Tuesday, August 17, 2010

"Mendirikan Salat"

PADA salah satu malam suci umat Islam, sebuah kampung kecil di Surabaya tempat saya menumpang hidup, tubuh saya yang tiba-tiba drop mendadak ingin merokok. Wah, sial, stok di kamar ternyata nihil! Dengan amat malas luar biasa, saya paksakan tubuh untuk mengantar saya ke warung rokok terdekat.


Penjual kretek-filter terdekat sedang penuh. Beberapa pemuda tanggung asli kampung sedang berkumpul selepas salat Tarawih berjamaah di masjid yang agak jauh dari kostku. Sembari kompak menikmati rokok ketengan masing-masing, mereka sedang membicarakan sesuatu. Dari kejauhan terlihat seru.



Ketika saya sedang menunggu penjual mengambilkan rokok bermerk yang saya sebut, beberapa potong dialog mereka berhasil saya rekam di kepala. Kira-kira seperti ini (nama objek sengaja saya ganti, alias bukan sebenarnya, untuk menghindari kerusuhan. Bahasa saya sulih ke Indonesia biar tulisan ini tidak terkesan rasis):

"Masa?" kata Badrun, yang mengenakan peci berwarna sangat kontras dengan jidatnya yang gelap mengkilap.


"Dikasih tahu tak percaya. Yo uwes," sahut Sidik yang berambut keriting. Lalu Sidik menghisap bara di tembakaunya, yang jaraknya kian dekat dengan filter. "Dia ada di shaf ketiga," lanjut Sidik. Dia embuskan asap pelan-pelan.


Badrun diam berfikir. "Kalau kamu kasih tahu aku dari tadi pas bubaran, sudah aku kasih pelajaran dia," Badrun seperti menyesal. "Dua tahun dia menghilang setelah kejadian. Sialan!" dia banting puntung rokoknya yang masih panjang. Seolah dia sedang melampiaskan sebuah dendam menahun.

"Gimana, mau dicari lagi sekarang? Apa nanti selesai salat Subuh kita kerjai dia ramai-ramai," Udin, pemuda yang lain lagi dalam "forum rembukan" di depan warung rokok itu seperti berusaha menyulut permusuhan atas nama solidaritas.


"Ide bagus," Badrun langsung oke. "Tapi..." tiba-tiba dia bimbang, "Ini kan bulan puasa. Masa ribut-ribut?"


"Ya kalau mau sekarang, daripada ilang lagi," Tohir, pemuda lainnya,mengingatkan. "Biar kesannya tak terlihat ribut-ribut, kita lempar saja dia dengan petasan. Dijamin beres. Kalau dia luka atau apa, kita bilang saja tak sengaja mengenainya," sambil membetulkan letak sarungnya, Tohir kian bersemangat mengembuskan semangat untuk ribut-ribut. Dia menyeringai.


"Ide bagus," Badrun tampak puas. Lalu mereka sepakat pertemuan ditutup. "Sampai nanti Subuh. Assalamualaikum," kata salah satu di antara pemuda-pemuda itu, entah yang mana, lalu semuanya pulang ke rumah masing-masing.


Saat itulah saya menerima rokok yang saya mau sekaligus uang kembalian dari pemilik warung. "Itu tadi anak kampung sini ya, Pak?" saya bertanya tentang "forum menghasut" itu. "Iya, Mas. Mereka itu pemuda-pemuda yang biasa mengurus masjid," jawab si bapak.


"Ooo," sahutku apa adanya. Remaja masjid? Saya kantongi rokok dan uang kembalian, lalu pulang ke kost sembari membawa kepala yang makin pusing.

***

DRAMA kecil di depan warung itu membuat saya semakin sadar bahwa kehidupan beragama di sekitar saya ini makin lama makin paradoks. Saya letakkan kepala di atas bantal berharap pusing akan teredam. Tapi apa daya, gara-gara lupa jadwal rutin penanganan medis siang sebelumnya --yang membuat saya mendadak drop padahal membuka hari dengan tubuh fit-- malam itu saya kesulitan tidur.


Di antara upaya saya untuk memaksa tidur dengan membiarkan imajinasi bebas liar ke mana saja, pikiran saya selalu bermuara pada adegan kecil tentang perilaku "orang-orang muslim" yang giat beribadah, terutama di bulan Ramadan ini, di depan warung rokok tadi. Akibatnya, kantuk pun serasa kian jauh karena, terus terang saja, saya merasa sangat-sangat heran dengan perilaku seperti itu.


Pada kenyataanya,fragmen seperti itu hanyalah satu contoh kecil. Banyak lagi perilaku sejenis yang menyebar di sekeliling kita: ketika sebuah ibadah ritual itu hanya didefinisikan sebagai atribut. Aksesoris sosial. Ibadah yang hanya dilakukan agar mendapat label sebagai seorang muslim yang utuh "hanya karena" rajin salat --lima waktu plus sunnah Tarawih tiap Ramadan.


Tapi setelah ritual berakhir, ya sudah. Tak ada makna yang bisa dibawa dari sebuah upaya berdialog dengan Tuhan di rumah-Nya itu dalam kehidupan sosial. Setelah memuja-muji Tuhan dengan segala ke-Maha-an-Nya, manusia-manusia itu menghasut, menghina, dan merendahkan sesamanya. Entah apa yang mereka cari dari itu.


Yang jelas, dalam pandangan saya sebagai pribadi yang oleh kebanyakan orang dicap sebagai atheis lantaran tak menjalankan ritual dengan tertib ini, mereka-mereka ini sama saja dengan atheis dalam konteks "penghinaan terhadap Tuhan dan ciptaan-Nya".

Ketika atheis dipandang sebagai sebuah paham yang merendahkan Tuhan karena menganggap Dia tidak ada, lalu, apakah orang-orang yang paling doyan salat berjamaah tapi mensyiarkan permusuhan itu tak menghina Tuhan? Bahkan bisa jadi mereka menganggap Tuhan itu pembual yang tak perlu diikuti perintah-Nya. Atau orang-orang berpikiran cetek yang merasa Islam, tapi tak tahu apa maksud ajaran agama rahmatanlil'alamin ini.


Orang-orang seperti itu membaca Alquran sama seperti ketika menyimak buku petunjuk pengoperasian ponsel. Hanya "melakukan" apa yang diinstruksikan di dalamnya, tapi gagap dalam memahami maknanya.


Sejauh yang saya tangkap dari pembacaan saya terhadap Alquran dan beberapa dialog dengan ulama-ulama bijak, bukankah menjalankan salat itu tak sekadar sebuah upaya menggugurkan kewajiban terjadwal lima kali sehari plus beberapa sunnah, lantaran merasa muslim?

Bukankah Allah memerintahkan umatnya salat bukan hanya sekadar mengolah fisik dengan gerakan-gerakan tawaduk, rukuk, atau sujud saja? Ya, Allah memerintahkan umat muslim untuk menempatkan salat sebagai sebuah sebuah fondasi perilaku orang Islam.


Karena itulah, melalui Alquran Allah memerintahkan umatnya untuk "mendirikan" salat, bukan menjalankannya. Bagi yang merasa pernah membaca Quran, dalam Al Baqarah: 43 Allah memerintahkan umatnya dengan titah, "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'".


Tentu cara memaknai kalimat itu berbeda dengan kalimat, "masukkanlah kartu SIM anda, pasang baterai, lalu nyalakan," seperti yang tercantum dalam buku petunjuk ponsel. Kalau petunjuk dalam buku operasional ponsel itu untuk dilakukan, Alquran lebih dari itu. Ayat-ayat dalam 30 juz itu untuk diamalkan, dilakukan dengan sepenuh hati dan ikhlas.


Membaca Alquran perlu pemahaman filosofis, bukan pemahaman statis seperti membaca buku petunjuk teknis --begitulah wejangan salah satu ulama bijak tempat saya pernah belajar Islam. Karena itulah, dalam Alquran juga Allah "memberi catatan" bahwa Islam adalah agama untuk orang yang berakal. Yang mau menggunakan nalar dan perasaan untuk memahami petunjuk di dalamnya. Karena bahasa kitab suci adalah sebuah metafora yang tak hanya cukup dibaca saja, tapi diselami maknanya untuk mencapai sebuah pemaknaan tentang bagaimana cara seorang muslim itu hidup dan memandang dunia.


Tentang salat, kenapa Allah memerintahkan umat untuk mendirikannya? Ya karena, menurut penjelasan kiai saya yang juga bisa saya pahami, karena Allah ingin, dalam salatnya itu manusia mendirikan, atau membangun sebuah perilaku kehidupan yang benar-benar Islam. Dalam semua gerakan atau bacaan di dalamnya, yang sarat makna filosofis itu, Allah mengajarkan kita bagaimana caranya menjalani hidup penuh rahmat.


Dalam salat, seorang muslim diajarkan berpasrah dan berserah dengan gerakan berdiri tertunduk sembari melipatkan tangan. Pasrah dan berserah menghindarkan seorang muslim dari sifat serakah yang bisa menghancurkan kehidupan pribadi atau sosialnya. Karena Allah tak menyukai sesuatu yang berlebihan. Karena keserakahan bisa menimbulkan peperangan, kerusuhan, kekacauan, penindasan, pembunuhan, di mana semua itu adalah hal-hal yang tak pernah diinginkan manusia mana pun juga.


Ruku' dan sujud mengajarkan muslim untuk ikhlas dan tahu diri, bahwa sehebat apa pun kemampuan manusia, masih ada yang jauh di atas itu. Gerakan ini mengajak orang untuk sadar diri, atau tahu diri, bahwa manusia itu adalah makhluk yang sama sekali tak sempurna, tempatnya berbuat salah, serba terbatas. Gerakan ini mengajarkan manusia untuk menepis rasa sombong, angkuh, congkak, atau memandang rendah orang lain. Bahwa semua manusia sama kedudukannya di hadapan Tuhan.


Salam dalam penutup salat mengajarkan manusia untuk saling mendoakan dan berbuat baik pada sesama. Dari bagian ini Allah mengajarkan kerukunan antarsesama pada umat. Salat mengajarkan ukhuwah. Mengajarkan agar jangan sampai manusia saling menyakiti, baik fisik maupun psikis. Allah memperingatkan umat agar jangan saling menggunjing, menghasut, apalagi memfitnah, yang bisa menyebabkan perpecahan umat.


Cara Allah menyatukan umat itu juga terlihat jelas dalam janji ganjaran berlipat jika muslim menjalankan jamaah. Allah sangat berharap umat-Nya damai, di mana ajaran yang damai itu diserukan dalam beberapa surat yang mengajarkan tentang perilaku sosial yang sehat.

Salat tak hanya mengajarkan cara manusia absen di hadapan Tuhan. Tapi juga mengajarkan bagaimana seharusnya sesama umat membangun hubungan yang sehat. Bersama salat dan pengamalan terhadap pesan-pesan filosofisnya dalam kehidupan sosial itulah seorang muslim melakoni kehidupan. Karena itulah dalam Islam ada istilah "salat adalah tiang agama". Adalah penyangga yang selalu menjaga agar keyakinan seorang muslim kokoh tegak berdiri, sejauh orang-orang berakal memahami maknanya.

***

MASIH bersama kepala di atas bantal kamar kost, saya teringat pelajaran dari Alquran di mana untuk memahami maknanya saya dibantu Pak Kiai Bijak itu. Saya pun sangat heran ketika mendapati fragmen di depan warung rokok di kampung tempat saya numpang hidup itu. Juga adegan-adegan lain di sekitar saya, baik di lingkungan kerja, kampung orang tua, atau di manapun tempat-tempat di mana saya pernah singgah.


Aneh memang, ketika salat mengajarkan umat untuk ikhlas, berserah, tahu diri, rukun, menjaga persatuan umat, berkata yang baik-baik, di saat bersamaan, orang-orang yang sehari semalam bersujud minimal 17 kali itu saling menghasut, menebar kebencian, dengki melihat keberhasilan orang lain, tak mau berbagi, seakan-akan Allah "merestui" tingkah laku itu.


Terlalu banyak orang yang merasa Islam (setelah mendapatkan agama itu melalui warisan, bukan pemahaman) mengartikan salat hanya sesuatu yang harus "dilaksanakan", sekadar absen biar Tuhan senang. Bukan "mendirikan". Kasihan sekali orang-o.rang itu. Karena mereka tak sadar kalau ternyata mereka tak berakal karena gagal memaknai Quran.


Mereka membaca perintah Allah layaknya menyimak panduan teknis yang tercantum dalam buku petunjuk penggunaan ponsel.

0 komentar:

Post a Comment

Loading...