Monday, June 20, 2011

Give Thanks to Allah

SEBELUMNYA permisi; kalau saja saya boleh menyeberang-artikan kata “kutuk” dalam ranah denotatif, saya memilih kalimat ini: sepertinya Tuhan mengutuk saya untuk tak bisa lepas dari ide, komputer, dan cara mikir yang seringkali “gila” yang harus saya tuangkan dalam tulisan.




Yah, setelah satu semester penuh absen dari dunia tulis menulis, akhirnya saya kembali menjahit kata dan kalimat. Oleh suratan saya kembali “dicemplungkan” dalam dunia ini. Saya cukup terkejut sekaligus senang. Karena memang, setelah sempat “purik” ingin “siwak” dengan dunia ini, saya akhirnya ditampar oleh takdir bahwa saya “diharamkan” meninggalkan dunia yang pernah membesarkan sekaligus membenamkan saya ini.



Alhamdulillah, setelah sempat hancur karena kebodohan luar biasa, kemarahan-kemarahan yang malah mempermalukan diri sendiri, remuknya motivasi hingga menyisakan serpihan-serpihan debu yang diembus badai, Allah Ta’Ala masih memberi saya kesempatan untuk reborn. Dan saya pun semakin sadar bahwa idiom “Tuhan menyayangi umat-Nya” itu seratus persen tepat. Kaisar Semesta Alam tak pernah membiarkan umatnya terpuruk, selama masih ada upaya untuk mereparasi diri, hati, dan berbuat.



Masa-masa berat untuk menutup yang telah lewat alhamdulillah berhasil saya lalui dengan sehat. Bayang-bayang kedigdayaan yang harus saya bangun dari nol dan hancur dalam hitungan detik karena salah langkah sudah berhasil saya hapus. Memang belum semua, tapi setidaknya sebagian besar telah hilang. Itu cukup untuk membuat jiwa ini enteng. Lalu siap melangkah.



Yah, sekarang saya memang harus me-reply momen-momen seperti sepuluh tahun lalu, ketika semua harus saya bangun dari fondasi paling elementer. Start benar-benar nol. Tapi, wafatnya Ibu setelah tabah memendam sendiri sakitnya selama lima tahun, ketabahan dan suntikan semangat dari Bapak –pria idaman menurut mata saya –dan gerojokan sayang yang tak pernah habis dari kakak-kakak yang cantik, saya punya energi untuk terus berbuat dan berbuat.



Terutama Tuhan juga sudah membuka mata saya kalau TEMAN –orang yang datang saat kita jatuh, memapah kita untuk kembali belajar berjalan– itu benar-benar ada. Justru orang-orang yang dikirim Allah itu adalah orang-orang yang di masa lalu tak begitu saya anggap. Ternyata malah kehadiran mereka di masa-masa gelap saya adalah barokah dari Raja Semesta untuk saya. Dan ini membuat saya sangat malu pada Yang Punya Hidup, sekaligus mengucapkan terima kasih yang tak putus-putus pada-Nya.



Naluri saya pun tumbuh. Rentetan prestasi yang pernah dirampas oleh kezaliman subyektif saya, harus saya rebut kembali. Kalau sepuluh tahun lalu saya bisa melakukannya, tentu sekarang saya pun bisa.



Selama berpegang teguh pada Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim:



“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya. Adapun jika segumpal darah tersebut rusak, maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati,”



...insya Allah saya bisa.



Bersama dengan hidayah-Nya, bersama dukungan dan kasih sayang Ibu di Surga, bersama dorongan keluarga, bersama teman-teman berusaha untuk mengubah nasib sendiri.



Karena, seperti dalam QS Ar-Ra’d ayat 11;

“Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”



Bismillah, saya mulai kembali semuanya dari awal. Saya sedang kembali bermetamorfosa untuk kedua kalinya.



And I give thanks to Allah for this second chance. Hamdalah....

1 komentar:

Loading...