptakan keadaan sesuai harapan masing-masing, sampai mereka merasa nyaman dan “bernasib” baik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kawan saya itu tak ceroboh, mungkin sekarang dia sudah lupa pada “nasib” buruknya sebagai pria berkulit gelap setelah bertransformasi menjadi pria “bernasib” baik begitu kulitnya benar-benar jadi putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah seharusnya uang yang selama 10 tahun dia buang untuk belanja krim pemutih –yang belum jelas khasiatnya itu– bisa dikumpulkan, lalu digunakan untuk terapi kecantikan, membeli vitamin pengubah pigmen, atau ongkos operasi ganti kulit yang jelas-jelas terbukti khasiatnya itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sedari awal ikhtiar dia berorientasi jangka panjang demi “nasib” baiknya, mungkin sekarang kulitnya sudah jadi putih. Kalau berdalih 10 tahun lalu belum terpikir untuk melakoni metode mutakhir tersebut, ya salah si hitam sendiri, bukan salah Tuhan. Yang Kuasa selalu memberi kesempatan umatnya untuk berpikir sebebas-bebasnya. Tinggal si umat mau atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh menyangkut hal duniawi, nyaris tak ada hal yang tak bisa dilakukan manusia. Tuhan memberi manusia akal budi. Dengan itu makhluk paling mulia di muka bumi ini bisa berbuat apa saja, sejauh tidak mengusik wilayah Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya orang kalah karena kecerobohannya sendiri lah yang selalu mengkambinghitamkan takdir sebagai biang kerok nasib sial mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lain lagi ceritanya kalau manusia nekat cawe-cawe masuk ke wilayah preogratif Tuhan. Itu namanya keblinger. Cari masalah. Misalnya, menciptakan kehidupan, memaksakan jodoh, atau merekayasa kematian. Kalau ada yang nekat turut campur di wilayah itu, jelas bukan sekadar sial yang bakal didapat. Tapi maha sial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-598308940504664728?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/598308940504664728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/07/si-hitam-menyalahkan-takdir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/598308940504664728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/598308940504664728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/07/si-hitam-menyalahkan-takdir.html' title='Si Hitam Menyalahkan Takdir'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TDe_WHQcRcI/AAAAAAAAAYQ/LxNGel854_E/s72-c/item+putih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-682943569577538015</id><published>2010-07-09T00:51:00.001+07:00</published><updated>2010-07-10T04:46:25.646+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance Story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Topo</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TDeYXVK5W1I/AAAAAAAAAYA/PMvSPxcf1bk/s1600/Alone.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TDeYXVK5W1I/AAAAAAAAAYA/PMvSPxcf1bk/s200/Alone.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;TOPO &lt;/b&gt;menerawang awang-awang, menatap ajal yang lambat atau cepat sudah pasti datang. Dia digerogoti penyakit aneh. Berawal dari gejala tak bisa tidur hingga berminggu-minggu, lalu mengucurlah darah kental dari hidung dan telinganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sepekan ini cairan merah itu membasahi sprei, sarung guling, bantal, kaus yang berhari-hari tak berganti. Juga membasahi harapannya untuk kembali mendapatkan mukjizat. Harapan yang sudah sangat lembek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lajang yang tiga dasawarsa sudah mengecap pahit manisnya dunia itu hanya bisa menyerahkan diri pada pasrah. Karena pada akhirnya di sadar, drama bernama hidup yang dilakoninya harus berhenti pada bilangan tahun ke-30. Ya sudah, Topo hanya bisa berserah. Dia sengaja memilih sepi di kamar jelang akhir hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Layaknya setiap jiwa yang sedang menunggu ajal, memori Topo berputar otomatis meniti satu demi satu yang telah lewat. Tentang hidup, tentang eksistensi, tentang cita-cita, tentang cinta. Tentang banyak hal yang belum selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topo sendiri. Tubuh jangkungnya yang mengurus hanya ditemani kesunyian kamar pondokan. Sejalan dengan hitungan waktu, pandangannya kian kabur. Tubuhnya kian lunglai, karena darah yang terus mengucur seperti air mancur itu tak memberinya kesempatan untuk membendung. Bersama bau anyir dan pandangan yang kian gelap, hal pertama yang diingat Topo adalah cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Topo punya asa yang sangat melambung terhadap cinta. Terhadap seorang perempuan yang bisa menjatuhkan keangkuhannya menjadi sebuah kepatuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang keangkuhannya memang muncul di tengah perjalanan asmaranya. Tepatnya ketika harapannya yang paling sederhana itu, berdekatan secara lahir dan batin dengan belahan jiwa, tak kesampaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh jalinan asmara yang telah lalu, yang pernah dilalui laki-laki –yang oleh nyaris semua wanita yang mengenalnya dicap punya komposisi wajah dan tubuh yang pas– itu selalu berakhir kekalahan. Semua berlalu begitu saja karena satu alasan klise tapi menyakitkan: Topo tak bisa menjamin semua kebutuhan duniawi mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakangnya yang bukan dari keluarga mapan kerap membuatnya menutup album cintanya dengan seringai nyinyir. Penyakit aneh yang tak bisa disimpulkan oleh paramedis, yang terus menggodanya selama bertahun-tahun, jadi faktor penguat para wanita untuk meninggalkannya sendiri dalam galau tanpa ujung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topo tak tahu muasal penyakitnya itu. Tapi, menurut penjelasan sementara paramedis, itu adalah buah pahit dari pilihannya yang salah: ketika Topo remaja memilih menghabiskan waktu bercengkerama dengan narkotika. Ketika kebiasaannya itu telah berhenti, dampak buruk ternyata mengikuti. Topo kerap disambangi insomnia, setelah itu darah tanpa permisi mengucur dari hidung dan telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap penyakit aneh itu datang untuk absen, Topo hanya berharap mukjizat berbaik hati padanya. Karena medis jelas tak bisa menolongnya. Apalagi yang bisa membantunya selain kebaikan Tuhan? Dan setiap kali disergap penyakit itu, Topo selalu bernazar: “Aku akan berusaha memberikan semua cinta dan komitmenku untuk siapa saja yang kucinta.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berharap bisa mendapat kesembuhan dengan sumpah itu. Dan, beberapa kali mukjizat memang berbaik hati memberinya kesempatan untuk membuktikan janjinya. Tapi, ya itu tadi, yang dipunyai Topo memang hanya cinta dan komitmen, bukan materi. Tapi, dua garansi itu belum cukup untuk mengikat cinta dan membawanya dalam mahligai rumah tangga. Kendati sembuh dari sakit raga, dia kerap terjebak oleh sembilu yang merajam kalbunya, ketika kisah cintanya harus ditutup dengan peringatan “mission failed”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai makhluk biologis dan sosial normal, lumrah Topo punya keinginan membangun keluarga. Dan dia butuh wanita untuk itu. Tepatnya, wanita yang bisa menerima garansinya. Sayang, yang dicarinya itu tak kunjung muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Topo membuat sebuah keputusan: dia jeda sejenak hasrat terhadap pasangan hidup, lalu dia genjot status sosialnya dengan berusaha keras. Komitmen penuh pada pekerjaan dan profesi. Hingga sampailah Topo –setelah jibaku dan pontang-pantingnya siang malam itu –pada posisi yang menjanjikan kenyamanan: menjadi seorang pejabat menengah di sebuah perusahaan yang memproduksi pengetahuan. Cukup bergengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topo adalah pribadi yang datang ke dunia membawa paket temperamental. Ambisinya terhadap sebuah tujuan selalu tak bisa direm, apalagi ditarik mundur. Tapi Topo menjamin bisa mempertanggungjawabkan semua keinginannya. Dia membangun kehidupan pribadinya pun dengan pembawaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara suksesnya itu, Topo tiba-tiba sadar, bahwa semua yang dia dapatkan itu tak akan ada maknanya kalau dia tetap sendiri. Dia butuh teman, dia butuh wanita, untuk bersama menikmati buah keringatnya. Dan masalah status sosialnya yang telah lalu, yang kere bukan siapa-siapa itu, sudah teratasi. Dia bisa membawa sesuatu yang membanggakan untuk menggaet simpati wanita. Dia bisa menjanjikan kecukupan materi. Ditambah garansi untuk pasangan yang yang dibawanya sejak lama, cinta dan komitmen itu, Topo makin yakin dia bisa mendapatkan teman hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya keinginan Topo terwujud. Berbekal sedikit keahliannya menggaet wanita, berbekal paduan wajah yang enak dipandang dan otak encer, didapatkanlah seorang wanita yang menurut pandangannya istimewa. Seorang wanita mandiri, berkulit sawo matang, berpandangan tajam, juga teguh tahan godaan. Semua pria yang pernah menjajal ilmu pikat mereka terhadap wanita itu mental semua, terbentur kepadasan si perempuan istimewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dengan sedikit keberuntungan dan bantuan suratan jodoh, Topo berhasil menaklukkannya, dan membawanya dalam pelukan hangat tubuh jangkungnya. Memang, tak mudah Topo untuk membuat wanita itu percaya bahwa dia bisa memberikan cinta dan materi. Setelah melalui usaha keras yang cukup panjang –bahkan pernah di tengah usahanya Topo nyaris putus asa –akhirnya terjalinlah mereka berdua dalam ikatan sebagai sejoli. Rencana ke depan pun disusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berawal indah. Sangat indah. Hingga pada akhirnya, terkuaklah fakta yang membuat pasangan ini harus berdiri dalam situasi yang ambigu. Ternyata mereka berdua punya karakter yang sama; keras dan berambisi. Dan pemaknaan mereka tentang hidup dan masa depan ternyata juga bersimpang arah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya keagungan cintalah yang membuat mereka tetap konsisten dalam kebersamaan, kendatipun benturan prinsip dan opini kerap membuat mereka bertarung dan lelah. Tapi konflik itu tak membuat keduanya memilih berpisah. Topo juga tak tahu kenapa. Padahal, menurut penjelasan logika –cara yang selalu dikedepankan Topo untuk menjalani semua hal dalam hidupnya –yang paling sederhana pun, seharusnya mereka sudah berpisah dan meniti pilihan masing-masing. Tapi kenyataan tidak berkata begitu. Cinta rupanya telah berhasil menjinakkan egosentris mereka. Dan mereka tetap bersama. Mendesain sebuah kehidupan bersama. Harapan Topo pun kian melambung mendapati itu. Setelah semua smaradananya berakhir dengan pahit, kali ini dia melihat sebuah kesimpulan yang legit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Topo rupanya terlalu cepat mengambil kesimpulan. Pada akhirnya, persamaan antara dia dan wanitanya, yang sama-sama bak karang itu, menggiringnya dalam sebuah akhir cinta yang pahit. Bahkan mungkin juga akhir kelabu dari sebuah hidup penuh pertarungan sengit yang dilakoninya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si wanita istimewa mendapat kepercayaan dari tempatnya mendedikasikan kemampuan untuk pergi ke negeri nun jauh. Dan itu membuatnya harus berpisah lama dengan Topo –yang tak pernah ingin perpisahan berdurasi panjang seperti itu terjadi. Topo berusaha menghalangi, atas dasar rasa takut kehilangan dan ketidaksiapannya dihajar rindu tanpa pelipur. Sebenarnya yang diinginkan Topo itu sederhana: dia ingin wanita itu selalu ada di dekatnya. Karena hanya dalam situasi itulah semangatnya untuk hidup terus terpompa, dan membuatnya lupa terhadap penyakit misterius yang menghantui sepanjang perjalanan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, atas nama ambisi dan keteguhan prinsip untuk menjalani pilihan hidupnya, si wanita memilih pergi. Dan atas nama cinta pula lah Topo melepas wanitanya untuk menjalani apa yang dia pilih. Meski pun pedih menahan tusukan rindu terasa menyembelih. Semua demi cinta, demi dia yang tercinta. Demi dia, perempuan tempat Topo menaruh harapan. Bersama perih, dia lepas wanitanya mengejar mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kepergian itu, Topo pun memilih sepi. Dia jauhkan diri dari hiruk pikuk kota kapital tempatnya menikmati jabatan, pergi ke timur jauh untuk berusaha mencari kesibukan demi sejenak menepikan kangennya yang kian mendidih. Kebetulan, perusahaannya butuh tenaganya untuk membenahi banyak hal yang karut marut di daerah sepi itu. Berbekal kecerdasannya, Topo kembali berikhtiar, sembari berusaha melupakan sejenak cintanya yang terbang jauh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataan membawa fakta yang tak bisa ditolak Topo; cintanya yang jauh itu selalu otomatis menempati daftar teratas benaknya. Di tengah kesibukannya, rindu masih saja lebih kuat mencekiknya. Beban pikirannya bertambah ketika perjumpaan maya dengan sang cinta tak bisa berjalan mulus lantaran kendala teknologi komunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban pikiran juga lah yang pada akhirnya membawa Topo pada situasi yang sangat ingin dihindarinya: penyakit aneh itu datang lagi. Kali ini lebih kejam. Kalau biasanya satu dua hari penyakit itu pergi sendiri, kali ini sepekan penuh masih saja dia setia menghantui Topo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribu ucapan berharap simpati, upaya mengemis perhatian dari sang cinta ternyata tak berbalas. Cintanya ternyata masih sibuk mengejar ambisinya sendiri. Segala upaya memelas berharap perhatian pun malah disimpulkan sebagai upaya Topo untuk menghalangi jalannya menuju mimpi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ketika Topo pada akhirnya berterus terang tentang penyakitnya –hal yang tak pernah dia ungkapkan sepenuhnya pada wanita tempatnya menitipkan cinta itu– berharap dengan begitu si wanita akan mengerti, lalu pulang memeluknya dan mengajaknya sembuh sembari membangun mimpi yang pernah dirancang bersama, hanya bisa membuatnya nyinyir. Si harapan malah mencapnya mengada-ada. Topo malah dituduh punya misi untuk menggagalkan cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan harapan Topo untuk bisa dipeluk sang cinta di saat-saat kritis itu tak pernah terwujud. Si wanita memilih terus mengejar mimpinya, berlari jauh dan menghilang dari radar Topo –yang kian hari kian lemas itu. Lunglai oleh penyakit, lunglai oleh harapan yang tak pernah sampai, lunglai oleh beban pikiran yang khawatir tentang keselamatan wanitanya. Dan pada akhirnya, Topo harus mahfum, inilah akhir segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tak akan pernah memberinya kesempatan untuk menunjukkan kesungguhan. Topo pun sendiri. Di tengah tugasnya untuk membenahi perusahaan yang belum beres itu, yang belum selesai, di tengah kecamuk rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topo hanya bisa menerawang. Hanya bisa menatap ajal yang kian dekat. Topo pun harus dipaksa maklum, maut telah mengambil tempat di mana harapannya pernah berada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam hampir usai, ketika ayam jantan menggeliat sembari menyiapkan kokoknya, Topo menghela napas pelan, lalu melepasnya pelan-pelan pula. Di tengah basah dan amis ceceran darah yang mengalir dari hidung dan telinganya, dalam pelukan sunyi kamar pondokan yang terkunci dari dalam, bersama harapannya yang kering, Topo menutup semua cerita tentang 3 dasawarsanya yang kering harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus membawa sukmanya dalam sebuah pemahaman: bahwa cinta akan selalu membiarkannya sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-682943569577538015?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/682943569577538015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/07/topo.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/682943569577538015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/682943569577538015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/07/topo.html' title='Topo'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/TDeYXVK5W1I/AAAAAAAAAYA/PMvSPxcf1bk/s72-c/Alone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-6792857167318700362</id><published>2010-05-14T22:15:00.000+07:00</published><updated>2010-05-14T22:15:32.161+07:00</updated><title type='text'>Sumeleh</title><content type='html'>&lt;i&gt;”Wong iku mbok yo sing sumeleh...”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dalam banyak situasi, petuah ala mbah dari Jawa itu banyak betulnya. Sebuah petuah tentunya tak terlontar sembarangan. Bukan asal ngablak. Tentu melalui sebuah pemikiran panjang, mengkaji tentang hidup dan kehidupan, sebelum akhirnya sampai pada kesimpulan berbentuk kalimat bijak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang perlu &lt;i&gt;sumeleh&lt;/i&gt;, ikhlas, ketika situasi tidak seperti yang diinginkan. Dengan keterbatasan iman ini, pada situasi ini aku pun harus mengamalkan kata itu: ikhlas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, pada kenyataannya, keinginan yang tak terwujud memang lebih banyak daripada yang kabul. Untuk menghadapi situasi ini, satu-satunya hiburan yang paling ampuh memang &lt;i&gt;sumeleh &lt;/i&gt;itu. Agar tak musnah termakan kemarahan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dua bulan masa jibaku di Surabaya ini habis, aku pun harus memilih sumeleh. Memang berat meninggalkan sebuah dinamika –yang menurut seleraku cocok– ke dinamika lain (yang menurut cara pandang subjektifku kurang begitu bersahabat). Tapi, aku bukan pengambil keputusan, yang bahkan tak bisa menentukan nasib sendiri (setidaknya untuk saat ini). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin betul aku tetap di sini. Bersama saudara membangun optimisme yang sempat kembang kempis, namun sempat tertiup kembali itu. Tapi, ya itu tadi, selama masih membawa peran sebagai bawahan yang wajib tunduk pada komandan, optimisme itu harus aku jeda. Membawa yang belum tuntas pulang kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun dengan malas aku kemasi mimpi yang sempat aku jajakan di lapak penuh gairah itu, lalu membawanya pulang barak –sembari menyimpan harap bahwa suatu saat aku pasti kembali untuk menggelar lagi optimisme yang sempat tertunda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, untunglah ada hatiku di sana. Dan, memang dialah satu-satunya alasan kenapa pada akhirnya aku sudi kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus sembari menghibur diri ala petuah bijak kepala daerah untuk pejabat yang diangkut dalam gerbong mutasi: ”Ditempatkan di mana pun, yang penting pengabdian. Mengabdi demi....(?)”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting &lt;i&gt;sumeleh&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-6792857167318700362?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/6792857167318700362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/05/sumeleh.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6792857167318700362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6792857167318700362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/05/sumeleh.html' title='Sumeleh'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-8836158678093303031</id><published>2010-04-16T01:39:00.007+07:00</published><updated>2010-04-16T04:49:54.613+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>BIASA yang TAK BIASA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S8dXWDboh5I/AAAAAAAAAXw/ruH4C7E-Trk/s1600/QuestionMark.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S8dXWDboh5I/AAAAAAAAAXw/ruH4C7E-Trk/s200/QuestionMark.gif" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;INI&lt;/b&gt; adalah cerita tentang orang &lt;b&gt;TAK BIASA&lt;/b&gt; yang hidup di lingkungan &lt;b&gt;BIASA&lt;/b&gt;. Tapi, berhubung orang-orang &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;yang hidup di lingkungan &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;itu terlalu sering melihat kelakuan &lt;b&gt;TAK BIASA &lt;/b&gt;orang itu, jadinya, &lt;i&gt;ya &lt;/i&gt;orang itu terlihat &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;dengan &lt;b&gt;KETIDAKBIASAANNYA&lt;/b&gt; tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bingung? Sama. Aku awalnya juga merasa aneh menghadapi &lt;b&gt;KETIDAKBIASAAN, &lt;/b&gt;yang lama-lama memaksa orang banyak untuk melihatnya sebagai sesuatu yang &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;itu. Awalnya aku kira hal &lt;b&gt;TAK BIASA &lt;/b&gt;yang diderita orang itu bisa disembuhkan menjadi &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;kembali (selayaknya parameter &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;orang kebanyakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang diinginkan orang-orang &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;di sekitar orang &lt;b&gt;TAK BIASA &lt;/b&gt;itu adalah harapan yang &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;saja. Hal &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;yang &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;dilakukan banyak orang &lt;b&gt;BIASA, &lt;/b&gt;begitulah. Sederhana bukan? Agar situasi bisa jadi &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;kembali, dan aktivitas pun berjalan lancar seperti &lt;b&gt;BIASA.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pada akhirnya orang sekelilingnya harus &lt;b&gt;MEMBIASAKAN &lt;/b&gt;diri untuk memahami &lt;b&gt;KETIDAKBIASAAN &lt;/b&gt;orang itu –yang dirasakannya sendiri sebagai hal &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;tersebut. Sekeras apapun upaya yang dilakukan orang-orang &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;untuk mengoreksi &lt;b&gt;KETIDAKBIASAAN &lt;/b&gt;orang itu, taruh potong kepala, tak bakalan mempan. Mungkin karena dia memang sudah &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;begitu. Atau bisa juga dia sudah kadung &lt;b&gt;TERBIASA&lt;/b&gt; bebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai-sampai orang &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;di sekelilingnya &lt;i&gt;geregetan &lt;/i&gt;sekalipun, gemas sekalipun, yang bagi orang &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;situasi itu mengganggu, orang yang &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;dengan &lt;b&gt;KETIDAKBIASAANNYA &lt;/b&gt;itu merasa nyaman saja. Sama sekali tak risih. Malah terkesan menikmati. Situasi yang &lt;b&gt;TAK BIASA&lt;/b&gt; bukan? Tapi, buat makhluk itu, mungkin &lt;b&gt;BIASA. &lt;/b&gt;Atau setidaknya dia sukses memaksakannya menjadi sesuatu yang &lt;b&gt;BIASA&lt;/b&gt;. Ujung-ujungnya, dia berhasil menciptakan situasi yang &lt;b&gt;TAK BIASA, &lt;/b&gt;yang membuat orang-orang &lt;b&gt;BIASA &lt;/b&gt;di sekitarnya amat sangat terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Yah&lt;/i&gt;, dalam omelan singkat &lt;b&gt;TAK BIASA&lt;/b&gt; yang membicarakan tentang hal-hal yang seharusnya &lt;b&gt;BIASA&lt;/b&gt; ini, sampailah pada kesimpulan: ternyata dia hidup di dunia &lt;b&gt;TAK BIASA&lt;/b&gt;, dunia lain, tapi secara fisik berada di tengah orang-orang &lt;b&gt;BIASA&lt;/b&gt; yang harus &lt;b&gt;TERBIASA&lt;/b&gt; muak dengan &lt;b&gt;KETIDAKBIASAANNYA.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Soerabaia, 16 April 2010 (01.25 am)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-8836158678093303031?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/8836158678093303031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/04/kebiasaan-yang-tak-biasa.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/8836158678093303031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/8836158678093303031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/04/kebiasaan-yang-tak-biasa.html' title='BIASA yang TAK BIASA'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S8dXWDboh5I/AAAAAAAAAXw/ruH4C7E-Trk/s72-c/QuestionMark.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-1498824626910542449</id><published>2010-04-14T03:33:00.003+07:00</published><updated>2010-04-16T04:49:08.138+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Sekring</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S8TU3-j_MJI/AAAAAAAAAXo/gJW_KaorcyU/s1600/Sekring.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S8TU3-j_MJI/AAAAAAAAAXo/gJW_KaorcyU/s320/Sekring.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;KETIKA &lt;/b&gt;tidurku terputus begitu saja lewat tengah malam ini, aku mendadak seperti dipaksa mengamini Karl Marx: bahwa manusia menunjukkan eksistensinya melalui bekerja. Aku bukan sosialis, apalagi komunis. Aku cuma kapitalis oportunis yang sok idealis. Yang jelas, dengan bekerja dan mengerahkan segenap kemampuan aku merasa bahwa aku sudah menemukan inilah aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Definisi bekerja bukan hanya berhenti pada bagaimana cara mencari uang. Uang? Ah, aku tak mendapatkan tambahan berarti di sini. Dari sisi materi, masih saja seperti sebelumnya, tetap harus berusaha pandai-pandai mengatur finansial yang (jujur) memang mepet ini. Tapi setidaknya aku merasa, aku menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar uang. Kelebihan itu bernama eksistensi. Siapa manusia (waras) yang tak ingin eksis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kepuasan yang tak cukup untuk dipaparkan dalam tulisan singkat, yang tertuang insidentil ketika terbangun dini hari ini. Ada mimpi-mimpi yang berpeluang menjadi kenyataan. Ada upaya. Ada proses. Ada kreativitas. Ada dialektik. Tak pernah bertemu dengan istilah mandek. Pada intinya –meminjam tagline iklan jajanan cokelat Coki-Coki – ada sesuatu yang ”lebih dan lebih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika ada tanda-tanda “komando” untuk pulang ke barak, rasanya kepala ini menjadi seperti sekring yang mendadak turun tekanan. Ketika sedang tinggi, tiba-tiba, “pettt”, jadi gelap gulita karena sekringnya putus. Rasanya benar-benar tak rela melepas mimpi-mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam istilah Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi: “Tuhan akan selalu memeluk mimpi-mimpi kita”– aku sebenarnya tak ikhlas membiarkan Zat Yang Maha Kuasa itu melepaskan pelukannya dari benakku. Tak rela mimpi yang sudah hampir jadi itu lepas begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dini hari Surabaya yang pengap ini, aku pun mengerti kenapa Yoann Gourfchuff memilih bertahan di Girondin Bordeaux dan menolak iming-iming segepok duit dari AC Milan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan soal materi. Ini perkara eksistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Cugito Ergo sum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku berpikir maka aku ada”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Soerabaia, 14 April 2010: 03:12 am&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-1498824626910542449?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/1498824626910542449/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/04/ketika-tidurku-terputus-begitu-saja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1498824626910542449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1498824626910542449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/04/ketika-tidurku-terputus-begitu-saja.html' title='Sekring'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S8TU3-j_MJI/AAAAAAAAAXo/gJW_KaorcyU/s72-c/Sekring.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-6472827504717273557</id><published>2010-04-11T00:53:00.005+07:00</published><updated>2010-04-16T04:49:32.372+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance Story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>"Kontradiksi Anatomi"</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S8eJQcreKWI/AAAAAAAAAX4/-d6GmDnVQag/s1600/Chaos.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S8eJQcreKWI/AAAAAAAAAX4/-d6GmDnVQag/s200/Chaos.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ketika lipatan laptop ini terbuka, jemari merengek-rengek minta agar terketik sesuatu di atas lembaran Microsoft Word yang sudah terlanjur menantang untuk ditulisi sesuatu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribu sayang, penghuni kepalaku sedang sombong. Dia tak mau membimbing jari-jari yang sudah geregetan ini untuk menelurkan ide. Sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;”Hai, kenapa juga kita sombong betul akhir-akhir ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa kau bertanya itu? Apakah sombong sudah diharamkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi di dalam kepala ini sedang terjadi debat monolog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin lebih baik aku biarkan saja. Belum ada kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kepala turun ke bawah, di balik dada kiriku, ada yang berdentum-dentum. Seperti merajuk agar otak yang sedang bermonolog ria itu akur dengan jari yang berasa “harus melakukan sesuatu” itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pada siapa siapa jantung berpihak? ”Apakah detakan ini harus berpihak.” Ya sudahlah, biarkan saja jantung seperti maunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola mata sesekali meliar, menyapu pemandangan di dalam kamar pondokan yang hanya berisi lemari kayu bercat biru, gantungan baju, kipas angin inventaris kantor dan ranjang tingkat dengan seprei berwarna kuning malas dan biru sombong itu. (…sssttt.. juga ada beberapa potong celana dalam kotor yang belum sempat ditangani…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi porsi sorotan lebih banyak tertuju pada layar monitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut yang baru dibilas shampo pagi tadi melambai-lambai ditiup-tiupi kipas angin. Tangan kiriku sesekali menyibaknya dari jidat –yang selalu mengeluh: ”sialan kau, rambut. Membuatku risih saja.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, rupanya hati belum berbuat apa-apa. Tapi, biarlah, mungkin dia sedang ingin istirahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Atau mungkin sedang malas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam yang biasa ini, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersama persendian yang linu-linu tapi terlalu sombong untuk diistirahatkan ini, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan napas yang kadang tersengal ketika berjibaku keras meredam hasrat ini, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;asap kretek filter iitu meliuk-liuk genit di awang-awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin si benda gas sedang bertempik sorak melihat kesibukan kami --yang tinggal di dalam diriku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Soerabaia, 11 April 2010, 00.20 dini hari&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-6472827504717273557?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/6472827504717273557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/04/kontradiksi-anatomi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6472827504717273557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6472827504717273557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/04/kontradiksi-anatomi.html' title='&quot;Kontradiksi Anatomi&quot;'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S8eJQcreKWI/AAAAAAAAAX4/-d6GmDnVQag/s72-c/Chaos.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-694206179660345620</id><published>2010-03-14T21:36:00.002+07:00</published><updated>2010-03-14T21:47:19.819+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opiniku'/><title type='text'>Pak Kiai Menyulut Rokok</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S5zzr7yK9DI/AAAAAAAAAXg/u4pNcs7KIKc/s1600-h/rokok-11.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S5zzr7yK9DI/AAAAAAAAAXg/u4pNcs7KIKc/s200/rokok-11.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Assalamualaikum&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku buka saja dengan pertanyaan aneh ini: Apa orang-orang apa udah sebegitu parnonya pada sebuah kondisi bernama HIDUP? Bukannya disyukuri, dinikmati, nyawa yang masih nempel di wujud wadag ini malah terus-terusan ditakut-takuti, dengan menciptakan banyak larangan yang kerap kali bikin aku malah nggak ngerti sama sekali; sebenarnya hidup itu buat apa? Dinikmati? Atau malah ditakut-takuti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammadiyah. Segala hormat bagi petinggi atau intelektual organisasi kemasyarakatan berbasis agama ini. Tapi, ye maap, kalau aku jadi sama sekali nggak respek waktu udah cawe-cawe soal rokok. Ya, aku memang perokok berat. Dan aku adalah orang yang paling depan menentang deh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalilnya ada aja. Antara lain seperti yang dikutip &lt;a href="http://nasional.vivanews.com/news/read/136276-enam_dalil_fatwa_haram_rokok"&gt;&lt;b&gt;vivanews &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;ini. Katanya mengganggu kesehatan lah, menyebabkan kematian, polusi, dan segala macam alasan nggak penting lain. Pokoknya yang serem-serem aja. Alquran segala dibawa-bawa. Emang perlu gitu, Allah repot-repot ngurus rokok? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Heran, bukankah sebagai ormas yang mengidentikkan diri dengan pandangan agama Islam –yang inklusif itu– apa nggak sebaiknya ketika mengkaji sebuah objek, para kiai membuka mata dan hati lebar-lebar? Eling, Pak Kiai, rokok itu tak melulu membawa mudarat –yang jadi alasan utama kenapa akhirnya kudu diharamkan– tapi juga banyak manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kesehatan, apalagi soal kemungkinan mampus akibat asap rokok, hai Pak Kiai, apa Anda semua sudah nggak lagi percaya bahwa kuasa Allah lah yang menentukan hidup mati seseorang? Kok Anda seenaknya sendiri bilang rokok pasti akan ”membunuh orang”? Seolah Anda sudah tahu dulu bagaimana rokok begitu menentukan jatah idup orang di dunia? Anda tak percaya lagi pada Tuhan, Pak Kiai? Ayo jawab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh, Pak Kiai. Di kampung saya kenal Mbah Darno. Sekarang umurnya 80-an tahun. Dia mengaku, dari umur 8 tahun sudah ngerokok klobot, alias tingwe bin ngelinting dewe. Rokok itu tanpa filter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, jelas, secara teori, segala RACUN tembakau yang kata sampeyan-sampeyan berbahaya itu, Pak Kiai, total masuk telak mengoyak-koyak jeroannya Mbah Darno. Tapi, apa itu MEMBUNUH Mbah Darno? Sama sekali tidak tepat! Mbah Darno bahkan masih hidup sampai sekarang. So, adakah korelasi langsung antara rokok dan nyawa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dulu aku coba tanya pada dia (menggunakan logika yang Anda pakai sekarang), apakah dia tak khawatir sakit bahkan mati karena asap rokok, Mbah Darno hanya menjawab: ”Hidup mati itu punya Tuhan, Mas. Orang nggak ngerokok toh mati juga, hehehe.” Wah, aku rasa Mbah Darno malah lebih mengenal Tuhan daripada Panjenengan, Pak Kiai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah Pak Kiai juga harus percaya begitu saja pada data statistik awu-awu, termasuk yang disuguhkan Bloomberg –yang katanya setiap tahun orang meninggal akibat rokok sangat tinggi? Data itu dari mana? WHO? Kajiannya bagaimana? Cara ambil sample bagaimana? Pernahkah metodenya dipublikasikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sampeyan tak pernah berpikir, mengingat fenomena Mbah Darno (dan banyak orang lain seperti dia yang sayangnya tak pernah dicatat statistik), bahwa angka kematian akibat rokok itu mungkin saja hanya manipulasi perusahaan farmasi tingkat dunia? Maksudnya agar orang stop merokok dan memilih obat penenang produksi mereka saja ketika kalut atau sumpek, yang harganya mahal itu –di mana sebelumnya ketenangan itu bisa didapatkan dari belaian nikotin yang murah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal embusan asap rokok yang mengganggu orang lain, barang tentu dalilnya toleransi. Lalu, aku tanya balik, Pak Kiai, apakah dengan MEMAKSA perokok menahan diri agar tak merokok dengan melarang rokok (berdalil MENGHORMATI yang tidak merokok) apakah itu tidak sama artinya dengan MENYIKSA perokok itu sendiri dengan membiarkannya terlunta-lunta menunda kenikmatan? Perokok juga manusia, Pak, juga berhak menikmati hak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pertanyaan lagi: apakah jumlah orang tak merokok itu JAUH LEBIH BANYAK daripada perokok, sehingga mereka harus dibela di negara demokrasi ini? Adakah data yang menyebut bahwa orang yang tidak merokok di Indonesia ini jauh lebih banyak, misalnya 99% tak ngerokok dan 1%-nya mengisap tembakau, sehingga yang tak menyentuh tembakau layak dibela dengan alasan DEMOKRASI? Bagaimana kalau setelah survei serius ternyata jumlah perokok juga banyak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau... Sampeyan-sampeyan ini sudah DIBELI Bloomberg –yang siapa tahu punya perusahaan farmasi dan obat penenang –dengan sanggup menyeponsori pemberantasan rokok di Indonesia, dibantu fatwa haram sampeyan? Apakah sampeyan mengeluarkan fatwa haram, tanpa mempertimbangkan manfaat rokok yang juga banyak itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadarkah sampeyan, berapa besar pajak yang disumbang pabrik rokok untuk Indonesia? Lebih dari Rp 52 triliun bos! Tak sadarkah anda bahwa pembangunan Indonesia –membangun sekolah, rumah sakit, gedung pelayanan publik, jalan, lapangan kerja– ini disokong oleh pajak, di mana rokok adalah salah satu penyumbang terbanyak? Tidak sadarkah Anda, kalau sampai pabrik rokok ditutup dengan alasan haram, berapa juta buruh rokok dan orang-orang yang menggantungkan hidup pada iklannya bakal menganggur, terlunta-lunta tanpa bisa menafkahi diri sendiri? Apakah itu tak semaki memicu angka kejahatan, sebuah perilaku yang sangat ditentang Islam itu, Pak Kiai? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau semua aspek kemanusiaan dan pembangunan itu tidak sampeyan pertimbangkan, karena ada nominal yang sangat besar dari Bloomberg untuk Muhammadiyah demi menggolkan ”proyek” berangus rokok, entah apa itu bentuk proyeknya, sehingga Anda sebagai ulama tak mempertimbangkan lagi sisi-sisi kemanusiaan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai, Islam mengajarkan pada kita bahwa hidup itu indah, hidup itu untuk dinikmati. Karena itulah Allah melarang bunuh diri dan menyiksa diri, karena itu akan menegasikan keindahan hidup yang telah dianugerahkan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ingat Pak Kiai, salah satu kenikmatan itu datang melalui nikotin. Zat ini menenangkan pikiran, dan membuat orang lebih bisa berpikir jernih. Bayangkan kalau pikiran kusut tak terurai (salah satunya dengan bantuan nikotin), dampak sosialnya juga akan buruk. Bisa pertengkaran, perampokan, pembunuhan. Dan ketika pikiran ditenangkan oleh nikotin, karya cipta yang banyak manfaatnya bagi kemaslahatan umat bisa hadir di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, jangan lupa Pak Kiai, Nabi Muhammad SAW –yang membawa langsung titah Allah dari langit untuk kita– tak pernah menyatakan bahwa merokok itu dosa. Apakah sampeyan-sampeyan mau melampaui kewenangan junjungan Anda? Ah, aya-aya wae...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, Pak Kiai, hidup itu indah dan harus dinikmati. Jangan malah menakut-nakuti umat dengan segala bentuk tetek bengek yang nggak penting. Urus saja moral, Pak Kiai. Bangsa kita lebih perlu itu. Dan ingat, dalam sejarah peradaban manusia di seantero jagat ini, tak pernah dan tak akan pernah ada degradasi moral terjadi karena rokok! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu lah menyulut permasalahan dengan mempermasalahkan rokok. Lebih baik, Pak Kiai, mari kita sulut rokok bersama, duduk bersama, dan berbicara dengan logika yang sehat tentang rokok serta manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wassalam&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;NB: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dan, semoga saja untuk yang satu ini saya salah: jangan sampai FATWA itu terbit karena ada ”HUBUNGAN BAIK” antara ormas Anda dengan Bloomberg. Tuhan mengharamkan jual-beli agama, Bos....&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-694206179660345620?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/694206179660345620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/03/pak-kiai-menyulut-rokok.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/694206179660345620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/694206179660345620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/03/pak-kiai-menyulut-rokok.html' title='Pak Kiai Menyulut Rokok'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S5zzr7yK9DI/AAAAAAAAAXg/u4pNcs7KIKc/s72-c/rokok-11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-5573857275922587079</id><published>2010-02-14T03:03:00.003+07:00</published><updated>2010-04-16T04:51:18.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>Tahun yang (Seharusnya) Indah</title><content type='html'>&lt;b&gt;PADA&lt;/b&gt; suatu tempat di Indonesia yang bhineka ini, hiduplah seorang Mpu yang hanya ingin dipanggil Mpu. Selebihnya dia memilih menyembunyikan identitas. Dia mengaku hidup di gunung, sengaja menyepi secara fisik dari hiruk pikuk negeri yang seperti tak pernah bosan berkawan dengan masalah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S3cFTfDUL9I/AAAAAAAAAXY/zA0sI2-tlgs/s1600-h/Peacefull.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="143" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S3cFTfDUL9I/AAAAAAAAAXY/zA0sI2-tlgs/s200/Peacefull.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tapi, jangan salah, kendatipun secara wadag si Mpu hidup di pedalaman, dia termasuk orang yang mengamini tesis Thomas L Friedman, jurnalis Amerika yang menyebut ”dunia ini datar” berkat canggihnya teknologi informasi ini. Biar hidup di gunung, si Mpu melek teknologi. Dia tetap mengakses internet dan paling rajin online. Dia coba melihat Indonesia dari ketinggian 3 ribu meter dari permukaan air laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Agar bebas kepentingan,” itulah alasannya ketika suatu saat saya iseng-iseng berkirim surat elektronik kepadanya –yang alamatnya diwanti-wantinya tak boleh diberikan pada sembarang orang yang belum tentu dia kehendaki– untuk bertanya kenapa dia memutuskan untuk menyembunyikan fisiknya, tapi rajin menatap dunia dan berpendapat tentang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Di tengah ribut-ribut Bank Century, vonis Antasari dkk, saling gebuk antara pemerintah dan orang yang diduga kuat mengemplang pajak, Permen-nya Tifatul yang menurut banyak orang pahit itu, juga beberapa cabang Majelis Ulama Indonesia alias MUI mempermasalahkan perayaan Valentine, iseng-iseng saya berkirim surat lagi pada si Mpu. Biasanya isi suratnya membawa makna yang begitu mengena, kendati untuk mempraktikkannya masih agak sulit di beberapa bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat terakhir saya begini; ”Dari ketinggian Anda, bagaimana Mpu Indonesia di antara Imlek dan Hari Valentine ini?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitungan jam email saya sudah berbalas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;”Anakku yang jauh di dataran rendah sana, tampaknya Indonesiamu itu terlalu gagap menangkap sebuah makna dan sisi baiknya. Mungkin juga karena banyak orang-orangnya yang berpikiran ”jorok”. Prasangka dikedepankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dunia, khususnya Indonesia, harusnya bersyukur bahwa perputaran jagat raya tahun ini menjatuhkan perayaan Imlek dan Valentine kompak bersama-sama dalam satu hari. Ada dua momentum indah yang seharusnya bisa dinikmati dengan tepat dan dicerap maknanya. Kalau makna itu bisa ditangkap dengan sehat, bagus kalau bisa diaplikasikan dalam hidup Indonesia yang bhineka ini. Semestinya juga bisa jadi obat mujarab untuk meredam kisruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anakku, ketika kita memilih untuk menentukan sebuah ”peringatan”,  bukankah maknanya tak hanya berhenti pada tanggal merah atau hari libur? Tapi, bukankah ada makna yang lebih perlu dicerap? Tapi, itulah, mungkin Indonesia kita ini masih terlalu gagap dalam menangkap makna yang positif. Dan semoga saja kekurangan yang satu itu bisa segera dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sadarlah, bahwa ada dua peringatan bermakna denotatif yang diperingati bersamaan tahun ini. Perayaan Imlek, peringatan yang tak diperbolehkan ketika Orde Baru berkuasa –dengan alasan budaya tapi pada dasarnya politis– membawa makna bahwa toleransi sebenarnya begitu hidup di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Untuk yang satu ini kita memang wajib berterimakasih pada almarhum Gus Dur. Tapi, keran yang dibuka Gus yang hebat itu, di mana etnis Tionghoa boleh memperingati hari istimewanya di negeri ini, sebenarnya hanyalah perantara. Inti sebenarnya adalah naluri bangsa ini sendiri, yang secara harfiah masih begitu permisif pada toleransi di tengah keanekaragaman etnis penghuninya. Oh, indahnya negeri ini kalau makna itu benar-benar muncul di permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Untuk Valentine, Anakku, tentang agama apa yang memperkenalkan konsep ini pada dunia, menurut aku di ketinggian ini, semestinya tak perlu diributkan. Yang jelas, Valentine telah dikenal dunia sebagai hari di mana kasih sayang begitu tumpah ruah. Tak ada permusuhan. Yang ada saling merangkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Konsep tentang kasih sayang itu, hakul yakin, tak akan ditolak oleh agama apa pun, termasuk Islam-nya beberapa MUI yang menganggapnya sebagai masalah itu. Tak perlu meributkan bagaimana latar belakangnya, tapi maknanya. Lebih pada intinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau dirangkaikan jadi satu, Anakku, datangnya Imlek dan Valentine secara bersamaan ini bukankah bisa diartikan sebagai pengingat, bahwa di dunia ini masih ada toleransi dan di dalam berbagi itu ada kasih sayang? Sebuah konsep sosial yang indah, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukankah dengan adanya dua momentum indah yang begitu kompak datang bersamaan, kalau kita sudi menyerah pada maknanya, kisruh-kisruh bisa direm. Bukankah saling tentang itu muncul karena toleransi dan kasih sayang selalu dipinggirkan? Ketika momentum toleransi dan kasih sayang itu dihadirkan Tuhan melalui hitungan perputaran almanak secara bersamaan pada kita, apakah tidak lebih baik kita nikmati saja dan tendang upaya saling tentang itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, entahlah, Anakku. Aku kadang juga tak sanggup menangkap logika para pemimpinmu, atau orang-orang penting di dataran rendah sana, kenapa enggan mencerapi makna Imlek dan Valentine –dua peringatan yang diamini negeri ini– yang tahun ini datang dalam satu paket itu. Malahan masih ada juga yang mengangkatnya sebagai masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena kebingungan inilah, Anakku, aku memilih hidup di gunung. Karena di sini, di tengah rerimbunan alam ini, di ketinggian 3 ribu meter dari permukaan air laut ini, aku selalu merasa Valentine dan Imlek menghampiri setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gong Xi Fa Chai and Happy Valentine, Anakku…”&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Angin semilir yang menerobos begitu saja melalui nako rumah kost itu begitu genit mencolek tengkuk saya ketika mata menyusuri kata demi kata dalam surat Mpu. Dingin, agak merinding, tapi fantasi melayang ke suatu tempat sembari meraba-raba, di manakah si Mpu itu berada? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai membaca, saya isap rokok dalam-dalam, saya embuskan asapnya pelan-pelan, sembari mencoba membiasakan diri kembali pada kenyataan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, seandainya saya tahu di gunung mana si Mpu hidup, akan saya susul dia ke sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-5573857275922587079?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/5573857275922587079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/02/tahun-yang-seharusnya-indah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5573857275922587079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5573857275922587079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/02/tahun-yang-seharusnya-indah.html' title='Tahun yang (Seharusnya) Indah'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S3cFTfDUL9I/AAAAAAAAAXY/zA0sI2-tlgs/s72-c/Peacefull.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-8151057091676991667</id><published>2010-02-12T14:42:00.000+07:00</published><updated>2010-02-12T14:42:04.040+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>Bermain Kartu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S3UGI4lVAxI/AAAAAAAAAXQ/uXzo0dDaAxI/s1600-h/playing_cards_pieces_1A.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="148" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S3UGI4lVAxI/AAAAAAAAAXQ/uXzo0dDaAxI/s200/playing_cards_pieces_1A.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;DI&lt;/b&gt; peron stasiun itu seorang ayah dan anak laki-lakinya yang masih terlalu kecil (saya taksir masih sekitar kelas I SD), sedang mencermati isi sebuah koran. Si ayah membaca dengan gaya santai, sementara di sampingnya si anak mengintip-intip dalam paragraf demi paragraf yang dibaca sang ayah. Gayanya sedikit serius, mungkin karena rasa ingin tahu mendesaknya untuk mengetahui banyak ”hal baru” di dalam koran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pandangan mereka sama-sama mengarah pada sebuah berita yang masih hangat-hangatnya, yang ada kata ”koalisi” di situ. Kata yang tentu saja masih asing untuk si anak. Dengan naluri keingintahuannya sebagai manusia, terceletuklah pertanyaan dari mulut kecil si bocah; ”Koalisi itu apa si, Pa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Si ayah –atau Papa– tampak tertegun sebentar. Lalu dia tatap si buah hati dengan pandangan bersahabat. Mungkin si orangtua yang tampaknya terpelajar itu sedang bingung; dia tak ingin mengecewakan anaknya, dengan memberikan jawaban, tapi sekaligus harus memberikan penjelasan yang bisa diterima nalar bocah kelas I SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memainkan bola mata, seperti mencari-cari padanan penjelasan yang tepat, si ayah menjawab; ”Koalisi itu bermain kartu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak mengernyit. ”Maksudnya bagaimana, Pa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Beberapa orang yang hobi bermain kartu berkumpul bersama dan memainkan kartu. Tahu kan bagaimana bermain kartu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, iya. Kita kan sering main kartu kalau libur. Biar ramai. Biar bisa ketawa-tawa, seperti kita dan kakak,” jawab si anak polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya,” si papa tersenyum, ”bermain kartu memang untuk mencari kesenangan. Asal jangan curang ya…” si papa memberikan isyarat dengan kerdipan mata dan senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi….” si anak menyela lagi, ”Kenapa si Demokrat mengancam mitra koalisinya? Mitra koalisi itu apa?  Apa hubungannya dengan kartu?” lalu si anak menunjuk judul berita yang bertuliskan ”Demokrat Ancam Mitra Koalisi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, itu. Karena Demokrat yang punya kartu. Mitra koalisi itu teman bermain, yang main-main ke tempat Demokrat karena Demokrat yang punya kartunya. Mungkin saja waktu bermain Demokrat, yang merasa punya kartu, merasa dicurangi teman-temannya. Mungkin dia mengira ada yang sengaja menyimpan kartu, atau menyembunyikan kartu, sehingga permainan jadi terganggu. Itu kan namanya curang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berarti teman-temannya jahat ya, Pa. Curang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Belum tentu. Apa yang punya kartu itu sudah pasti tidak curang? Tidak begitu, Nak. Semua bisa saja curang. Bisa saja yang punya kartu itu juga curang. Karena merasa dicurangi, teman-teman bermainnya merasa dirugikan. Yang merasa dirugikan juga tak mau terus-terusan rugi, dan ikut bermain curang supaya tidak rugi lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berarti ada yang jahat ya, Pa. Kalau terus-terusan curang, kenapa main kartunya diterusin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena tidak ada yang menghentikan. Bukannya bermain kartu itu seru? Setiap kita main kartu waktu liburan tidak mau berhenti kan karena serunya? Semua ingin jadi pemenang, Nak. Sementara yang sudah menang ingin menang lagi. Bermain kartu itu tak akan bisa berhenti kalau tidak ada yang menghentikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, iya ya. Kita kan berhenti kalau Mama sudah datang dan aku disuruh tidur ya, Pa?” si anak seperti diingatkan kembali. ”Mereka tidak punya mama ya, Pa?” si anak penasaran lagi. Si papa hanya menggeleng pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu, siapa yang akan menghentikan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mereka akan berhenti sendiri kalau sudah capek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar pengumuman kereta yang mereka tunggu segera masuk stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebenarnya siapa sih yang curang dalam koalisi itu Pa?” rasa ingin tahu si anak terus menyerbu si papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Papa tidak tahu, karena Papa tidak ikut main.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, kalau aku sudah besar, aku bisa ikut main kartu koalisi seperti mereka? Biar aku cari yang curang siapa, terus aku jewer.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ayah tersenyum. ”Boleh saja, Nak. Tapi, jangan malah kau sendiri yang curang. Itu tidak baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta yang mereka tunggu datang. Si Papa melipat korannya, menggandeng si anak, dan masuk untuk mencari tempat duduk. Si anak yang digandengnya membawa pemahaman tentang ”tak boleh curang kalau bermain.” Semoga saja pemahaman itu dibawa sampai dia dewasa kelak, atau ketika (mungkin) kelak dia memilih terlibat dalam permainan kartu bernama koalisi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-8151057091676991667?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/8151057091676991667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/02/bermain-kartu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/8151057091676991667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/8151057091676991667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/02/bermain-kartu.html' title='Bermain Kartu'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S3UGI4lVAxI/AAAAAAAAAXQ/uXzo0dDaAxI/s72-c/playing_cards_pieces_1A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-5314659596946509350</id><published>2010-02-05T02:29:00.002+07:00</published><updated>2010-04-16T04:56:05.231+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance Story'/><title type='text'>Mahmud Tetap Milik Zul</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S2sfkWz_CHI/AAAAAAAAAW4/suK02cBHGzI/s1600-h/Pantai+Meulaboh_1.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S2sfkWz_CHI/AAAAAAAAAW4/suK02cBHGzI/s200/Pantai+Meulaboh_1.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;”BESOK &lt;/b&gt;Abang hendak ke Meulaboh?” Mahmud, lelaki muda berumur 30-an yang tinggal di Desa Ruak, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, itu melontariku pertanyaan di tengah perbincangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menurut rencana begitu,” jawabku apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Meulaboh sekarang indah nian, Abang. Tak seperti dulu, sekarang banyak bangunan bagus,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud hanya mengangguk, lalu melemparkan pandangan ke gunung, sembari menikmati rokok ”duplikat” Dji Sam Soe, yang memilih angka 168 sebagai lambang, bukan 234.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;”Meulaboh memang indah. Pantainya… Ah, tapi apalah arti Meulaboh sekarang. Tuk saya, Meulaboh jauh lebih berbinar sebelum tsunami dulu,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa pasal?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud hanya tersenyum. Lalu dia isap lagi rokoknya. Pandangannya kembali ke gunung. ”Karena waktu itu ada Zul di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa itu, Bang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Calon ibu anak-anak saya…” jawaban Mahmud itu gamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh… Sekarang dia di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan senyum, yang kali ini terkesan dipaksakan, Mahmud menjawab; ”Tanyakan pada ombak di pantai Meulaboh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia mengembuskan rokoknya kuat-kuat, seolah ingin sekalian membuang sebuah rasa yang mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sohibul hikayat, ternyata Mahmud pernah menyimpan harapan yang besar, tapi yang dituainya adalah pahit yang amat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zul yang dimaksudnya adalah seorang perempuan muda asli Meulaboh bernama Zulaikha. ”Kami menjalin kasih sejak satu tahun sebelum tsunami mengambil semuanya,” kata Mahmud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud bertemu Zul di Meulaboh, ketika dia sering belanja barang untuk stok tokonya yang ada di Kota Fajar, sekitar 300-an kilometer dari Meulaboh. Dari dulu Meulaboh memang jadi pusatnya orang kulakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zul adalah pelayan di salah satu toko langganannya. Pertautan hati mereka tumbuh dengan cara yang sederhana. ”Biasa, Abang, dari pandang lah. Dari mata turun ke hati,” kata Mahmud, lalu tampak tersipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahu ada perempuan elok bernama Zul itu, Mahmud kian sering datang ke Meulaboh. Kalau sebelumnya paling cepat sebulan sekali dia belanja, setelah pertemuan itu dua minggu sekali dia ajeg datang ke kota pantai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pula yang mengikat mereka dalam kedekatan. Gayung bersambut, dan membaurlah mereka dalam asmara. ”Sehabis belanja, sebelum saya balik ke Kota Fajar, kami selalu duduk di tepi pantai sembari minum air kelapa. Pantai Meulaboh luar biasa elok di sore hari. Apalagi ada Zul di samping saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibaratnya, kalau saya ini laut, Zul adalah pantainya. Sepertinya saya menakutkan, tapi laut selalu mengelus pantai dengan ombaknya yang lembut.” Mahmud pun tertawa, dan ada nada tersipu di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan elusan waktu, mereka pun sepakat membangun sebuah rumah tangga. ”Untuk menghindari zina,” kata Mahmud. Orangtua Mahmud sudah berkunjung, meminta Zul untuk Mahmud. Lamaran diterima. ”Kami pun terikat pertunangan. Ah, gembira sangat rasa hati ni. Siapa tak senang akan bersanding dengan pujaan hati,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui perbincangan antarkeluarga, diputuskanlah pernikahan akan berlangsung Februari 2005. Mahmud dan Zul juga telah punya rencana sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami bisa membeli tanah di tepi pantai Meulaboh dari tabungan kami. Memang tak luas, tapi cukuplah buat kami dan dua anak kami nanti. Kami ingin sewaktu-waktu bisa menikmati keindahan alam karunia Allah di pantai itu,” kenang Mahmud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pernikahan pun masuk hitungan mundur. Tinggal dua bulan saja. Segala keperluan untuk rumah tangga mereka nantinya juga sudah dipersiapkan. Rumah mungil di tepi pantai juga hampir jadi. ”Kami masih ada sedikit uang sisa. Rencananya kami hendak membuka toko kecil-kecilan di sana,” kata Mahmud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 25 Desember 2004, Mahmud sengaja tidur di rumah yang hampir jadi itu. Sejak rumah itu dibangun, dua minggu sekali setiap akhir pekan Mahmud selalu bermalam di Meulaboh. Dan Minggu pagi, selepas salat Subuh, Mahmud selalu mengajak Zul menikmati tepi pantai sampai tengah hari. Seperti Minggu pagi, 26 Desember 2004 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, memang, tak ada seorang pun yang cakap memprediksi takdir. Minggu pagi disenyumi matahari terbit yang masih malu-malu itu rupanya adalah awal dari sebuah akhir. Pukul 7 pagi, ketika Mahmud dan Zul sedang menikmati kelapa muda, gempa luar biasa kencang menggoyang tepi pantai itu. ”Selama gempa tak henti-henti Zul mencengkeram lengan saya. Dia amat ketakutan. Saya memeluknya, agar dia tenang, meskipun saya sendiri juga takut,” cerita Mahmud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu gempa berhenti, dan setelah pusing akibat goyangan bumi hilang, mereka terpana. ”Meulaboh hancur. Rumah saya yang hampir jadi juga hampir ambruk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menatap ke laut, air sangat surut. ”Tapi waktu itu kami semua tak paham kalau itu adalah tanda tsunami.” Tanpa mempedulikan situasi laut, Mahmud, Zul, dan banyak orang di Meulaboh berusaha mengemasi bangunan milik mereka yang porak poranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, sekitar 15 menit setelah gempa, Mahmud dan Zul, dan orang di sekitar pantai, melihat cakrawala diselimuti garis tebal berwarna hitam pekat. ”Langit di sekitar cakrawala juga amat gelap sangat. Kami bertanya-tanya, apakah itu? Apa akan ada gempa lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya juga masih ingat, ketika tsunami tampak dari jauh, Zul bertanya pada saya; ”Abang, apa pula itu?”. Tapi saya tak bisa menjawab, karena saya juga tak paham.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, belum sempat pertanyaan itu terjawab, terdengar deru yang luar biasa keras. Sampai akhirnya ada yang berteriak; ”Tsunami!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar teriakan itu semua orang panik. Semua semburat berusaha menyelamatkan diri. ”Gelombang lebih tinggi dari pohon kelapa,” ingat Mahmud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan Mahmud pun raih tangan Zul untuk menyelamatkan diri. ”Pucat sangat dia waktu itu. Tak hentinya dia mengucapkan takbir. Situasi serba panik luar biasa.” Di tengah kepanikan itu, ”Zul berkata pada saya; ‘Abang, jangan lepaskan Zul. Zul takut.’ Itulah kata-kata terakhir yang saya dengar dari dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menjawab, sembari berlari Mahmud menggandeng Zul. Sampai akhirnya gelombang mengempaskan tautan tangan mereka. ”Berenanglah, Zul!” teriak Mahmud begitu tangan mereka saling terlepas. Yang diperingatkan tak menjawab. Mahmud terdorong gelombang sampai ke tengah kota, sedangkan Zul entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya berenang ke gedung DPRD Meulaboh yang tinggi. Banyak orang sudah di situ.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil ”mendarat”, Mahmud baru sadar, kalau Zul tak ada di belakangnya. Dengan panik yang tak terkira dia aduk-aduk gedung DPRD itu. Dia jelajahi setiap sudut, dia tatap wajah setiap perempuan yang ada di situ, berharap Zul adalah salah satu di antaranya. ”Tapi saya tak tampak dia sama sekali…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air kian menggila. Seisi gedung dewan panik. Takbir, doa, Al-Fatihah, dilantunkan tak henti-henti. Semua orang menangis, panik, histeris, pingsan, lemas. Juga Mahmud. ”Tak hentinya saya bedoa dan membaca Al-Fatihah, berharap Zul tak kenapa-kenapa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai beberapa jam kemudian akhirnya air surut. Permukaan laut pun normal kembali. Terpanalah Mahmud, juga orang-orang yang ada di gedung dewan. Meulaboh, kota tua perdagangan itu, hancur lebur. ”Tak ada satu pun bangunan yang tersisa. Semua habis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama orang lain yang juga kehilangan keluarga, Mahmud turun dari tempat tinggi itu, mengorek-korek puing, pasir dan lumpur, berharap menemukan apa yang mereka cari. ”Semuanya benar-benar hancur. Rumah saya yang hampir jadi itu pun tak tersisa sama sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Mahmud sampai ke laut. Di air banyak jasad mengapung. Mahmud cari satu-satu dengan berenang berbekal sisa tenaga, tapi tak dia dapati wajah Zul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia tak patah arang. Dari laut, dengan tenaga yang kian tipis, dia tuju rumah keluarga Zul, yang berjarak sekitar 7 kilometer dari tepi pantai, dengan jalan kaki. Tapi rumah yang dicarinya juga telah tak ada, rata dimakan gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tak ada yang tersisa dari Zul. Keluarganya pun habis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud dan orang lain yang selamat pun hanya bisa pasrah dihajar tsunami kepiluan. ”Ngilu kali hati ni.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S2sftL7HY1I/AAAAAAAAAXI/vOLL1pVUdWU/s1600-h/meulaboh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="208" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S2sftL7HY1I/AAAAAAAAAXI/vOLL1pVUdWU/s320/meulaboh.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun terisolir. Meulaboh dan Calang memang daerah yang paling parah. Pantainya datar dan mempersilahkan begitu saja tsunami menghajar daerah itu, tanpa sedikit pun pelindung. Meulaboh habis, habis pula cerita tentang Mahmud dan Zul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Mahmud dan yang selamat dari tsunami dua minggu hidup tanpa bantuan. Mereka terisolir. Mereka makan sisa-sisa apa saja yang masih ada. Ada yang makan ikan yang terdampar, ada yang mengais-ngais reruntuhan toko sembako, ada yang makan buah kelapa. Ada juga yang melahap beras mentah yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit di antara mereka yang mati kelaparan. ”Saya bertahan karena keyakinan untuk menemukan Zul masih sangat kuat. Itulah satu-satunya alasan kenapa saya bertahan hidup, kendati lapar sangat rasanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa-sisa tsunami Meulaboh, tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keyakinan hanya berhenti pada keyakinan. Kenyataan menceritakan bahwa Mahmud tak akan bertemu lagi dengan Zul, pun hanya jasadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui masa yang menyeramkan, akhirnya bantuan pertama berhasil masuk, diangkut pesawat cesna bernama Susi Air. Tertolonglah mereka yang masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evakuasi besar-besaran dilakukan TNI dan bantuan internasional. Jasad-jasad yang berhasil ditemukan digabung menjadi satu di dataran tinggi. ”Tapi tetap tak ada Zul di situ.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud sendiri langsung pulang ke Aceh Selatan, kampungnya, sekaligus satu-satunya daerah di Aceh yang selamat dari amukan tsunami. Di sana, di tengah ketakutan ancaman Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang masih lestari ketika itu, tak hentinya dia berharap ada kabar dari Zul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau pun dia sudah meninggal, jasadnya ditemukan saja saya sudah senang.” Tapi, pada akhirnya kenyataan membuat Mahmud harus takluk, bahwa sampai lima tahun sejak bencana itu tak ada sedikit pun kabar tentang Zul maupun keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setelah Meulaboh dibuka, saya pergi ke sana. Masih berharap jasad Zul ditemukan. Tapi tetap saja tak ada apa-apa. Semua tentang Zul telah habis. Bahkan fotonya pun aku tak simpan. Habis semua terbawa tsunami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud melepaskan pandangan gunung di Ruak. Dia tertunduk sejenak. Dia isap lagi rokoknya. Sangat dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi.... Sekarang Abang sudah menikah?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tampak terkejut. ”Dengan siapa?” Mahmud malah menanya balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya dengan perempuan lah…,” jawabku spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, Mahmud hanya tersenyum. ”Sampai kapan pun Mahmud tetap milik Zul. Mahmud hanya akan menikah dengan Zul. Kami sudah terikat janji, cincin pertunangan masih melingkar di jari saya ni. Mahmud pantang mengingkari janji dengan menikahi perempuan lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mahmud menunjukkan jari manis kirinya yang dilingkari cincin emas. Dia menatap dengan pandangan yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Abang sudah beristri?” Mahmud menanyaiku balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Masih belum, Bang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada calon?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Insyaallah ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud tersenyum lagi. Tapi kali ini lebih mirip seringai. ”Abang jagalah dia baik-baik. Jangan sampai Abang tanggung sesal seumur hidup.”Ah, rupanya Mahmud sedang mengutuki dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya membalas dengan senyum. Rombongan World Bank mengajak kami beranjak ke desa sebelah. Aku tinggalkan Mahmud yang masih juga menikmati kenangan lima tahun lalu tentang Meulaboh, bersama cincin emas yang masih saja melingkar di jari manis tangan kirinya.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S2sfoQJrYeI/AAAAAAAAAXA/fVzYZ7BtsuY/s1600-h/Pantai+Meulaboh_2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S2sfoQJrYeI/AAAAAAAAAXA/fVzYZ7BtsuY/s320/Pantai+Meulaboh_2.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-5314659596946509350?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/5314659596946509350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/02/mahmud-tetap-milik-zul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5314659596946509350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5314659596946509350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/02/mahmud-tetap-milik-zul.html' title='Mahmud Tetap Milik Zul'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S2sfkWz_CHI/AAAAAAAAAW4/suK02cBHGzI/s72-c/Pantai+Meulaboh_1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-2380399430729324630</id><published>2010-01-26T11:50:00.001+07:00</published><updated>2010-01-26T22:30:01.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><title type='text'>Mengaduk Harapan di Gampoeng Mersak</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Masa &lt;/b&gt;konflik Aceh telah lewat enam tahun sudah. Bekas pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau Komite Peralihan Aceh (KPA) turun gunung, berbaur bersama penduduk membangun Tanah Rencong. Daerah gunung yang dulunya menyeramkan, yang jadi basis gerakan separatis, mulai tersenyum manis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S15zydn1a_I/AAAAAAAAAWg/Ks3_vuAI-MI/s1600-h/Gunung+di+Manggamat.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S15zydn1a_I/AAAAAAAAAWg/Ks3_vuAI-MI/s200/Gunung+di+Manggamat.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;”&lt;b&gt;Nama &lt;/b&gt;saya Yusri. Saya adalah Keuchiek (Kepala Gampoeng/Desa) Mersak, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan. Saya dipilih secara demokratis dengan cara bermusyawarah, terlepas dari darah turunan keuchiek yang ada di dalam tubuh saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hidup kami sekarang lebih tenang. Masa konflik telah lewat. Kami bisa mengolah tanah sampai ke kaki puncak gunung Alur Lepung, Desa Mersak. Di sini kami membangun bendungan untuk mencukupi kebutuhan air di sawah-sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;”Sekarang situasi memang telah jauh lebih baik. Teramat beda dengan dulu. Di masa konflik, antara 1999-2002, sawah-sawah kami selalu kesulitan air. Tak ada yang berani membangun saluran. Karena sumber mata air di gunung Alur Lepung dikuasai penuh oleh KPA. Tak ada satu pun warga yang berani datang sampai ke kaki gunung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami hanya bisa membangun saluran tradisional yang selalu saja bermasalah. Dalam setahun, dari 26 hektare lahan sawah kami, hanya 25 ton padi yang dihasilkan. Panen pun hanya sekali setahun. Dan hampir separuh hasil panen itu diambil KPA untuk makan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami tak bisa apa-apa waktu itu. Kami hanya bisa merasakan takut. Tanah kami yang subur jadi terbengkalai. Nilam, pinang, pala, dan padi tak ada yang tergarap. Warga  selalu was-was ketika hendak keluar rumah. Gampoeng kami yang subur ini benar-benar mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ketika itu kami memang selalu hidup dalam ketakutan. Kami serba salah. Di Mersak sini dan Gampoeng Manggamat (sekitar 10 km arah utara Gampoeng Mersak) adalah basis KPA. Mereka sangat kuat di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Moncong-moncong senapan selalu mengintai setiap saat dari rerimbunan pohon dan semak di gunung. Salah kata sedikit saja, lewatlah kami ke akhirat. Tidur kami tak lelap. Bahkan mimpi pun kami serasa dikejar-kejar KPA yang senantiasa membidikkan senapan pada kami. Ketakutan kami ketika itu memang sangat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di tengah takut itu kami pun harus memilih antara naik gunung (bergabung dengan KPA) atau mengungsi ke Kota Fajar, sekitar 60 kilometer dari Desa Mersak. Di Kota Fajar biasanya kami jadi sasaran berondongan pertanyaan TNI. Saya memilih mengungsi, karena pada dasarnya saya tidak setuju dengan Aceh Merdeka. Untuk membangun Aceh tak harus merdeka. Tengoklah Timor-Timur, yang semakin kacau balau setelah melepaskan diri dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya juga sakit hati pada KPA. Tahun 2002 lalu bapak saya jadi Keuchiek Gampoeng Mersak. Namanya Mahmud. Dia juga sama seperti saya, tak setuju dengan Aceh Merdeka. Karena cara pandangnya itulah bapak saya harus menemui ajal di depan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Suatu ketika rumah saya didatangi sepasukan KPA yang dipimpin langsung oleh Komandan KPA Wilayah Sudirman, Abral Muda. Wilayah Sudirman termasuk gampoeng kami di Mersak ini. Bapak saya disuruh memerintahkan warga desa, yang kebanyakan perempuan dan anak-anak itu, memasok sembako dan bergabung dengan mereka di gunung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi Bapak menolak, karena Beliau memang tak pernah setuju dengan KPA. Bapak saya berontak. Akhirnya, beliau dihabisi dengan ditembak mati di depan warga desa. Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Pedih nian hati saya ni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”KPA memang tak pernah main-main. Mereka sangat membedakan bagaimana cara bersikap pada pendukung atau yang melawan. Yang mendukung dibawa ikut naik gunung, sementara yang melawan ditumpas habis, termasuk bapak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dulu, setiap ada yang melawan, kalau tak dihukum mati di tempat, mereka dibawa ke markas mereka di Gampoeng Manggamat. Para tawanan ini dimasukkan ke sebuah penjara yang mirip kandang ayam, yang terbuat dari bambu atau kayu hutan. Mereka tak bisa berdiri tegak di sana. Mereka harus meringkuk sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Selama dalam penjara itu mereka terus dipaksa untuk mengakui KPA. Kalau mereka tetap melawan, hanya ada dua pilihannya; dibiarkan mati kelaparan di dalam kandang penjara itu atau dihukum mati di depan banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cara dibunuhnya pun macam-macam. Ada yang digantung atau dicambuk sampai mati. Ada juga yang disayat-sayat atau dipenggal. Dihukum mati yang paling enak, ya ditembak itu. Sakitnya cuma sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setelah bapak saya ditembak mati, larilah saya ke Kota Fajar. Di Mersak saya sudah tak punya kawan. Mereka, kawan bermain saya di masa kecil, ketika itu memilih naik gunung dan lebih sering membidikkan senapan ke wajah saya, seperti tak pernah ada perkenalan di antara kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mersak juga seakan menjadi gampoeng liar. Pemerintahan dikendalikan dari Kota Fajar dengan perlindungan TNI. Tak ada pemerintahan di sini. Maut bisa datang sewaktu-waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dari Gampoeng Mersak ke Kota Fajar tak ada kendaraan angkut. Saya jalan kaki naik-turun gunung. Ibu, istri, dan anak saya tinggal di kampung. KPA memang tak pernah menyakiti kaum Hawa dan anak kecil. Itulah kelebihan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setelah berjalan satu hari satu malam, sampailah saya ke Kota Fajar. Di sana bukannya saya langsung merasa aman, tapi saya malah dicecar banyak pertanyaan dari TNI. Saya menjawab apa adanya. Tapi tetap saja TNI tak percaya. Saya juga heran dengan tentara. Kami, laki-laki dari kampung ini, semua dianggap KPA. Kami dikira mata-mata. Padahal kami sudah berusaha keras meyakinkan mereka bahwa kami lari ke Kota Fajar karena takut KPA. Tapi tetap saja begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akhirnya saya terpaksa melarikan diri ke Tapak Tuan. Saya ikut mobil pikap pengangkut sembako. TNI juga sudah ada di sana. Tapi tentara di ibu kota kabupaten itu lebih percaya saya. Menetaplah saya di sana sejak tahun 2002. Saya tak lagi mendengar kabar tentang keluarga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya berusaha untuk tegar dan terus berdoa agar keluarga di kampung tak kena sedikit pun musibah. Sampai akhirnya tahun 2004 datanglah tsunami di Aceh bagian utara, yang membuat kami di selatan ini terisolir. Pasokan sembako dari Meulaboh, Calang, atau Banda Aceh tak ada yang bisa masuk sedikit pun. Kami semua panik. Kami kelaparan. Sumber-sumber makanan hanya ada di gunung dan desa, tapi tempat-tempat itu sudah dikuasi KPA. Saya semakin cemas membayangkan nasib anak-istri saya. KPA yang kelaparan bisa saja kalap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, Allah memang Maha Besar.  Tsunami itu rupanya juga berhasil menjinakkan KPA. Setelah ada perjanjian di luar negeri, KPA menyerah. Tak ada lagi teror di antara kami sendiri. Saya mendengar kabar bahwa KPA bahkan telah menyatakan insyaf dan bergabung dengan warga, bahu-membahu membangun desa kami. Saya senang sekaligus was-was. Saya belum percaya dengan apa yang saya dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dengan perasaan masih takut-takut, saya pulang lagi ke desa. Ternyata benar, suasananya sama sekali lain. Tampak banyak laki-laki juga di situ. Kalau di masa konflik dulu, sepanjang mata memandang, hanya tampak perempuan dan anak-anak. Dan ketika saya datang ketika itu, sudah banyak kaum lelaki yang berani menampakkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kawan-kawan kecil saya dulu, yang juga memutuskan naik gunung bergabung dengan KPA, tampak sudah balik lagi ke desa. Mereka tak lagi membawa senapan. Tapi mereka membawa alat pertukangan dan persawahan. Mereka tak menyambut saya dengan kokangan senjata, tapi dengan pelukan hangat layaknya seorang sahabat yang telah lama nian tak jumpa. Saya senang sekaligus terharu. Apalagi setelah mendapati ibu dan anak-istri saya selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sejak itulah kami mulai berusaha membangun babak baru. Kami bergotong royong membangun desa kami yang sempat mati suri itu. Desa yang dulu hanya dihuni para perempuan dan anak-anak, sejak saat itu juga ada kaum laki-lakinya. Masa konflik telah lewat. Dan setelah melalui musyawarah, ditunjuklah saya jadi kepala desa. Saya dinilai warga sini mewarisi sikap kepemimpinan bapak saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami, para lelaki dan perempuan, saling bahu-membahu membangun desa kami yang pernah mati. Kami dapat berbagai macam bantuan, baik itu dari pemerintah pusat dalam bentuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Bantuan Keuangan Pemakmue Gampong (BKPG) dari provinsi atau Dana Alokasi Gampoeng (DAG) di kabupaten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami membangun sendiri semua yang ada di sini. Kami membangun jalan, kami membangun bendungan, saluran air, balai pertemuan, semua kami lakukan sendiri. Kami merancang sendiri, kami lelang sendiri, dan kami laksanakan sendiri. Tidak ada pihak ketiga yang membantu pembangunan. Alam kami sangat kaya. Di sini ada pinang, nilam, pala, padi, kelapa, bahkan rumput hutan (ganja) pun tumbuh subur di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusri mengisap rokok Gudang Garam Surya 16-nya untuk yang terakhir. Dia isap sedalam mungkin. Dilepasnya pelan-pelan asap, dibuangnya puntung, dan diraihnya sekop. Bahu membahulah ia dengan ibu-ibu dan bekas ”orang gunung”, mengaduk-aduk adonan semen, pasir, dan batu kerikil untuk bendungan, bersama tawa lepas dan renyah yang meniadakan jarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S150M_lTC6I/AAAAAAAAAWw/bi18gpswk_U/s1600-h/Mersak.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S150M_lTC6I/AAAAAAAAAWw/bi18gpswk_U/s320/Mersak.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mersak memang sedang membangun banyak bidang. Selain bendungan, ada sarana dan prasarana jalan dan jembatan gantung yang juga diwujudkan. Ada juga pembangunan sekolah dan sarana pertemuan. Wilayah ini tak lagi terisolir layaknya di waktu konflik. Beberapa langkah maju sudah mereka jalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mersak juga sedang menggugah sektor pertanian dan perkebunan. Bertanam nilam –yang diambil minyaknya untuk bahan dasar parfum– dan padi sedang digenjot habis-habisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan Rp1,7 miliar dari PNPM, Rp100 juta dari BKPG, dan Rp50 juta dari DAG untuk satu desa selama setahun, jadi modal yang lumayan cukup untuk membangunkan gampoeng yang sempat mati suri itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar target dan realisasi pembangunan tidak mbeleset, warga gampoeng dibimbing oleh fasilitator dari kabupaten, kecamatan, atau instruktur teknis dan nonteknis di gampoeng. Mereka ada agar warga bisa belajar membangun desa mereka tanpa perlu merepotkan swasta yang prosedurnya berbelit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para fasilitator itu adalah orang-orang terdidik –kebanyakan sarjana– yang ditunjuk dan diongkosi oleh World Bank atau Bank Dunia, penyokong bantuan PNPM Mandiri. Merekalah yang mengajarkan orang-orang gampoeng bagaimana cara membuat perencanaan, melakukan lelang, realisasi kegiatan, sampai menyusun laporan keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, memang, bukan hanya Mersak yang menunjukkan geliatnya. Semua gampoeng di Aceh mulai merias diri, bersiap-siap menyambut kemajuan setelah dibekap masa sulit yang teramat panjang. Tapi, Mersak dan Manggamatlah yang mengalami transisi paling frontal; dari sebuah wilayah yang dilumpuhkan konflik jadi penuh energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami hanya ingin hidup tenang di gampoeng kami nan subur ini. Sebenarnya pula kami lebih suka memegang cangkul daripada senapan. Tapi di masa konflik kami tak punya banyak pilihan. Kami melawan karena kami tak diperhatikan,” aku Samsir, bekas anggota KPA yang telah gantung bedil dan turut mengaduk semen dan pasir di Gampoeng Mersak –sekaligus mengaduk harapan untuk Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S15z36F-DZI/AAAAAAAAAWo/pfD8fyTPdNQ/s1600-h/Mersak_1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S15z36F-DZI/AAAAAAAAAWo/pfD8fyTPdNQ/s320/Mersak_1.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-2380399430729324630?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/2380399430729324630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/01/mengaduk-harapan-di-gampoeng-mersak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/2380399430729324630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/2380399430729324630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/01/mengaduk-harapan-di-gampoeng-mersak.html' title='Mengaduk Harapan di Gampoeng Mersak'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S15zydn1a_I/AAAAAAAAAWg/Ks3_vuAI-MI/s72-c/Gunung+di+Manggamat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-2973573536557577353</id><published>2010-01-11T03:13:00.000+07:00</published><updated>2010-01-11T03:13:19.326+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memori'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>Pak Rebo Orang Gunung</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0oyq1g2pII/AAAAAAAAAWA/C3_YZI0nUeE/s1600-h/ikhlas.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0oyq1g2pII/AAAAAAAAAWA/C3_YZI0nUeE/s200/ikhlas.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;DI&lt;/b&gt; antara lipatan ingatan ini terselip sebuah cerita tentang gunung; panggung yang selalu menyuguhkan rasa nyaman. Disediakan pada siapa saja yang mau menyapanya sebagai sahabat. Mendiami gunung adalah pilihan bersahaja. Mereka yang berdomisili jauh dari peradaban kota itu tak pernah berhitung sedemikian rumitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gunung pula aku kenal Pak Rebo. Atau Rabu dalam bahasa Indonesia. Nama yang sederhana, memang. Begitu simpel orangtua “nggunung” menamai anak mereka, sebagaimana bapak-ibu Pak Rebo menamainya, sesimpel cara hidup mereka. Tak perlu berpikir terlalu rumit untuk menandai anaknya. Lahir hari apa, begitulah si anak dinamai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Mungkin juga para orangtua yang hidup di gunung enggan memberi nama yang terlalu sarat makna, seperti”Wibowo”, atau “Rahmat”, atau “Prakoso”. Nama-nama yang “agak beradab” memang. Tapi sekaligus sebuah predikat yang mengerikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, di mana di balik nama-nama bagus itu sebenarnya orangtua memanggulkan beban yang sangat berat pada si anak. Nama yang sangat penuh arti dalam koridor kapitalistik yang kian edan-edanan ini. Dunia yang penuh aktivitas hitung menghitung, yang luar biasa rumit. Tanggungan yang belum tentu bisa ditanggung si yang punya nama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, orangtua modern itu, menamai anaknya Wibowo karena ingin si anak jadi orang berwibawa alias disegani. Dan, seumur hidup, dengan membawa nama itu, si anak akan selalu tertanggungi beban untuk menjadi apa yang diharapkan orangtua, sebagai orang berwibawa, lengkap dengan berbagai macam syaratnya. Harus kaya, punya jabatan, atau jimatlah, asal disegani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diberi nama Rahmat karena orangtua ingin anaknya bisa jadi “rahmat” untuk semua orang. Bisa membuat orang nyaman. Tapi ada syarat agar bisa benar-benar jadi rahmat. Dengan tolok ukur modernisasi dan perputaran modal yang kian menggila ini, syaratnya tentu harus punya uang, kedudukan, atau jimat juga, karena hanya itulah yang bisa digunakan untuk menolong orang. Dengan begitu, dia bisa membuat orang merasakan kehadirannya sebagai rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamai Prakoso karena orangtua ingin anak jadi perkasa. Tak tertandingi. Untuk itu, tetap ada syarat-syarat yang harus dipenuhi; harus sangat kaya, sangat tinggi kedudukannya –baik di institusi atau masyarakat– sehingga tak tertandingi, dan benar-benar jadi perkasa. Kalau perlu memperkosa orang agar kian jelas keperkasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakespeare boleh berucap, “apalah arti sebuah nama.” Ya, karena, ketika dia mengatakan itu kapitalisme tak segila sekarang. Ketika orang-orang belum punya motif untuk menyelubungkan harapan tinggi pada nama, atas nama keinginan hidup nyaman bergelimang kapital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apa yang lalu terjadi ketika ternyata si anak tidak bisa mewujudkan Wibowo, Rahmat, atau Prakoso yang diharapkan orangtua? Katanya dosa. Katakanlah, mereka gagal berwibawa, gagal jadi rahmat, atau tak seperkasa yang diinginkan karena gagal jadi kaya, tak punya kedudukan, atau gagal mendapatkan jimat. Orangtua biasanya kecewa. Karena kebahagiaan, harapan itu, selalu terikat dengan definisi tentang kekayaan secara materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyematan nama yang terlalu dipamrihi harapan itu ternyata malah bisa jadi bumerang, jadi perenggang hubungan orangtua–anak, ketika si anak gagal mewujudkan apa yang diingini orangtua. Orangtua merasa kecewa, sementara si anak merasa berdosa dan malu. Jadinya, selalu ada kata enggan di tengah hubungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kegagalan itu bukan melulu karena si anak tak mau, tapi karena manusia memang didatangkan ke dunia dengan kapasitas yang berbeda-beda. Ada yang bisa mencapai situasi tertentu, ada yang tidak. Kalau dipaksakan, wah, malah bisa kacau semua. Situasi di hidup antara harapan dan kenyataan memang rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin beban pemberian nama berpamrih itulah yang dipahami wong nggunung, seperti orangtua Pak Rebo, yang menamai anaknya dengan begitu sederhana. Mereka tak ingin membebani anak dengan nama yang penuh arti, tapi ujung-ujungnya berharap mendapat imbal balik dari anak, dalam bentuk kenyamanan di hari tua dengan harta atau kedudukan yang ”cukup”. Atau ketika si anak benar-benar menjadi Wibowo, Rahmat, atau Prakoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, Pak Rebo, waktu lahir di hari Rabu, yang dia lupa tahunnya, yang jelas ketika pohon asem yang sekarang tingginya 10 meteran itu masih selutut orang dewasa berukuran Indonesia, dinamai seperti itu. Sebagai pengingat saja, kalau pernah lahir seorang manusia di hari Rabu. Sekaligus sebagai syarat untuk mengisi kartu tanda penduduk saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menamai anak apa adanya, orangtua Pak Rebo seperti tak ingin membebani anaknya dengan sesuatu. Mungkin, di alam bawah sadar mereka malah sadar, dengan tak terlalu memasangkan target pada nama anaknya, mereka ingin si anak hidup apa adanya, tak terlalu kejar target –yang bisa membuat orang gelap mata. Orangtua Pak Rebo membiarkan anaknya mengalir, seperti hari; yang selalu berlalu begitu saja, tapi mengemas banyak makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0oys8LfZlI/AAAAAAAAAWI/-CsZCMomKkQ/s1600-h/gunung+lawu+2.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0oys8LfZlI/AAAAAAAAAWI/-CsZCMomKkQ/s200/gunung+lawu+2.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Entah ada hubungannya dengan makna di balik nama atau tidak, yang jelas berhubungan dengan Pak Rebo, orang gunung itu, memang rasanya seperti mengalir begitu saja tapi sarat makna. Kembali lagi pada perkenalan dengan Beliau, sekitar awal tahun 2000 lalu, ketika hobi naik gunung masih bisa aku lakoni rutin dua bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu hujan–angin yang tak putus-putus menyapu puncak Lawu. Dinginnya jelas tak bisa dikatakan biasa. Aku dan Saiful alias Ipul, temanku, menggigil di dalam tenda dari parasut itu. Sangat putus asa kami ketika itu. Sekujur fisikku membeku. Kaku, sampai tak bisa apa-apa selain meringkuk dibungkus jaket dan celana rangkap tiga dan selimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah pasrah itu, tiba-tiba kami melihat ada sebuah cahaya mendekat. Aku pikir malaikat yang hendak menjemput ruh kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bukan. Cahaya itu ternyata berasal dari ublik yang dibawa seorang pria paruh baya, berbadan tak terlalu besar tapi kokoh, yang berkerudung plastik dan berkalung sarung. Tiba-tiba dia menyibak tirai tenda kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mas, mungkin lebih baik ikut ke rumah saya saja. Di sini terlalu dingin,” intonasi suaranya, yang dikemas dalam bahasa Jawa halus itu, jelas menunjukkan ketulusan tawarannya. Tanpa pikir panjang, aku dan Ipul yang tak ingin mati konyol mengiyakan tawaran tersebut. Kami tinggalkan begitu saja tenda basah dan dingin menggigit itu, ikut si Bapak menuju rumahnya, yang ternyata jauh sekali dari tenda kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu masuk rumah berdinding kayu pinus itu, kami langsung disodori kain untuk mengeringkan tubuh. Kami juga dipersilahkan mengganti baju dengan pakaian yang dipinjami si bapak. Setelah berganti baju, kami dipersilahkan duduk di balai-balai bambu di ruang utama rumah berlantai tanah itu. Kami disuguhi kopi tubruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Monggo diunjuk (Silahkan diminum),” kata si Bapak, dengan senyum yang menunjukkan gigi-gigi cokelatnya. Tanpa basa-basi, langsung kami seruput kopi mengepul itu dengan bibir kami yang pucat. Rasanya seperti menemukan separuh nyawa yang sempat pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepangaken, nami kulo Rebo (Perkenalkan, nama saya Rebo),” kata si Bapak, lagi-lagi dengan intonasi yang sama tulus, sama seperti yang dia lontarkan ketika menawari kami yang kedinginan di dalam tenda. Kami pun membalas dengan menyebut nama kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sudah melihat sampeyan berdua beberapa hari terakhir. Saya mau tawari mampir tapi takut mengganggu,” Pak Rebo membuka perbincangan. Malam itu kami terlibat dalam sebuah pembicaraan yang begitu dekat, kendati kami baru saja bertatap muka dan bertukar nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rebo adalah penggarap kebun singkong dan pencari ranting di hutan cemara. Dia tak pernah sekolah. Dia duda setelah ditinggal mati istrinya, dua tahun sebelum malam itu. Dia punya seorang anak, laki-laki, bernama Teguh, yang memutuskan untuk merantau ke Arab Saudi. Tapi, sejak pergi lima tahun sebelum malam itu, tak ada lagi kabar berita dari si anak. Salah satu penyebab istrinya meninggal juga karena terlalu memikirkan anaknya yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebenarnya saya tak pernah mengharapkan dikirimi uang. Saya rasa hidup saya sudah cukup dengan berkebun singkong dan mencari ranting. Sebenarnya saya hanya ingin dia kembali. Dia pulang saja saya sudah senang,” Pak Rebo seperti dipaksa mengenangkan sesuatu yang sebenarnya tak ingin dikenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rebo pun jujur mengaku, menolong kami berdua karena ingat anak lelakinya, yang katanya seumuran kami. Dia seperti melihat anaknya pulang lagi. Karena itulah kami jadi mahfum, kenapa pembicaraan malam dingin itu begitu akrab. Ada suasana perbincangan antara ayah dengan anak rupanya. Tapi, jujur, berbincang dengan Pak Rebo itu membuat aku menemukan nyaman. Seperti bercakap dengan bapakku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu seolah terlalu malas. Banyak hal yang kami bahas, terutama tentang kebersahajaan hidup seorang Rebo di tengah gunung itu. Dia berbicara tentang alam, rahmat Tuhan, dan sikap nerimo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbicara ngalor ngidul, di mana ihwal kelahirannya yang berpatokan pada pohon asem itu kami ketahui juga dari perbincangan itu, akhirnya kami mengantuk. Pak Rebo mempersilahkan kami tidur di tempat tidurnya yang hangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lha, sampeyan berdua tamu. Ya harus dienakkan,” begitu katanya. Dia memilih tidur di balai ruang utama, tempat kami berbincang tadi. Tentunya dingin sekali di situ. Segan rasanya, tapi lebih segan lagi menolak tawarannya. Karena, aku tahu, Pak Rebo tulus mempersilahkan kami, dan dia akan kecewa kalau kami menolak, kendati pun kami kemukakan alasan sungkan sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bangun keesokannya, saat hari sudah mulai beranjak siang, kami seperti dirajakan. Lagi-lagi kopi dan singkong rebus sudah tersaji. Pak Rebo sedang di kebun singkong di belakang rumahnya, untuk memastikan apakah tanaman yang menafkahinya itu baik-baik saja setelah diguyur hujan semalam. Kami menyantap hidangan itu, setelah sebelumnya menyapa si empunya rumah. Pak Rebo hanya membalas dengan senyum, sembari berkata, “Monggo, kopi sama singkongnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merasa tubuh agak enakan, kami memutuskan turun gunung saja. Ketika kami pamit, ada ekspresi keberatan di muka Pak Rebo. Tapi dia sadar, dia tak punya hak untuk menahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pulang, kami diberi seikat singkong segar. “Buat oleh-oleh,” kata Pak Rebo. Kami tambah kikuk. Enak benar kami ini; semalam ditolong dari kebekuan, dijamu seperti raja, pulang masih dikasih oleh-oleh singkong, banyak lagi. Mengingat singkong adalah penghasilan Pak Rebo, aku seperti otomatis mengkalkulasikan; kira-kira berapa penghasilan Pak Rebo yang hilang hanya karena ingin memberi kami oleh-oleh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rasa canggung akibat pola pikir kapitalis lanjut yang sudah kadung mengurat dalam otakku, aku keluarkan sisa uang bekal kami. Maksudnya, untuk membayar servis yang kami terima, sekaligus membayar singkong oleh-oleh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menyodorkan uang, rupanya sebuah kesalahan besar telah aku perbuat. ”Saya tak ingin uang. Singkong itu tak akan habis saya makan sendiri. Saya hanya ingin sampeyan berdua ingat saya, ingat ada saudara yang tinggal di gunung ini,” kata Pak Rebo, dengan nada kecewa yang tak bisa disembunyikan. Dahinya mengernyit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dipaksa malu dan harus belajar tentang sesuatu. ”Saya ini wong gunung. Ndak perlu banyak uang. Alam sudah memberi saya semuanya. Saya hanya ingin punya kerabat, yang sesekali waktu mau menjenguk saya di gunung ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0ozf0fwUZI/AAAAAAAAAWQ/qTKTSTsicFs/s1600-h/salaman.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0ozf0fwUZI/AAAAAAAAAWQ/qTKTSTsicFs/s200/salaman.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ah, bodohnya aku. Jelas, persaudaraan jauh lebih berharga dari pada uang untuk Pak Rebo. Kepalanya tak pernah terisi dengan kalkulasi, tapi hatinya selalu menawarkan kenyamanan untuk siapa saja yang mengenalnya, tulus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan bersalah kami sambar tangan Pak Rebo, kami cium sebagai bentuk terimakasih yang tak terhingga. Malah Pak Rebo yang jadi kikuk. Akhirnya, bersama oleh-oleh dan keikhlasan Pak Rebo, siang itu kami tinggalkan sosok bersahaja itu  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, entah ada semacam perasaan keharusan yang tulus, setiap aku mendaki Lawu, selalu aku jenguk Pak Rebo, yang selalu menyambut aku dengan kata sambutan, “Anak lanang (anak lelaki) datang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Pak Rebo selalu menjamuku dengan suguhan hasil alam yang tak pernah bisa aku tolak. Dan setiap bersama Pak Rebo, aku hampir lupa kalau di dunia ini ada benda –yang cenderung dipandang sebagai Tuhan oleh beberapa orang– bernama uang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu laju. Sampai akhirnya aktivitas berburu rupiah atas nama kesejahteraan memutus rutinitas silaturahmiku dengan Pak Rebo. Bertahun-tahun sudah kami tak sua. Tak bisa berkirim SMS atau telepon, karena Pak Rebo tak pernah punya piranti untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku mendapat kesempatan berlibur, lepas dari keseharian yang penuh tekanan itu, beberapa waktu lalu, tiba-tiba aku ingata Beliau. Aku sempatkan diri menjenguk Pak Rebo. Aku rindu suasana akrab di balai bambu ruang utama, dan berbincang akrab dengan Pak Rebo. Masih sehatkah bapakku satu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku harus kecewa. Kebersahajaan hidup Pak Rebo rupanya telah punah. Rumah berdinding kayu itu, yang pernah menyelamatkan aku dari terkaman dingin yang membekukan, pada suatu malam sekitar 10 tahun lalu, telah disulap jadi jalan mulus, bernama jalan tembus Sarangan-Karanganyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur ekonomi Magetan-Solo memang sedang diminati. Modal yang kian laju butuh prasarana jalan yang memadahi. Ah, lagi-lagi modernisasi menggilas habis kebersahajaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri di tengah jalan mulus belum terlalu lama dibangun itu. Masih bgAku nyalakan sebatang rokok, aku hisap dalam-dalam. Kabut ikut menyelinap di antara asap, masuk dalam paru-paruku. Dingin, seperti beku di dalam tenda yang diterjang hujan angin, sebelum aku ditemukan Pak Rebo, 10 tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku embuskan asap bercampur kabut itu pelan-pelan. Di balik kepulan asap, di antara kabut, aku lempar pandang sejauh mungkin, berusaha mencari sisa-sisa kebersahajaan Pak Rebo. Tapi, tetap saja tak aku temukan jawaban, ke mana pembangunan menendangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0o0HEJLQTI/AAAAAAAAAWY/xWo2M-Ra2kQ/s1600-h/Pemandangan.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0o0HEJLQTI/AAAAAAAAAWY/xWo2M-Ra2kQ/s320/Pemandangan.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-2973573536557577353?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/2973573536557577353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/01/pak-rebo-orang-gunung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/2973573536557577353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/2973573536557577353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/01/pak-rebo-orang-gunung.html' title='Pak Rebo Orang Gunung'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0oyq1g2pII/AAAAAAAAAWA/C3_YZI0nUeE/s72-c/ikhlas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-5628282959942342977</id><published>2010-01-05T05:29:00.000+07:00</published><updated>2010-01-05T05:29:47.028+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memori'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>Mukena Yoen</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0JrU1T17EI/AAAAAAAAAVo/ugIVt2VZw-0/s1600-h/World_Religion.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0JrU1T17EI/AAAAAAAAAVo/ugIVt2VZw-0/s200/World_Religion.gif" width="198" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;PADA &lt;/b&gt;suatu malam yang kebetulan, sekitar sembilan tahun lalu, tiba-tiba pintu kamar kostku diketuk seorang sahabat, yang kebetulan dilahirkan di tengah keluarga kaya. Begitu pintu kamar kost aku buka, aku mendapati sebuah ajakan untuk ”bersenang-senang”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya malam itu aku malas memenuhi ajakannya ke sebuah pub dalam sebuah hotel bintang lima di Surabaya. Suasana gaduhnya dan remang-remang, kadang kelap-kelip, kerap membuatku pusing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mahasiswa yang hidup dengan sangat mepet –bisa bayar uang SKS saja sudah alhamdulillah– datang ke tempat-tempat seperti itu tak pernah masuk dalam agendaku. Karena itu, aku kira wajar ketika itu aku sangat tak akrab dengan tempat-tempat begituan. Mungkin, karena tak terbiasa itulah aku selalu merasa tak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Mengingat sahabat itu terlalu sering membantuku secara finansial tiap aku terbentur krisis moneter (situasi yang sangat sering aku alami ketika itu), yah, aku pikir tak ada salahnya kuturuti ajakannya. Itung-itung sebagai bentuk terimakasih untuk bantuannya selama ini. Yang bisa aku lakukan hanyalah menemaninya untuk bersenang-senang.  Dan aku tahu, dia selalu merasa gembira setiapkali aku menerima ajakannya. Kurasa kami impas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdandan sepantasnya, sementara dia menunggu di mobil. Setelah itu aku menyusulnya ke mobil Honda Civic warna hitam, yang dipermak sangat sporty, hadiah orangtuanya. Aku dipersilahkan duduk di bangku depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sengaja aku tengok ke jok belakang. Ada seorang perempuan muda. Gelapnya ruangan dalam mobil itu tak bisa mengaburkan kecantikan perempuan ini. Kulitnya sawo matang. Mukanya tirus. Matanya lebar berbinar, tapi tajam. Hidungnya tak mancung, juga tidak pesek. Bibir atasnya tipis, sementara bagian bawah agak tebal, sungguh sebuah kemasan seksi yang simetris. Alisnya dicukur habis diganti tato. Rambutnya ikal sebahu, dijepit di bagian kanan dan kiri. Lesung pipit ketika dia tersenyum menambah sempurna komposisi wajahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku memperkenalkan kami. ”Yoen. Pakai “oe”, bukan “u”,” kata perempuan itu memperkenalkan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mantap kan, Bro,” Bram, sobatku itu, menyela. Aku langsung paham, karena aku mengenal Bram; Yoen adalah perempuan yang ”menemaninya” malam itu. Aku hanya melempar senyum, lengkap dengan anggukan tulus. Karena, bagiku, Yoen memang mantap. Selera Bram memang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mobil yang kami tumpangi menderu, melaju, membelah malam yang kebetulan itu ke sebuah pub di dalam sebuah hotel bintang lima di kawasan pusat kota Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tempat hiburan malam itu, tempat yang membuatku tak nyaman, Bram memulai ritual kegembiraan khas gaya hippies anak orang berduit; clubing plus dukungan beberapa gelas tequila. Dia langsung melantai bareng Yoen, sementara aku duduk di salah satu sofa di sudut ruangan, sebisa mungkin jauh dari speaker gede yang berdentum itu. Aku menenangkan diri ditemani segelas besar bir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seberapa lama, tiba-tiba Yoen datang menghampiri aku. Dia langsung duduk begitu saja, dan meletakkan sebuah tas wanita warna merah menyala di antara kami. ”Capek kalau nuruti maunya Bram,” dia membuka perbincangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Seperti tak pernah habis tenaganya. Apalagi kalau sudah kemasukan “I” (ineks), genjot sampai pagi,” katanya, lalu tertawa lepas. ”Nggak ikut turun?” tanya Yoen kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, aku tak begitu suka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terus, kenapa mau datang ke tempat ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cuma ingin menyenangkan dia saja. Sebenarnya aku tak begitu suka datang ke tempat-tempat seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh,” Yoen menjawab singkat. ”Menyenangkan orang, bagaimana pun caranya, pasti ada pahalanya kok,” sambungnya, lalu tersenyum, yang aku tak tahu apa arti senyumnya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mungkin,” aku menjawab sekenanya, lalu membalas senyumnya dengan kikuk. Memang cantik perempuan satu itu. Sebagai lelaki normal yang tidak goblok, sedikit tumbuh ketertarikan libidinal dalam otakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoen tampak asyik memandangi banyak orang berjingkrak-jingkrak dari kursi kami. Sesekali kepalanya ikut manggut-manggut mengikuti irama musik jedag-jedug itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rokok?” tanyanya kepadaku. Tanpa menunggu jawabku, dia buka resleting tasnya dan mengeluarkan sebungkus Sampoerna Mild mentol. Tanpa sengaja aku sedikit melihat ke dalam tasnya. Sebuah pemandangan yang tak lazim memaksa jidatku berkenyit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Yoen melihat perubahan mimikku. ”Belum pernah lihat mukena?” tanyanya langsung saja. Kontan aku seperti kena tohok. Belum sempat aku menjawab, dia melanjutkan, ”Memang aneh ya, perempuan ‘kotor’ seperti aku membawa barang suci seperti mukena”. Ada tekanan khusus ketika dia menyebut kata “kotor”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung gelagapan. Sebenarnya otakku menendang-nendang agar mencari tahu lebih jauh, kenapa sampai ada mukena di dalam tas Yoen, perempuan ”begituan” itu. Entah bisa membaca pikiran orang, atau juga karena orang yang baru melihat kebiasaannya itu selalu terheran-heran –seperti aku ketika itu– sehingga dia langsung hapal apa yang hendak mereka tanyakan, Yoen memilih menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Biar orang bilang aku ‘kotor’, aku tetap percaya Tuhan,” Yoen mengawali cerita. Rupanya Yoen adalah pribadi yang terbuka tentang dirinya, tapi tetap menyembunyikan beberapa babak untuk disimpannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoen adalah anak perempuan tunggal seorang duda penarik becak yang ditinggal mati istrinya. Bapaknya membesarkannya dalam sebuah lingkungan yang tak kenal norma di kawasan Surabaya Utara. Dia tak pernah merasakan kasih dan pendidikan seorang ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bocahnya keras dan miskin. Dia hanya bisa mengecap pendidikan sampai kelas II SMP. Di sekolah Yoen tak pandai. Tiga kali dia tinggal kelas. Lama-lama bapaknya, yang doyan judi itu, frustasi dengan kegoblokan anaknya dan menyuruh Yoen keluar saja dari sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Katanya menyekolahkan anak bodoh, seperti aku, buang-buang uang saja,” Yoen mengenang dengan nada pahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah keluar dari sekolah, bapak Yoen mati digebuki orang yang dia utangi. Yoen pun dituntut untuk menghidupi diri sendiri. Dia mengamen, mencucikan baju orang, atau menjual gorengan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, tanpa dia menjelaskan prosesnya, katanya mengalir saja, sampailah Yoen remaja pada kehidupan dunia malam, hidup yang dilakoninya sampai sekarang. ”Yang jelas, ada orang yang sadar kalau aku ini cantik dan punya modal untuk hidup di dunia malam. Dia mengajakku dan mengajariku. Tak perlu ijazah atau belajar IPA untuk bisa hidup senang di sini,” kata Yoen, lalu mengedip ke aku, yang lagi-lagi aku tak paham artinya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, akhirnya Yoen mendapat banyak kesenangan di dunianya itu; setiap hari hura-hura dan punya banyak uang –benda yang di masa kecil tak begitu dikenalnya. Dia habiskan tiap malam dengan clubing, mabuk, dan melayani “tamu” yang mem-booking-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoen termasuk wanita panggilan yang cukup selektif. Dia tak ngepos di wisma pelacuran. Dia hanya menerima panggilan melalui “si penemu bakat” yang “menyelamatkannya” dari kerasnya kehidupan jalanan. Tamunya bukan orang sembarangan. Sekali booking, “Yah, minimal sejuta lah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0JraNZ38yI/AAAAAAAAAVw/2DnAVhomNC4/s1600-h/near-death-experience-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0JraNZ38yI/AAAAAAAAAVw/2DnAVhomNC4/s320/near-death-experience-1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu titik di tahun 1999, tiba-tiba Yoen merasa jenuh. ”Lama-lama kayak ada yang aneh. Materi serba kecukupan, tapi aku masih merasa ada yang kurang. Lama-lama aku sadar, meski secara materi aku sudah cukup, tapi secara batin aku sama sekali tak tenang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Yoen, dengan uangnya yang banyak, mencoba mencari-cari apa sebenarnya yang kurang itu. Semasa kecilnya dia pernah belajar sekelumit tentang Islam. Dia ingin kembali ke agama itu. Tapi dia takut untuk datang ke ulama atau pondok pesantren. Dia takut ditolak. ”Karena kata orang-orang aku ‘kotor’,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bingung. Lalu, dia berinisiatif memanfaatkan uangnya yang banyak itu untuk mencari Tuhan. Dan yang jadi tujuannya adalah toko buku. Di situ dia memborong panduan salat lengkap dan doa-doanya dan beberapa buku tentang agama. Yoen yang tak naik kelas sampai tiga kali itu belajar agama secara autodidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tak ada yang membelajariku. Tapi, aku merasa bisa mempelajari semua itu. Seolah Tuhan sendiri yang mengajariku agar lebih dekat dengan-Nya. Lama-lama aku bisa salat dan, eh, kok seperti kecanduan. Kayak ngineks saja, hahaha,” Yoen tertawa lepas lagi. Setelah itu dia minum segelas minuman soda, lalu menghisap rokoknya dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia embuskan asap rokok dingin itu pelan-pelan. ”Sejak itu aku tak tak pernah lepas dari lima waktu. Seperti kecanduan. Kalau tidak salat, rasanya sakit semua, hehehe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sudah menemukan kenyamanan dalam Tuhan itulah Yoen seperti dibenturkan pada sebuah ambiguitas atas nama kepatutan. Dia ingin dekat dengan Tuhan dan menjauhi semua larangan-Nya. Tapi dia bingung. Karena, menurut kacamata subjektivitas masyarakat bernorma, hidup yang dilakoni Yoen sangat bertentangan dengan ajaran Tuhan. Kalau ingin dekat dengan Tuhan, dan kalau mengikuti ”aturan” orang banyak, Yoen harus keluar dari dunia malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi aku bingung, mau kerja apa? Aku butuh makan, butuh menghidupi diri. Sedangkan untuk pekerjaan lain aku tak bisa. Aku bodoh. Sampai tiga kali tidak naik kelas. Kalau aku mencari kerja, mau kerja apa? Siapa yang mau menerima lonte seperti aku,” Yoen seperti curhat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam menunggu kata-kata selanjutnya, sembari mengambil sebatang rokok milik Yoen, dan menyalakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kebingungannya, Yoen mengambil sebuah keputusan radikal; dia tetap jalani kehidupan malamnya demi kelanggengan hidupnya, tapi dia tak pernah lupa wajibnya pada Tuhan. Ya, dia ambil keputusan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia jalani lima waktu, dia sumbangkan sebagian penghasilannya untuk masjid atau panti asuhan. Dia menyumbang sebagai anonim. ”Biar masjid atau panti asuhan tidak merasa jijik karena menerima sumbangan dari lonte,” sinis tak bisa Yoen sembunyikan ketika mengucap kalimat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam dia tetap beraktivitas. Dia terima panggilan lelaki-lelaki pencari pemuas libido di luar rumah. Biasanya, dia dapat panggilan selepas Magrib dan baru pulang ketika Subuh. Tapi, di tengah aktivitasnya itu, dia tak ingin meninggalkan Isya. Maka itulah, setiap keluar dia selalu membawa-bawa mukena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setiap habis ”main” untuk sesi terakhir, sebelum Subuh datang, aku selalu mandi besar. Setelah itu aku salat Isya’. Aku punya kewajiban yang harus aku tuntaskan.” Sebuah pola hidup dan ritual yang aneh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tamunya sempat dibuat terheran-heran. ”Tapi, toh, akhirnya mereka tidak peduli. Karena yang mereka cari hanya tubuhku, bukan jiwaku.” Setelah itu, semua pelanggannya, mungkin termasuk Bram, menganggap apa yang dilakukan Yoen itu biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku memang telah berjanji, tak akan menyerahkan jiwaku pada orang lain. Tubuhku boleh untuk banyak orang, tapi jiwaku hanya untuk Tuhanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku juga tak pernah menyalahkan Tuhan karena tidak menciptakan aku sebagai orang pintar sampai aku harus menjalani hidup seperti ini. Aku tetap menghargai Tuhan dan berterimakasih kepada-Nya karena telah memberiku hidup dan rezeki melalui jalannya yang misterius. Aku tak tahu, apakah yang aku lakukan sekarang ini termaskuk dosa atau bukan. Yang pasti, aku percaya Tuhan punya cara sendiri ketika memutuskan apakah seseorang harus masuk surga atau neraka. Tuhan Maha Adil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat yang dalam. Yoen mengisap dalam-dalam rokoknya, lalu mengembuskannya kuat-kuat. Asap berbaur dengan aroma alkohol dan dentuman house musik yang tak ada matinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam melangkah. Malam hampir selesai. Bram sudah puas mereguk kesenangannya. Mukanya berkeringat dan pucat, tapi tenaganya masih menghentak. Dia empaskan diri di sofa, tepat di samping Yoen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sekarang?” tanya Yoen pada Bram, sembari mengelap keringat di wajah temanku itu dengan tissue basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senyum nakalnya, Bram mengangguk. ”Kita antar dulu dia pulang,” katanya sambil menunjuk aku. Yoen menatapku dengan sebuah pandangan yang, lagi-lagi, aku tak paham maknanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkemas. Aku diantar ke kost, sementara Bram dan Yoen melaju ke sebuah tempat yang aku tak tahu, untuk mencari kesenangan duniawi sesaat bersama Yoen. Kesenangan yang, bagi Yoen –mungkin– bukanlah sekadar kesenangan duniawi yang dangkal. Tapi lebih pada sebuah upaya menghargai Tuhan yang telah memberinya hidup, untuk terus bertahan hidup, dengan cara apapun. Sebuah upaya untuk membangun kemesraan privat dengan Tuhan, tanpa harus direcoki dogma-dogma yang kadang malah membuat umat berpikir terlalu dangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dini hari itu, tak pernah aku dengar lagi tentang Yoen. Bram pun tak tahu di mana dia tinggal. Mereka hanya berhubungan melalui telepon, dan membuat janji bertemu di suatu tempat. Bram tak pernah tahu di mana Yoen tinggal. Dan dalam pertemuan dengan Yoen selanjutnya, aku tak pernah lagi dilibatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tetap jadi misteri yang tak terpecahkan buatku, sampai sekarang. Ada beberapa logika yang tak bisa kupahami dari fakta pergulatan batin yang diceritakan Yoen dengan cara melompat-lompat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sudahlah. Berurusan dengan Tuhan tak akan pernah tuntas kalau seseorang tetap berkukuh pada logika. Yang jelas, di tengah hidupnya yang ‘kotor’ itu, Yoen telah menemukan Tuhan. Selamat Yoen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0JrcSfSxiI/AAAAAAAAAV4/0dIv5zNx6DM/s1600-h/Youth.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0JrcSfSxiI/AAAAAAAAAV4/0dIv5zNx6DM/s400/Youth.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-5628282959942342977?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/5628282959942342977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/01/mukena-yoen.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5628282959942342977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/5628282959942342977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/01/mukena-yoen.html' title='Mukena Yoen'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/S0JrU1T17EI/AAAAAAAAAVo/ugIVt2VZw-0/s72-c/World_Religion.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-6226119206156264739</id><published>2010-01-03T01:57:00.000+07:00</published><updated>2010-01-03T01:57:16.616+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Suddenly</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sz-VYdpDQLI/AAAAAAAAAVY/BjjrrSKClAk/s1600-h/adventure-travel-2.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sz-VYdpDQLI/AAAAAAAAAVY/BjjrrSKClAk/s200/adventure-travel-2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;BELUM&lt;/b&gt; lama ini aku sengaja cuti untuk mencuci isi kepala yang sudah kadung jenuh. Di kampung enak, nyantai banget, kumpul sama semua orangtua, kakak-kakak, keponakan-keponakan, momen yang sangat jarang sekali kami temui, di hari Lebaran sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cuap-cuap tanpa arah, guyonan lepas seolah memecah bisul yang sudah tahunan mengganjal, puaslah kami dalam reuni keluarga itu. Setelah itu semuanya jadi biasa, seperti sebuah keluarga normal, di mana masing-masing anggotanya punya kepentingan dan kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suasana keluarga sudah kembali jadi reguler, yang menjurus ke arah jenuh, aku merasa perlu mencari-cari sesuatu untuk bisa menghindari rasa memuakkan itu. Aku jelajahi tanah kelahiranku itu. Ah, ternyata setiap menit yang aku tinggalkan telah membawa perubahannya sendiri. Aku seperti dibawa dalam keterheranan ketika bersua dengan banyak hal baru yang sebelumnya tak pernah aku pikirkan. Tiba-tiba aku jadi ’nggumunan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Setelah aku rasa cukup karena keterbatasan waktu, aku biarkan roda depan motorku membawaku pulang. Tapi, masih ada rasa yang belum terpuaskan. Aku perlu suatu pengetahuan yang lebih. Dan, entah kenapa, begitu saja pikiranku tertuju pada dua kardus besar berisi buku-bukuku dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pikiran liar dan tangan yang tiba-tiba terasa sangat kekar, aku bongkar kardus. Dan, tah dah, begitu melihat tumpukan buku, seolah pikiranku langsung diempaskan pada birahi optimisme yang menggebu. Seolah aku menemukan setumpuk harta yang tak habis dimakan tujuh turunan sekalipun. Imajinasiku langsung ereksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kebetulan mungkin, di tumpukan paling atas nangkring buku berjudul ‘Dan Damai di Bumi’ besutan Karl May, si penulis Jerman itu. Aku langsung ambil buku itu, nyalakan musik di dalam headshet, lalu melahap lembar demi lembar naskah yang sebenarnya telah katam bertahun-tahun lalu itu. Tapi, tak ada rasa bosan ketika menikmatinya. Seolah tetap saja aku diajak menjelajahi hal baru yang sama sekali belum pernah aku kenal, kendati pun sebenarnya aku hapal betul isi buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang luar biasa si Karl. Ketika menyimak huruf demi huruf yang disajikan dalam kosa kata lezat itu, dia benar-benar meninabobokan aku dalam sebuah petualangan yang seolah tak pernah berakhir, dan menyeretku ke dalam dunianya. Dimulai dari Jerman, Inggris, Mesir, Srilanka, Aceh, China, balik ke Belanda dan pulang ke Jerman. Setidaknya itulah tempat-tempat yang dijabarkan Karl May dalam buku setebal 600 halaman itu. Sebuah petualangan, sekaligus sebuah kenikmatan tanpa akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di tengah menyimak deretan kalimat itu, lama-lama tumbuh juga iri pada si Karl. Enak betul itu orang, pekerjaannya hanya berkeliling dan mencatat semua pengalamannya untuk ditularkan pada orang-orang (termasuk aku salah satunya) yang secara harafiah tak pernah merasakan apa yang dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada yang menyebut sebenarnya Karl May tak pernah mengunjungi tempat-tempat itu. Dia hanya membiarkan imajinasinya jadi liar, setelah otaknya mencerap begitu banyak referensi tentang tempat-tempat yang diceritakannya itu. Tapi, ah, persetan, yang penting aku tetap saja merasakan kenikmatan sebuah perjalanan dalam imajinasiku yang dibimbing oleh buku itu. Jadi benar-benar hidup rasanya. Life is journey, meminjam istilah seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan, petualangan, atau kosa kata apalah yang sepadan dengannya, jelas menggambarkan suatu kondisi yang tak pernah stagnan. Dan dalam proses itulah manusia yang percaya Tuhan semakin bisa bersyukur akan keagungan alam, sebagai perwujudan ilahiah di dunia ini. Sekaligus mensyukuri nikmat Tuhan yang masih memberikan kenikmatan dalam otak dan hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualang-petualang itu –setidaknya dalam teks– memang keren. Di tengah hidupku yang nyaris tanpa petualangan ini (setidaknya 3 tahun terakhir), untungnya aku ditemani buku-buku yang sudi mengajak aku melanglang ke mana-mana, gratis lagi. Lumayanlah sebagai hiburan ketika raga selalu dikekang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Karl May, ada John Man yang merayuku agar ikut dalam petualangan geografis dan sejarahnya dalam buku ‘Jenghis Khan’, ada Orhan Pamuk yang mengajakku menjelajah sudut Kota Kars di Turki yang membeku dan sarat prasangka agama itu dalam ‘Snow’, Victor Hugo yang dalam ‘Les Miserables’-nya menggandengku bertamasya ke Paris di abad ke-17, ketika monarkhi ala Napoleon bentrok dalam pertempuran berdarah dengan para pengikut Robespiere yang republik itu. Ah, meriah sekali dunia di dalam teks itu. Dan beruntunglah mereka yang punya kesempatan untuk bergabung dalam petualangan dan merasakan warna dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua hari di rumah mengumbar imajinasi melanglang ke seantero jagat via jembatan naskah dalam kisah, sementara wujud wadagku mendekam dalam kamarku di antara dinginnya hujan di luar tembok rumah, akhirnya tibalah saat untuk merasakan petualangan secara harafiah dalam skala kecil. Dari kampung, naiklah aku kereta menuju Surabaya, kota yang membentuk mental dan pola pikirku. Kota yang memberiku banyak petualangan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di kota yang, entah kenapa, selalu membuatku bergairah itu, aku awali waktuku sama persis dengan ketika aku tiba di kampung; bereuni bareng sejawat. Setelah bertukar sedikit cerita dan pikiran, istirahat, tibalah waktunya untuk menjelajah kota yang 4 tahun sudah aku tinggalkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyatroni hampir semua sudut kota itu, seolah aku ini seperti bayi yang baru bisa berjalan. Istilah Jawanya ‘mbungahi’, entah apa padanan kata itu dalam Indonesia. Semua lokasi aku jujug. Banyak yang berubah ternyata. Terlampau banyak. Sama sekali berbeda dengan Surabaya yang aku tinggalkan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derapku selama ini ternyata hanya jalan di tempat, dan itu benar-benar membuatku jadi ndeso. Ketinggalan dalam banyak hal. Seperti Demolotion Man, karakter yang diperankan Sylvestre Stallone; terlalu lama disekap dalam kapsul waktu, dan begitu keluar jadi terkejut luar biasa, serba heran seperti rusa saba kota. Karena kenyataan yang terus menggelinding diseret masa bukanlah dongeng diceritakan dari balik meja yang kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah Karl May, John Man, Orhan Pamuk, atau Victor Hugo yang ikut ambil bagian langsung dalam sebuah cerita dan sejarah. Bukannya hanya bisa menikmati cerita dalam kenyataan sekunder yang dikemas dalam teks; satu-satunya hiburan orang terpasung, sekaligus cara untuk meyakinkan diri kalau otak ini masih nangkring di dalam tengkorak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sz-Vah4JKMI/AAAAAAAAAVg/2Hn9Dvb7PC0/s1600-h/Journey.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sz-Vah4JKMI/AAAAAAAAAVg/2Hn9Dvb7PC0/s320/Journey.jpg" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-6226119206156264739?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/6226119206156264739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/01/suddenly.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6226119206156264739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6226119206156264739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2010/01/suddenly.html' title='Suddenly'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sz-VYdpDQLI/AAAAAAAAAVY/BjjrrSKClAk/s72-c/adventure-travel-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-8309645763160291499</id><published>2009-12-29T02:26:00.006+07:00</published><updated>2009-12-29T02:49:10.543+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opiniku'/><title type='text'>Film Horor</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Szj_c5-5V0I/AAAAAAAAAVA/1pKdYJWbnI4/s1600-h/ghost+lucu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Szj_c5-5V0I/AAAAAAAAAVA/1pKdYJWbnI4/s200/ghost+lucu.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;BISA&lt;/b&gt; jadi ketak-ketik ini tak penting. Tapi –setidaknya menurut aku– sebenarnya ini penting. Ini terkait dengan kebiasaan memecahkan suatu masalah. Perbedaan antara negara Indonesia tercinta ini dengan negara-negara barat, yang konon lebih maju itu, dalam upaya memahami permasalahan dan mencari jalan keluarnya, sangatlah mencolok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ambil contoh saja cara kedua kebudayaan itu dalam mengemas film horor. Itu, film yang mengangkat tema bagaimana cara orang, dengan wujud wadagnya, menghadapi hantu, jin, roh, atau makhluk metafisik apalah yang tak tampak, sebagai suguhan yang mengajak bulu kuduk berdiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, andai saja mau jeli, kita pasti melihat perbedaan yang mencolok soal metodologi penyelesaian masalah menghadapi yang tak tampak (kadang tampak tapi sepintas) tapi mengerikan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dalam versi film Indonesia, apa yang dilakukan oleh seseorang ketika dicengkeram ketakutan saat berhadapan dengan hantu? Tepat, kalau tidak minta tolong pada dukun (atau istilah halusnya paranormal), paling mentok adalah sambatan ke pemuka agama, entah kiai, pendeta, atau rahib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, sembari memeluk ketakutannya, si tokoh film horor Indonesia selalu langsung minta tolong karena merasa benar-benar tak bisa lagi menyelesaikan permasalahan. Singkat kata, dia langsung menyerah tanpa mencoba mencari tahu dulu apa sebenarnya masalah yang dihadapinya, yang mungkin saja bisa diselesaikannya sendiri tanpa perlu merepotkan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kesimpulan yang tergesa-gesa, di mana si tokoh langsung merasa masalah yang dihadapinya pasti tak bisa mereka bereskan sendiri. Karena itu, mereka buru-buru minta tolong, tanpa mencoba berusaha sendiri dulu. Coba ingat-ingat saja film-film hantu ala Suzana atau film dedemit modern sekarang ini. Yang bisa mengalahkan roh-roh gentayangan itu pasti pemuka agama, setelah sebelumnya dukun tak bisa mengatasinya, bukan si tokoh yang dikejar-kejar hantu itu.Yang pasti, tak ada upaya untuk membereskan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau kita menonton film hantu versi barat, lain lagi metodologi yang dipakai si tokoh untuk mengahadapi makhluk halus. Biasanya, ketika mereka menghadapi hal yang belum bisa dijangkau nalar, mereka tak buru-buru langsung kabur, lalu minta tolong orang lain. Mereka bakal mencari tahu dulu, sebenarnya apa yang sedang dihadapinya itu, dan selalu mencoba memecahkannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja tonton film horor ala barat, seperti “Drag Me to Hell”, “The Messenger 1 dan 2”, atau film setan barat apalah. Ketika menghadapi makhluk imaterial, mereka tak langsung berkesimpulan kalau makhluk itu tak bisa diatasi sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tokoh dalam film horor Indonesia memilih lari ke dukun atau pak kiai, karakter film horor barat selalu lari ke perpustakaan, untuk mencari buku yang menjelaskan apa yang sebenarnya mereka hadapi (dan buku-buku itu --setidaknya dalam film-- selalu saja ada. Luar biasa lengkap perpustakaan wong bule itu). Atau minimal mereka lari ke orang yang lebih “ngerti” (atau bisa disebut ahli metafisika, orang yang memahami sesuatu yang tak tampak berbekal ilmu pengetahuan), tapi tak langsung memasang orang yang mereka jujug itu sebagai tameng untuk menghadapi si hantu. Intinya, mereka selalu berusaha mencari tahu, bukan menyerah begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Szj_exhkDOI/AAAAAAAAAVI/ZK0XN_BhJ24/s1600-h/ghost.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Szj_exhkDOI/AAAAAAAAAVI/ZK0XN_BhJ24/s200/ghost.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pasti ada upaya untuk mencari referensi, dalam bentuk apapun, tentang apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi. Karena mereka yakin segala masalah pasti ada jalan keluar, dan tiap-tiap orang dibekali keterampilan untuk menyelesaikannya (kalau mau menggunakannya). Setelah mendapat referensi tentang apa yang mereka hadapi itu, baik itu dari buku atau dari mulut orang yang lebih paham, mereka akan coba mengatasinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, mungkin kebetulan atau memang menjadi semacam kelaziman,  biasanya di film horor barat itu, yang “menyelesaikan” si hantu adalah orang yang dihantui sendiri, bukan orang lain. Mereka bisa mengatasi hantu itu, masalah yang menakutkan itu, setelah berhasil memahaminya. Dia jadi menguasai hantu itu karena mencoba untuk mengetahuinya. Yah, setidaknya rumus Michel Faucault tentang “mengetahui sama artinya dengan menguasai/menaklukkan” dibuktikan sahih di dalam film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, tiba-tiba saja pikiran nakalku kambuh lagi. Memang, itu hanya film. Tapi, bukankah film adalah cermin dari budaya negara pembuatnya? Karena itulah gaya film tiap-tiap kebudayaan berbeda. Dan bukankah karakter dalam film itu disadur dari cara hidup keseharian karakter orang-orang nyata yang sebenarnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau berangkat dari premis di atas, apakah memang ada perbedaan yang sangat mencolok antara ”orang sini” dan ”orang sana” dalam menyelesaikan sebuah permasalahannya, seperti mengatasi hantu misalnya? Apakah memang orang-orang kita itu, tiap menghadapi masalah, selalu mengajak orang lain untuk terlibat di dalamnya, bahkan memaksa orang lain untuk menyelesaikannya, tanpa berusaha dulu untuk memecahkannya sendiri?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apakah orang-orang barat itu selalu berusaha memecahkan masalahnya sendiri, dengan kekuatan akal dan pikirannya –kelebihan manusia dari binatang– sampai masalahnya benar-benar tuntas? Dan apakah dengan cara penyelesaian masalah itu, orang barat selalu mendapat pengetahuan baru setiap berhasil menjinakkan hantu berbekal referensi baru, dan itu artinya pengetahuan mereka bertambah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apakah orang sini selalu membiarkan masalah tetap menjadi masalah, yang tak menutup kemungkinan bakal makin berlarut-larut, karena tak pernah berusaha memecahkannya? Dan apakah karena pola pikir seperti itu, orang sini tampaknya tak pernah lepas dari masalah, karena memang tak pernah tahu bagaimana cara lepas darinya? Atau satu-satunya solusi untuk memecahkan masalah di sini adalah mengorbankan orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, entahlah. Yang jelas sekarang aku sendiri sedang menghadapi masalah yang tak kunjung terpecahkan; lagi-lagi insomnia sialan itu menyerangku dan aku tak tahu bagaimana caranya agar bisa terlelap. Makanya, siapa tahu dengan ngomong nggak penting tentang film horor aku bisa ngantuk (apa hubungannya??????).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Szj_it-CoyI/AAAAAAAAAVQ/JmU61kCXipQ/s1600-h/solution_source_questions.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Szj_it-CoyI/AAAAAAAAAVQ/JmU61kCXipQ/s320/solution_source_questions.jpg" width="309" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-8309645763160291499?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/8309645763160291499/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/film-horor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/8309645763160291499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/8309645763160291499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/film-horor.html' title='Film Horor'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Szj_c5-5V0I/AAAAAAAAAVA/1pKdYJWbnI4/s72-c/ghost+lucu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-1356031772790056234</id><published>2009-12-21T23:22:00.001+07:00</published><updated>2009-12-22T01:43:44.015+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memori'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Just 4 My Mom</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sy-gVbu9EzI/AAAAAAAAAUw/f7qSxvysucQ/s1600-h/mom-i-love-you-card-thumb2209640.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sy-gVbu9EzI/AAAAAAAAAUw/f7qSxvysucQ/s200/mom-i-love-you-card-thumb2209640.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;BERUNTUNGLAH &lt;/b&gt;aku dilahirkan sebagai anak paling bontot. Jelas, otomatis, sebagian besar porsi perhatian Ibu jadi hakku. Keistimewaan yang luar biasa. suatu kali sempat, mungkin saking irinya kakak-kakakku, mereka menyebutku lelaki banci, anak mami. Tapi, peduli setan, aku menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku, juga sebagian besar ibu waras di dunia ini, tentunya tak bakalan pernah menggunakan kalkulator untuk mengakumulasikan kasih yang tercurah pada anak-anaknya.  Total. Kalau kata lagu “Kasih Ibu”; “Hanya memberi tak harap kembai.” Pokoknya, top banget deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat memuja ibuku. Bukan hanya karena terikat kewajiban seorang anak untuk menyayangi Ibu. Tapi, setelah secara nyata Beliau sudah memberikan semuanya padaku, ada semacam dorongan, semacam common sense dalam naluriku yang mengatakan aku harus mencintai Beliau. Tak ada pilihan selain itu. Dan aku memilihnya dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sayang kepada Ibu semakin menguat, baik di hati maupun nalarku, ketika aku mendengar kisah kehadiranku di dunia ini, sekitar hampir tiga dasawarsa lalu. Cerita ini tak langsung keluar dari Ibu, mungkin karena Beliau sengaja tidak menceritakan kepadaku. Beliau tak ingin memberiku beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu pagi menjelang kelahiranku, Kota M dicurahi hujan yang seakan enggan berhenti. Di salah satu kamar kelas ekonomi rumah sakit daerah, ibuku dengan perut buncitnya tergeletak lemah. Muka Beliau pasi. Seperti menahankan sakit yang seharusnya tak bisa Beliau tanggung, tapi tetap ditanggung saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut analisa dokter, ada semacam penyakit di usus Beliau. Beberapa hari sebelum masuk rumah sakit, ada semacam virus –entah tepatnya namanya apa yang jelas berbahaya– dan itu berhubungan dengan rencana kelahiran bayi yang Beliau kandung, yang tak lain tak bukan adalah wujud jabang bayiku. Virus itu pula yang membuat Beliau harus ada di rumah sakit lebih cepat, jauh sebelum waktu kelahiranku tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut nasihat dokter pada Bapak, kalau ibuku memaksakan diri mengeluarkan jabang bayi dari dalam perut beliau, risikonya bakalan fatal. Ususnya bisa terganggu, dan itu sama artinya dengan mempersilahkan maut datang sekonyong-konyong. Peluang selamat memang ada, namun lebih tipis dari kulit ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingin selamat, ibu dan bapakku harus rela membiarkan aku berangkat ke akhirat cepat-cepat sebelum sempat mengintip dunia. Karena pergerakan bayi ketika lahir sangat berbahaya. Singkatnya, si bayi harus dibuat tak bergerak, alias dimatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah bapakku pada pilihan sulit. Sudah lama Bapak dan Ibu ingin anak lelaki. Dua kakak lelakiku tak berumur panjang dan itu cukup membuat Bapak dan Ibu menggendong duka selama bertahun-tahun. Kehadiran bayi lelaki adalah satu-satunya obat. Dan, menurut hasil USG, bayi yang dikandung Ibu itu sahih berpenis. Tentunya kelahiranku sangat ditunggu-tunggu. Tapi, di sisi lain, kehadiranku mengancam hidup Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berat, di tengah gerimis yang cukup kerasan mengguyur kota kecil itu, di antara kesadaran ibuku yang setengah-setengah, Bapak berbisik; ”Kalau aku lebih memilih kamu.” (Waduh, bapakku ternyata mengambil opsi untuk menggagalkan kedatanganku ke dunia!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan suara Bapak yang lamat-lamat, naluri Ibuku langsung bekerja otomatis. Dengan bibir pucatnya Beliau berujar; ”Kita sudah lama ingin anak lelaki. Siang malam kita berdoa untuk itu. Dan sekaranglah saatnya. Bayi ini amanat Yang Kuasa, aku hanya mendapat tugas untuk memberinya jalan merasakan kehidupan. Inilah harapan kita, anugerah Tuhan, dan aku tidak ingin menambah dosa karena menyia-nyiakan jawaban Tuhan untuk doa-doa kita. Kalau toh aku harus mati, masih ada sebagian diriku yang bisa menemanimu dalam bayi ini. Aku harus melahirkannya.” Bapakku menangis mendengar keputusan Ibu. (Bapakku yang sangar, hitam, besar dan berkumis itu ternyata cengeng juga!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapakku menghargai keputusan vital Ibu ketika itu, kendati berat. Sore hari, ketika volume hujan meninggi, Ibu merasakan kontraksi. Dokter yang menanganinya harus hati-hati. Setelah melalui proses terapi cukup lama, sampai hampir tengah malam, waktu hujan makin deras, dimulailah proses persalinan maut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapakku yang menunggu di luar ruang persalinan tak henti-hentinya komat-kamit dan tersedu. Tangannya tak berhenti meramas saku celana. Dua kakak perempuanku sengaja ditinggal di rumah ditemani nenek. Bapakku tidak ingin mereka tahu cepat-cepat, ketika kemungkinan terburuklah yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu sekitar satu jam, malam itu akhirnya Bapak mendengar tangisan orok yang cukup kencang. Suara hujan yang makin deras seakan lewat begitu saja ditembus tangis si bayi. Bapak menghambur. Seorang bayi laki-laki, berkulit putih bersih, tanpa sehelai pun rambut, berbobot 3,8 kilogram, telah hadir di dunia membawa harapannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Bapak mengengok ke Ibu, Beliau melihat kekasihnya itu terkulai lemas. Matanya terpejam. Muka Ibu sangat pasi. Bapak menghambur ke Beliau, setelah sebelumnya sempat menengokku sekejap. Ibu tak bernapas! Denyut beliau tak ada! Komat-kamit Bapak makin kencang. “Tolonglah, Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya medis turun tangan lekas-lekas. Ibuku langsung diboyong ke ruang ICU. Dan, selama seminggu penuh beliau ada di situ. ”Kita berdoa saja, Pak,” kata dokter itu, yang membuat bapakku tambah miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu lebih ibuku berdiam diri di ruang khusus itu. Selama kurun waktu itu juga Bapak tak bosannya memandangi aku. Seolah Beliau sedang melihat Ibu pada bayi lelaki itu. Bapak menatapku dengan perasaan gembira yang membeku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, untung, Tuhan Maha Adil. Setelah seminggu melewati masa kritis, Ibu mulai sadar. Bapakku mulai menjengyk. Masih dengan mulut yang teramat pucat, kepada Bapak beliau berucap; “Tuhan masih menginginkan kita bersama anak lelaki kita.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, tak cukup di situ ibu menggerojokkan cinta pada anak lelaki satu-satunya ini, yang Beliau lahirkan sembari menantang ajal. Ketika masih kecil, ketika tiba-tiba aku terserang tipus mendadak, sedangkan Bapak ada tugas ke luar kota, di malam yang juga hujan itu Beliau panggil becak dan larikan ke aku ke tempat praktik seorang dokter yang sudah tutup. Beliau gedor pintu dengan tangan kuyupnya selama hampir setengah jam. Sampai bengkak tangan itu. Akhirnya dokter membukakan pintu dan tertolonglah aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak remaja, ketika narkoba mencabik-cabik sebagian besar waktuku, dan Hepatitis C meng-KO-ku, ibu tak hentinya selalu ada di dekatku, memanjatkan doa Beliau yang paling tulus untuk kesembuhanku. Dan ketika murka Bapak tak terbendung, ketika menangkap basah aku yang sedang menyuntikkan heroin di lengan kiri, dan seolah siap menghancurkan aku di antara amuknya, Ibu menghelaku dalam peluknya. ”Aku lahirkan anak ini dengan mempertaruhkan nyawa! Aku tak akan pernah rela kalau kau menyakitinya!” hardik Ibu pada Bapak, yang seketika itu juga membekap amarahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu sudah memberiku semuanya. Aku yakin, waktu tak akan bisa memberiku porsi yang cukup untuk bisa membayarnya tuntas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sy-gWk6fGYI/AAAAAAAAAU4/A0WGEEUClkg/s1600-h/Mother+Day.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="284" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sy-gWk6fGYI/AAAAAAAAAU4/A0WGEEUClkg/s320/Mother+Day.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-1356031772790056234?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/1356031772790056234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/just-4-my-mom.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1356031772790056234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1356031772790056234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/just-4-my-mom.html' title='Just 4 My Mom'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sy-gVbu9EzI/AAAAAAAAAUw/f7qSxvysucQ/s72-c/mom-i-love-you-card-thumb2209640.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-4932305068151151856</id><published>2009-12-14T14:10:00.000+07:00</published><updated>2009-12-14T14:10:00.114+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>Tiga Cerita Sederhana tentang Indonesia</title><content type='html'>&lt;b&gt;I&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyXkT8BU2qI/AAAAAAAAAUY/xIoa5DrbMeQ/s1600-h/patungobamadalam.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyXkT8BU2qI/AAAAAAAAAUY/xIoa5DrbMeQ/s200/patungobamadalam.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;PATUNG&lt;/b&gt; perunggu Barrack Obama ketika masih bocah –atau ketika dia sekolah di SD Negeri Menteng I, Jakarta Pusat– tiba-tiba berdiri mentereng begitu saja di kawasan Taman Menteng. Orang-orang pada geleng-geleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah arti sebuah patung? Bukankah dia adalah monumen pematri ingatan bangsa, bahwa pernah ada yang berjasa –orang yang dipatungkan itu –yang layak dikenang sampai akhir zaman? Bukankah selama ini hukum tersebut yang berlaku bagi patriot-patriot lain, seperti yang terjadi pada patung Soekarno-Hatta di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, patung Sudirman di Jakarta Pusat, patung Diponegoro di Semarang, atau patung-patung Pahlawan Nasional lainnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kenapa harus Obama? Seberapa besar jasa presiden berkulit gelap pertama di Amerika itu untuk Indonesia, sehingga didirikanlah monumen untuk memperingatinya, di salah satu pusat Jakarta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hanya karena saat ini Obama sukses jadi Presiden di negeri paling digdaya se-Bumi, dan adalah suatu kebetulan dia pernah mengecap pendidikan dalam sekelumit waktunya di Indonesia, sehingga dia layak diperingati sebagai sosok besar yang pernah “berjasa” pada Indonesia? Sekali lagi, apa jasa Obama untuk Indonesia? Hanya karena pernah mampir, maka dia layak diingat seluruh bangsa Indonesia? Hanya mampir dia dipandang berjasa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Tan Malaka yang berjuang keras untuk membebaskan Indonesia dari cengkeraman kolonial, atau Sjahrir yang berdiplomasi untuk memerdekakan negeri, atau Pramoedya Ananata Toer yang menulis untuk mengharumkan sastra Indonesia di panggung jagat, atau sosok Benyamin S yang seniman super itu, atau Ali Sadikin yang jelas-jelas membangun Jakarta, tak dipatungkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa cerobohnya Negara ini dalam mengklasifikasikan jasa dan sesuatu yang patut dikenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;II&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyXkWgI4odI/AAAAAAAAAUg/BK6F5cY-CO4/s1600-h/azis_gagap_002.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="173" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyXkWgI4odI/AAAAAAAAAUg/BK6F5cY-CO4/s200/azis_gagap_002.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;”A… &lt;/b&gt;A… A… Azis,” begitulah tiap kali pelawak itu memperkenalkan diri. Karena “gaya” itu pula dia jadi terkenal sekarang. Dia pakai nama beken Azis Gagap. Dia bangga dengan nama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali tampil, di acara apa pun itu, dia tonjolkan kegagapannya –cacat yang dibuat-buat– sebagai hal yang harus ditertawakan. Karena, ya memang dia mendadak gagap karena ingin punya sesuatu yang “lucu” dan “menjual”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dia adalah pelawak yang tak begitu terkenal. Dia mulai mengintip panggung hiburan dengan malu-malu di komedi situasi Tawa Sutra edisi lawas. Di situ dia dapat tempat sebagai figuran dan sama sekali tak gagap. Dan, memang, dia tak sebegitu lucu. Setelah itu, dia sama sekali tak dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, tiba-tiba, dia muncul. Dan, tiba-tiba juga, dia jadi gagap. Beberapa televisi, utamanya Trans7 dengan Opera Van Java-nya paling rajin menongolkan sosok konyol itu. Dalam setiap lakon dia tergagap-gagap, dan karena itu dia ditertawakan. Acara itu jadi lucu, rating pun terdongkrak. Gagap? Lanjut….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang aneh. Televisi seolah menjual wacana miris pada publik; bahwa gagap, cacat itu, adalah hal yang layak ditertawakan. Hal yang, tentunya, bagi mereka-mereka yang kurang beruntung karena dilahirkan membawa gagap, bukan “gagap-gagapan” seperti Azis, berhak merasa terhina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa cerobohnya kita ketika mengartikan sarkastis sebagai sebuah komedi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;III&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyXkaK5ta8I/AAAAAAAAAUo/Ori1RowcHwE/s1600-h/Pidato_SBY.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyXkaK5ta8I/AAAAAAAAAUo/Ori1RowcHwE/s200/Pidato_SBY.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;ISENG-ISENG&lt;/b&gt;, setiap kali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato, soal apa pun itu, simaklah benar-benar. Lalu coba hitung, berapa kali dia mengucapkan kata “fitnah”, atau “dizalimi”, dan yang beberapa waktu terakhir sering juga dia sebut adalah “azab”? Hitunglah, dan Anda pasti menemukan banyak angka. Lalu, mungkin sebagian dari Anda malah akan menyimpulkan bahwa sang Presiden tak sedang berpidato, tapi sedang berceramah layaknya ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu memang. Ajang pidato kenegaraan lebih mirip mimpar agama, yang membahas soal dosa. Juga terlalu kerap jadi ajang curhat pribadi. Seorang Susilo Bambang Yudhoyono bicara di atas mimbar, masih membawa label Presiden, tapi berbicara demi pribadi, bukan demi negeri. ”Saya difitnah”, “Itu fitnah untuk keluarga saya”, “Saya dizalimi”, “Jangan main-main dengan fitnah, karena akan jatuh azab yang besar”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa esensi kata-kata itu untuk negeri? Apa kalau Presiden, secara pribadi, merasa difitnah, negara ini bakal runtuh? Apa dengan menjual sosok melas, selalu dizalimi, dia berharap bisa meraup simpati publik sebanyak-banyaknya? Apakah pantas seorang pemimpin mengetalasekan kelembekan? Apakah kemungkinan kemuakan publik karena bosan terlalu sering dicurhati tak masuk perhitungannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah sebuah negeri yang kaya, yang besar, seperti Indonesia ini, butuh pemimpin yang besar juga,yang kuat, tegas, berani mengambil risiko, kesampingkan keluhan pribadi demi negeri, dan berdiri paling depan memimpin pembangunan? Apakah orang yang selalu mengumbar curahan hati karena merasa terdesak bisa dikatakan sebagai pemimpin yang tangguh? Apakah pantas hasil operasi intelijen dibeber ke publik hanya untuk menguatkan kesan melas si Presiden?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dia paling gemar menggunakan kata ”saya”? Apakah dia sedang membangun jarak dengan audiens yang tersebar di seantero Tanah Air. Apakah memang ada disparitas yang tajam? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa cerobohnya seorang pemimpin yang tak bisa membawa diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yah, terimalah. (Sementara ini) Itulah Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-4932305068151151856?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/4932305068151151856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/tiga-cerita-sederhana-tentang-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/4932305068151151856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/4932305068151151856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/tiga-cerita-sederhana-tentang-indonesia.html' title='Tiga Cerita Sederhana tentang Indonesia'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyXkT8BU2qI/AAAAAAAAAUY/xIoa5DrbMeQ/s72-c/patungobamadalam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-4351755350394657696</id><published>2009-12-13T21:11:00.001+07:00</published><updated>2009-12-13T21:12:31.339+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='History'/><title type='text'>Mendengar Ceramah Kong Hu Cu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyT1e72_eTI/AAAAAAAAAUI/ODJXnp6fMsg/s1600-h/confucius_5.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyT1e72_eTI/AAAAAAAAAUI/ODJXnp6fMsg/s200/confucius_5.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;SUATU &lt;/b&gt;siang saya sedang jalan-jalan di Jalan Kapasan. Di antara deretan toko, saya melihat ada segerombolan orang sedang duduk melingkari seorang pria Tionghoa. Tubuhnya agak tambun, kumis dan jenggotnya panjang. Yang paling mencolok itu baju yang dikenakannya; persis baju petinggi kerajaan di China daratan di abad sebelum Masehi, lengkap dengan topi panjangnya. Saya jadi ingat Hakim Bao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik juga dan memutuskan nimbrung. Di sekitar saya, orang-orang tampak terpesona dengan ceramah si Engkong. Bahkan ada yang ternganga, seolah baru saja mendengar hal yang sama sekali baru dan luar biasa buat mereka. Logat Mandarin si Engkong tetap kental ketika dia berbicara dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;”Adanya negara itu tak lain untuk melayani kepentingan rakyat,” adalah kalimat pertama yang aku dengar. “Untuk mewujudkan semua itu, harus berpegangan pada ukuran moral yang nggenah, tidak ngelantur,” si Engkong melanjutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Contohnya, Kong?” spontan aku lontarkan saja pertanyaan itu, karena aku merasa pemaparannya terlalu luas, kurang spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Engkong tampak agak terkejut, ada orang baru nongkrong di kerumunan tiba-tiba nyerocos. Tapi terkejutnya cuma sebentar. Setelah itu, ada sedikit senyum di balik kumisnya, bonus pembuka sebelum dia menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita tarik ke wilayah yang lebih sempit saja. Kita pandang Surabaya ini sebagai wilayah administratif, bagian dari negara. Jadi, pemerintah Surabaya juga kudu melayani rakyat dengan moral yang terpuji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya contohkan bentuk pelayanan pemerintah pada masyarakat. Misalnya mengelola TPA Benowo. Kenapa tempat sampah itu perlu diolah? Ya karena, kalau tidak segera ditangani, masyarakat yang bakal rugi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Coba, kalau sampah di Benowo tidak segera diberesi, sedangkan daya tampungnya makin parah. Saat ini daya tampungnya tinggal 1.500 ton, sedangkan luasnya cuma 33,3 hektare. Menurut prediksi banyak ahli, seperti yang saya baca di koran atau portal berita, daya tampung itu maksimal tinggal 4 tahun lagi. Setelah itu, bum! Sampah tak akan tertampung dan akan menyebar ke seantero Surabaya. Yang paling sengsara, ya warga yang tinggal di sekitar TPA.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oalah, Engkong ini ternyata ngikutin juga berita itu. Sampai paham betul. Siapa sih Beliau ini? Mau tanya sungkan juga saya. Dan, sambil mengelus-elus jenggot panjangnya, si Engkong melanjutkan paparan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berbagai upaya mulai dikerahkan. Ada beberapa pilihan, mulai luasannya ditambah 15-17 hektare dan itu butuh ongkos sekitar 1,9 miliar yang diajukan dalam dua termin. Dengan cara ini, teknik pengolahan sampah masih dengan cara lawas, yaitu teknik dumping. Sampah diuruk dengan tanah dan dibiarkan menjadi kompos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kalau menggunakan cara itu, nanti-nanti ke depannya perlu diperluas terus, karena lama-lama tambahan lahan itu akan habis juga. Karena saat ini 14% sampah di Benowo itu plastik, yang nggak bisa jadi kompos. Jumlah itu akan meningkat dari tahun ke tahun. Dan itu akan membuat penampungan penuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau keputusan ini yang diambil, akan muncul masalah baru. Untuk memperluas lahan butuh pembebasan dan itu bukan perkara mudah. Sementara ongkos yang dikeluarkan pemerintah semakin tinggi, karena dari tahun ke tahun nilai jual objek pajak tanah itu selalu meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau terus diperluas, bisa-bisa nanti wilayah Surabaya barat, yang akan dikembangkan jadi kota baru itu, malah akan jadi kota sampah. Bayangkan saja, nggak lucu kan kalau SSC tempatnya orang-orang sehat, atau RS Surabaya Barat tempatnya orang berobat, berdampingan dengan samudera sampah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yang menyimak ceramah itu mengangguk-angguk. Benar juga kata si Engkong. ”Lalu harus bagaimana, Kong?” ada salah satu audiens yang nyeletuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keputusan Pemkot Surabaya sekarang sebenarnya tepat. Sampah itu harus diolah dengan benar, dan mendatangkan manfaat bagi warga se-Surabaya. Tak perlu memikirkan perluasan lahan terus menerus. Pemkot akan menggandeng swasta, yang diharapkan bisa menyediakan teknologi yang lebih modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau nggak salah, rencananya, gas sampah akan dipakai untuk pembangkit listrik. Itu bagus. Berarti, kebutuhan listrik yang cingkrang ini, yang sering padam, yang membuat kita nggerundel, mungkin ada solusinya. Mengolah sampah menjadi listrik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audiens spontan bareng-bareng tepuk tangan! Seolah mereka melihat harapan pada metode itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi…” si Engkong menyela. Tepukan tangan berhenti, audiens menunggu kelanjutannya yang mungkin mengecewakan. ”Ya itu tadi, untuk merangkul investor pengelola sampah, harus benar-benar hati-hati. Intinya jangan sampai merugikan rakyat. Karena, seperti petuah saya tadi, pemerintah harus melayani masyarakat, bukan merugikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan investasi Rp700 miliar, duit yang gede jumlahnya, Pemkot kudu hati-hati. Jangan ceroboh. Apa lagi ada kabar tipping fee untuk rekanan akan dinaikkan 30% selama 20 tahun kerja sama. Kalau ini diberlakukan, maka selama 20 tahun pemkot akan membayar tipping fee sekitar Rp1 triliun, dengan perhitungan Rp102.000 hingga Rp130.000 per ton sampah. Lha kalau itu terjadi, Pemkot malah tekor. Lha wong modalnya cuma Rp700 miliar. Uang APBD diambil lagi, proyek lain yang langsung bersentuhan dengan masyarakat tidak tergarap karena ulah investor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yaaahhh…” audiens serempak mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apalagi ada kabar, itung-itungan itu muncul setelah ada makelar yang bermain di gedung Dewan. Ada dugaan suap. Itu tidak boleh terjadi. Makelar investasi, atau kalian menyebutnya markis, itu harus pergi. Bukankah segala macam makelar yang sering disingkat dengan mar, seperti markus lah, markis lah, marto lah, markaban lah, markeso lah, atau mar lain kan dilarang sama Bapak Presiden.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Enaknya gimana, Kong?” aku tergelitik untuk bertanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kuncinya cuma satu; pemerintah harus berpegang pada aturan moral yang nggenah. Kedepankan kewajiban, jangan kesusu nuntut hak. Jangan sampai melenceng dari kewajiban mereka. Tugas mereka membahagiakan rakyat, bukan menyengsarakan mereka!” kata si Engkong tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, kita harus kawal pembangunan itu! Jangan sampai kita dirugikan,” audiens tampak menggelora disengat kata-kata penuh semangat ala si Engkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah, kalau begitu. Saya pamit dulu, ada yang harus saya kerjakan. Penting,” si Engkong pamit pada audiens, yang dengan kesadaran mereka sendiri membubarkan diri dan kembali beraktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, yang masih penasaran ingin tahu siapa si Engkong, berusaha mengejar. ”Maaf, Kong, sebenarnya Engkong ini siapa? Dan untuk apa datang ke Surabaya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan senyum yang membuat matanya makin sipit, si Engkong menjawab; ”Saya bela-belain bangkit dari kubur setelah mati berabad-abad datang khusus ke Surabaya untuk mem-briefing Pemkot dan Dewan biar  nggak keblinger. Mengingatkan mereka agar mengambil kebijakan yang jangan merugikan rakyat. Biar proyek investasi ini berjalan dengan benar, rakyat senang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Engkong ini siapa sih?” aku lontarkan lagi pertanyaan serupa, karena memang aku belum mendapat jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kong Hu Cu. Pencetus ajaran Konfusius, yang oleh banyak orang sering diartikan sebagai agama. Dicatat ya, Dik, Konfusius itu bukan agama, tapi sebuah mazhab cara pandang politik yang bermoral dan beretika. Acuan agar pemerintah bisa mengambil kebijakan yang bijak. Pemkot Surabaya sangat perlu masukan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;TIT, tit. Saya tersentak. Ponsel saya berbunyi. Saya buka mata. Ada pesan. Saya baca, ternyata seorang rekan mengabarkan dapat temuan baru soal dugaan gratifikasi proyek TPA Benowo. Polemik itu masih saja berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ah, sayang, Kong Hu Cu hidup di masa yang telah lewat dan dia tidak hidup di Indonesia. Sayang lagi, dia hanya mampir di mimpi saya. Coba dia jenguk juga mimpi pejabat Pemkot dan legislator yang bermarkas di Yos Sudarso.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyT2CfodYZI/AAAAAAAAAUQ/qQpNVPJCSRU/s1600-h/lapsus+benowo-by+tarmuji.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyT2CfodYZI/AAAAAAAAAUQ/qQpNVPJCSRU/s400/lapsus+benowo-by+tarmuji.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-4351755350394657696?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/4351755350394657696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/mendengar-ceramah-kong-hu-cu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/4351755350394657696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/4351755350394657696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/mendengar-ceramah-kong-hu-cu.html' title='Mendengar Ceramah Kong Hu Cu'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyT1e72_eTI/AAAAAAAAAUI/ODJXnp6fMsg/s72-c/confucius_5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-617468764142058304</id><published>2009-12-13T21:05:00.001+07:00</published><updated>2009-12-13T21:05:44.223+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Pelabuhan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyT0Wacf9kI/AAAAAAAAAT4/lEoTTP7riiE/s1600-h/Pelabuhan1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyT0Wacf9kI/AAAAAAAAAT4/lEoTTP7riiE/s200/Pelabuhan1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;CERITA &lt;/b&gt;tentang pelabuhan itu seperti rujak. Ada banyak rasa, tapi bermuara pada sedap. Entah kenapa, aku yang tak piawai berenang ini serasa “jatuh cinta” pada aroma laut, pada sebuah persinggahan yang –kata banyak orang– tempat berkumpulnya segala macam problematika itu. Tempat di mana berjibaku dan mengenal banyak manusia, empat tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat para penyelundup, preman, calo, oknum petugas kesyahbandaran dan cukai yang bekerja sama untuk tujuan ekonomis yang logis kukira. Tempat orang membungkam atau dibungkam. Tempat orang kecopetan, dipalak, berdesak-desakan, korban calo, tempat orang dibunuh lalu dibuang ke laut karena selisih paham yang tak juga bertemu konklusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat orang dari seantero nusantara saling mengenal, tempat para portir menjual keringat, tempat para asongan membungkus harapannya. Sangat manusiawi dan berwarna. Tempat yang membukakan mata kita, betapa anekanya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kendati pun aku pernah jadi korban palak, adu domba, bahkan sikut-sikutan antarsejawat, tetap saja saja pelabuhan adalah tempat yang indah. Pelabuhan adalah tempat yang jujur, tempat di mana yang mau curang berbuat curang dengan telanjang. Tak ada yang sok jujur, sok bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang benar-benar bersih juga tak pernah tersisih. Malah lebih jujur daripada mereka-mereka yang hidup di “daratan”. Tempat manusia berperilaku apa adanya. Tempat yang bisa mendidik manusia untuk melihat segala sesuatu apa adanya. Tempat di mana kemunafikan larut bersama ombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelabuhan bukanlah tempat yang hanya menyajikan satu pilihan. Banyak rasa, banyak warna. Setelah jenuh dengan aktivitas manusiawi, setiap jatah matahari mulai berangkat tidur, mulai pukul 4 sore, pelabuhan adalah tempat yang sangat bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduklah di tepi dermaga, biarkanlah angin laut membelai kepala yang panas, dan kita bakal paham bahwa tempat ini sebenarnya indah. Pelabuhan, yang kata banyak orang kejam, itu juga memberikan kita waktu untuk bersenggama dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelabuhan mengemas banyak cerita tentang bagaimana sebuah peradaban lahir. Tempat manusia, yang awalnya terserak di seantero bumi berinteraksi, membangun kesepatakan –entah itu ekonomi, politik, atau cukup berhenti pada kata sosial atau empati– dan akhirnya mewujudkan sebuah komunitas, mulai dari beberapa gelintir orang, beranak pinak, turun temurun, menyebar, membesar, membentuk diaspora, dan akhirnya lahirlah sekelompok besar manusia yang membawa bentuk baku kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Hujunggaluh yang jadi embrio Surabaya, Sunda Kelapa yang membidani Jakarta, ada Bandar Sam Poo Toa Lang yang kini akrab disebut Semarang, Belawan yang akhirnya membentuk Medan. Singapura yang begitu digdaya itu pun dulu hanyalah bandar kecil tempat singgah pedagang-pedagang seantero dunia yang menyusuri Malaka. Kedigdayaan lahir dari sebuah bandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelabuhan adalah tempat di mana manusia melihat harapan, setelah berkelana buana membelah lautan, yang seolah tanpa batas, yang seolah begitu melelahkan. Pelabuhan adalah tempat manusia membuang lelah, buang duit, bahkan buang malu. Pelabuhan selalu memproduksi cerita yang tak akan pernah habis. Dan semua orang mencarinya, karena manusia selalu butuh tempat berlabuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cerita yang empat tahun sudah aku tinggalkan; tentang manusia, tentang warna, tentang upaya, tentang harapan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyT0Xp95toI/AAAAAAAAAUA/m5XxF_HqeBU/s1600-h/pelabuhan2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyT0Xp95toI/AAAAAAAAAUA/m5XxF_HqeBU/s400/pelabuhan2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-617468764142058304?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/617468764142058304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/pelabuhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/617468764142058304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/617468764142058304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/pelabuhan.html' title='Pelabuhan'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SyT0Wacf9kI/AAAAAAAAAT4/lEoTTP7riiE/s72-c/Pelabuhan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-1288683784137241579</id><published>2009-12-01T03:15:00.003+07:00</published><updated>2009-12-01T11:13:19.654+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memori'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>Pecel</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SxQnmUZPAqI/AAAAAAAAATs/VRhuLCC2xU8/s1600/pecel.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SxQnmUZPAqI/AAAAAAAAATs/VRhuLCC2xU8/s200/pecel.jpg" width="182" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;SEJAK &lt;/b&gt;masih sekolah, sampai setelah kerja tapi masih kumpul keluarga, ada satu falsafah cara makan ala Ibu yang wajib aku terapkan; ”biarlah lidahmu merasakan makanan dengan jujur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan sudah jadi kebiasaanku –di mana ibuku punya andil juga membangun kebiasaan itu– setiap bangun tidur selalu tersuguh nasi pecel yang bungkusnya segede peluru meriam, telor ceplok sempurna, tempe goreng yang kekar dan rempeyek selebar tikar, di meja makan. ”Sarapan dulu,” adalah kalimat pertama yang selalu aku dengar setiap bangun tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi jangan lupa berkumur dulu. Biar gidalmu ndak ikut ketelan”. Aku manut. Dan betapa nikmatnya aku menyantap hidangan sederhana, yang ketika aku sekolah dulu hanya dibanderol 300 rupiah per porsi, dan setelah aku bekerja naik jadi 1.500 (masih harga yang wajar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa sedap menu sederhana itu. Udara pagi di kampung, yang selalu sejuk, punya andil mendorong selera agar kian lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;”Kalau makan jangan sambil mikir. Ndak perlu mikir pekerjaan dulu. Biar lidahmu bisa bekerja dengan jujur, ndak diperintah sama otakmu. Kalau lidah mengecap ndak diriwuki (diganggu) sama pikiran, makan pasti lebih enak, ” begitulah tiap-tiap Ibu melihat aku tiba-tiba galau dalam makanku, karena terlalu memikirkan ujian atau tugas yang belum sempat rampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi benar apa yang dikatakan Ibu. Ketika lidah kita bekerja natural waktu mengecap makanan, tanpa terbebani pikiran apapun, sari rasa akan mampir sempurna ke indera kita. Cita rasa mengelus otak dengan kenikmatannya. Dalam situasi itu, lidahlah yang mengendalikan otak, bukan sebaliknya. Karena itu, kata Ibu, makan jadi enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setelah kenyang, baru kamu berpikir.” Itu artinya, Ibu mengingatkan kalau aku sudah merasakan kenikmatan makan, dan dari kegiatan itu energiku terkumpul, sudah sewajarnya berpikir dan berkegiatan layaknya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tiap kali sarapan ketika itu, dan merasakan kenikmatannya dengan tulus, setelahnya tenaga selalu terkumpul sempurna. Pecel 300 perak (sekarang 1.500) terkecap sempurna, nikmat, dan dari tenaga sokongannya aku berkegiatan, mendulang banyak prestasi dari bangku sekolah atau lancar bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hidup belum terlalu letih ditimpa terlalu banyak beban dan tanggung jawab sekarang. Ketika itu aku hidup di tengah lingkungan yang sangat bersahabat. Di mana harga bukanlah raja, tapi hanya pelayan kehidupan manusia. Di mana kumpul keluarga adalah lebih dari segalanya. Dan di mana nasi pecel sangat murah pun bisa dikecap dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana ketika itu Ibu selalu mengingatkanku kalau, ”Makanan itu rezeki, makanya harus dinikmati. Rezeki sudah ada yang ngatur. Hidup jangan ngonjo-ngonjo (serakah). Kalau hidup sederhana, makan jadi enak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Ibu. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Sekarang situasinya benar-benar berbeda. Nasi pecel tak lagi seenak dulu, tak seperti yang kau sediakan tiap kali aku bangun tidur. Aku terpaksa harus murtad dari falsafahmu. Sebelum makan saja, atau bahkan sebelum makanan terhidang, pikiran sudah mencuri start. Aku sudah memikirkan harganya dulu. Situasi ini memaksa lidahku untuk selalu bohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak lagi bisa membiarkan lidahku mengecap dengan jujur, karena di tengah makanku terlalu banyak pikiran berkecamuk. Sekarang ini, Ibu, bukan lidah yang memanjakan otak, tapi otak selalu memerintah lidah agar cepat-cepat menyelesaikan bersantap. Waktu adalah uang. Apa itu yang namanya rasa, bahkan aku sudah lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sekarang ini, di tempatku hidup ini, kapital adalah raja. Untuk mendapatkan itu, otak tak boleh berhenti bekerja. Jangan buang-buang waktu. Jangankan menyediakan jeda untuk makan, waktu tidur pun benak tak boleh rehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat tidur selalu refleks terpikir, “Besok harus bagaimana ya?” Bahkan pertanyaan itu tak jarang jadi menu utama mimpiku. Setelah bangun, hal pertama yang dilakukan bukan makan. Tapi mengingat-ingat proyeksi yang sempat dirancang sebelum tidur, untuk kemudian direvisi untuk menjadi sebuah rencana yang matang. Dan rencana itu harus diingat-ingat terus, lengket di pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah, Ibu, aku kena kutuk Herbert Marcuse seperti yang dikhotkbahkannya dalam ”Manusia Satu Dimensi”; “Setelah ini apa? Lalu selanjutnya, apalagi?” dan seterusnya dan seterusnya. Otak tak boleh lagi lelah, kalau aku masih perlu makan. Untuk makan perlu duit, dan cari duit itu tak gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ketika dihadapkan pada kenyataan menggilanya harga nasi pecel. Dari yang dulu hanya 300 perak, sekarang bahkan sudah mencapai 17.500 per porsi! Itu pun hanya berupa nasi sekepal, sedikit sayuran, bumbu yang terlalu encer, tempe setipis ari, empal secubit dan rempeyek yang dibuat setengah hati. Edan! Harga umbar-umbaran itu harus aku bayar dengan dongkol setelah aku makan “Nasi Pecel Madiun” di daerah Cikini, Jakarta Pusat. Asu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan tentang makanan dan harga yang menyertainya, seolah ada logika yang berbalik arah. Kalau dulu aku makan untuk bekerja, sekarang ini lebih pas kalau harus kerja dulu agar bisa makan. Di waktu lampau makan dulu, nikmati rasanya dengan lidah yang jujur, kumpulkan tenaga, setelah itu baru bekerja. Sekarang ini sebelum makan aku harus mikir dulu; bagaimana caranya agar upaya mencukupi kebutuhan pokok satu itu tak putus, di tengah inflasi yang rutin merangkak naik dan suku bunga yang belum menentu? Caranya cuma satu; harus dapat duit. Bagaimana caranya dapat duit? Ya mikir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, terus terang, Ibu, kenyataan adanya nasi pecel dibanderol 17.500 sepincuk itu membuatku syok, sekaligus membuat lidahku mati rasa. Tak bisa lagi mencari di mana enaknya. Lidahku tak lagi bisa setulus dulu, ketika menikmati menu yang sama hanya dengan 300 atau 1.500 perak yang rutin engkau hidangkan itu. Setelah makan sekarang bukan tenaga yang terkumpul, tapi pikiran malah numpuk sambil mengutuk; edan yang jual nasi pecel itu. Jadinya malah lemes, bukan giat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus aku juga sadar, kabar yang menyebut semakin mahal makanan, maka semakin enak rasanya, itu bohong besar! Resepnya bukan pada harga, tapi suasana. Rasanya jadi ingin pulang, sarapan dengan Ibu –kendati Beliau tak lagi sesehat dulu. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-1288683784137241579?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/1288683784137241579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/pecel.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1288683784137241579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1288683784137241579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/12/pecel.html' title='Pecel'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SxQnmUZPAqI/AAAAAAAAATs/VRhuLCC2xU8/s72-c/pecel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-3227121428463027766</id><published>2009-11-23T01:56:00.000+07:00</published><updated>2009-11-23T01:56:55.463+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='History'/><title type='text'>Eliot Ness</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIE0CEgUI/AAAAAAAAATE/eJ9yTRKMZ1w/s1600/eliot-ness.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIE0CEgUI/AAAAAAAAATE/eJ9yTRKMZ1w/s200/eliot-ness.jpg" width="162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;MUNGKIN, &lt;/b&gt;kalau di Indonesia sekarang ini ada orang seperti Eliot Ness, perkara Anggodo tak akan berlarut-larut dan menggelinding liar makin panas. Pria itu adalah penegak hukum jempolan, yang tak pernah tersentuh uang haram. Dan dia tahu bagaimana menggebuk mafia dengan cara yang seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ness adalah pemimpin Tim Antikorupsi (satuan khusus pemberantas korupsi, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi di Indonesia) yang punya tugas utama mengobrak-abrik pengemplang pajak di Chicago, Amerika Serikat, tahun 1920-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil tangkapannya yang paling fenomenal adalah mafioso kelas kakap bernama Alphonse Gabriel “Al” Capone –biang borok penggelapan pajak yang juragan pabrik minuman keras sekaligus dedengkot perdagangan gelap. Dengan duitnya yang seolah tak pernah habis, Capone membeli perlindungan politik dan hukum dari polisi-politisi dan pejabat korup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Masih satu rangkaian bersama Capone, Ness juga berhasil menyeret 200 polisi korup –15 di antaranya perwira tinggi– sebagai pesakitan dan menambah “koleksi” penjara setempat. Aktivitasnya memberangus Capone –yang paling gemar merekayasa sebuah perkara dan membuat polisi, jaksa dan pengadilan jadi badut-badut penurut itu (mirip Anggodo saja)– menyematkan predikat “untouchable” padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Si Lurus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eliot Ness lahir 19 April 1903 di Chicago, Illionis. Dia anak yang cerdas. Umur 18 tahun dia masuk Universitas Chicago, belajar ilmu politik dan hukum. Tahun 1925 dia lulus sebagai tiga besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1927 dia menjadi petugas Departemen Keuangan AS cabang Chicago. Setahun berikutnya dia pindah ke Biro Larangan Departemen Hukum AS dan bertugas membasmi praktik penggelapan pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1920-an, praktik penggelepan pajak di Chicago akibat ulah gangster sangat mengerikan. Uang puluhan juta dolar AS, yang seharusnya masuk ke kas negara, belok ke kantong oknum. Selama bertugas di sinilah kentara sekali kalau Ness ini antisuap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Departemen Hukum ini juga Ness mendapat tugas khusus memberangus Al Capone, orang yang mengemplang pajak sampai USD 75 juta. Pengaruh mafia satu itu memang luar biasa kuat. Jangkauannya sampai ke Washington. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden AS ketika itu, Herbert Hoover, sangat murka dengan tingkah polah Capone. Apalagi setelah mendengar kabar banyak aparat penegak hukum dan aparat pemerintahan telah dibeli dengan uang haram Capone. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoover pun memerintahkan Jaksa Agung George Emmerson Q Johnson agar membentuk tim untuk membereskan perkara ini. Johnson membentuk tim, tapi dia bingung siapa yang bisa ditunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di tengah usaha seleksi nama itulah dia mendengar reputasi Ness yang cemerlang. Ness pun dipanggil. Setelah melalui interview singkat, Johnson langsung percaya dan menugaskannya membentuk tim untuk menjalankan operasi pembasmian mafia. Lalu lahirlah Tim Antikorupsi di bawah pimpinan Ness, 29 Oktober 1929, beranggota sembilan orang pilihan Ness sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ganyang Mafia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIZOh9PoI/AAAAAAAAATM/z3uS9-MxjUs/s1600/al_capone.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIZOh9PoI/AAAAAAAAATM/z3uS9-MxjUs/s200/al_capone.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Setelah melakukan penyelidikan dan cukup bukti, memang indikasi Capone lah biang macetnya aliran duit untuk negara kian kuat. Lalu disusunlah strategi untuk menghentikan laju orang Italia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran pertama tim Ness adalah sumber-sumber pemasukan Capone. Menurut perhitungannya, ketika sumber-sumber dananya dibuntu, Capone tak akan bisa berlagak. Karena dia bakal kekurangan dana untuk membeli perlindungan hukum dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dicarilah pabrik-pabrik minuman keras yang berhubungan dengan Capone, yang disinyalir semuanya ilegal. Satu per satu pabrik pun ditemukan. Ness dan timnya memeriksa satu persatu tagihan pajak dan bukti pembayaran pabrik-pabrik itu. Ternyata, benar saja, tak ada pajak yang sampai pada negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pabrik disegel karena jelas-jelas bermasalah. Di masa enam bulan pertama bekerja, tim antikorupsi Ness berhasil memberangus 25 pabrik miras pengemplang pajak –yang 19 pabrik kecil dan enam pabrik besar. Dari upaya itu, uang USD 1 juta dolar milik negara berhasil diselamatkan tim Ness. Dan USD 1 juta dolar batal masuk ke kantong Capone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati aliran ke kantongnya menyusut, Capone pun bingung dan berang. Dicarilah sumber penghambat itu dan didapatilah nama Eliot Ness. Merasa pemasukannya terancam, Capone pun berusaha menggunakan jurus lama; dia tawarkan sejumlah uang pada Ness. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari di tahun 1930, Capone menyuruh anak buahnya menemui Ness di kantornya, Gedung Transportasi Chicago, untuk menawarkan “persahabatan”.  Dalam kunjungan itu anak buah Capone membawa kabar “kebaikan” bosnya dengan menyodorkan uang USD 2.000, tunai, langsung pada Ness. Tentu saja dengan rayuan agar Ness menghentikan misinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si cecunguk juga menyampaikan ”kabar gembira” dari Capone, di mana setiap pekan Ness bakal mendapat jumlah yang sama kalau mau menerima tawaran persahabatan Capone. Memang, dengan cara inilah Capone membeli hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya ngiler, Ness malah marah besar. Dia merasa dihina dengan sodoran itu. Dia usir kacung si Capone. Hari itu juga dia mengundang pers dan mengumumkan bahwa tak ada satu pun anggota Tim Antikorupsi yang bisa dibeli oleh Capone. Genderang perangnya kian santer ditabuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, setelah pernyataan itu, Chicago Tribune menyajikan ucapan pedas Ness sebagai sajian utama dengan mengangkat judul “Untouchable”. Artikel itu menceritakan betapa suap tak bisa menyentuh Ness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julukan itu pula yang mengilhami Brian De Palma menggarap sebuah film berjudul “The Untouchables” yang dibintangi Kevin Costner dan Robert De Niro. Film yang rilis tahun 1987 ini memang menceritakan kisah nyata perang Ness-Capone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ness Kontra Capone&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mendapati kenyataan pahit itu, di mana rayuannya berjawab tolakan, Capone memperketat pengamanan sekitarnya. Dia merasa terancam. Ke mana-mana dia selalu dikawal minimal 10 antek. Dengan cara itu, Capone berharap anak buah Ness tak bisa menyentuhnya. Di saat bersamaan dia juga menyiapkan serangan balik untuk membungkam si orang bersih. Tekanan dan teror digencarkan.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIhyxwTUI/AAAAAAAAATU/5JiGX7YQ7fk/s1600/AlCapone-BluesBand.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIhyxwTUI/AAAAAAAAATU/5JiGX7YQ7fk/s320/AlCapone-BluesBand.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ness sadar situasi itu. Dia juga tahu kalau orang-orang Capone sedang mengawasi rumah orangtuanya. Dia pun memerintahkan anak buahnya untuk melindungi orang-orang tercintanya. Misi Capone meneror keluarga Ness gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tameng yang dipasang Capone memang sempat membuat anak buah Ness kesulitan membombardir si mafia. Apalagi si gembong dibentengi cecunguknya yang mengenakan seragam aparat penegak hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Ness dan anak buahnya tidak menyerah. Pada akhirnya Ness dkk, dengan usaha yang luar biasa keras, berhasil membongkar salah satu pabrik miras terbesar milik Capone. Uang USD 200.000 berhasil diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar kebobolan telak, Capone makin kalap. Dia perintahkan anak buahnya untuk meningkatkan dosis teror untuk Ness. Dia habisi salah satu teman baik Ness dengan cara yang amat luar biasa kejam. Mayatnya dipamerkan di depan Ness. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Ness tak pernah keder. Dia jawab teror itu. Dia telepon Capone secara pribadi. Dalam perbincangan itu dia minta Capone, pada suatu hari pukul 11.00, melihat ke luar jendela. Di luar rumah Capone, Ness memarkir semua kendaraan aset-aset si bos mafia yang berhasil disitanya. Ness melancarkan teror balik, dengan menunjukkan bahwa kian hari Capone kian melarat, karena satu persatu asetnya disikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capone kian gelap mata dan ngawur. Untuk membalas teror Ness, dia habisi lagi tiga orang terdekat si bos antikorupsi. Tapi teror itu tetap tak cukup untuk membuat Ness pasang gigi mundur. Rasa perih ditinggal orang-orang terdekat yang mati terbunuh tak menyurutkan langkahnya untuk membungkam si biang penggelapan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membalas teror beruntun itu, Ness tak kalah menggila. Gong balasan Ness ditabuh ketika timnya berhasil membongkar sebuah pabrik miras superbesar terdiri dari dua lantai beromzet USD 1 juta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIkn4wGaI/AAAAAAAAATc/NENGCgNcM98/s1600/Ness.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIkn4wGaI/AAAAAAAAATc/NENGCgNcM98/s320/Ness.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tim Ness juga berhasil membongkar praktik penyelundupan alkohol –bahan utama pabrik miras Capone– dari luar Chicago. Kian kuat saja indikasi penggelapan pajak ala Capone. Si mafia makin mati kutu. Dengan bukti-bukti itu, Capone mulai diseret ke depan penyidik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sukses melumpuhkan Capone, Ness dkk mendapat tugas untuk menelisik siapa-siapa saja pejabat yang melindungi bos penjahat itu. Dan didapatilah sekitar 200-an polisi kunyuk yang mengabdi pada duit haram Capone. Mereka semua diseret ke pengadilan dan dihukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 12 Juni 1931, Ness juga berhasil menunjukkan pada jaksa penuntut umum bahwa Capone dan 68 anggotanya melakukan persekongkolan untuk menggelapkan pajak. Dan persekongkolan itu, tak tanggung-tanggung, melanggar 5.000 larangan dalam UU Pajak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya Capone diseret ke pengadilan. Pada 5 Juni 1931, keterangan dari petugas keuangan, yang menyebutkan memang tak ada pajak masuk dari Capone, memperkuat dakwaan pada sang bos mafia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaksa Agung Johnson pun memerintahkan agar Capone lekas-lekas diadili. Sidang dimulai 6 Oktober 1931. Ness memberikan kesaksiannya setiap hari. Setelah persidangan selama dua minggu yang melelahkan, palu hakim pun diketuk; Capone harus mendekam 11 tahun dalam penjara federal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon Capone, si manipulator kasus biang korupsi, pun berakhir. Sayangnya, sekali lagi, Eliot Ness tak lahir di Indonesia, saat ini. Beribu sayang juga, Presiden Indonesia sekarang bukan Herbert Hoover, yang memerintahkan aparatnya memberangus Al Capone, lugas dan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIvOZygcI/AAAAAAAAATk/bySer1gTfvo/s1600/As+Eliot+Ness.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIvOZygcI/AAAAAAAAATk/bySer1gTfvo/s400/As+Eliot+Ness.jpg" width="350" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-3227121428463027766?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/3227121428463027766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/eliot-ness.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/3227121428463027766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/3227121428463027766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/eliot-ness.html' title='Eliot Ness'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwmIE0CEgUI/AAAAAAAAATE/eJ9yTRKMZ1w/s72-c/eliot-ness.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-900325255619531604</id><published>2009-11-20T18:45:00.001+07:00</published><updated>2009-11-21T13:31:28.109+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memori'/><title type='text'>Layang-Layang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwaBSvFUGRI/AAAAAAAAAS8/E0-t1ZQcA4M/s1600/layang-layang1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwaBSvFUGRI/AAAAAAAAAS8/E0-t1ZQcA4M/s320/layang-layang1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketika &lt;/b&gt;pertama kali kata ”politik” mampir di telinga kecilku, rasa ingin tahu mendorongku untuk bertanya pada Bapak –yang sedang sibuk membereskan berkas salah satu partai oposisi di era Orde Baru yang beliau ikut merawatnya; ”Politik itu apa sih, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau hentikan sejenak beres-beres berkas. Lalu Bapak  tampak berfikir. Mungkin mencoba mencari analogi jawaban yang pas, yang bisa diterima otak 7 tahunku. Dan Beliau menjawab; ”Politik itu bermain layang-layang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Aku mengernyitkan dahi. Sebelum pertanyaan selanjutnya terlontar, Bapak menjelaskan; “Maksudnya, politik itu seperti bermain layang-layang. Saat layangan, kamu sering mengadunya karena seru kan? Dan bukan tebal-tipisnya benang kan yang menentukan pemenang, tapi teknik. Kadang benang perlu diulur, ada waktunya ditarik.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, aku jadi paham. Karena aku memang selalu melakukan teknik itu tiap mengadu layang-layangku –mainan yang paling aku gemari di masa bocah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi kadang pemenang dibantu angin yang tiba-tiba datang. Yang kalah biasanya selalu berusaha keras mendapatkan kembali layang-layangnya yang putus terbawa angin. Sampai harus lari-lari, terengah-engah, menerabas semak-semak, memanjat pohon, menginjak duri, beling, keluar darah, jatuh bangun. Kalau bisa mendapatkannya kembali, dia akan  mengadunya lagi. Kalau tidak, dia akan meratap. Dan kalau punya uang, dia akan membeli layang-layang baru.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung memandangi kakiku yang ditempeli banyak bekas luka akibat mengejar layang-layang putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sementara yang menang terus melayang di awang-awang menunggu musuh baru yang lebih tangguh,” imbuh Beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”O," jawabku pura-pura paham. Lalu kulontarkan lagi pertanyaan; "Berarti politik itu mainan anak kecil ya?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapakku cuma tersenyum. Lalu setelah itu Beliau terlihat buru-buru membereskan berkas-berkas sebuah partai, yang menurut gambaran imajinasi bocahku ketika itu berlambang kepala kerbau disembelih, sampai harus berdarah-darah berwarna merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, masih karena rasa ingin tahu, aku tanya lagi;”Itu apa?” sambil menunjuk berkas-berkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ini kertas,” jawab Beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak mau apa dengan kertas-kertas itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau membuat layang-layang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di tahun 1987, tak lama setelah penjelasan sederhana ala Bapak itu, Beliau dicopot dari jabatannya sebagai KetuaRT. Yang mencopot langsung Pak Camat. Kata tetanggaku, Bapak dilengser karena tidak mau nurut pada Pak Lurah dan Pak Camat. Beliau mbalelo tak mau mengganti bendera warna merah yang berkibar di depan rumah dengan yang warna kuning, sama seperti yang dipasang semua tetanggaku. Depan rumahku jadi kelihatan aneh, tampak lain dan mencolok. Kata Pak Camat, itu merusak pemandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu sore, selepas main layang-layang dan memenangkan beberapa aduan, aku mendapati tak ada lagi papan nama “Ketua RT xx/RW xx Kelurahan xx Kecamatan xx Kotamadya xx” yang biasanya terpampang di depan rumah. Aku heran. Kata Ibu, Bapak sudah bukan Pak RT lagi. Tapi ketika aku tanya kenapa, Ibu enggan menjawab. Mungkin menurut Beliau itu bukan urusanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuntaskan penasaran, langsung saja aku bertanya pada Bapak, “Kenapa Bapak tidak jadi Pak RT lagi?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sambil tersenyum, beliau menjawab,”Karena layang-layang Bapak putus.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-900325255619531604?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/900325255619531604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/layang-layang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/900325255619531604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/900325255619531604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/layang-layang.html' title='Layang-Layang'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwaBSvFUGRI/AAAAAAAAAS8/E0-t1ZQcA4M/s72-c/layang-layang1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-7914249947041452539</id><published>2009-11-19T03:09:00.000+07:00</published><updated>2009-11-19T03:09:14.592+07:00</updated><title type='text'>Dongeng Sebelum Tidur</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwRUSxVdozI/AAAAAAAAAS0/gOgChmZVQfI/s1600/DewiKeadilan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwRUSxVdozI/AAAAAAAAAS0/gOgChmZVQfI/s320/DewiKeadilan.jpg" width="297" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Mbah Minah dari Banyumas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Perempuan lanjut itu akrab dipanggil Mbah Minah. Umurnya 65 tahun. Dia tinggal di Banyumas, Jawa Tengah. Entah mimpi apa perempuan ini sampai dia harus “meringkuk” sebagai tahanan rumah karena memungut 3 buah kakao yang jatuh di pekarangan perkebunan tak jauh dari rumahnya. Dia dituduh maling dan kena jerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Suatu hari ketika sedang berjalan santai, tanpa sengaja Mbah Minah melihat tiga buah kakao yang mulai membusuk jatuh tergeletak di pekarangan sebuah perkebunan kakao tak jauh dari kediamannya. Mungkin dia merasa sayang, maka dia pungut buah itu. Apes, di saat bersamaan, mandor kebun kakao melihatnya dia memungut kakao yang “seharusnya” jadi hak perkebunan. Telunjuk si mandor menuding ke Mbah Minah, “Kau maling.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu berlanjut jadi laporan polisi. Mbah Minah jadi tersangka pencurian. Berkasnya mulus di kantor polisi dan meluncur begitu saja ke Kejaksaan Negeri Banyumas. Dan, akhirnya Mbah Minah jadi tahanan rumah, hanya karena memungut kakao yang tergeletak di tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Subagyo dari Depok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 17 November sore, anggota Buser Polsek Limo menggerebek sebuah arena perjudian di sebuah kontrakan di Pangkalan 25, jalan Raya Limo RT 06/RW 01, Limo, Depok. Ada Subagyo dan tiga temannya sedang asyik main judi kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subagyo kaget bukan kepalang. Karena di tengah keasyikannya mengisi waktu, tiba-tiba menyeruak para pemberantas maksiat bernama korps baju cokelat. Subagyo, seperti kebanyakan orang kecil lain yang awam hukum, pun kalut dan berusaha kabur. Polisi yang nyaris kehilangan buruan kalap: dor, dor, dor! Bedil menyalak tiga kali. Tiga timah panas bersarang di tubuh sopir angkot itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut versi Polsek Limo, Subagyo telah diberi tiga kali tembakan peringatan tapi nekat ngacir. Sedangkan menurut istri Subagyo, yang ada tak jauh dari tempat suaminya terbunuh, tembakan langsung diarahkan ke tubuh bapak satu anak itu, begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aguswandi dari Jakarta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aguswandi butuh berkomunikasi. Sayang, ponselnya bungkam tanpa baterai. Mau mengisi ulang di flatnya, di apartemen di ITC Roxy Mas, Jakarta, tak ada colokan listrik. Lalu dia keluar flat mencari colokan, masih di sekitar apartemen. Dia tancapkan saja charger ponsel begitu saja, persis di samping flatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa sangka, karena upayanya mengisi ulang baterai ponsel, 8 September lalu, malah mendudukkannya sebagai pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin, 16 November 2009. Dia dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan oleh polisi karena nyolong listrik untuk nge-charge ponsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saprudin dan Mulyadi dari Banten&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa berat 10 kilogram bawang merah? Ah, biasa saja. Apalagi untuk kuli panggul seperti Saprudin dan Mulyadi, keduanya dari Kampung Lebak Jati, Kelurahan Unyur, Serang, Banten, yang sudah biasa mengangkut yang lebih berbobot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hari Kamis, 5 Juli 2007, 10 kilogram bawang itu ternyata sangat berat untuk mereka berdua. Saprudin dan Mulyadi, dijatuhi hukuman delapan bulan penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Serang karena mencuri bawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dituduh membawa kabur 10 kilogram bawang merah yang tergeletak begitu saja di samping lapak seorang pedagang sayuran Pasar Induk Rau, Lebak, pada 20 Maret 2007 di Pasar Induk Rau, Lebak. Mereka mencuri ketika si empunya bawang sedang sibuk melayani pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan hakim mereka mengaku menyesal. Tapi apa guna, palu sudah terketuk. Di samping kurungan, mereka juga harus menanggung ongkos perkara sebesar Rp 1.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sementara...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain Indonesia, masih banyak orang yang lebih ”beruntung” dari Mbah Minah, Subagyo, Aguswandi mau pun Saprudin dan Mulyadi. Edi Tansil, Anggodo Widjojo, Anggoro Widjojo, dan Djoko Tjandra, yang seharusnya juga kudu berhadapan dengan aparat, masih bebas kelayapan di bawah udara bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh hari Franz Kafka telah meramalkan nasib Mbah Minah, Subagyo, Aguswandi mau pun Saprudin dan Mulyadi itu dalam ”Before the Law”. Betapa si penjaga pintu hukum berkata dengan pongahnya, bahwa pintu yang dia jaga memang hanya dibuat untuk orang-orang seperti mereka...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-7914249947041452539?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/7914249947041452539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/dongeng-sebelum-tidur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7914249947041452539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7914249947041452539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/dongeng-sebelum-tidur.html' title='Dongeng Sebelum Tidur'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwRUSxVdozI/AAAAAAAAAS0/gOgChmZVQfI/s72-c/DewiKeadilan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-6752960278831551172</id><published>2009-11-17T15:35:00.003+07:00</published><updated>2009-11-17T21:13:45.073+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><title type='text'>Menguliti Logika Penyelamatan Bank Century</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJgDs6aPtI/AAAAAAAAASc/j4UxsKu9VJI/s1600/bank-century.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJgDs6aPtI/AAAAAAAAASc/j4UxsKu9VJI/s320/bank-century.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;MUNGKIN&lt;/b&gt; tulisan ini agak telat karena sudah banyak dibahas di berbagai media. Tapi terlepas dari keterikatan waktu itu, dari kaca mata awam saya, upaya penyelamatan ini seperti menuju pada sebuah logika “nakal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini saya petikkan dari buah pikir beberapa pakar yang tertuang di berbagai artikel (karena saya tak punya kompetensi di bidang ini sehingga tak pantas melontarkan teori sendiri), dan coba saya jahit sedemikian hingga membentuk sebuah cerita tentang indikasi pembobolan duit negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Berawal ketika saya membaca sebuah artikel berjudul “Episode Bank Century dari Ketinggian Seribu Meter” yang dimuat Tempointeraktif.com, &lt;br /&gt;Rabu, 16 September 2009, buah pikir Andrian Panggabean, seorang  pengamat ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Andrian, proses bailout Bank Century yang menyerap ongkos Rp6,7 triliun itu sangat mengenyakkan. Ini adalah cerita sebuah kecerobohan kebijakan, yang mencoba berkelit dari tanggung jawab dengan mengkambinghitamkan krisis ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem di bank itu, seperti dilansir banyak media massa, terjadi jauh sebelum November 2008, atau ketika bailout terkucur. Sinyal masalah bukan muncul saat kalah kliring akhir tahun lalu, tapi sejak 2005, atau saat bank itu membeli obligasi berisiko tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam perkembangannya, munculnya kasus dana nasabah Century oleh Antaboga Sekuritas menunjukkan kalau bank itu melakukan pelanggaran lagi. Meminjam istilah Andrian, bagaimana mungkin sebuah bank secara unilateral mengkonversi deposito nasabahnya menjadi berbentuk lain? Mengapa Bank Indonesia dan Badan Pengawas Pasar Modal tidak bertindak tegas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari kecurigaan itu, hanya ada dua kemungkinannya. Pertama, boleh jadi Bapepam dan BI tidak mencium gelagat buruk di bank itu. Bila itu yang terjadi, masalah Century ini karena inkompetensi otoritas keuangan. Lembaga ini sering kebobolan. Tapi, kalau otoritas tahu tapi tidak bertindak, ini terkait governance. Dilihat dari sudut pandang mana pun, Bank Century ini memiliki masalah yang panjang. Kesimpulannya: kemelut Century sebenarnya dapat dihindarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kesimpulan itu, muncullah pertanyaan kritis selanjutnya,; apakah kegagalan Century itu sistemik? Menurut otoritas keuangan, ya. Tapi kebanyakan masyarakat terpelajar mengatakan sebaliknya. Karena keputusan otoritas keuangan mendadak kontroversial. Ada tiga catatan penting menurut Andrian;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kalau membuka koran kuartal keempat 2008, atau saat masalah Century meledak, media banyak mengutip otoritas ekonomi dan keuangan yang menyebutkan perbankan Indonesia kuat, likuiditasnya aman dan normal. Mereka juga begitu optimistis dengan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia 2009, yang katanya bisa mencapai 6,9%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu maju ke masa 11 bulan berikutnya. Publik terperangah. Ternyata, ketika otoritas keuangan mengatakan situasi perbankan sangat aman, ada orang yang ditangkap polisi dengan tuduhan menyebarkan berita bohong soal situasi perbankan nasional. Saat itu, sebenarnya sedang terjadi kepanikan dalam otoritas keuangan karena Bank Century dan karena ada perpindahan dana antarbank dalam jumlah besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, otoritas yang sedang panik masih sanggup menjual optimisme pada publik. Kalau menurut istilah Andrian, itu adalah sebuah akrobat spektakuler. Episode ini tidak hanya berdimensi governance, tapi juga berdimensi inkompetensi kebijakan. Sebagian yang lain menilai ini adalah masalah kredibilitas yang serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kedua, lihat kalkulasi Bank Indonesia tentang potensi “beban sistemik” sebesar Rp 30 triliun kalau sampai Century bangkrut. Angka itu kurang kredibel. Belajar dari negara lain, butuh asumsi spesifik untuk bisa menghitung potensi biaya sistemik sebuah krisis perbankan. Sialnya, asumsi seperti itu kerap tak realistis, apa pun dalih teoretisnya. Ini bukan rahasia akademis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhitungan seperti itu adalah akrobat akuntansi. Yang sudah diketahui publik, perhitungan Rp 630 miliar ternyata salah besar. Kita bisa bertanya: bila kasus BLBI senilai Rp 600 triliun, mengapa definisi sistemik tahun 2008 hanya Rp 30 triliun? Sementara skala perbankan (atau dana deposito) saat ini jauh lebih dari ketika perkara BLBI meledak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka ini memunculkan dugaan ada logika kebijakan yang keliru dalam proses pengambilan keputusannya. BI, yang kemudian disetujui Menteri Keuangan,  berargumen lebih baik mengeluarkan Rp 630 miliar (atau 4,5% dari dana Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) sebesar Rp 14 triliun, ketimbang kudu menghadapi kolapsnya belasan bank kecil yang menggantungkan nasib pada Century, dengan kerugian Rp 30 triliun atau 214% dari dana LPS. Kalau sampai Century tutup, dalil pejabat keuangan kala itu, perlu merogoh dana Rp 16 triliun dari APBN untuk menutup kekurangan tombokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi publik tak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi di belakang layar. Yang pasti, karena masalah kredibilitas, sulit publik percaya apa pun penjelasan otoritas keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ketiga, adalah episode saling lempar tanggung jawab setelah gerojokan bailout itu jadi isu kontroversial. Episode itu hanya menggambarkan betapa otoritas keuangan kurang mafhum dengan definisi “bahaya sistemik” yang dipakainya sendiri. Yang lebih menarik adalah kesan bahwa telah terjadi pelangkahan kewenangan eksekutif oleh otoritas keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Keuangan menyatakan Presiden tak terlibat dalam urusan ini. Saat kebijakan diambil Presiden di luar negeri dan menginstruksikan Menteri Keuangan agar berkonsultasi dengan Wakil Presiden-- yang ketika itu adalah penanggung jawab lembaga kepresidenan. Ternyata Wakil Presiden malah baru mendapat informasi tentang bailout itu beberapa hari setelah dikucurkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga masalah pemerintahan serius di sini. Pertama, LPS adalah lembaga independen di bawah Presiden. Kedua, lembaga kepresidenan, yang bos dari LPS, ternyata tidak pernah memberikan otorisasi formal kepada Menteri Keuangan untuk mengaktivasi instrumen dana talangan yang ada di bawah kendalinya. Ketiga, yang lebih gawat, Wakil Presiden ternyata berbeda persepsi tentang kebijakan bailout itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada istilah militer, tampaknya telah terjadi insubordinasi terhadap kekuasaan eksekutif (yang dipersonifikasi oleh lembaga kepresidenan). Situasi ini persis tindakan tentara yang mengaktifkan alat tempur strategis tanpa meminta persetujuan panglima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik pun bertanya-tanya: kalau demikian, bolehkah Menteri Keuangan mengklaim keputusannya adalah ”keputusan pemerintah”? Atau malah interpretasi governance dari keputusan bailout itu menjadi “keputusan seorang oknum”? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Istilah "Sistemik" yang Bersayap &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJeWwbRYbI/AAAAAAAAAR0/3Vj548vRTrU/s1600/boediono.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJeWwbRYbI/AAAAAAAAAR0/3Vj548vRTrU/s200/boediono.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dari kecurigaan Andrian, kita masuk dalam analisis Kwik Kian Gie, mantan Menko Ekuin di era Presiden Megawati Soekarno Putri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya, Boediono, yang begitu erat keterkaitannya dengan kasus Bank Century dan sekarang wakil presiden, memberikan keterangan usai salat Jumat, 6 November yang lalu. Jelas dia harus membela kalau suntikan dana raksasa untuk bank liliput diperlukan. Ketika itu posisinya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) adalah tokoh kunci bailout sampai bisa terkucur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Boediono, bailout dilakukan untuk menghindari efek domino yang sistemik, bukan untuk menyelamatkan bank. Juga bukan untuk menyelamatkan kepentingan deposan besar. Boediono juga berharap agar publik bisa membedakan antara tindak kejahatan dan tindakan penyelamatan. Penyelamatan bukan untuk kepentingan eksistensi bank-nya, bukan untuk kepentingan deposan besar, tetapi untuk menghindari kerusakan dunia perbankan nasional secara sistemik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Boediono tidak mengemukakan data dan fakta dalam pernyataannya itu. Menurut Kwik, ada yang janggal di sini. Yang termuat dalam berbagai media massa dan termuat dalam "Laporan Kemajuan Pemeriksaan Investigasi atas Kasus Bank Century" yang ditulis oleh BPK dan ditandatangani 26 September 2009 oleh Suryo Ekawoto Suryadi, Penanggung Jawab Pemeriksaan, ada data dan fakta yang mematahkan dalil Boediono. Antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran BC yang sarat masalah dibiarkan secara sistemik oleh BI. Bank ini lahir dari merger tiga bank, dua di antaranya Pikko dan Bank CIC, yang Laporan Keuangan Bank-nya dinyatakan disclaimer oleh Kantor Akuntan Publik (KAP). Merger bank itu diangguki saja oleh otoritas keuangan. Padahal pemegang saham pengendali tidak memenuhi fit and proper test, tapi tetap saja mereka dipertahankan. Pengurus bank, yaitu direksi dan komisaris, ditunjuk tanpa melalui fit and proper test. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, beranjak dari situasi yang kurang sehat itu, pada perkembangannya Century benar-benar sakit parah. Bank ini menghadapi kesulitan likuiditas. Bank Century pun mengajukan permohonan fasilitas pinjaman jangka pendek (FPJP) kepada BI, 30 Oktober 2008. Besarnya Rp 1 triliun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permohonan tersebut diulang pada 3 November 2008. Saat mengajukan permohonan FPJP, posisi rasio kecukupan modal (CAR) Bank Century, menurut analisis BI, positif 2,35% (per 30 September 2008). Sementara persyaratan untuk memperoleh FPJP, sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 10/26/PB/2008 tentang FPJP Bank Umum, CAR sebuah bank minimal 8%. Nah, dengan kondisi itu, Bank Century harusnya tak memenuhi syarat untuk bisa mendapatkan FPJP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah situasi itu, tiba-tiba muncul kebijakan yang “aneh”. Secara sistemik, pada 14 November 2008, BI mengubah PBI soal persyaratan pemberian FPJP dari semula CAR minimal 8% jadi CAR minimal positif, asalkan di atas 0%. Dengan perubahan itu, dan dengan menggunakan posisi CAR per 30 September 2008 sebesar positif 2,35%, Century pun secara ajaib memenuhi syarat untuk memperoleh FPJP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan kalau CAR Bank Century pada 31 Oktober 2008 malah sudah negatif 3,53%. Dengan aturan baru pun, atau CAR positif asal di atas 0% pun, seharusnya (lagi-lagi) BC tak memenuhi syarat untuk memperoleh FPJP. Selain itu, sebagian jaminan FPJP yang diperjanjikan sebesar Rp 469,99 miliar, ternyata tidak aman (secured).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di sinilah mendadak muncul kebijakan pemerintah yang “sangat baik hati”. Pada 14 November 2008, BI menyetujui pemberian FPJP kepada Bank Century sebesar Rp 689,39 miliar, yang dicairkan tiga kali: pada 14 November 2008 Rp 356,81 miliar, 17 November 2008 Rp 145,26 miliar, dan 18 November 2008 sebesar Rp. 187,32 miliar. Benar-benar istimewa hak bank ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Digerogoti Pemilik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah “bantuan amal” pemerintah itu turun, secara sistemik Bank Century malah digerogoti oleh pemilik atau manajemennya sendiri. Dan secara sistemik pula, upaya merampok bank sendiri itu dibiarkan saja oleh BI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya begini; setelah BC ditempatkan dalam pengawasan khusus, pada 6 November 2008, BI tak mengizinkan penarikan dana dari pihak terkait yang tersimpan dalam Bank Century. Kebijakan ini tertuang dalam PBI No 6/9/PBI/2004 yang diubah dengan PBI No. 7/38/PBI/2005 tentang Tindak Lanjut Pengawasan dan Penetapan Status Bank. Tapi, toh setelah itu tetap saja ada penarikan dana oleh pihak terkait. Besarannya antara lain Rp 454,898 miliar; USD 2,22 juta; AUD 164,81 ribu; dan SGD 41,28 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJeqxsOuUI/AAAAAAAAAR8/IassgO3oX6M/s1600/RobertTantular.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJeqxsOuUI/AAAAAAAAAR8/IassgO3oX6M/s200/RobertTantular.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dan pada 14 November 2008, Robert Tantular memerintahkan Bank Century Cabang Surabaya memindahkan deposito milik salah satu nasabah senilai USD 96 juta dari kantor Cabang Surabaya-Kertajaya ke Kantor Pusat Operasional (KPO) Senayan. Setelah itu, Dewi Tantular (Kepala Divisi Bank Notes) dan Robert Tantular mencairkan deposito senilai USD 18 juta itu pada 15 November 2008. Nah, dana yang dicairkan itu digunakan oleh Dewi Tantular untuk menutupi kekurangan bank notes yang telah digunakan untuk keperluan pribadinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi menjual bank notes ke luar negeri melebihi jumlah yang tercatat, sehingga secara akumulatif terjadi selisih kurang antara fisik bank notes dan catatan akuntansi. Deposito milik nasabah tersebut kemudian diganti oleh Bank Century dengan dana dari FPJP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan suntikan dana Rp 6,72 triliun kepada Bank Century dinyatakan untuk menghindari kerusakan sistem perbankan Indonesia secara sistemik. Apakah benar begitu? Kwik Kian Gie punya perhitungan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Bank Century dalam industri perbankan hanya 0,68 % dalam rasio DPB bank/DPK industri. Sementara rasio kredit bank/kredit industri hanya 0,42 %. Maka, Bank Century sama sekali tidak berarti di industri perbankan Tanah Air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat dari posisinya itu, di mana Bank Century tak punya pengaruh, dalil yang menyebut kebangkrutannya memengaruhi sistem perbankan itu tak berdasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sangat berarti untuk pihak-pihak tertentu yang menggunakan Bank Century sebagai pencuci uang dan berbagai praktik kotor. Tapi soal kemungkinan itu masih harus dibuktikan oleh laporan final oleh BPK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kalau menggunakan aspek psikologis pasar, semua kewajiban pada bank dibayar sepenuhnya dan bank itu dilikuidasi, serta kewajiban kepada deposan lainnya dibayar maksimum Rp 2 miliar per account, sesuai peraturan, menurut Kwik, sama sekali tak akan ada dampak sistemiknya. Nasabah juga bakal tenang, tak sepanik sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini mungkin terjadi karena aktiva antarbank Century 24,28 % sementara pasiva antarbank 19,34 %. Dengan presentase itu, per saldo Bank Century punya tagihan neto sebesar 4,94 % kepada bank-bank lain dalam hubungan inter bank call money market. Maka, kalau Bank Century dilikuidasi, tidak ada bank yang bakalan dirugikan. Yang dirugikan hanya para deposan besar yang uangnya dirampok (istilah Jusuf Kalla) oleh para pemegang sahamnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kalau pemerintah dan BI mau mempertimbangkan faktor psikologis, mestinya memperhatikan banyaknya orang yang kehilangan tabungan seumur hidupnya karena ditipu oleh, meminjam istilah Kwik, Antaboga ala Madoff yang sangat terkait dengan Bank Century. Sayang, pemerintah tak peduli sama sekali ketika ada nasabah yang sampai bunuh diri, menangis, akan mati karena tidak mampu membayar biaya pengobatannya. Sungguh terlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau motif pemerintah memang benar-benar demi menyelamatkan bank dan perekonomian nasional, dengan cara menghindari efek domino, seharusnya, menurut Kwik, tindakan pemerintah bisa sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tagihan dari bank dibayar sepenuhnya, semua tagihan lainnya dibayar sampai jumlah maksimum Rp 2 miliar sesuai peraturan. Setelah itu Bank Century dilikuidasi. Kalau sudah begini, semuanya beres karena tak bakalan ada dampak sistemiknya dalam skala makro. Lalu pertanyaannya, kenapa pemerintah tak mengambil jalan itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu saat yang krusial, Wapres Jusuf Kalla (JK) adalah Presiden ad interim (a.i.) dalam kasus Century ini. Pada 25 November 2008 dia dilapori Gubernur BI Boediono dan Menteri Keuangan merangkap Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati tentang penyuntikan dana ke Century. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembicaraan itu, JK langsung menyimpulkan, rusaknya Century karena bank itu dirampok pemegang sahamnya sendiri. Maka, JK langsung memvonis penyuntikan dana yang kadung dilakukan salah kaprah. JK malah minta agar Boediono melaporkan kepada Polri dan menangkap pemegang saham Century, yakni Robert Tantular. Tapi Boediono menolak dengan alasan tak punya landasan hukum untuk itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi JK tak tinggal diam. Sebagai Presiden a.i., dia langsung memerintahkan Polri agar menangkap Robert dan memprosesnya lebih lanjut. Ternyata, baik Polri maupun Kejaksaan menemukan dasar hukum yang kuat untuk menuntut Robert sampai ke pengadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari rangkaian fakta tersebut, mungkin kita bisa mempertanyakan bagaimana Boediono, yang kini wapres, mempertanggungjawabkan kasus itu? Bolehkah Boediono menolak perintah Presiden, walaupun BI independen? Bukankah Gubernur BI yang dipilih DPR adalah calon-calon yang diajukan Presiden? Bukankah kewenangan JK pada 25 November 2008 adalah sebagai Presiden a.i., karena Presiden SBY sedang di luar negeri? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kronologi yang disampaikan otoritas keuangan, dana untuk Century disuntikkan pada 23 November 2008. Sementara tanggal itu jatuh di hari Minggu. Nah, apakah perbankan beroperasi di hari libur? Bagaimana prosesnya secara teknik perbankan? Apakah penyelamatan itu sedemikian mendesaknya, kalau motifnya penyelamatan perbankan dan perekonomian nasional? Bukankah urgensinya karena deposan besar harus bisa secepatnya menarik uangnya yang tidak dibatasi Rp 2 miliar per rekening?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang soal Boediono dan “kekhilafannya” selama menjabat sebagai Gubernur BI. Kita coba bandingkan dengan nasib Gubernur BI terdahulu, yang terjerat perkara serupa. Burhanuddin Abdullah ditangkap, diadili, dan divonis 6 tahun penjara karena sebagai Gubernur BI, dia membubuhkan tanda tangannya untuk pencairan dana Rp 100 miliar yang dianggap koruptif. Padahal, satu rupiah pun tidak ada yang dinikmatinya. Tapi dia dianggap gegabah, bodoh, atau solider yang kebablasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam kasus Century ini, di mana ketika terjadi bailout aneh itu Boediono duduk sebagai Gubernur BI –seperti Burhanudin Abdullah ketika kasus BLBI I– apakah ada pilih-pilih sasaran dalam menangani kasus perbankan? Kenapa Burhanudin bisa dipidana karena tanda tangan untuk pencairan dana yang janggal, tapi nasib serupa tak menghampiri Boediono?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJeuodzEWI/AAAAAAAAASM/BNsLnxj3qJs/s1600/burhanuddin-abdullah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJeuodzEWI/AAAAAAAAASM/BNsLnxj3qJs/s320/burhanuddin-abdullah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Karena, kalau melihat kronologis pencairan dana talangan untuk Century, polanya tak beda-beda amat dengan kasus BLBI I. Malahan duit yang terkucur dalam skandal Century ini jauh lebih bejibun daripada besarnya duit yang menjerat Burhanudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah Benar Negara Tidak Dirugikan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembuat kebijakan bantuan untuk Century punya dalil lain untuk berkelit dari delik perbankan. Menurut mereka, negara tidak dirugikan karena dana talangan untuk Century bukan dari APBN, tetapi dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalil ini juga agak janggal. Bukankah uang Rp 100 miliar, yang dijadikan landasan untuk menghukum Burhanuddin Abdullah dan kawan-kawannya, juga bukan dari APBN? Sumbernya sama persis dengan sumber bantuan Century sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus Burhanudin, mengapa pencairan uang yang sudah dipisahkan dari BI untuk dimasukkan ke dalam sebuah yayasan, pelakunya dihukum? Siapa yang dianggap dirugikan? Apakah beda pengucuran bailout dari LPS ke Century dengan kasus yang menimpa Burhanuddin, sehingga pihak-pihak yang terlibat dalam kasus Century bebas begitu saja sementara vonis jatuh untuk Burhanudin? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJesfFs2pI/AAAAAAAAASE/bJWheNRvCOE/s1600/sri-mulyani3.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJesfFs2pI/AAAAAAAAASE/bJWheNRvCOE/s200/sri-mulyani3.jpg" width="173" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Soal jurus kelit berkelit, Menkeu Sri Mulyani juga punya dalilnya sendiri. Menurut dia, tak peduli apa sebab kerusakan sebuah bank, kalau sudah dianggap berdampak sistemik, ya harus disuntik dana secukupnya. Kendati pun ternyata suntikan dana itu malah dipakai untuk membayar deposan besar agar bisa mendapatkan kembali uangnya utuh setelah dicuri pemegang saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Anggota DPR Dradjad Wibowo, bank yang kolaps karena dikelola secara sembrono, dan dimanfaatkan pemegang saham secara tidak wajar dan terindikasi penipuan, tak pantas perlu diselamatkan dengan alasan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita juga menyesalkan, kenapa lembaga negara yang seharusnya mengawasi dan mensupervisi perbankan malah saling lempar tanggung jawab ketika kasus Century mencuat. Persoalan ini bukan hanya menyangkut penyelamatan sebuah bank atas pertimbangan-pertimbangan yang bersifat teknis, tetapi kebijakan pengelolaan aset negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, mana yang relevan bagi pengaturan negara? Main pokrol dengan tafsiran harafiah semata, ataukah menafsirkan segala sesuatunya atas dasar substansi dan fakta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sebelum Century remuk, ada gagasan agar pemerintah memberikan penjaminan secara penuh (blanket guarantee) kepada semua deposan di Indonesia. Kalau tidak, masyarakat tak percaya lagi kepada bank-bank di Indonesia, di tengah guncangan lembaga keuangan di seluruh dunia akibat krisis finansial di AS akhir 2008 lalu. Usul penjaminan penuh itu datang dari Boediono dan Sri Mulyani. Sebaliknya, JK menentang keras. Akhirnya terjadi kompromi, penjaminan hanya sebatas Rp 2 miliar per rekening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Benarkah Bukan Domain Presiden?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gonjang-ganjing skandal bank kelas teri ini, Mensesneg ketika itu, Hatta Rajasa mengatakan, Presiden tidak mau mencampuri urusan Century karena tidak masuk domain-nya. Nah, ini yang agak aneh. Apa ada urusan sebuah negara yang bukan monarki konstitusional, yang republik, apalagi sistemnya presidensial, seorang presiden tak boleh ikut campur dalam urusan dan persoalan yang ada dalam domain pejabat lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah penyelenggaraan negara tak akan chaotic (semrawut) kalau yudikatif, eksekutif, dan legislatif ditafsirkan berpisah secara mutlak total, tanpa adanya bidang-bidang singgungannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, entahlah. Saya bukan pengamat ekonomi yang tak bisa menarik kesimpulan dari banyak fakta yang berkelindan di balik gonjang-ganjing perbankan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tak bisa menyimpulkan, kendati sedikit curiga, apakah upaya menarik Boediono sebagai cawapres dalam Pilpres lalu –yang sempat menimbulkan ketegangan di dalam koalisi tapi akhirnya benar-benar terpilih – adalah upaya melindunginya dari bidikan delik perbankan (yang entah disengaja atau tidak itu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau apakah upaya ”perlindungan” politik untuk Boediono itu sebagai ongkos balas budi atas jasanya mengutak-atik regulasi perbankan demi sebuah  kepentingan yang lebih besar? Kita tunggu saja perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJfcxAp_gI/AAAAAAAAASU/76MPPYjdrXc/s1600/conspiracy2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJfcxAp_gI/AAAAAAAAASU/76MPPYjdrXc/s400/conspiracy2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-6752960278831551172?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/6752960278831551172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/menguliti-logika-penyelamatan-bank.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6752960278831551172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/6752960278831551172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/menguliti-logika-penyelamatan-bank.html' title='Menguliti Logika Penyelamatan Bank Century'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SwJgDs6aPtI/AAAAAAAAASc/j4UxsKu9VJI/s72-c/bank-century.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-1683200481423358813</id><published>2009-11-15T01:34:00.005+07:00</published><updated>2009-11-15T03:03:21.663+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='History'/><title type='text'>Skandal Watergate:  Trik Konyol Presiden Paranoid</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv73U0E4nkI/AAAAAAAAAQ0/-YFBlJBRgsU/s1600-h/richard-nixon-scarface.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv73U0E4nkI/AAAAAAAAAQ0/-YFBlJBRgsU/s320/richard-nixon-scarface.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MENCERMATI &lt;/b&gt;fenomena di Tanah Air beberapa waktu belakangan, lama-lama suasananya seakan menjurus pada pengulangan skandal superbesar yang meletup di Amerika Serikat (AS), negara yang mengklaim sebagai kiblat demokrasi, empat dekade lalu. Di mana perkara tersebut menyeret petinggi negara, dan berujung pada pengunduran diri kepala negara. Peristiwa pertama dan satu-satunya sejak kemerdekaan AS 4 Juli 1776. Cerita bernama skandal Watergate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah skandal politik terhebat di abad 20, rangkaian dari perpecahan-perpecahan, upaya tutup menutupi, dana sogokan, tipu muslihat, daftar hitam, paranoia presiden, rekaman ilegal dan kata-kata yang dihapus (mengingatkan kita pada pembukaan rekaman Anggodo Widjojo dengan beberapa oknum aparat penegak hukum kelas atas di Mahkamah Konstitusi (MK), juga rekaman pemeriksaan Antasari Azhar dan Wiliardi Wizar yang terkesan dipotong).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat skandal megaheboh jelang pemilihan presiden 1972 itu pula Richard Nixon jadi presiden pertama, dan sejauh ini satu-satunya, yang mengundurkan diri dari jabatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Musabab skandal ini sebenarnya berpangkal dari karakter Nixon sendiri yang licin dan paranoid, tapi ingin selalu terlihat sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nixon lahir di sebuah kota kecil di California. Dia merasa dirinya adalah orang luar yang abadi (eternal outsider). Bahkan, waktu menjabat sebagai presiden, dia beranggapan bahwa pihak Pesisir Timur –basis lawan politiknya– dan pers kota besar yang liberal akan melakukan apa saja untuk menjebaknya. Dia merasa selalu jadi bulan-bulanan. Sangat paranoid (mengingatkan kita pada salah satu tokoh dalam negeri yang selalu merasa dizalimi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Si Ambisius yang Sok Bersih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv73algvn2I/AAAAAAAAAQ8/b67XW1PXAk4/s1600-h/richardnixon4601.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv73algvn2I/AAAAAAAAAQ8/b67XW1PXAk4/s200/richardnixon4601.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Nixon memulai karir politik sebagai anggota kongres (di sini DPR) muda. Dia duduk di House un-American Activities Commitee dan punya peran dalam kejatuhan Alger Hiss, seorang pejabat Departemen Luar Negeri –yang dituding sebagai mata-mata Uni Soviet. Pada perkembangannya, banyak orang percaya kalau Hiss tak salah dan dia jatuh karena tuduhan palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berhasil merangsek ke kasta politik yang lebih tinggi setelah tampak menonjol ketika berdiri di pihak kanan Partai Republik. Dia dipilih jadi pendamping Dwight D Eisenhower –yang condong liberal– dalam pemilihan presiden tahun 1952. Dia dipandang punya peran sebagai penyeimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan Nixon sebagai orang nomor dua di Amerika ketika itu tak lepas dari dugaan skandal. Dia dituding menerima sogokan dari para praktisi bisnis kaya raya di California. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nixon cukup reaktif menanggapi tudingan itu. Buru-buru dia muncul di televisi dan menyampaikan pidato. Dia menyatakan tak bersalah. Dia menyebar kabar ke seluruh jagat bahwa dia bukan tipe orang yang ke sana ke mari suka mengenakan jubah bulu yang mahal. Istrinya, Pat Nixon, pun hanya mengenakan setelan kain model kuno. Intinya, dia menolak cap doyan suap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian satu-satunya yang pernah diterima, katanya, adalah seekor anak anjing bernama Checkers. Katanya ketika itu, sial amat kalau harus sampai mengembalikan si anak anjing. Ketika tampil di depan publik melancarkan jurus tangkal, performanya memang kinclong, terkesan bersih. Karena penampilan itu pula dia mendapat julukan dari lawan politiknya sebagai ”Tricky Dicky” atau si Dicky yang Licin. Dan penampilannya di televisi disebut pidato Checkers, merujuk pada anak anjing yang diberikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua masa bakti jadi wakil presiden, Nixon dicalonkan jadi pengganti Eisenhower, meskipun pihak Eisenhower tak begitu pede mendorongnya maju. Tapi dalam pemilihan tahun 1960 dia kalah tipis dari John F Kennedy. Dia menuding kekalahannya adalah akibat manipulasi kartu pemilih di distrik-distrik utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1962 ia coba maju dalam kompetisi yang kastanya lebih rendah, yaitu pemilihan Gubernur California, daerah asalnya. Tapi dia  kalah. Dia pun memutuskan sementara mundur dari panggung politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah konferensi pers pascakekalahan itu, dengan nada sinis dia bicara pada wartawan, ”Selama 16 tahun kalian banyak bersenang-senang. Sekarang kalian tak punya Nixon lagi untuk kalian tendang ke sana ke mari karena, tuan-tuan, inilah konferensi persku yang terakhir”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Nixon salah perhitungan. Setelah pernyataan itu dia malah mendapat tendangan yang lebih keras dari pers ketika dia dan manajer kampanyenya, Bob Haldeman, didenda karena terbukti menggunakan praktek-praktek kampanye curang selama pemilihan gubernur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahwat politik Nixon untuk berburu kuasa rupanya tak pernah pupus. Kesempatan tampil kembali ke panggung politik level atas datang setelah anggota Partai Republik, Barry Goldwater, diobok-obok oleh Presiden Lyndon B Johnson –yang menggantikan Kennedy yang ditembak mati. Nixon mulai memoles dirinya sebagai sosok terkemuka dalam Partai Republik menggeser Goldwater. Tahun 1968, sekali lagi, dia memenangkan pencalonan partainya. Kali ini dewi fortuna memihaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan ketika itu pesona Johnson sedang tenggelam karena terlibat dalam Perang Vietnam. Johnson menolak mencalonkan diri lagi karena merasa gagal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembunuhan terhadap Robert Kennedy, Jaksa Agung dan kandidat kuat presiden AS, adalah bentuk angin segar lain untuk Nixon. Minimal berkurang lagi satu calon pemimpin hebat saingannya dari partai rival. Juga dia berusaha mengambil keuntungan dengan mencoba menjadi penengah dalam konflik rasial, buntut dari pembunuhan Martin Luther King, Jr, pejuang hak asasi kaum kulit hitam AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kebetulan juga, kampanye Partai Demokrat, partai saingannya, di Chicago memburuk. Di saat bersamaan terjadi juga pertempuran antara polisi yang brutal, Wali Kota Daley dan para pemrotes damai serta aktivis hak-hak sipil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah situasi itu, Nixon muncul dan menyatakan berbicara untuk ”mayoritas yang diam” dan berjanji mengembalikan hukum dan tata tertib. Dia juga ”mencuri” apa yang tersisa dari Partai Demokrat. Calon partai Demokrat, Hubert Humphrey, yang pernah jadi wakil presiden di era Johnson, ikut-ikutan tercemar oleh perang Vietnam. Saat itulah Nixon mengobral janji mengakhiri perang, dan membawa damai bersama kehormatan (pride and glory). Dia menang mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Paranoid&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv73gNH9hRI/AAAAAAAAARE/RYr8DKDI1T0/s1600-h/nixon.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv73gNH9hRI/AAAAAAAAARE/RYr8DKDI1T0/s320/nixon.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Nixon bukan seorang bernaluri damai. Pada janjinya dia abai. Bukannya mengerem agresi ke Vietnam, dia malah meningkatkan perang dan meluaskannya hampir ke seluruh dataran Indochina, yang meliputi Laos dan Kamboja. Agresi itu diputuskannya sendiri menggunakan hak preogratif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas ini tak sah. Karena peraturan di Amerika menyebut, perang hanya bisa diputuskan Kongres. Tetapi Nixon punya hitung-hitungan; kalau perang itu tidak mendatangkan kemenangan, seperti yang dijanjikan Pentagon kepadanya, Vietnam dia giring ke meja negosiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menerapkan kebijakan yang begitu ”clandestine”, atau sarat kegiatan-kegiatan terselubung, memang butuh kerahasiaan ketat. Hanya sedikit orang di Washington yang dia percayai. Nixon ”membentengi” dirinya dengan orang-orang luar, orang-orang yang tidak memegang kedudukan publik dan tak punya gagasan politik, tapi berambisi memperoleh kekuasaan semata-mata. Singkatnya, dia pelihara para penjilat yang dia rasa tak membahayakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haldeman, seorang mantan humas, dia tunjuk jadi staf Gedung Putih, yang mengendalikan jalan masuk ke Presiden. Mantan mitra hukum Nixon dan manajer kampanyenya tahun 1968, John Mitchell, jadi Jaksa Agung. Seorang humas lainnya, yang juga teman Haldeman, John Ehrlichman, jadi Asisten untuk Urusan Domestik. Benar-benar nepotisme yang kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nixon paling peka terhadap bahaya. Dia bisa merasakan bakal terjadi perpecahan karena tekanan oposisi untuk menghentikan perang Vietnam kian gencar. Di tengah situasi seperti itu dia tak percaya ”sekutu yang baik”, seperti Direktur FBI, J Edgar Hoover (tokoh legendaris yang menangkap mafia Al Capone melalui tim polisi antikorup pimpinan Elliot Ness). Nixon berkali-kali mencoba memecat Hoover. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoover sendiri jadi direktur FBI sejak 1920-an.  Dia punya basis kekuasaan dan sulit digeser, bahkan oleh Presiden sekali pun. Nixon melihat Hoover sebagai kompetitor dan ancaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nixon benar-benar paranoid bakal kehilangan kekuasaan. Dia bahkan mencurigai CIA, karena melihat badan ini adalah turunan kaum cendekiawan Pesisir Timur yang sejarahnya kurang bagus dengan musuh-musuh Amerika. Untuk membuang paranoidnya, Nixon mendirikan badan intelijen pribadi yang hanya bertanggung jawab pada Gedung Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ihwal Skandal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman lain yang dia rasakan datang dari kaum Demokrat. Partai ini dirasakannya sebagai ancaman paling berbahaya menjelang pemilihan berikutnya, tahun 1972. Untuk mengantisipasi ”hal-hal yang tidak diinginkan”, tahun 1970-1971 ia mendirikan beberapa proyek untuk menguping lawan-lawan politiknya dan mengawasi pers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan terhadap perang kreasi Nixon pun memasuki titik kulminasi. Juni 1971, New York Times mempublikasikan ”Berkas-berkas Pentagon” atau ”Pentagon Files”. Inilah rahasia perang Vietnam yang paling menggegerkan dan merusak performa AS, terutama soal serbuan tidak sah Nixon ke Laos dan Kamboja. Sumbernya adalah Daniel Ellsberg, seorang mantan analis intelijen Pentagon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi serangan media itu, Nixon mendirikan badan investigasi khusus yang berperan sebagai badan investigasi tandingan untuk membungkam Ellsberg. Nixon menugaskan Ehrlichman dan deputinya, Egil Krogh Jr, menjalankan unit itu dari Ruangan 216 dalam kantor Eksekutif sebelah Gedung Putih. Stafnya kurang lebih 50 orang. Orang-orang senior, temasuk pengacara staf Penasihat Keamanan Nasional, David Young, dan penasehat khusus dan pelaksana Nixon sendiri, Charles Colson, ikut andil di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Colson mempekerjakan E Howard Hunt, seorang mantan CIA yang pernah terlibat dalam invasi Teluk Babi, Kuba. Hunt didampingi mantan agen FBI dan asisten jaksa wilayah, G Gordon Liddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran utama mereka adalah memfitnah Ellsberg untuk menyungkurkannya. September 1971, Hunt dan Liddy memerintahkan tiga dari agen Hunt yang berkebangsaan Kuba untuk menerobos masuk ke kantor psikiater Ellsberg. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liddy orang yang bisa diandalkan Nixon. Desember 1971, penasehat Gedung Putih, John Dean, memilih dia untuk bekerja di bawah John Mitchell dan Jed Magruder di Komite Pencalonan Kembali Presiden (Commitee to Re-elect the President) atau CREEP. Ini adalah badan khusus bentukan Nixon untuk suksesinya di periode berikut. Dalam prokem Amerika, ”creep” berarti orang yang menjijikkan. Entah kenapa bisa nama itu yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Liddy di CREEP adalah Penasehat Umum, tetapi secara teknis dia bertugas mengumpulkan intelijen politik. Pada 27 Januari 1972, dia menguraikan sebuah rencana yang disebut ”Operation Gemstone” kepada Mitchell, Magruder dan Dean. Benih-benih skandal mulai tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud operasi ini adalah, di pemilihan yang berikutnya, Liddy, atas perintah Nixon, bermaksud mengoperasikan kampanye sabotase, pemerasan, penculikan, pencurian dan pengawasan elektronis (penyadapan). Nilai operasi ini mencapai USD 1 juta! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitchell sempat menolak rencana ini karena terlalu mahal. Liddy pun berinisiatif menyederhanakan operasi itu, dengan dana ”hanya”  USD 250 ribu. Operasi pertamanya adalah mendobrak masuk markas besar kampanye George McGovern, kandidat terkuat Partai Demokrat yang notabene saingan Nixon. Sayang, operasi gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 26 Maret 1972, Liddy, Hunt, dan tim yang terdiri orang Kuba membongkar kantor-kantor Komite Nasional Partai Demokrat di gedung Watergate. James W McCord, koordinator sekuriti CREEP, memasang dua alat penyadap. Tindakan ini jelas ilegal. Sayangnya hanya satu alat penyadap yang bekerja. Dan yang lebih celaka lagi, yang dihasilkan tak lebih dari obrolan para sekretaris yang tak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv75L2p9L1I/AAAAAAAAARU/YHtkioxLspQ/s1600-h/watergate-complex.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv75L2p9L1I/AAAAAAAAARU/YHtkioxLspQ/s200/watergate-complex.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;CREEP pun memutuskan melakukan satu operasi lagi, malam hari tanggal 16 Juni 1972. Pelaksananya lima orang. Tapi operasi kali itu berakhir malapetaka. Seorang penjaga malam memergoki mereka dan menelepon polisi agar menahan lima ”tamu tak diundang” di lantai enam gedung Watergate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemeriksaan, lima penyusup itu menyodorkan nama palsu. Tapi setelah mendapatkan tekanan dari penyidik, mereka pun mengakui identitas sebenar-benarnya. Sangat mengejutkan, karena kelimanya ternyata adalah James McCord (yang menghubungkan pembobolan itu kepada CREEP), mantan agen CIA Bernard Baker; Frank Sturgis, seorang tentara bayaran kelahiran AS yang pernah bertempur melawan Castro; dan dua orang Kuba, Virgilio Gonzalez dan seorang tukang kunci bernama Euginio Martinez. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ketika lima orang itu dibekuk, Liddy, Hunt dan seorang mantan agen FBI Alfred C Baldwin, tiga pengendali operasi, ada di dekat tempat kejadian mengawasi operasi. Tapi ketiganya lolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang tertangkap itu bisa saja mengaku pembobolan atas inisiatif mereka sendiri. Tetapi, kalau ditelusuri, rantai komando kembali melalui Strachan dan Krogh, lalu ke Haldeman serta ke Ehrlichman –keduanya penasehat terdekat presiden– dan setelah itu sampai ke Mitchell dan bermuara pada presiden Nixon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu misinya gagal, Nixon coba memberikan klarifikasi dengan tampil di depan publik, bergaya layaknya politisi bersih. Dia mengaku, berita pembobolan diterimanya saat berlibur ke Key Biscane, Florida. Seolah-olah dia memang sama sekali tak ada hubungannya dengan aktivitas ilegal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam reaksinya yang sok suci itu, Nixon mengutuk bahwa penyadapan ke kantor Komite nasional Partai Demokrat sebagai hal yang bodoh. Katanya, siapa saja yang paham politik tahu kalau markas besar komite nasional adalah tempat yang tak berguna untuk disinggahi, apalagi untuk mendapatkan rahasia mengenai kampanye presiden. Setidaknya itulah yang ditulis Nixon dalam memoarnya untuk menghindari dugaan keterlibatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kelima pembobol dihadapkan ke pengadilan, 17 Juni 1973, mereka mengklaim sebagai anti komunis yang tak ada hubungannya sama sekali dengan pemerintahan Nixon. Dan McCord berbisik kalau dia adalah CIA kepada hakim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan-laporan pers pun berhasil mengidentifikasikan kalau McCord adalah koordinator sekuriti CREEP. Tapi Mitchell, bos CREEP, buru-buru menyangkal dengan mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa McCord hanya dipekerjakan sebagai konsultan sekuriti sementara dan sudah dibebastugaskan sebulan sebelumnya. Ini adalah upaya Nixon untuk cuci tangan menggunakan jasa Mitchell. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bangkai pun Tercium&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv75RdAV7MI/AAAAAAAAARc/1vHsjZkoArw/s1600-h/watergate7a.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv75RdAV7MI/AAAAAAAAARc/1vHsjZkoArw/s200/watergate7a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sebenarnya trik licik Nixon tak akan terkuak dan kasus penyadapan akan berakhir di ruang sidang seandainya tak ada dua wartawan muda dari Washington Post (WP), Bob Woodward, 29 tahun, dan Carl Bernstein, 28 tahun, yang menemukan kalau buku-buku alamat yang disimpan pembobol berisi nama E Howard Hunt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 20 Juni 1972, WP melaporkan kalau Hunt bekerja pada konsultan Charles Colson, penasehat khusus Nixon. Fakta inilah yang kemudian menghubungkan pembobolan itu dengan sang presiden. Gedung Putih geger! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya manipulasi coba dilakukan lagi. Buku-buku telepon internal Gedung Putih ditarik dan diubah untuk menyembunyikan kenyataan bahwa Hunt punya kantor di sana. Manipulasi habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Dean memberi tahu Hunt agar ke luar negeri saja untuk menghilang sebentar. Liddy pun menawarkan pasang badan. Bahkan, bergaya melodramatis, dia menawarkan diri berdiri di sudut jalan dan diberondong peluru sampai mati kalau sampai skandal itu terbongkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean merancang kisah-kisah penutup aib yang rumit, untuk mencegah agar operasi itu tak terlacak dan hanya berhenti sampai Hunt dan Liddy. Uang tutup mulut dibayarkan kepada para pembobol. Upaya menutupi perbuatan mereka dijalankan dengan segala cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, masih ada kartu truf yang ketinggalan. Baldwin, yang kemungkinan agen FBI yang menyusup ke dalam kelompok sindikat Nixon, memberi tahu bahwa Liddy dan Hunt terlibat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nixon pun diberi tahu soal “nyanyian” Baldwin. Dan 23 Juni 1972, Nixon dan Haldeman memperbincangkan kemungkinan menggunakan CIA untuk merintangi penyelidikan FBI, untuk mematahkan kesaksian Baldwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hunt dan Liddy harus dikorbankan, tetapi pemeriksaan dan peradilan “Tujuh Sosok Watergate” (lima penyadap yang ditangkap dulu ditambah Hunt dan Liddy) terlanjur dijadwalkan Januari 1973. Memang waktu itu menguntungkan, karena dilakukan sesudah pemilihan November 1972.Masih cukup waktu untuk memenangkan Pemilu dan menghanguskan semua bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan perhitungan waktu itu, Nixon tetap bisa menang. Karena partai Demokrat sedang kocar-kacir. Di bulan Juli Demokrat harus melepaskan calon wakil presiden mereka, Thomas Eagleton, karena diopname di rumah sakit sampai tiga kali. Dia disinyalir kelelahan dan kehabisan tenaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya penghalang adalah calon pesiden Demokrat, George McGovern, yang antiperang. Sementara Nixon sangat mendukung perang dan itu bisa mengurangi dukungan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam situasi itu Nixon masih diuntungkan. Jarak antara persidangan sampai pemilihan berbulan-bulan, dan waktu itu cukup untuk menegosiasikan keterlibatan AS dalam perang Vietnam. Kalau Nixon bisa “menyelesaikan” masalah perang itu, misalnya merampungkannya di meja negosiasi, sangat masuk akal kalau dia berhasil meraih simpati untuk meraup dukungan dan menjabat untuk periode kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di dalam pengadilan, McCord dan Liddy mengaku tak bersalah soal penyadapan. Tapi di menit terakhir, Hunt tiba-tiba mengubah pengakuannya jadi bersalah (mengingatkan pada pengakuan mengejutkan Wiliardi Wizar dalam kasus pembunuhan yang diduga melibatkan Antasari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara selama pemeriksaan, hakim John Sirica yang memimpin sidang kasus itu, dibuat jengkel oleh para penuntut pemerintah (jaksa) yang kentara betul memperlakukan terdakwa dengan halus dan lembut hanya karena yang berperkara dekat dengan pemerintahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengadilan itu tak terpantau, dan nyaris muncul kesimpulan kalau pembobolan dan penyadapan Watergate benar-benar hanya melibatkan ketujuh orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pemberitaan pers, sebagian besar dari Washington Post, kekeuh mengindikasikan kalau semua penyadap yang diadili itu berhubungan dengan Gedung Putih. Dan pembobolan Watergate hanyalah sebagian dari program tipu daya terkait pemilihan November 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Akhirnya; Terlalu &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kasus ini ramai, Direktur FBI Edgar Hoover, yang dianggap sebagai ancaman oleh Nixon, meninggal bulan Mei 1972.  Nixon ingin agar jabatan yang ditinggal Hoover dipegang Patrick Gray, orangnya sendiri. Apalagi maksudnya kalau bukan untuk melindungi misinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kasus ini kian panas, Gray menghadap Komite Ervin, sebuah komite yang dibentuk untuk mencari fakta sebenarnya skandal ini (mirip Tim 8 di Indonesia sekarang) dan Senat. Di sana dia mengungkapkan FBI gagal menginterogasi saksi-saksi kunci dalam kasus Watergate. Gray ingin melindungi Nixon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat bersamaan, penasehat presiden, John Dean, turut serta dalam wawancara dengan personalia Gedung Putih. Pers pun menyorot Dean, orang yang diduga membuat skenario upaya penyembunyian aktivitas penyadapan. Dean dipanggil untuk memberi kesaksian kepada Senat, tapi menolak. Nixon pun mengatakan dia tidak membiarkan stafnya memberi kesaksian dengan alasan hak istimewa eksekutif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ervin, Ketua Komite pencari fakta kasus tersebut, mengingatkan bahwa staf Gedung Putih bukanlah bangsawan atau anggota kerajaan. Jika mereka tak patuh pada panggilan tertulis menghadap pengadilan, dia akan mengusulkan Senat mengeluarkan surat perintah agar mereka ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 23 Maret 1973, hakim Sirica menjatuhkan hukuman yang kejam pada komplotan Watergate; 30 tahun untuk Liddy, 35 tahun buat Hunt, dan 40 tahun buat Barker, Gonzalez, Martinez dan Sturgis. Total masa hukuman mereka semua adalah 225 tahun !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 30 April 1973, atau beberapa bulan setelah dia terpilih kembali untuk periode kedua kepemimpinan, Nixon tampil di TV menyikapi vonis itu. Lagi-lagi dua berusaha menjual kesan bersih. Menurut dia, ada suatu upaya untuk menyembunyikan fakta-fakta dari masyarakat umum. Pembobolan itu, katanya, adalah ”tindakan bodoh dan ilegal”. Masih saja dia berusaha berkelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak ada implikasi apa pun mengenai perbuatan curang pribadi di pihak mereka (penyadap),” kata Nixon. ”Saya akan melakukan apa pun dalam kuasa saya untuk memastikan bahwa yang bersalah mendapat hukuman setimpal”, katanya manis dengan mimik serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak boleh ada yang menyembunyikan kejahatan di Gedung Putih”. (Ucapan ini mengingatkan kita pada salah satu sosok utama negeri ini saja, yang menyerahkan konflik KPK-Polri dalam jalur hukum dengan dalil menghormati supremasi). Sayang, tidak ada orang yang mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Nixon tak bisa berkelit terlalu lama. Pada 23 Agustus 1973, hakim Sirica memerintahkan agar sang Presiden menyerahkan rekaman delapan percakapan, setelah Sirica mendapat informasi dari Baldwin kalau Nixon punya rekaman itu. Nixon sempat menolak, tapi setelah mendapat banyak tekanan bertubi, akhirnya dia mau menyerahkan kesimpulan rekaman tadi. Bukan dalam bentuk rekaman asli yang utuh, hanya kesimpulan. Dan rekaman itu dianalisa oleh John C Stennis, seorang senator yang setengah tuli dari Mississippi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi terhadap pembeberan hasil sadapan ini sangat luar biasa. Jutaan surat dan telegram protes mengalir ke Washington. Untuk pertama kali Kongres mempertimbangkan agar Presiden diperiksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 10 Oktober 1973, wakil presiden AS yang sangat piawai berpidato, Spiro Agnew, mengundurkan diri setelah mengaku nolo contendre (tidak ada gugatan) terhadap tuntutan dia menerima jutaan dolar uang suap dari banyak kontraktor, waktu dia menjabat sebagai Pelaksana Kepala di Baltimore, awal tahun 1960-an. Sebagai ganti Agnew, Nixon menunjuk Gerald R Ford, pria yang membosankan tapi aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keputusan memilih Ford malah mengancam riwayat politik Nixon. Menurut perhitungannya, Ford bukanlah sosok yang berbahaya, yang bisa menunggangi situasi untuk menggesernya. Tapi penilaian publik berkata lain. Ford dirasa alternatif yang pantas menggantikan Nixon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 23 Oktober, Nixon menyerahkan rekaman yang diminta hakim Sirica. Di saat bersamaan dia terisolir dan kehilangan semua penasehat terbaiknya. Dia juga tidak berani bicara dengan siapa pun. Bahkan, Kepala Staf Gedung Putih yang baru, Jendral Alexander Haig, lebih setia pada Menteri Luar Negeri Henry Kissinger, bukan pada Nixon. Kissinger satu-satunya dari beberapa petinggi yang tak tercemar skandal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan semakin buruk. Pada 21 November, penasehat Gedung Putih J Fred Buxhardt harus menyampaikan berita memalukan di persidangan; 19 menit pertama dari tape yang disita Sirica ternyata terhapus. Padahal di bagian itu berisi percakapan penting saat Nixon kembali ke Gedung Putih setelah pembobolan Watergate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini terjadi ketika Rose Mary Woods, sekretaris yang sudah lama bekerja dengan Nixon, tak sengaja menghapusnya. Nixon tak bisa berkelit. Kongres tak bisa mentolerir lagi. Akhirnya dilakukan voting, dan suara yang diperoleh menyebutkan; 401 mendukung bukti telah terjadi skandal, sedangkan 4 menolak. Tapi situasi ini tak mempengaruhi kemenangan Nixon di periode kedua. Karena, lagi-lagi, Demokrat si rival utama sedang semrawut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pemilihan, Komite majelis Yudisial mulai membuat rancangan untuk memeriksa Presiden. Haldeman, Ehrlichman, Strachan, Mitchell dan Colson –orang-orang kepercayaan Nixon– semuanya dituntut Juri Agung karena berkomplot, bersumpah palsu dan merintangi keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 30 April 1974, atau baru berjalan beberapa bulan jabatan periode kedua Nixon, si Presiden berusaha mengumumkan transkrip yang terdiri atas 200.000 kata ke publik. Maksudnya untuk memperbaiki citranya dan menunjukkan kalau dia sama sekali tak bersalah. Sama sekali tidak membantu Nixon. Malah timbul pertanyaan publik; cara apalagi ini untuk membenarkan kesalahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Nixon benar-benar habis ditelan gelombang mosi tak percaya. Dalam proses lanjutan kasus ini, Hakim Sirica mengungkapkan, ketika Haldeman dan kawan-kawan dituntut, mereka menyebut Nixon sebagai bos komplotan. Tapi tuntutan tidak bisa lugas diajukan karena Nixon masih presiden yang menjabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukulan mematikan malah datang dari Kejaksaan Agung, yang dalam keputusan memaksa Nixon menyerahkan semua rekaman yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Presiden tak bisa berkelit lagi. Di salah satu rekaman percakapan pada 23 Juni 1972, Nixon memerintahkan Haldeman mengarahkan CIA agar merintangi pemeriksaan FBI soal sumber uang untuk pembobol Watergate. Sebelumnya Nixon menyembunyikan keberadaan percakapan itu, bahkan dari pengacaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skandal memalukan pun kian terbuka vulgar. Buzhardt, Haig, Kissinger dan penasehat Nixon, James St Clair, mengusulkan agar Nixon mengundurkan diri. Tapi pengaruh Republik pro-Nixon di Kongres rupanya masih cukup kuat. Ketika pengunduran diri diajukan, Kongres tidak setuju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu diadakan briefing tertutup; para pemimpin partai Republik memberi tahu Nixon bahwa 425 dari 435 anggota Kongres akan memberi suara untuk pemeriksaan, dan hanya selusin senator akan menentang hukuman untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gong berbunyi 8 Agustus 1974. Nixon menyampaikan pidato yang membanggakan prestasi-prestasinya di bidang kebijakan luar negeri, sekaligus mengumumkan pengunduran dirinya. “Saya sudah tidak punya landasan politik yang kuat dalam Kongres,” dalilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah itu, dia resmi mengundurkan diri dan Gerald R Ford, wakilnya, jadi presiden AS pertama tanpa pemilihan dan tanpa wakil presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, inilah, skandal mahabusuk untuk merengkuh kekuasaan. Terbongkar karena banyak peristiwa janggal, menguatnya nuansa manipulasi, dan fakta-fakta yang diedit. Tapi, seperti peribahasa Indonesia; “Sepandai-pandai menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu kita petik dari kejadian nyata paling menggemparkan dunia hampir empat dekade lalu itu adalah; akumulasi kebohongan, pemelintiran fakta, kesaksian palsu, pemanfaatan undang-undang untuk memuaskan hawa nafsu pribadi akan bermuara pada satu hal; kehancuran yang memalukan.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv73hri9HdI/AAAAAAAAARM/nhgwapVqFj4/s1600-h/Richard-Nixon-leaving-white-house.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv73hri9HdI/AAAAAAAAARM/nhgwapVqFj4/s320/Richard-Nixon-leaving-white-house.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;NB:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;Semoga saja skandal seperti ini tak pernah terjadi di Indonesia. Kalau sampai situasi sekarang berangkat dari pola yang sama dengan aib Watergate; sungguh terlalu.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-1683200481423358813?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/1683200481423358813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/skandal-watergate-trik-konyol-presiden.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1683200481423358813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/1683200481423358813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/skandal-watergate-trik-konyol-presiden.html' title='Skandal Watergate:  Trik Konyol Presiden Paranoid'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Sv73U0E4nkI/AAAAAAAAAQ0/-YFBlJBRgsU/s72-c/richard-nixon-scarface.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-7949958213438129383</id><published>2009-11-13T12:56:00.002+07:00</published><updated>2009-11-13T13:19:25.911+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opiniku'/><title type='text'>Rani si Penyelamat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svzz6dfGNYI/AAAAAAAAAQU/YUNNODzAiCk/s1600-h/rani-juliani1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svzz6dfGNYI/AAAAAAAAAQU/YUNNODzAiCk/s320/rani-juliani1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SIAPA &lt;/b&gt;sih Rani Juliani? Caddy dengan daya pikat kelas wahid? Istri ketiga seorang pejabat yang terbunuh? Perempuan yang sangat istimewa sehingga harus diistimewakan? Atau malah hanya sosok cadangan yang harus selalu tampil di tengah situasi genting? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru rentetan pertanyaan yang tak juga menemukan jawaban pas inilah membuat perempuan kelahiran (katanya) 22 tahun lalu itu terkesan menarik dan seksi untuk disimak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan Rani bak sebuah pola yang selalu terulang. Kalau dianalisa secara konotatif namun logis, bisa jadi penampakan perempuan, yang bahkan lebih top dari Luna Maya, itu adalah modus sebuah upaya menarik perhatian khalayak ketika ada yang merasa kurang diuntungkan oleh sebuah situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Peredam Megakoalisi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svz0nsd5TyI/AAAAAAAAAQs/bvipmcV0750/s1600-h/caddy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svz0nsd5TyI/AAAAAAAAAQs/bvipmcV0750/s200/caddy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Berawal dari tembusnya kepala Nasrudin Zulkarnaen oleh dua timah panas, medio Maret lalu. Usut-punya usut, kata polisi kasus ini didalangi Antasari Azhar, si kumis eks bos Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Usut punya usut lagi, ada upaya mengarahkan pangkal kasus ini adalah rebutan perempuan muda bernama Rani Juliani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu mungkin muncul pertanyaan seragam bernada kejut di benak khalayak; siapa sih perempuan itu? Seistimewa apa, sampai dua pejabat kelas atas berebut dia sampai saling mencabut nyawa? Malah penasaran inilah yang membuat Rani jadi sosok istimewa yang harus dicari tahu siapa dan bagaimananya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal April lalu, disadari atau tidak, fokus pada Rani membuat publik abai pada upaya megakoalisi partai-partai gede menjelang Pemilu –sebuah fenomena yang tampaknya bakal mengubah wajah peta perpolitikan Tanah Air secara frontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu pula incumbent mengaku ketar-ketir di depan banyak orang, dan mengaku partainya yang menjawarai Pemilu Legislatif dikeroyok. Ekspresinya melas tapi dipaksakan sopan dan terpelajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi wajar saja incumbent dagdigdug. Karena, kalau partai-partai besar benar-benar menggalang koalisi supersangar, si jawara Pemilu bisa “dihabisi” di parlemen, tak punya kekuatan politis. Bisa juga keok di Pemilihan Presiden karena kurang dukungan dari mesin partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika beliaunya merasa kepepet itulah tiba-tiba muncul skandal Antasari dengan lakon “Berebut Rani Juliani”. Hikayat si perempuan pun lebih menarik daripada megakoalisi. Rani muncul sebagai penyelamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika situasi sudah mulai baik-baik saja, di mana megakoalisi kempes tanpa sebab musabab yang jelas diurai di depan publik, Rani ditarik dari peredaran. Dia kembali dibungkus oleh… Entahlah. Katanya diamankan polisi demi keselamatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penawar Ucapan Pahit &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svz0AByTE8I/AAAAAAAAAQc/w-MPnJ6_wdY/s1600-h/Rani+di+Polda.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svz0AByTE8I/AAAAAAAAAQc/w-MPnJ6_wdY/s200/Rani+di+Polda.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Di balik halimun misterinya, bagaimana pun juga Rani adalah sosok yang menarik dan ampuh memancing penasaran. Apalagi di tengah gelombang pertanyaan publik yang tak kunjung terjawab ketika dia terkesan dihilangkan. Tanpa disadari, penasaran massif itu dielus-elus di alam bawah sadar publik dan siap menyeruak kapan pun ketika Rani tampak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Juni, Presiden keseleo lidah. Dalam kunjungan di redaksi Kompas, dari mulut bapak yang merasa harus dihormati itu muncul pernyataan pengundang protes; “KPK terlalu superbody dan harus diwaspadai”. Ada ketakutan yang dipaksakan, dikemas dalam ucapan santun, agar terkesan akademis. Tapi, tetap saja kekhawatiran itu tak bisa sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terbitlah wacana Presiden takut KPK. Lalu digiringlah isu menjadi ada upaya Presiden membatasi KPK. Ada juga yang mengaitkan pernyataan ini dengan upaya balas dendam karena merasa telah dipermalukan komisi ketika Aulia Pohan, besannya yang mantan deputy Bank Indonesia itu, dijebloskan ke bui gara-gara korupsi. Bapak yang doyan jual citra itu merasa KPK menodai kehormatan trahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan itu seolah didukung BPKP yang berusaha masuk mengaudit KPK untuk menelisik kewenangan menyadap dan pengadaan alat untuk keperluan mengumpulkan informasi. BPKP menerabas pagar dengan berusaha menyeruak ke dalam tubuh institusi independen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mengejutkan lagi, ketika itu muncul pernyataan dari Kepala BPKP Didi Widayadi bahwa upaya asal terabas itu atas permintaan lisan Presiden. Nah, kalau dua fakta yang tampil terpisah itu dijahit jadi satu, muncullah kesimpulan; “Presiden takut KPK yang superbody dan memerintahkan BPK untuk mengaudit komisi dan mencari-cari kesalahannya. Tujuannya adalah untuk menggembosi pembasmi koruptor itu.” Yah, lagi-lagi beliaunya terpojok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya tangkal sana-sini, klarifikasi pinjam mulut Arnas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Hatta Rajasa sampai Sudi Silalahi tak membuahkan hasil. Telunjuk banyak orang tetap saja mengarah pada dugaan upaya picik sang Kepala Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di tengah situasi krodit seperti itu, simsalabim, Rani yang diperam sekian lama tiba-tiba muncul di Polda Metro Jaya, 26 Juni. Penasaran publik tentang Rani, yang terpendam di alam bawah sadar selama sekian pekan, pun terpancing lagi mencuat ke permukaan. Atensi dipaksa berpaling kepada the special woman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya sejak kasus pembunuhan Nasrudin mencuat si saksi kunci diperiksa polisi. Animo lebih tertarik ke situ, tudingan pada Presiden pun dihela sejenak. Lagi-lagi Rani muncul sebagai penyelamat. Dan pada perkembangannya, isu upaya menggembos komisi antikorupsi pun sirna digilas pesona Rani. Lagi-lagi, setelah semuanya baik-baik saja, Rani dikandangkan lagi. Penasaran massa yang belum tuntas dininabobokan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyelamat Citra&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svz0BbaNyfI/AAAAAAAAAQk/9E6iT5_SRpY/s1600-h/Rani+di+dalam+sidang.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="190" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svz0BbaNyfI/AAAAAAAAAQk/9E6iT5_SRpY/s200/Rani+di+dalam+sidang.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Lima bulan berselang, pola lama berulang lagi. Ketika perkara Bibit Samad Rianto-Chandra Hamzah versus Polri dan Kejaksaan Agung mencuat, skandal berkelindan dan sampai pada hipotesa adanya kepentingan menghabisi KPK, Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan Presiden memunculkan berbagai macam rekomendasi yang cukup berani. Antara lain; hentikan kasus Bibit-Chandra dan copot Kabareskrim Susno Duadji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik menunggu respon dari orang nomor satu di negeri ini. Tapi lagi-lagi rakyat harus kecewa. Seperti yang sudah-sudah, Presiden memilih bersembunyi di balik tameng regulasi supremasi dan menjual kesan banci daripada melayani arus desakan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakjantanan Presiden pun memantik berbagai macam reaksi. Yang paling telak adalah; desakan mundur! Presiden dinilai tak becus menangani konflik berskala luas di dalam negeri. Konstelasi politik kian memanas. Di saat bersamaan sidang kasus Antasari digelar lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan Wiliardi Wizar, mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan itu membuat polisi –yang terpojok dalam kasus pemidanaan Bibit-Chandra– kian terimpit. Kasus Antasari adalah rekayasa. Kalau sampai perkara ini benar dibuat-buat, bisa jadi tak pernah ada konflik perkara seksual antara Antasari dan Nasrudin –yang sedari awal diduga sebagai pangkal tragedi ini. Cerita berebut Rani bisa jadi dilikuidasi. Muncul pula asumsi Rani selama ini disembunyikan untuk dicuci otak demi kepentingan polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara rakyat berkumandang kian santer: Presiden harus mengambil tindakan tegas atau mundur! Presiden tak juga berbuat sesuatu. Kredibilitasnya kian anjlok. Kepercayaan publik kian nadir. Di tengah situasi seperti itu, dan… Rani pun muncul lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menampakkan diri untuk mematahkan tudingan konspirasi dalam pembunuhan Nasrudin yang dilontarkan Wiliardi di depan majelis hakim. Sehari sebelumnya dia batal hadir dengan alasan sakit. Di depan meja hijau dia membangun sebuah wacana di depan publik, memastikan tak ada rekayasa atau tekanan polisi dalam kasus ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani, yang dari awal diposisikan sebagai saksi kunci, pun bernyanyi. Dan pertama kalinya dalam sejarah perempuan yang katanya cantik, tapi pada kenyataannya tak begitu memesona ini, menggelar konferensi pers. Dia dimunculkan vulgar di hadapan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran yang belum tuntas, yang sempat tertidur di alam bawah sadar khalayak, pun bangun lagi. Semua fokus pada Rani. Pernyataannya bahwa benar-benar ada pelecehan seksual dari Antasari di Hotel Grand Mahakam, dan memancing kemarahan Nasrudin –yang dari awal disinyalir sebagai musabab pembunuhan– muncul di depan layar televisi. Publik pun kembali gamang; apakah Wiliardi bohong? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di balik jubelan pertanyaan yang lagi-lagi belum terpuaskan itu, setidaknya atensi publik terpancing oleh pentas perdana perempuan itu. Dan setidaknya, desakan mundur atau caci maki pada Presiden teredam kembali. Beliaunya bisa agak tenang, senyam-senyum jalan-jalan di Negeri Jiran di tengah kecamuk yang mengancam kesatuan negara yang dia pimpin. Semua berkat pesona Rani Juliani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi si caddy menyelamatkan”Pemimpin Negeri”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-7949958213438129383?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/7949958213438129383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/rani-si-penyelamat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7949958213438129383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/7949958213438129383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/rani-si-penyelamat.html' title='Rani si Penyelamat'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svzz6dfGNYI/AAAAAAAAAQU/YUNNODzAiCk/s72-c/rani-juliani1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-8256684891569683839</id><published>2009-11-11T14:28:00.000+07:00</published><updated>2009-11-11T14:28:57.574+07:00</updated><title type='text'>Tumbal Hasrat Sang Pangeran</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SvpnZ0BswQI/AAAAAAAAAQE/aWNpyVApiQI/s1600-h/Father-%26-Son.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SvpnZ0BswQI/AAAAAAAAAQE/aWNpyVApiQI/s320/Father-%26-Son.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;LEGENDA&lt;/b&gt; Troya memberikan pelajaran pada kita; ketika hasrat menjadi dominan, semuanya bakal tumpas sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paris, sang Pangeran Troya, atas nama hasrat libidonya membawa kabur Hellen, istri Minelaus salah satu penguasa Sparta. Pencurian asusila itu terjadi ketika Troya-Sparta terikat perjanjian damai dan tak akan saling melukai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paris tak pikirkan dampak untuk politik dan negerinya. Seolah-olah, ketika mengambil keputusan memalukan itu, dia mendegradasikan logika dan mendewakan hasrat. Lalu, tumpahlah darah di Troya karena hasrat yang tak tahu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan celakanya lagi, ada definisi yang janggal dalam benak sang Raja Troya, ayah Paris, dalam menyikapi hasrat anaknya itu; harus dibela atas nama kehormatan. Sang ayah terlalu sayang anak, dan memutuskan perang, kendati kelakuan anaknya itu menerabas traktat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah memang ketika seorang ayah membela anak. Tak salah seorang kepala keluarga mengatasnamakan kehormatan ketika mengambil sikap untuk menjadi tameng, entah bagaimana pun kelakuan sang anak. Hasrat kasih sayang lah yang jadi garda depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika keputusan itu berdampak massif, apakah pantas sebuah keputusan dicomot serampangan? Apakah tak ada tanggungjawab Raja sebagai seorang pemimpin untuk mengambil keputusan bijak, dan dengan jiwa besarnya mengakui kesalahan anak lantas membiarkan hukum berjalan semestinya? Apakah tak ada pertimbangan untuk mengesampingkan hasrat, atau “kehormatan” yang didefinisikan dengan cara yang aneh itu, demi perdamaian umat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantaskah Sang Raja Troya mengerahkan ribuan pasukan penumpas kelas wahid untuk membentengi upaya anak lelakinya, yang secara kurang ajar berikhtiar memenuhi kebutuhan memanjakan kemaluan itu? Dari kacamata kepatutan, patutkah apa yang diputuskan sang raja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat memang liar, tapi dia tumbuh di setiap manusia. Dia mendorong umat untuk berbuat semaunya. Dia menjelma dalam berbagai bentuk; seksual, kekuasaan, kenikmatan. Dia tak pernah bertemu puas. Sigmund Freud merangkumnya dalam Id. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh hari Aristoteles bahkan sudah memperingatkan ancaman laten itu. Karena itu pula perlu dilahirkan sebuah regulasi, penting dibentuk sebuah kesepakatan agar dorongan itu tak liar-liar amat. Dan karena itulah lahir hukum, sebuah upaya untuk mengendalikan hasrat. Sigmund Freud mendefinisikannya dalam superego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hasrat meliar, hukumlah yang harus bertindak cekatan. Hukum, apa pun bentuknya, adalah pawang penjinak hasrat. Karena itu hukum ditempatkan di atas hasrat, agar masyarakat tertata dalam sebuah koridor nan harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika hasrat kian menggila, menegasikan hukum atas nama kepuasan, Troya lah contoh tragedi yang paling pantas dirujuk. Libido sang pangeran berkolaborasi dengan hasrat “mempertahankan kehormatan” sang raja, bertemu dan melahirkan sebuah perang mahadahsyat. Banyak korban. Banyak yang ditumbalkan. Kedigdayaan Troya ditutup dengan kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;… Semoga saja Indonesia tak lumat karena hasrat “Sang Pangeran” … &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;… Semoga… &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;… Karena amatlah memalukan ketika negara sedigdaya Indonesia ini tumpas karena hasrat tak tahu diri dari pemuda bodoh yang gila kekuasaan dan hanya bisa bersembunyi di balik ketiak sang Bapak, yang selalu ingin tampak terhormat…&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svpnb8sT59I/AAAAAAAAAQM/vyLDHLwewqU/s1600-h/Tampere_war_victims_1918.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/Svpnb8sT59I/AAAAAAAAAQM/vyLDHLwewqU/s400/Tampere_war_victims_1918.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1221739373651383362-8256684891569683839?l=tofikpram.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tofikpram.blogspot.com/feeds/8256684891569683839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/tumbal-hasrat-sang-pangeran.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/8256684891569683839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1221739373651383362/posts/default/8256684891569683839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tofikpram.blogspot.com/2009/11/tumbal-hasrat-sang-pangeran.html' title='Tumbal Hasrat Sang Pangeran'/><author><name>Jagat Imajinasi Tanpa Batas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12848714927261017615</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-pBcgz6ifXFA/Tug69VdBNvI/AAAAAAAAAcA/IvhRbYJ0SW0/s220/229627_2266991120171_1410331960_32622766_2159444_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cNh0s-si0dw/SvpnZ0BswQI/AAAAAAAAAQE/aWNpyVApiQI/s72-c/Father-%26-Son.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1221739373651383362.post-7579739884741694698</id><published>2009-11-09T17:58:00.003+07:00</published><updated>2009-11-09T18:47:34.793+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekitar Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buka Mata'/><category scheme='http://www.b
