Thursday, November 04, 2010

Cinta (Dengan "C" Kapital)


Surabaya hari ini terasa lain sejuknya. Kesegaran yang tulus, bukan hawa yang pura-pura dan berlalu begitu saja. Empat hari sudah aku memaksa lepas sementara dari rutinitas "yang itu". Menyepi, sengaja mengucilkan diri dari keramaian dan kebiasaan untuk selalu curiga. Begitu tenang. 
Dan hujan di Surabaya yang kubelah tanpa mantel --demi upaya meyakinkan diri kalau aku akan hidup lebih lama-- meyakinkanku bahwa sesuatu yang aku cari-cari selama ini tanpa sadar sudah aku dapat: Cinta (dengan "C" kapital).



Perasaan yang oleh dunia manusia didefinisikan sebagai muara dari segala keindahan itu begitu menggerojokku yang sedang kering. Keangkuhanku, yang pernah meleleh namun menguat kembali dan menolak segala tawaran "cinta" (terkutip karena artinya menyesatkan) yang terlontar dari mulut-mulut ingkar, mendadak luluh. Lalu aku pasrah begitu saja kepada Cinta (dengan "C" kapital) yang datang dibawa angin dari arah yang tak pernah aku duga.

Cinta. Tangkupan suasana yang aku cari selama ini. Penampung yang ikhlas ketika aku limbung. Rasa yang begitu tenang. Tanpa gairah. Tanpa tuntutan. Tanpa obsesi. Tanpa libido. Tanpa kalkulator.
Cinta itu dari Kakak.

Perempuan yang cantik di luar dan indah di dalam. Yang tiba-tiba saja datang ketika aku sedang terperosok dalam kesendirian yang muram. Saat aku berteriak-teriak memohon pada mereka yang pernah mengaku teman agar sudi membantuku yang sedang terjerembab --tapi tetap melenggang kian jauh dan hanya melemparku dengan uang seperti pengemis-- Kakak datang dari belakang, bersama sunyi, meraih ketiakku, lalu membantuku yang lunglai berdiri. Seperti mengajarkan bayi berjalan.

Ketika aku tak juga berdiri, dia tetap berusaha membantuku belajar tegak kembali. Energi yang habis tak membuatnya putus asa. Dengan kakinya sendiri yang mulai bergetar, dia tetap memapahku, meyakinkan aku bahwa aku bisa tegak seperti waktu itu. Ketika semua "teman" dengan segala ikrar tentang kesetiaan di masa laluku yang bersinar, menjauh dan hilang.

Ketika aku terjebak dalam pesimisme dan kesepian, ketika dia yang pernah berikrar "Aku akan menemanimu sampai mati," kabur begitu sinarku padam, Kakak datang seperti angin musim semi yang membawa dian. Hangat dan meniupkan semangat. Setahap demi setahap optimisme yang kosong mulai terisi.
Kakak yang tak pernah meminta secuil pun tawaku ketika aku sedang gembira, tapi selalu merebut semua tangisku ketika aku sedang megap-megap dalam sunyi. Dia yang tak pernah mengambil tempat dalam tiap pestaku, tapi selalu di sampingku ketika aku kelelahan mengemasi sendiri sisa-sisa kemeriahan yang tercecer sebagai remah-remah.

Lalu dia memelukku, mengelus-elus kepalaku. Sebelum aku berangkat tidur, dia selalu berbisik; "Kamu bisa, Le... Jadilah lelaki untuk keluarga... Kamu tidak sendirian. Kami selalu menyayangimu...". Lalu membiarkanku lelap dalam ketenangan dan mengumpulkan energi. Agar ketika bangun aku sanggup merapikan cita-cita yang porak poranda. Membangun kembali harapan yang hancur.

Hujan gemericik dan sepoi-sepoi yang melengkapinya hari ini pun membuatku harus menangis. Begitu angkuh aku selama ini menafikkan Cinta, bukan sekadar "cinta", dari Kakak. Cinta yang selalu datang bergemuruh meski tanpa suara. Yang memberi, tanpa meminta. Yang tak pernah datang ketika aku senang, tapi selalu hadir ketika aku sampai di titik nadir.

Surabaya yang panas ternyata masih memberikan tempat untuk sejuk. Nuansa yang begitu sedap hadir ketika akhirnya aku dapati sendiri pameo yang aku anggap hanya omong kosong, terlebih beberapa bulan ini, ternyata benar.

Cinta (dengan "C" kapital) hanya dimiliki orang yang datang ketika kita diombang-ambing sepi dan terjerembab dalam pesimisme yang ngilu. Bukan "cinta" (dikutip karena membawa makna yang menyesatkan) yang terlontar melalui mulut ketika kita dimanja kejayaan, tapi kabur begitu saja ketika roda kehidupan menggencet kita di bawah.

Terima kasih Kakak. Kalau mukjizat sudi datang lagi padaku, dan waktu masih sudi memberiku tempat lebih lama, Surabaya yang adem hari ini menjadi saksi: "Setiap tetes keringat dan air matamu untuk adikmu ini akan terbayar dengan kegembiraan yang meluap-luap ketika darah dan keringatku yang kau bangkitkan kembali menjadi laki-laki berbuah kejayaan untuk keluarga."

Untuk Bapak, untuk Ibu, untuk Kakak-kakak. Terutama untukmu.

Terima Kasih --bukan sekadar "terima kasih"-- kau buktikan padaku bahwa Cinta itu bukan takhayul. Segala Cinta, Hormat, dan tiap tetes keringat dari adik, yang kau bimbing agar kembali menjadi lelaki ini, semua untukmu.

0 komentar:

Post a Comment

Loading...