Mindset keagamaan sekarang benar-benar mbeleset. Umat, yang mengaku sangat percaya Tuhan, malah sama sekali tak punya rasa takut pada dzat serba-Maha itu. Tapi lebih takut pada imam, se-mbeleset apapun ajarannya. Padahal, jelas-jelas seorang imam itu nggak ada apa-apanya dibanding Tuhan. Lha imam itu kan juga ciptaan Tuhan.Ini catatan kecil tentang ke-tak takut-an umat pada Tuhan, dan lebih memilih tunduk pada imam. Daripada jadi fitnah yang terkesan menjelek-jelekkan orang lain, saya contohkan saja diri saya sediri.
Sahibul hikayat, awal tahun ini, saya yang kebetulan punya hajat untuk “mencoba kenal” Tuhan mendapat bimbingan dari seorang imam. Orang ini rock ‘n roll abis. Dia selalu memandang Islam dalam koridor paling sederhana tapi mengena. Panggil saja namanya Mas Topan.
Dalam kondisi jiwa yang sangat terkoyak-koyak saya datang padanya minta petunjuk. Dengan tangan terbuka dia mengingatkan kembali saya pada syariat sebagai seorang muslim. Yang harus saya lakukan untuk menambal iman saya yang jebol adalah salat, baca Quranulkarim, selanjutnya puasa.
Ya saya nurut, lha yang merintah orang ngerti. Nurut, karena saya waktu itu merasa tidak mengerti apa-apa. Segala petunjuknya saya ho-oh saja. Disuruh salat, saya salat. Disuruh ngaji, saya ngaji. Disuruh puasa, ya saya puasa.
Pada suatu hari yang sangat terik, saya dianjurkannya menjalankan puasa sunah. Katanya, untuk membersihkan jiwa saya dan mendekatkan diri pada Sang Khalik. Puasa memang satu-satunya ibadah khusus untuk Tuhan. Sementara profit dari ibadah lain adalah untuk manusia sendiri.
Nah, di tengah-tengah acara puasa di hari yang begitu menyembelih tenggorokan itu, saya diajak Mas Topan berkeliling kota. Tepat jam 12 siang. Matahari sedang angkuh-angkuhnya. Saya nurut saja, lha yang minta imam.
Tiba-tiba dia mengajak saya mampir ke warung nasi sate-gule kambing. Padahal saya puasa! Lalu disuruhnya saya pesan.
“Monggo, Mas, sampean pesan saja,” kata Mas Topan.
“Lho, saya kan puasa? Nggak apa-apa to, Mas,” jawab saya bimbang tak karu-karuan.
“Sudah nggak apa-apa. Sekalian pesan minum,” katanya seolah-olah benar-benar yakin yang dikatakannya. Karena yang menyuruh imam, saya ya nurut. Lalu saya pesan makan-minum, dan batallah puasa saja dengan sengaja.
Usai makan, Mas Topan tanya pada saya, “Enak, Mas?” Ya saya jawab, “Iya, Mas,” dengan mimik innocent.
“Ya gitu itulah, Mas, orang Islam sekarang,” katanya tiba-tiba. Ya saya heran, kenapa tiba-tiba dia berkata begitu.
“Kenapa, Mas?” tanya saya dengan nada yang sangat kebingungan menangkap maksudnya.
“Orang Islam sekarang kebanyakan lebih takut pada imam daripada sama Gusti Allah. Lha sampean puasa itu kan yang merintah Gusti Pengeran. Untuk Gusti Allah. Sementara sampean makan itu yang nyuruh saya. Lalu, mana yang sampean turuti?” pertanyaan itu jelas menohok saya. Saya cuma bisa cengar-cengir...
Yah, memang begitulah. Perintah Tuhan seringkali diselewengkan hanya karena terlalu berkiblat pada imam. Kepercayaan tanpa disertai dalil kuat dan kecintaan kepada Tuhan malah membuat umat berbuat seenaknya sendiri. Dan umat lupa, bahwa Islam adalah agama orang berakal. Sementara terlalu membabi buta percaya pada imam tanpa pertimbangan rasio, jelas itu telah membunuh Islam dalam pikiran mereka.
Lalu terjadilah aksi bom bunuh diri, baik di Solo maupun Cirebon. Dalam Alquran, Allah jelas tidak pernah memerintahkan membunuh, kecuali untuk mempertahankan diri dan keyakinan. Islam melarang umatnya melakukan pembunuhan tanpa alasan yang haq. Allah Ta’ala berfirman:
“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS. Al-Mâidah:
Tapi, kenyataannya? Dalil itu dikesampingkan, lalu terjadilah suicide bomber Solo dan Cirebon. Itu dilakukan karena perintah imam, pimpinan mereka yang salah kaprah dalam memahami Tuhan dan ke-Tuhan-an.
Tapi, memang inilah yang terjadi sekarang.
Sepertinya kiamat memang benar-benar sudah dekat. Wallahualam.
0 komentar:
Post a Comment