BAHASA tubuh bapak dari dua bocah laki-laki ini memang menggambarkan
sebuah arogansi dalam bersikap. Sok belagu, atau dalam istilah Jawa
yang paling kasar disebut (maaf) "nggatheli".
Bagi orang yang merasa santun, kinesik laki-laki itu bisa menimbulkan
muak. Sedangkan bagi para pencari masalah, sikap petinggi sebuah
stasiun televisi lokal itu biasanya diartikan sebagai "upaya untuk
memancing kerusuhan".
Laki-laki dengan gestur layaknya jagoan itu adalah salah satu kawan
terbaik saya. Namanya Hendri Tri Sugara. Oleh orang-orang dekatnya,
termasuk saya, dia akrab dipanggil Ganden.
Ganden, yang dalam pengucapan lidah Jawa biasanya berbunyi (ng)Ganden,
adalah kata sifat dalam bahasa Jawa untuk menerangkan bentuk tengkorak
belakang sangat menonjol hingga mirip sanggul. Kalau Anda penggemar
sepak bola, lihat atau ingat-ingatlah bentuk kepala belakang bomber
Tim Nasional Prancis, Thiery Henry. Itulah yang dimaksud (ng)ganden.
Sebenarnya kepala Ganden tidak ganden. Bahkan, setidaknya menurut
saya, bentuknya proporsional. Istilah "ganden" untuknya memang bukan
berarti harfiah. Panggilan itu adalah hiperbola untuk bagian belakang
kepalanya yang "cacat".
Di masa remajanya, kepala belakang Hendri sering dihantam benda keras
--paling sering palu-- oleh orang-orang yang "gemas" padanya tapi tak
berani berhadapan muka. Tiap ada yang dongkol pada Hendri ketika itu,
menyerang dari belakang memang pilihan tepat. Sebab, kalau face to
face bisa-bisa jadi bulan-bulanan jurus silat si Ganden.
Hendri waktu itu adalah seorang petarung yang menunjukkan eksistensi
melalui kepiawaiannya memeragakan jurus silat dan main hajar. Dia juga
sempat dicap sebagai raja tega. Kecenderungan itulah yang menimbulkan
kesan dia sama sekali tak ramah.
Bagi orang asing, Hendri memang terlihat jahat. Tapi bagi orang-orang
dekatnya, Ganden adalah pribadi yang hangat. Loyalitasnya pada kawan
tak perlu ditanyakan. Di balik fisik yang sangar dan gaya bicara
semaunya itu hidup jiwa yang menjunjung tinggi persahabatan.
Dua kesan dari dua sisi berbeda itulah yang saya tangkap setelah
melakukan "observasi dan wawancara" terkait Ganden si preman. Ketika
itu saya masih tercatat sebagai siswa SMA dan belum bergaul dengannya.
Lulus sekolah saya merantau ke Surabaya. Setelah itu saya mulai lupa
sepak terjang Hendri alias Ganden. Bahkan saya sempat tak ingat kalau
dia ada di dunia ini.
Sepuluh tahun berkelebat. Perjalanan karir membawa saya kembali ke
kampung, sebagai reporter daerah. Saat itulah saya melihat Hendri
lagi. Gayanya masih "nggatheli". Yang benar-benar berubah pada dia
adalah profesinya: dulu preman kini wartawan. Bukan meremehkan, tapi
saya sempat heran. Proses seperti apa yang dilaluinya?
Pertanyaan saya terjawab setelah saya kerap bekerjasama dengan dia
ketika berburu berita. Sebenarnya Ganden melakukan hal yang biasa
dilakukan manusia. Semua orang bisa asal mau. Mantan preman itu mau
belajar. Tekat pantang mundur yang dia anut sejak zaman "mreman" jadi
nilai lebihnya. Dengan itu dia maju.
Hendri tertarik jurnalistik setelah kepincut kamera. Dia mulai dengan
magang sebagai fotografer salah satu koran lokal dan berhasil. Setelah
melewati proses yang tak pernah dia ceritakan utuh, Ganden akhirnya
tercatat sebagai reporter televisi lokal.
Sebagai orang baru di sebuah wilayah, ketika itu saya sangat terbantu
olehnya. Saya membalasnya dengan beberapa ilmu praksis jurnalistik
yang belum sempat dia pelajari.
Ketika itulah saya rasakan sendiri loyalitas Ganden untuk orang yang
mau berkawan dengannya. Dia tak pernah ngitung untung-rugi. Asal
perkawanan sehat, sama-sama "86", itu cukup bagi dia. Saya lalui
banyak hal dengan dia di kota kecil itu. Sampai akhirnya saya pun
dipanggil ke Ibu Kota. Seiring berjalannya waktu, komunikasi kami
menjadi jarang. Kami sibuk urusan masing-masing.
Setelah lama jarang terhubung, saya pulang kampung setelah tahun
pertama di Jakarta. Ganden adalah orang yang pertama menyambut saya.
Saya pun sadar kalau jarangnya komunikasi tak memutus perkawanan kami.
Ketika itu saya terkaget-kaget (lagi), sama kagetnya seperti saat
bertemu dia dua tahun sebelumnya. Ganden berkembang pesat. Dari
dulunya preman, lalu jadi wartawan, akhirnya jadi penguasa biro
stasiun TV lokal! Luar biasa pesat perkembangan lulusan Sekolah
Menengah Pertanian, sekolah kejuruan yang dilikuidasi karena kurang
bermutu itu.
Yang membuat saya salut, Ganden yang membangun statusnya dari nol
hingga mampu jadi bos itu tetap percaya kebersamaan. So, dia masih
kawan saya yang mengacuhkan laba-rugi. Bahkan, tiap pulang dari
Jakarta, dulu, dia selalu bersedia menjemput saya ketika kereta yang
saya tumpangi masuk stasiun pukul 3.30 pagi.
Hingga sampailah pada suatu malam bulan Ramadan di Surabaya, ketika
saya pindah tugas (lagi) ke kota itu. Saya dan Ganden sua kembali
setelah berkali-kali pisah-temu. Lima tahun telah lewat dan Ganden
tetap seperti yang saya kenal.
Yang membuat dia sedikit beda malam itu adalah isi dompet dan
kebanggaan. Fulusnya kian bejibun. Dia dimanja bos besar lantaran
prestasi biro yang dia komando terus melejiit. Tapi, setebal apapun
isi dompetnya, lelaki yang delapan tahun lebih tua dari saya itu tetap
teman saya. Tangguh dan paham arti empati di balik cover-nya yang
"nggateli".
Kami berbincang lama. Saya terhibur di tengah situasi yang amat
menghujam ini. Ya, syukurlah, kendati makin langka, setidaknya masih
ada orang yang mau mengerti bahwa kebersamaan itu berarti "kita",
bukan "aku" atau "kau" yang senantiasa saling menuntut.

0 komentar:
Post a Comment