untuk dipejamkan. Serasa ada kusut dalam kepala yang tak terurai.
Pangkal sebabnya adalah, pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin aku
abaikan tiba-tiba begitu menggigit di benak; Apakah kita harus
berkoar-koar pada dunia ketika kita punya niat memberi dengan tulus?
Sejak bulan suci ini dibuka, pertanyaan seperti itu seperti terus
memburuku. Seolah selalu memaksa aku untuk menjawab: "Ya, niat baik
harus kau pamerkan di depan banyak orang. Kalau tidak, kau tak akan
dipandang baik karena orang-orang tak akan mau melihat kebaikanmu. Kau
akan dicurigai, bahkan kau akan dituding menyimpan niat jahat."
Ya, seolah-olah di pagi buta ini aku merasa dipaksa untuk menyetujui
jawaban itu. Tapi aku tak bisa. Karena yang aku tahu, niat baik itu
bukanlah sesuatu yang harus terpajang di etalase agar tampak oleh
semua orang. Tapi sesuatu yang harus dilakukan, kendati dalam diam
sekalipun, dan membawa kebaikan. Sesuatu yang harus diberikan.
Tak perlu menuntut balasan atas kebaikan itu. Karena kebaikan tak
pernah menuntut imbalan --bukan sesuatu yang harus dihitung dengan
kalkulasi untung-rugi.
Tapi, kerapkali orang tak menyadari niat baik kita dan malah menuduh
kita punya maksud jahat dengan melakukan itu. Menempatkan kita sebagai
orang licik, yang harus dicurigai, yang selalu berharap keuntungan
pribadi dengan "pura-pura baik".
Apalagi ketika niat baik tak bisa dibuktikan dengan cepat karena
bermacam-macam sebab. Atau telah berhasil dibuktikan, hanya saja
kebanyakan orang tak sadar atau enggan mengakui bahwa itu adalah bukti
perbuatan baik yang kita lakukan secara diam-diam.
Ingin membantu dituduh mencari untung. Berniat mengabdi dituding cari
muka. Berniat maju dicap angkuh dan pamer. Memberikan kesempatan
dipandang pilih kasih. Menyumbang saran disangka menghasut. Tulus
mencintai dituding menipu. Respon tak baik kerap hadir untuk sebuah
niat baik.
Kenyataan inilah yang membuat kemarahan --yang sebenarnya telah
kupendam dalam-dalam dengan usaha yang sangat keras-- menyeruak dan
meledak-ledak di bulan suci ini. Awalnya aku menuntut, kenapa mereka
tak bisa melihat sisi baik dari wujud yang --memang aku akui-- "tampak
jahat" lantaran sifat temperamental yang melekat dan kadang meledak
ini?
Kenapa kebanyakan orang selalu menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan
apa yang mereka lihat atau rasakan sekilas?
Begitu marahnya aku pada keadaan ini, sampai aku nyaris memutuskan,
mungkin lebih baik semua niat baik ini aku tiadakan saja sama sekali.
Kenapa harus berbuat baik kalau kita malah selalu menuai keburukan
dari upaya itu? Bukankah lebih baik aku manjakan diri sendiri dengan
sesuatu yang menguntungkan, termasuk dengan melakukan hal tidak baik
sekalipun?
Bersama ego yang tiba-tiba muncul lagi, awalnya aku ingin berpikiran
begitu saja. Tapi, setiap kali ingat bahwa kebaikan bukanlah sesuatu
yang sifatnya transaksional, aku kembali memutuskan untuk
meneruskannya. Apalagi pribadiku dibentuk bukan untuk mencari laba
dengan cara-cara yang hina. Bapak selalu mengajarkan aku untuk memberi
dengan tulus. Kalau memang mau berbuat baik, ya jangan minta imbal
balik. Tapi, sebagai manusia biasa yang ber-ego, bisakah aku melakukan
itu?
Seandainya sosok Jean Valjean itu nyata, aku pasti akan banyak beguru
padanya. Aku ingin belajar dari dia bagaimana cara agar marahku tak
meledak ketika niat baikku berbalas cacian yang sering menyakitkan.
Jean adalah pria Prancis yang hidup di abad ke-16, atau ketika Negeri
Anggur dilanda resesi ekonomi paling parah sepanjang sejarah. Mantan
narapidana yang pernah dipenjara 19 tahun hanya gara-gara mencuri
sepotong roti untuk keponakannya yang lapar itu selalu berupaya untuk
memberi.
Dia berikan semua yang dia punya dan bisa, untuk siapa saja yang
membutuhkan, dengan tulus berdasarkan niat baik. Sayang, niat baiknya
selalu dipandang dengan cibiran, tudingan, atau dilihat sebagai sebuah
kejahatan terselubung --hanya lantaran dia pernah dipenjara karena
sebuah sebab yang seharusnya tak pantas mengantarkannya ke bui.
Hujatan yang menyakitkan itu tak pernah menghentikan upayanya untuk
berbuat kebaikan dengan tulus dan tak pernah meminta balasan. Caci dan
hinaan untuk niat baiknya itu tak pernah membuat Jean marah. Luar
biasa. Berjuta sayang, Jean Valjean hanyalah sosok fiktif rekaan
Victor Hugo, yang diposisikan sebagai protagonis dalam lakon "Les
Miserables". Dia tak pernah ada di dunia nyata.
***
hilang, kubawa tubuh dan pikiran yang masih saja enggan kuistirahatkan
ini menikmati pagi di perbatasan Surabaya-Sidoarjo yang masih sepi.
Kulepaskan pandang ke alang-alang yang membentang di tanah lapang.
Begitu segar dengan taburan embun sebagai pengganti hujan yang tak
jadi datang. Kuhirup sepuasnya sejuk ini. Kuredam marah yang membakar
benak.
Biarlah orang-orang memandang niat baik dari sisi yang paling gelap.
Yang penting, sebagai manusia biasa yang punya banyak sisi buruk,aku
berusaha sebisa mungkin menyelipkan selarik hal baik di antaranya,
meski aku tak sehebat Jean Valjean.
Mungkin satu-satunya babak dalam kisah "Les Misserables" yang identik
dengan dunia nyata adalah ketika orang-orang baru menyadari kebaikan
Jean Valjean setelah sang tokoh mangkat.
Kita baru menyadari makna kehadiran seseorang ketika dia tak pernah lagi datang.

0 komentar:
Post a Comment