Bahwa manusia adalah makhluk yang angkuh, sejauh pengetahuanku itu betul. Manusia ingin menaklukkan apa saja. Kadang juga ada yang nekat melawan Tuhan. Mungkin ini "salah" Tuhan juga menciptakan manusia sebagai "makhluk paling mulia". Dengan status tersebut, manusia pun semena-mena.
Riwayat lahirnya keanekaragaman bahasa di dunia ini begitu cerdas menceritakan epistemologi manusia dan konflik. Syahdan, awalnya manusia diciptakan dalam bahasa yang serupa. Komunikasi berjalan begitu mudahnya, semudah tercapainya sebuah kesepakatan.
Ketika banyak manusia yang angkuh sepaham dan dalam banyak hal bersatu, mencuatlah ide untuk mengkudeta Tuhan. Bersama keangkuhan dan kesepahaman yang "klik", bahu-membahulah manusia membangun menara menuju langit untuk menyingkirkan Tuhan dari kedudukan-Nya.
Riwayat yang diceritakan oleh Ferdinand de Saussure tersebut bahkan menggambarkan Tuhan sempat panik ketika manusia nyaris berhasil menggapai kaki singgasana-Nya. Tuhan dikisahkan marah sekaligus merasa bersalah karena terlalu memberikan kesempurnaan pada makhluk ini, di mana keangkuhan menjadi pelengkap sempurnanya manusia.
Ketika menara tinggal sejengkal dari langit, Tuhan pun menggunakan jurus pamungkas: kun fayakun. Dengan kehendak-Nya kesepahaman manusia yang membentuk kesatuan yang menakutkan itu diubah dalam ketaksepahaman. Sekelompok manusia se-bahasa diceraiberaikan menjadi beberapa kelompok dengan bahasa yang berbeda-beda.
Kesamaan visi yang terbangun dari keseragaman bahasa, yang menjadikan manusia sepaham, berubah menjadi tragedi. Komunikasi, yang kata Harold Laswell adalah sebuah upaya manusia menyampaikan apa-kepada siapa-menggunakan media apa-dan apa efeknya, berjalan begitu sakit. Bahasa tak lagi serupa, dan timbullah keterpatahan pemahaman.
Situasi itu membuat manusia jadi sesat tujuan. Mereka jadi sibuk dengan keributan antar-mereka sendiri. Kelompok A bermaksud mengajak kelompok B yang bahasanya jadi beda untuk cepat-cepat menyelesaikan menara.
Perbedaan struktur dan cara penyampaian, baik lisan maupun kinesik, melahirkan kesalahpahaman, kendati sebenarnya punya tujuan yang sama. Lahirlah pertengkaran. Satu kelompok berusaha membuat, cenderung memaksa, kelompok lain memahami maksud mereka. Tapi usaha itu sia-sia karena tak ada lagi rasa saling mengerti.
Perbedaan membuat mereka saling bertengkar, sampai akhirnya lupa proyek pembangunan menara yang sempat membuat Tuhan cemas itu.
Akhirnya situasi menjadi sampai yang terjadi sekarang: manusia dengan perbedaan-perbedaan mereka saling bertengkar, dan Tuhan masih nyaman duduk di singgasana-Nya.
Keangkuhan manusia memang selalu tak bisa menerima perbedaan, kendati secara azasi sebenarnya semua makhluk jenis ini punya tujuan serupa: menggapai bahagia.
Keangkuhan juga yang membuat manusia harus menjadi makhluk yang berkonflik sepanjang sejarah. Dihukum Tuhan karena nekat melawan kehendak-Nya dengan keangkuhan.
Manusia yang awalnya begitu rukun karena sepaham, sampai sekarang selalu saja terlibat dalam pertengkaran dan saling menerkam. Berhantam karena semua ingin kehendak mereka yang saling beda diikuti yang lainnya. Inilah buah dari upaya mengusik Tuhan. Melawan Tuhan? Sudah pasti berakhir konyol.
Dan sampai sekarang, pola hubungan manusia dengan Tuhan atau aupun manusia dengan sesama berjalan seperti yang kita lihat dan rasakan sekarang.
Sejarah pun mencatat tegas bahwa pada dasarnya semua manusia itu angkuh. Semua ingin menguasai yang "lain." Utamanya menaklukkan "yang berbeda".
Sementara Tuhan tetap menjadi zat yang bisa berkehendak apa saja dan tak mungkin dilawan. Manusia terberai dan Tuhan tetap berkuasa menikmati ketaksepahaman yang akan berlangsung hingga akhir zaman.
Ketika ada sebuah dogma yang menyebut kebersamaan itu ada untuk menolak perbedaan, itu hanya ilusi. Kebersamaan itu tak pernah ada dan perbedaan tak akan bisa ditolak. Itulah fakta, bukan sekadar dogma.
Kebersamaan hanya ada di secuplik bagian awal hikayat keanekaragaman bahasa dan selarik syair White Lion dalam When the Children Cry: "..One united world under God.."
Anak-anak pun tetap menangis ketika dilahirkan. Karena mereka merasa dipaksa sebagai makhluk angkuh dan harus selalu berkonflik karena "karunia" sifat tersebut. Apalagi "karunia" tersebut tak mungkin ditolak, terlebih dilawan. Itu adalah kehendak-Nya.
Dan ketika keangkuhan manusia tak mampu melabrak Tuhan, sesama pun dijadikan pelampiasan. Karena keangkuhan adalah hasrat yang harus dipuaskan. Bahkan, sedikit berfikir nakal saja, kalau mau fair sebenarnya Tuhan pun bisa dikatakan "angkuh" dengan takdir-takdir-Nya. Dan keangkuhan manusia wajib tunduk pada kehendak ala Sang Khalik itu.
Yah, seangkuh apapun manusia, jangan pernah berharap Tuhan mau membuka ruang negosiasi, terutama tentang jodoh, hidup, dan mati. Sekeras apapun menawar, pada akhirnya manusia harus sadar bahwa Tuhan memaksa ciptaan-Nya itu untuk selalu tertunduk.

0 komentar:
Post a Comment