Monday, September 13, 2010

"Maaf"

AKU tidak akan minta maaf pada siapa pun di "Hari Fitri" ini. Aku takut suatu saat (sengaja/tidak) akan menghina maaf yang aku terima.
Ketakutanku ini bukannya tanpa sebab. Karena pada dasarnya tak ada maaf yang tulus. Maaf adalah upaya transaksional agar keadaan bisa membaik sebentar untuk sebuah kepentingan yang sering kali tidak adil, lalu kesalahan dilakukan lagi. Dan itu berarti pengingkaran terhadap maaf yang pernah diterima.

Maaf yang terucap hanya aksesoris yang hanya diambil keindahan bentuknya. Orang mengucapkan maaf hanya karena merasa "perlu". Sekadar syarat kepantasan dalam sebuah hubungan tapi tanpa esensi. Maaf terlontar bukan karena orang yang mengucapkannya "butuh" itu, ketika "benar-benar merasa bersalah" dan tak akan mengulangi kesalahan serupa (mungkin juga kesalahan dalam bentuk lain). Aku pribadi tak yakin ada orang yang pernah "merasa benar-benar bersalah", karena tolok ukur untuk dua keadaan itu begitu subjektif dan lentur. Benar menurutku belum tentu tepat dalam kesimpulan Anda.

Karena itu aku tak akan meminta maaf. Bukan lantaran sombong, arogan, atau sok suci tak pernah salah. Terlalu sering aku khilaf, beberapa di antaranya adalah "kesalahan yang (sengaja atau tidak) begitu aku 'gemari' sampai-sampai berulangkali aku melakukannya". Andai ada neraca untuk membandingkan bobot antara "benar" dan "salah", saya yakin sisi saya yang tidak benar jauh lebih berat daripada yang benar.
Aku tidak minta maaf karena tidak ingin mengkhianati sebuah pemberian maaf --yang tentunya tulus dan mulia-- karena masih sangat mungkin aku melakukan sebuah kesalahan yang pernah dimaafkan. Bahkan bisa jadi lebih parah. Aku tak mau menistakan sebuah pemberian maaf yang tentunya mulia itu. Aku tak mau membalas ikhlas dengan ingkar.

Maaf baru benar-benar menemukan esensinya ketika terlontar dari seseorang yang "bisa dipastikan" tak akan pernah lagi mengulangi kesalahan yang sudah terampuni, dengan atau tanpa niat/sengaja maupun tidak. Dan itu hanya terlontar dari orang yang hampir mati. Dan memang, salah-benar itu hanya berlaku di kehidupan duniawi.

Untuk itu, di hari raya umat Islam ini aku hanya mengucapkan "Selamat Hari Fitri". Hanya mengucapkan saja karena kewajibanku sebagai bagian dari masyarakat yang selalu terpesona pada momentum. Aku tak mau latah ikutan orang-orang yang berbondong-bondong minta maaf.

Karena hari itu, menurut aku, sebenarnya hanyalah "perayaan sebuah kemenangan yg aneh". Siapa menang? Yang tak makan dan tak minum sebulan penuh? Yakinkah esensi puasa sudah Anda penuhi? Yakinkah sudah benar-benar bersih atau sekadar "merasa" bersih? Kalau Anda "merasa" telah menjalankan puasa secara utuh, Anda berhak "merasa" menang. Tapi cukup dengan "merasa", klaim, tapi secara esensi hanya Anda dan pemilik hidup Anda itu yang tahu.

Pada kenyataannya Idul Fitri memang bukan suatu waktu di mana manusia tiba-tiba menjadi lebih beradab dan suci --layaknya kesan yg selalu dimunculkan oleh Idul Fitri. Karena setelah lepas tahun ini, setelah momentum "obral ketulusan" ini selesai, maaf harus diproduksi lagi tahun depan. Bahkan mungkin saja secara kuantitatif mengalami peningkatan.

Semoga Anda semua yakin tak akan mengkhianati maaf yang terucap atau terima. Memang, dalil "manusia tempatnya khilaf" selalu membuat permohonan maaf terkesan mengharukan. Tapi justru sifat itulah yang membuat maaf sebenarnya selalu sia-sia.

(Aku tak akan meminta maaf jika ada yang tersinggung dengan opini apa adanya ini. Karena aku merasa tak salah. Aku hanya beropini, bukan cari masalah. Bagi yang merasa sebuah pendapat adalah masalah, ya itu masalah orang itu sendiri. Aku tak mau minta maaf bukan karena menghinakannya. Tapi aku terlalu takut mengkhianati sebuah ampunan yang begitu luhur)

1 komentar:

  1. terkadang dgn adany kata maaf, bikin org merendahkn makna maaf itu sendiri...beribu kesengajaan akan dilakukan berulang kali dan berharap akan bebas dengan kata maaf...
    tapi terkdg, maaf itu perlu setidakny untuk Tuhan kita...krn apakah amal ma'ruf nahi munkar itu sdah kita laksanakn ato belum...
    well..that's my opinion too...

    ReplyDelete

Loading...