Thursday, December 15, 2011

Pohon Mangga di Depan Rumah

SEISI kampung tahu kalau pohon mangga di depan rumah, yang ditanam Bapak lebih dari sepuluh tahun lalu itu, adalah pohon paling dahsyat. Setiap kali berbuah, selalu saja bikin keki yang melihat. Mangganya gumandul, sangat lebat. Bahkan bisa saja jumlah buahnya nyaris sama dengan daunnya.

Antara dua-tiga bulan lalu adalah puncaknya musim mangga. Pohon di depan rumah begitu seksi. Sangat menggoda. Tetangga kanan-kiri pada melirik. Orang luar kampung yang melintas di depan rumah selalu menancapkan pandangan pada pohon itu. Mereka terkesima.

Saudara-saudara dan sahabat pun demikian. Jauh-jauh mereka datang, berkumpul, bersenda gurau, berbagi cerita di rumah kecil kami ini sambil menyinggung-nyinggung mangga yang begitu wah itu. Karena mangga itu tidak mungkin habis kami makan sekeluarga, kami membagikannya.

Bapak tidak pernah berniat menjualnya, padahal tak cuma sekali-dua kali pemborong menawarnya. Kata Bapak, mangga itu adalah rezeki yang harus dibagikan, bukan diuangkan.

Tuhan menumbuhkan mangga itu untuk merekatkan dan mengikat persaudaraan. Saudara dalam bentuk luas, yaitu orang-orang yang mau bersama kita, siapapun itu; saudara kandung, kerabat, tetangga, kawan, kenalan, rekan kerja, siapapun itu. Kerekatan itu bisa dibangun dengan berbagi. Salah satu caranya, membagikan buah musiman tersebut.


Bapak mengajarkan berbagi, bukan jual beli. Berbagi akan melahirkan sebuah hubungan dan pengertian yang berumur panjang. Sedangkan hubungan jual-beli akan berhenti jika sudah tak ada lagi transaksi, tak lebih dari itu.

Dan memang, sejauh pohon mangga depan rumah berbuah, banyak yang datang ke sini. Kami menikmati bersama-sama manisnya buah itu. Kami seperti benar-benar terikat. Dan mangga itu hanyalah perantara, bukan inti dari ikatan itu. Tapi tetap saja ampuh. Kami senang.

Kami optimistis, karena kami bersama-sama. Sudah sewajarnya manusia merasa aman dan nyaman dalam kebersamaan, karena makhluk satu ini selalu tidak siap untuk hidup sendiri –sekiranya itulah kesimpulan para maestro psikologi behavioris.

Sekarang....

Musim mangga telah berlalu. Buahnya habis. Tak ada lagi yang bisa dinikmati. Daun-daun pohon idola di depan rumah itu kering dan meranggas. Rontok, untuk kemudian digantikan daun-daun muda yang akan meneruskan proses fotosintesis menuju musim mangga berikutnya.

Dan saya harus sendirian membersihkan rontokan daun-daun kering itu. Semua memang kewajiban saya sebagai yang bertanggung jawab terhadap rumah. Membersihkan sampah daun mangga, merawat pohonnya, menyiramnya jika hujan tidak turun, dengan harapan dia mau berbuah lagi musim depan. Sehingga ada lagi yang datang kembali ke sini.

Kehidupan memang sebuah siklus. Begitu juga yang diintepretasikan pohon mangga di depan rumah. Ada saatnya berbuah, ada saatnya meranggas, ada saatnya tumbuh. Tapi, kadang kita tidak siap menerima sirkulasi itu. Terutama ketika sampai pada tahap meranggas.

Kita begitu optimistis ketika berbuah, namun gembos ketika meranggas. Padahal, meranggas bukanlah tujuan akhir. Itu adalah salah satu proses untuk menuju musim buah berikutnya. Jika kita tangguh dalam merawat ranggasan itu, memelihara pohonnya dengan telaten dan penuh harapan, sangat mungkin musim depan buahnya lebih dahsyat. Hanya saja, tak banyak yang bisa bersabar menunggu musim depan.

Tuhan memberi pelajaran pada manusia melalui isyarat seisi alam semesta ciptaan-Nya. Dan saya berusaha belajar pada pohon mangga di depan rumah. Memandanginya sembari duduk di kursi sofa di depan rumah –kursi yang setia menemani almarhumah Ibu menikmati hari-hari terakhir beliau.

0 komentar:

Post a Comment

Loading...