Tuesday, June 21, 2011

Seharusnya...

DALAM situasi yang sama, setahun lalu mungkin saya akan mengumpat. Ya, karena menunggu adalah situasi yang paling tidak diharapkan. Apalagi tidak jarang menunggu itu harus berakhir dengan kecewa. Menunggu naskah yang tak jarang harus hadir dalam bentuk yang “mengerikan” kendati dalam proses pengerjaannya sudah terkawal penuh.

Tapi itu setahun lalu. Saat ini saya memilih untuk bersyukur dan bersabar. Toh, barangkali “anak-anak” masih mendapat rintangan di lapangan, persis seperti yang pernah saya alami di masa-masa itu. Maka dari itu, kini adalah saat yang tepat untuk memahami mereka, dan belajar untuk bersabar menghindari marah.


Karena setelah kejadian “yang itu” saya banyak belajar dan terngiang-ngiang terus oleh ucapan Benjamin Franklin: “Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu.” Dan itu memang sudah terbukti sahih. Dan hanya keledai yang harus terperosok ketiga kalinya di lubang yang sama.

Bersabar itu memang perlu, dan Alquran –kitab yang semakin saya yakini setelah saya pelajari dengan sungguh-sungguh –mengajarkan itu. Kemarahan tak akan menghasilkan apa-apa kecuali penyesalan yang berkesinambungan.

Seperti yang dialami Musa dalam petualangannya bersama Khidr, yang tertuang dalam Al-Kahf. Karena tak bisa mengendalikan kemarahan dan memilih untuk tidak bersabar, Musa pun urung mendapatkan ilmu dari Khidr. Padahal, sebelum mengikuti perjalanan spiritual Khidr, Musa sudah diperingatkan untuk bersabar dan tidak banyak bertanya agar ilmu kalam yang dianugerahkan Allah SWT pada Khidr bisa ditularkan pada Musa.

Dalam perjalanan itu, ada tiga momen yang membuat “ego kenabian” Musa mencuat dengan arogan. Khidr tiba-tiba melubangi dan menenggelamkan perahu yang baru saja ditumpanginya dengan Musa; membunuh seorang anak kecil yang bermain; dan membantu membangun tembok rumah seorang warga sebuah permukiman yang tak mau memberi bantuan pada Musa dan Khidr.

Musa melontarkan pertanyaan penuh emosi hanya karena melihat yang tampak, tapi lupa untuk menelaahnya. Memang, apa yang dilakukan Khidr itu sangat tidak berfaedah dan anti-agama. Merusak barang orang lain, membunuh, dan membantu orang yang jelas-jelas membenci mereka adalah hal yang menurut Musa harus dipertanyakan dan dikoreksi.

Tapi Musa lupa, kalau ilmu Khidr itu lintas-waktu. Dia tahu apa yang akan terjadi, di mana itu tidak diketahui oleh Musa. Khidr melakukan tindakan preventif yang tak bisa dipahami Musa karena sang nabi membunuh rasa sabarnya sendiri.

Perahu ditenggelamkan karena itu adalah milik dari rakyat sebuah negeri yang dipimpin oleh pemimpin lalim yang suka merampas. Khidr menenggelamkannya agar tak dirampas oleh si pemimpin.

Anak kecil yang bermain dibunuh karena, menurut ilmu Khidr, ketika besar nanti dia akan menjadi kafir dan membunuh kedua orangtuanya. Dan ketika anak itu dibunuh, orangtua si anak akan melahirkan seorang anak yang berbakti, patuh, dan mengerti agama.

Rumah warga sebuah negeri yang enggan membantu itu ditambal karena itu adalah rumah anak yatim yang berisi harta. Kalau tidak ditambal, harta itu akan dirampas penduduk yang serakah dan itu akan menyengsarakan anak yatim.

Kalau saja Musa tahu itu semua, tentu sebagai nabi dia tak akan marah. Tapi kenyataannya, seperti terkutip dalam Quran, dia memilih marah. Walhasil, ilmu lintas-waktu yang seharusnya bisa dia dapat lepas begitu saja. Marah telah mencuatkan egonya sehingga dia lupa kalau ilmu Khidr itu jauh di atasnya.

Hanya malu yang Musa dapat, situasi yang persis seperti dikatakan Benjamin Franklin berabad-abad kemudian.

Sabar itu memang perlu. Dengan mengendalikan tensi, banyak faedah yang akan didapat. Hati tidak akan meranggas, ilmu bermanfaat didapat, dan rezeki barokah pun diraih. Begitulah Quran mengajarkan bagaimana semestinya umat berbuat.

Dan dengan bersabar menunggu kiriman naskah, saya mengisinya dengan menulis corat-coret ini. Yang otomatis saya mendapat kesempatan untuk kembali mengasah kemampuan menulis saya yang hampir lapuk lantaran tak pernah saya asah selama satu semester penuh. Ini tentu bermanfaat untuk saya.

Seharusnya hidup itu memang harus dijalani dengan hati yang bersih.

Dan Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar....

0 komentar:

Post a Comment

Loading...