KALAU saya mendapatkan keistimewaan seperti Musa, yang boleh
bernegosiasi langsung dengan Tuhan, pertama yang akan saya minta
adalah ganti isi kepala saya dengan yang baru. Yang bisa mengajak saya
untuk menikmati hak terlelap di malam hari. Dengan bisa menikmati
istirahat, badan dan pikiran saya tentu jadi sehat. Barulah saya
memimpin umat-Nya menuju tanah yang dijanjikan berbekal 10
perintah-Nya. Kalau umat bawel, yang bisa membuat isi kepala saya yang
baru diganti oleh Tuhan itu bobrok seperti yang lama, saya akan
langsung kabur, seperti ketika Musa meninggalkan kaum Yahudi begitu
saja di tepi sungai Yordan.
Kalau saya jadi Roqib --malaikat pencatat amal baik dalam terminologi
Islam itu-- saya akan menghadap Tuhan dan minta reposisi. Karena saya
malaikat yang penuh kebaikan, saya akan minta agar diperbolehkan
membantu Atit membereskan pekerjaannya menginventarisir keburukan
manusia. Saya sungkan sama sohib, masa ketika dia kerepotan mencatat
sampai sehari harus berganti ratusan buku, sementara seharian penuh
saya menganggur.
Kalau saja saya ini Ifrid, saya akan melayangkan protes kepada Tuhan.
Dalam kesepakatan kontrak saya saat pertama saya diciptakan sebagai
jin dari api, saya seharusnya menjadi yang paling jahat. Tapi pas saya
coba menjalankan kontrak itu, ternyata ada 2 miliaran makhluk yang
katanya paling mulia itu jauh lebih jahat daripada saya. Saya merasa
Tuhan telah melanggar kontrak dengan menciptakan makhluk yang lebih
kejam dari saya. Saya akan minta revisi kontrak.
Kalau saya malaikat Ridwan, saya akan sering-sering memeriksa engsel
dan kunci pintu surga. Kalau tidak, saya khawatir berkarat. Sudah
terlalu lama saya tidak membukakan pintu itu untuk siapapun setelah
terakhir kali saya persilahkan Muhammad. Saya juga akan minta
remunerasi. Karena jelas saya mendapat tugas baru untuk menghibur
bidadari-bidadari yang kesepian dan nyaris putus asa itu. Saya juga
akan minta penambahan budget untuk jaminan kesehatan karena saya harus
minum semua arak suci itu yang mengalir di sungai itu. Daripada
mubazir, sudah diciptakan tapi tak ada yang minum. Sesekali saya juga
akan menjenguk Malik sohib saya. Hanya untuk menghibur dan memijatnya
setelah kerepotan luar biasa mengurus penghuni neraka. Mungkin dia
perlu sedikit bantuan saya.
Kalau saya Munkar atau Nankir, saya akan menyiapkan banyak cambuk
cadangan. Saya kesal, karena manusia-manusia yang mati itu pada bodoh
semua. Padahal pertanyaan saya seharusnya mudah dijawab: "Siapa
Tuhanmu", atau "apa yang kau lakukan selama hidupmu". Tapi mereka kok
jawabnya tidak tahu. Betulan atau pura-pura tidak tahu, saya tetap
harus mencambuk untuk pertanyaan yang tak terjawab. Dan semua jenazah
tak bisa menjawab itu. Cambuk saya jadi terlalu sering dipakai
sehingga cepat soak.
Kalau saya Israfil, saya akan mengajukan permohonan mempercepat
peniupan sangkakala. Saya tidak enak sama rekan-rekan saya lainnya.
Atit kerepotan mencatat sampai Roqib menawarkan bantuan; Malik
kesulitan menerima pesanan tempat di nerakanya sampai minta bantuan
Ridwan; Munkar-Nankir sampai pegal-pegal karena terlalu sering
mencambuk; atau Izrail yang terpontang-panting karena seringkali
mendadak harus menjemput nyawa yang lepas tanpa perintah Tuhan
lantaran manusia makin hobi main bunuh. Sementara saya? Saat kolega
sedang sibuk, saya menganggur karena meniup sangsakala adalah
satu-satunya jobdesk saya.
Kelihatannya memang sudah saatnya saya bekerja. Dunia harus segera
diakhiri. Semakin banyak hal memuakkan di sana.

0 komentar:
Post a Comment