"Manusia digerakkan oleh kepentingan"
Karena secara materi otak saya sudah rusak dan semakin parah cenderung
membusuk setelah genap sedasawarsa digerogoti bakteri busuk --di mana
kondisi ini malah jadi bahan fitnah dan cemoohan orang-orang yang
mengaku pernah dekat dengan saya-- saya tak bisa lagi mengingat
kalimat pembuka itu teori siapa.
Lepas dari itu, saya setuju sekali dengan premis tersebut. Saya, yang
masih merasa sebagai manusia kendati tak sedikit manusia lain yang tak
lagi memanusiakan saya, bergerak karena saya punya kepentingan. Saya
menyimpan tujuan. Termasuk kenapa saya memaksakan, bahkan dengan
merebut hak rekan, untuk permanen di Surabaya.
Sebagai orang yang "dikarbit" untuk menjadi pengambil keputusan, saya
punya cita-cita dan kewajiban untuk mengubah sesuatu yang selalu
dikeluhkan menjadi lebih nyaman. Keluh kesah jelas tak akan bisa
mengubah keadaan yang sudah terlalu gundah. Karena itu, bukan sok
pahlawan, lebih tepatnya kesadaran diri sebagai manusia yang ingin
berbagi dan bersama --seperti Aristoteles pernah katakan itu-- saya
pulang kandang membawa optimisme untuk bisa berbuat sesuatu untuk
"kita" (sengaja saya kutip karena, jujur saja, kata ganti untuk orang
jamak yang melibatkan saya di dalamnya itu artinya sangat bias bagi
saya).
Keadaan ketika itu benar-benar sudah kelewat parah. Persuasif tak akan
bisa mengubah keadaan yang kadung abnormal. Dalam situasi seperti itu,
sebagai orang yang dipercaya mengambil keputusan demi "sebuah keadaan
yang lebih baik" (saya kutip lagi karena artinya juga sangat bias,
saya rasa), ya saya mengambil keputusan. Represif saya pilih. Tapi,
represif pula yang akhirnya saya dapat setelah saya malah
dicabik-cabik oleh mereka-mereka yang pernah menghiba-iba di depan
saya mohon pertolongan.
Yang merobek-robek saya dari belakang itu adalah mereka-mereka yang
pernah memohon-mohon pada saya agar dibantu mendapatkan hak yang sudah
berbulan-bulan tak mereka dapat. Anak-anak daerah. Setelah mereka
dapat yang mereka mau, kenapa saya diinjak-injak dengan
menyebarluaskan fitnah berbentuk "dongeng" tentang kekerasan yang
membabi buta? Apakah mengeroyok dan menggebuk orang yang pernah
berupaya keras membantu mereka mendapatkan hak itu bukannya juga
kekerasan??? Violence yang hanya bisa dilakukan para banci???
Saya menuntut, kenapa kejadian itu --yang jadi biang situasi serbakaku
ini-- tidak dipandang dari dua sisi atau dilihat sisi baiknya? Kenapa
banci-banci yang bersemayam di dalam otak-otak picik itu makin
kerasan??? Kalau punya kepentingan ingin berubah, ya bergeraklah.
Jangan cuma berani mengumpat dan menyebar fitnah. Katanya kita ini
semua saudara, tapi secara sepihak memutus silaturahmi. Lalu
menuding-nuding dan menuduh. Apa memang begitu tata kramanya???
Tai!!! Dasar mental banci!!!
Pada akhirnya, maaf kalau saya harus jujur mengatakan, kalau saya dan
beberapa gelintir saudara yang punya kehendak untuk maju dan
"berbahagia bersama" lama-lama merasa makin tolol saja.
Tolol akibat terlalu sungguh-sungguh berusaha untuk mewujudkan
"cita-cita bersama", sementara kebersamaan itu sendiri sebenarnya tak
pernah ada!
Kebersamaan untuk bergerak dan maju itu hanyalah ilusi, tempat
pelarian para banci yang cuma berani bermimpi dan onani untuk
mengingkari hati nurani!!!
Siapa yang bisa berfikir waras mungkin akan tersadar. Tapi yang
berkarakter picik tentu bakal lebih picik lagi mendapati opini saya
ini. Tapi, tenang saja, Bung. Anggap saja ini adalah cindera mata
terakhir dari saya. Karena, mengutip dari judul opini ini, "Catatan
Penutup", ini adalah akhir dari corat-coret ungkapan cara berfikir
saya --yang bagi kebanyakan orang, termasuk bekas calon istri, sangat
nyeleneh dan tak pernah bisa diterima ini.
Karena, di tengah kegelisahan saya, akhirnya saya harus takluk pada
prediksi medis yang menyebut saya tak bisa lagi menghindari hitungan
mundur menuju selesai, setelah satu dasawarsa saya simpan rapi tragedi
pribadi yang terjadi secara kontinu ini. Kecuali Tuhan kembali berbaik
hati menurunkan mukjizat pada saya, kelak kita akan kembali beradu
argumen.
Tapi ingat, se-"aneh" apapun karakter seseorang, pada dasarnya manusia
selalu ingin maju, bergerak, untuk bahagia. Bersama-sama. Karena
itulah Adam tidak diciptakan sebagai manusia tunggal.
0 komentar:
Post a Comment