Sunday, November 07, 2010

Jangan Dulu Tutup Dolly 


Gang Dolly


Norma kesopanan rupanya sedang booming di Surabaya. Akhlak dibicarakan, dijunjung, bahkan disembah-sembah. Yang bertentangan dengan itu harus diberangus. Dan yang (lagi-lagi) jadi sasaran adalah kawasan wisata birahi paling top bernama Dolly.

Kondangnya sentra bisnis esek-esek ini rupanya membuat Surabaya risih. Masalahnya, lagi-lagi, soal citra dan norma. Soal ancaman terhadap moral generasi penerus. Surabaya yang di Indonesia ini memang masih "timur". Penganut dogma orientalisme yang memutuskan untuk bersikap kaku terhadap hal yang (dengan semena-mena) dikategorikan tak pantas. Dan seksualitas --yang dijual bebas di Dolly-- adalah salah satu ketakpantasan tersebut.



Dolly yang begitu kondang sampai ke luar negeri --bahkan ada pameo wisatawan manca belum "melihat Surabaya" sebelum menjelajah kawasan Jalan Jarak dan sekitarnya itu-- membuat pemerintahan "ngeri". Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengawali lontaran wacana tutup Dolly, didukung oleh Pemerintah Kota Surabaya yang berniat membuat risih para tamu "perempuan etalase" dengan memata-matai mereka via CCTV, sampai Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jatim pun menyerukan "berangus" maksiat di Dolly.

Yah, apapun itu, alasannya klise. Karena itu merusak akhlak, amoral, porno, atau apalah rentetan istilah jelek lainnya yang bisa "menciderai" citra Surabaya dan Jatim yang "nyantri" atau Nahdliyin. Parameternya adalah sesuatu yang tampak. Karena "lonte-lonte" diumbar di depan etalase, untuk dipilih, lalu disenggamai tanpa ikatan pernikahan yang itu diartikan dosa.

Ya cuma yang tampak itu saja. Citra kasat mata yang jadi dasar pemikiran "babat Dolly". Di saat bersamaan, peran lokalisasi buah karya seorang perempuan Belanda yang namanya diabadikan sebagai "merk" kawasan tersebut diabaikan.

Sudahlah, buka mata dan jujurlah pada nurani. Tanpa mengabaikan bahwa norma itu "penting", yang ujung-ujungnya adalah perintah agama, bukankah memelihara hidup dan menafkahi diri itu juga titah Sang Khalik? Bukalah kembali kitab suci agama apapun, dan Anda akan mendapati esensi pemahaman bahwa kehidupan adalah anugerah yang harus disyukuri dan dirawat.

Untuk merawat hidup perlu nafkah yang didapatkan melalui usaha dan memanfaatkan peluang. Kapitalisme, mau tak mau, telah menyebarkan pemahaman bahwa harus ada transaksi jual-beli kebutuhan untuk menghidupi diri.

Transaksi ilmu di lembaga pendidikan tempat para pengajar menafkahi diri, transaksi wacana di perusahaan media tempat para jurnalis berkarya, transaksi benda-benda konsumsi di pasar (tradisional maupun modern). Semua hal yang dibutuhkan manusia untuk bisa terus survive bisa ditransaksikan. Itulah fakta yang tengah dilakukan seluruh umat manusia di muka bumi. Tak terkecuali mereka-mereka yang ada di Dolly.
Seksualitas adalah salah satu kebutuhan manusia. Bahkan kebutuhan paling mendasar. Libido adalah id --meminjam istilah psikoanalis Sigmund Freud-- sifat dasar yang dibawa manusia secara naluriah dan bisa dilakukan tanpa dipelajari. Bersenggama adalah aktivitas paling purba yang sudah dilakukan sejak manusia diciptakan, sebelum ada aktivitas transfer ilmu.

Menurut telaah para cendikiawan humaniora dan genealogi, ada dua tujuan kenapa manusia berhubungan seks: menyalurkan energi positif untuk mencari kesenangan & berkembang biak demi eksistensi. Dalam pernikahan, dua tujuan itu terangkai dalam satu kesatuan: berusaha untuk eksis dengan cara menyenangkan.
Dalam beberapa situasi, setelah aktivitas seksual didefiniskan dalam aneka macam pandangan oleh manusia sendiri, kedua tujuan nge-seks tersebut tidak bisa berjalan seiring. Kebutuhan untuk bersenang-senang terpisah dengan tujuan berkembang biak. Alasannya macam-macam: bisa karena pasangan nikah tidak memuaskan, atau tidak bisa menemukan pasangan resmi karena berbagai macam persoalan (biaya nikah terlalu mahal atau selalu tak sepandangan dengan lawan jenis yang pernah merencanakan hubungan resmi, misalnya).

Ketika energi positif yang seharusnya disalurkan melalui aktivitas seksual terhambat, jadinya akan terkonversi dalam bentuk lain. Jika tersumbat bisa menumpuk dan mengarah ke arah destruktifitas.
Ambil contoh, untuk mengalihbentukkan hasrat bercinta yang tersumbat, orang melontarkannya dengan marah atau melakukan kekerasan. Setidaknya inilah hasil penelitian Freud yang dibuktikan dalam banyak kasus. Banyak perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, yang berujung perceraian (keputusan yang sangat dibenci Tuhan itu) terjadi karena ada pasangan yang bermasalah di ranjang. Intinya, hasrat atau energi seksual harus dipuaskan sampai tuntas.

Nah, untuk mengantisipasi kecenderungan buruk manusia-manusia yang kebingungan menuntaskan hasrat itu, sekaligus menjawab tuntutan kewajiban menafkahi diri, Dolly lahir. Kesenangan, kebutuhan manusia itu, ditransaksikan. Dalam kacamata perputaran modal, itu sah. Juga tak ada yang dirugikan. Yang membayar maupun dibayar sama-sama puas. Sama-sama senang.

Kapital juga berputar lancar di antara kesenangan itu. Selain para wanita tuna susila, ada tukang parkir, penjual makanan-minuman dan obat kuat, makelar jasa yang ikut menggerakkan roda perekonomian Surabaya. Orang yang awalnya luntang-lantung mendapat kegiatan yang menghasilkan. Kampung sekitar lokalisasi pun mencicipi manisnya dengan menerima sumbangan dari pemilik wisma untuk keamanan dan kegiatan kampung.

Ketika dalil yang dikemukakan adalah norma kesopanan, mungkin juga kurang tepat. Bukankah persetubuhan di Dolly berlangsung di tempat tertutup? Tidak diumbar di pinggir jalan yang bisa dilihat banyak orang layaknya topeng monyet kan? Dan itu artinya orang-orang di sana masih memperhatikan norma.
Kalau moral dan agama yang jadi senjata --karena persetubuhan dilakukan oleh sepasang manusia lawan jenis yang bukan muhrim dan para pemancing birahi dipajang dalam etalase yang dipandang sebagai sesuatu yang tidak pantas-- sepertinya itu juga tidak adil.

Moral seseorang, menurut Aristoteles, rusak ketika berperilaku menyimpang yang itu mencabik-cabik keselarasan sosial. Selama masyarakat tentram, berarti moral hidup dengan seharusnya Sepanjang sejarah berdirinya Dolly, tak pernah ada keresahan massif yang berujung pada kisruh massal yang bersumber dari situ. Malah tempat ini menarik minat wisata, dan itu artinya pemasukan untuk daerah. Sumbangsih dari aktivitas apapun di Dolly tak bisa dimungkiri telah ikut membangun Surabaya.

Ketika moral berpijak pada agama, ingat, ajaran tersebut menyerukan umat untuk merawat hidup. Dan itu yang dilakukan para pekerja seks Dolly. Banyak jalan mencari nafkah. Salah satunya menjual seksualitas yang memuaskan orang. Bukankah menyenangkan orang lain juga ibadah? Dolly memberikan "kedamaian". Justru kalau ditutup secara tergesa-gesa dengan alasan moral, bakal lahir sekelompok besar manusia yang mendadak amoral, berontak, menimbulkan keributan karena merasa hak menghidupi diri --yang digaransi UUD 1945-- direbut paksa.

Apalagi, seperti yang dilansir lembaga sosial Abdi Asih pimpinan Mbak Vera yang peduli Dolly, kebanyakan para pekerja seks adalah perempuan-perempuan kampung yang berniat menghidupi diri mereka sendiri tapi tak mendapat kesempatan di jalur "halal" karena banyak alasan.

Misalnya tingkat pendidikan atau kecakapan yang tak memenuhi syarat di instansi mana pun. Jangan langsung justifikasi itu terjadi karena yang bersangkutan malas. Tapi, masih menurut lansiran Abdi Asih, semangat mereka untuk berubah hanya didukung pemerintah (yang punya ide menutup Dolly) dengan setengah-setengah.

Seperti yang dikutip salah satu portal berita dari Mbak Vera, lembaga pelatihan milik pemerintah yang selama ini digembar-gemborkan sebagai pioner teknis untuk merealisasikan penutupan itu ternyata tidak optimal. Wahana itulah yang diharapkan bisa mengajarkan keterampilan pada para PSK, selain nge-seks. Tapi buktinya, "Lembaga pelatihan itu hanya memberikan pelatihan selama 1-3 bulan. Waktu itu kurang, terutama untuk PSK yang tak punya dasar sama sekali. Seharusnya paling tidak setahun," kata Mbak Vera.
Dinas Sosial Surabaya maupun Jatim juga masih gelagapan ketika ditodong data berapa PSK yang berhasil mereka entas dari "lembah nista". Pasalnya, dibanding rekan seprofesi yang masih "melacur", yang berhasil dengan keterampilan barunya hanya berkisar 5-10%. Tak efektif. Dolly yang segede itu baru layak ditutup kalau setidaknya 80% pekerja seks di dalamnya sukses alih profesi.

Selama lembaga tidak mampu menjalankan tugas dengan maksimal, sehingga PSK benar-benar punya keterampilan selain "menggoyang" tamu, tak perlu grusa-grusu menutup. Ketika "kepantasan sosial" diangkat sebagai senjata utama menutup areal prostitusi itu, apakah "pantas" pemerintah membiarkan mereka yang selama ini menafkahi diri dengan bersenggama itu keleleran tanpa kecakapan khusus?

Selama belum siap dalam banyak hal, janganlah dulu metutup Dolly. Karena, mau tak mau, mereka-mereka yang melacur itu sampai pada profesinya sekarang juga karena ulah pemerintah sendiri yang kurang (mau) cerdik merancang sistem pendidikan dan lapangan kerja yang "adil dan bermartabat".

Selama manusia-manusia udik masih berbondong-bondong ke pusat-pusat perputaran modal, seperti Surabaya, karena di asal mereka "nabrak tembok" ketika hendak menafkahi diri dengan keterampilan yang "harap maklum", untuk kaum perempuan yang masih sering tergencet kebijakan gender ala timur terjun ke dunia prostitusi adalah cara terakhir yang bisa dipilih agar bisa tetap hidup. Agar bisa merawat pemberian yang Kuasa, seperti yang selalu diserukan-Nya di kitab suci agama apa pun.

Dolly itu soal pencukupan nafkah dengan "cara terakhir yang terpaksa dipilih" karena lembaga negara ini malas mencukupi hak dasar warganya. Dolly hanya bisa ditiadakan ketika sistem sudah berbenah, bukan hanya gara-gara tuntutan dakwah.

Dakwah memang penting. Tapi nafkah jauh lebih penting. Kalau saja semua "balon" Dolly piawai berdakwah untuk mendapat nafkah, seperti mereka-mereka yang "risih" menyaksikan praktik prostitusi terbuka itu, areal wisata malam tersebut tentu tak akan pernah ada.

Para pendakwah itu mungkin lupa kalau manusia lahir membawa takdir dan perannya masing-masing. Tanpa orang-orang di Dolly, upaya dakwah itu hanya seruan biasa.

Sementara seksualitas adalah fakta yang tak bisa diingkari. Bahkan Tuhan sendiri yang menghendaki manusia berhubungan kelamin. Karena itu, ketika Adam kesepian, Dia menciptakan Hawa.

0 komentar:

Post a Comment

Loading...