"Betul, Don Corleone. Tuan Bruno Tataglia sangat mengharapkan Don Corleone bermurah hati memberikan perlindungan untuk bisnis kami. Kami akan mengganti kemurahan keluarga Corleone dengan 20% keuntungan bersih kami," Bruno Tasci masih berusaha meyakinkan si "pemilik wilayah bisnis" di Distrik Chicago, Amerika Serikat itu.
Godfather bertopang dagu dan termangu memandang lantai dari permadani, seperti sedang serius menimbang-nimbang.
Di sebelah kanan gembong mafia berdarah asli Sisilia, Italia, itu Tom Hagen --anak angkat berdarah Amerika sekaligus pengacara khusus keluarga-- duduk takzim sembari menunggu sang ayah merespons tawaran menggiurkan itu. Tom juga siap memberi masukan. Tak sedikit keputusan strategis Vito Corleone yang lahir berkat bisikan si putra tiri.
Di belakangnya berdiri Pedro, putra kandung kedua sang Don yang kurus, sakit-sakitan, dan tak pernah bisa mengambil keputusan apapun. Muka pucatnya penasaran ingin tahu apa jawaban bapaknya. Dalam situasi menegangkan itu muka Pedro selalu dilelehi keringat dingin.
Ketika Sang Don masih memikirkan jawaban yang paling tepat, tiba-tiba dari sebelah kiri dedengkot mafia yang paling dihormati di Chicago itu terlontar pertanyaan. "20%? Kau yakin?" suara bernada tinggi khas Sony --putra pertama keluarga-- spontan memecah ketegangan yang sunyi.
"Bagaimana kalau..." Sony yang tak bisa menyembunyikan ketertarikannya terhadap tawaran Tasci dan membuka ruang negosiasi harus memutus sisa kalimat yang hampir melompat dari mulutnya. Sang ayah mengangkat tangan kiri dan menghadapkan punggung telapak tangannya tepat di muka Sony. Si sulung yang kerap meledak-ledak itu langsung paham. Itu adalah tanda haknya bicara sudah cukup. Dan adat keluarga mafia Corleone mengharamkan bantahan terhadap Instruksi ayah.
Vitto sang Don yang paham betul karakter sulungnya berusaha menenangkan Sony dengan bahasa tubuh; telapak tangan dan lengan kirinya dinaik-turunkan pelan-pelan seperti orang melambai, jemari tangan kanannya menopang dagu kepalanya yang miring ke kanan dan mengangguk-angguk pelan. Matanya melirik tajam pada sang anak. "Tenang, Nak," begitulah arti kinesik itu kalau dilisankan. Yang diperingatkan mengerti. Sony mengunci penasarannya di balik mulut yang harus tertutup rapat.
Don Corleone mengangkat telunjuk kirinya untuk si pemarah. Tanda kalau Sony tak lagi punya hak bicara hingga forum diakhiri.
"Saudaraku Tuan Bruno Tasci," Godfather menyambung kembali dialognya dengan utusan orang yang ingin "berbisnis" dengannya. Suaranya agak parau termakan usia dan asap cerutu. Yang diajak bicara langsung mengambil posisi duduk tegak, matanya tajam menatap Don Vito, berharap gayung tuannya bersambut.
"Kami sangat tersanjung mendapat tawaran yang luar biasa menguntungkan dari seorang pria terhormat layaknya Don Tataglia," lanjut Corleone tua. Senyum tipis dia hadiahkan dari bibir yang mengapit cerutu di sudut kirinya. Seketika senyum Bruno Tasci ikut mengembang. Dia membayangkan akan membawa pulang kabar baik untuk Bruno Tataglia --Don Italia lain yang memilih narkotika sebagai bisnis utamanya.
"Tapi, dengan segala hormat, kami terpaksa menolak tawaran Don Tataglia karena keluarga Corleone tidak berbisnis narkoba." Kalimat lanjutan dari Don Corelone itu membuat senyum Bruno "Si Mulut Besar" Tasci kabur, di mana masam menggantikan tempatnya.
"Tapi..." si utusan coba membuka kembali ruang negosiasi. Tapi si tuan rumah buru-buru memotong, "Sampaikan salam hormatku pada Don Tataglia. Sebenarnya aku akan lebih menghargai Don Tataglia kalau dia sudi menemuiku langsung. Mungkin kalau dia sendiri yang datang, aku akan mempertimbangkan tawaran itu. Aku sambut siapa saja yang datang padaku sebagai saudara dan aku akan melindunginya tanpa dia harus membayar. Tapi kalau Don Tataglia sahabatku tak mau menemuiku, aku juga tak punya kewajiban memenuhi permintaannya."
Bruno Tasci seketika itu langsung paham kalau Vitto Corleone tidak suka Bruno Tataglia hanya mengirim utusan untuk mengajukan proposal perlindungan pada keluarga mafia paling kuat se-Chicago tersebut. Sebagai kepala keluarga yang paling disegani di dunia para mafioso, Vitto Corleone pantas tersinggung ketika harus hanya bernegosiasi dengan kurir. Situasi itu membuat Tasci --yang mendapat mandat penuh untuk tawar menawar dengan keluarga Corleone-- mendadak kelu lidah.
"Tapi sampaikan juga padanya, keluarga Tataglia kami persilahkan berbisnis di wilayah kami, berdampingan dengan bisnis keluarga Corleone, sejauh tidak menyentuh bisnis kami. Aku rasa bisnis narkotika tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga Corleone. Tapi seluruh risiko harus ditanggungnya sendiri." Penjelasan yang sopan dan dingin, sekaligus menunjukkan kalau Vitto Corleone adalah mafia yang sangat pemurah.
Sadar tuan rumah sudah memutuskan proses tawar menawar itu selesai, muka Si Pembual langsung tertekuk. Dia pungut topi bulat khas mafioso di pangkuannya, menenggerkannya di kepala, "Terima kasih atas waktu Anda, Don Corleone," lalu buru-buru menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Negosiasi gagal dan dalam dunia bisnis mafia itu berarti "perang terbuka dimulai".
***
MAFIA Italia memang punya adat sendiri ketika hendak mengembangkan bisnis mereka, baik bisnis "hitam" --seperti narkoba, minuman keras, prostitusi dan judi ilegal-- maupun yang "putih" layaknya bisnis penginapan, tempat wisata, arena kebugaran, manufaktur, atau produksi barang-barang konsumsi masyarakat --makanan, minuman, bahkan obat-- yang penjualannya sah secara hukum.
Sebelum membangun market place di wilayah baru, para mafioso wajib mencari tahu siapa keluarga mafia yang menguasai pasar dan keamanan wilayah tersebut. Si calon investor perlu mempelajarinya. Berbekal seluruh informasi tentang plus-minus keluarga paling kuat, keluarga mafia investor yang ingin mengembangkan bisnis itu harus pintar memilih cara agar keluarga penguasa bersedia memberi mereka "tempat buka lapak" dan tak akan mengganggu bisnis mereka kelak.
Langkah pertama yang wajib dijalankan adalah "silaturahmi" pada penguasa, minta izin ikut meramaikan perputaran modal di wilayah kekuasaannya. Kepala keluarga penguasa di tiap daerah punya cara komunikasi yang berbeda-beda. Ada yang mau berembuk dan mencapai kesepakatan kendati hanya dengan kurir; ada yang baru bersedia bicara bisnis hanya kalau tamunya membawa oleh-oleh untuk sogokan di depan;, ada juga kepala keluarga yang mewajibkan kepala keluarga calon investor datang sendiri, karena menganggap mengirim kurir untuk bicara bisnis adalah pelecehan terhadap martabat. Don Corleone adalah penganut cara komunikasi yang terakhir.
Perjumpaan pertama antara mafia calon investor (yang datang sendiri maupun mengirimkan orang kepercayaan) dan keluarga penguasa wilayah adalah tahap yang sangat menentukan bagaimana hubungan kedua pihak nantinya.
Agar fase krusial itu berlangsung menyenangkan dan melahirkan kesepakatan yang sama-sama menguntungkan, sebelum menghadap mafia penguasa area, calon investor wajib menghimpun informasi sebanyak mungkin tentang karakter si Don. Dari situ si mafia baru bisa menentukan gaya "kulonuwun" yang disesuaikan dengan "selera" pemilik wilayah.
Kalau cara yang dipiluh tepat, negosiasi bisa "klik". Tapi, kalau keliru memilih cara di saat pertama, sudah pasti akan bernasib seperti Bruno Tasci, meninggalkan rumah si penguasa dengan kepala menunduk, langkah gontai, dan perasaan mendongkol. Keluarga calon investor juga harus selalu siaga karena sewaktu-waktu si penguasa bisa saja mengacak-acak mereka. Ujung-ujungnya pun harus berdarah-darah karena perang antar-kelompok mafia pasti pecah.
Di tahap awal proses tawar menawar itu, si calon pemodal harus berupaya mengambil hati penguasa. Lazimnya penguasa mendapat sejumlah iming-iming.
Yang sering dipilih kebanyakan new comer sebagai "pengikat komitmen" adalah menawarkan sejumlah upeti, yang biasa mereka istilahkan "berbagi keuntungan". Ini adalah kompensasi untuk "kemurahan hati dan perlindungan" dari keluarga penguasa. Harapannya, selama setoran lancar bisnis dijamin melaju tanpa hambatan.
Opsi setoran biasanya ditawarkan oleh mafia yang bisnisnya sama sekali tak bersinggungan dengan bidang yang digeluti pemilik wilayah. Mereka hanya "pinjam tempat dan sewa perlindungan". Untuk itu mereka merasa wajib membayar sewa rutin.
Hitungan kompensasi ini lebih jelas. Ketika pemodal baru untung banyak, setoran yang persentasenya dihitung berdasarkan total laba bersih itu juga besar. Kalau para wajib setor sedang pailit, penerima ya cuma dapat sedikit. Besaran upeti berbanding lurus dengan total netto kas masuk penyetor.
Agar hubungan pemilik dan penyewa lahan itu sehat juga transparan, biasanya sebelum membayarkan jatah, penyetor wajib melaporkan neraca keuangan disertai lampiran dokumen untuk memastikan laporan tersebut tanpa rekayasa pada raja area. Dari sinilah bisa dipastikan berapa nominal yang seharusnya masuk ke rekening pemilik wilayah, berdasarkan persentase yang disepakati sejak awal perjanjian.
Kalau investor baru kedapatan curang, penguasa tak segan-segan memberangus mereka dengan berbagai macam cara, mulai dari menutup paksa kanal bisnis sampai menghabisi seluruh klan mafia itu.
Perjanjian upeti itu tidak bersifat saklek. Kemungkinan direvisi masih terbuka lebar. Pasalnya, naluri bisnis para mafia ini tak pernah berhenti bekerja, di mana mereka selalu memburu kans baru untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dan lebih.
Ketika investasi menunjukkan tren positif, atau pemilik modal menemukan peluang baru, bisa saja terjadi pertemuan insidentil untuk membahas beberapa "kesepakatan yang lebih menguntungkan". Dengan tawaran menguntungkan itu mereka ingin menarik lebih banyak simpati dari keluarga terkuat. Kalau itu sudah didapat, mafia rendahan itu akan lebih leluasa bergerak mengembangkan investasi tanpa perlu khawatir menyinggung penguasa karena sudah ada "saling pengertian".
Yang umum dipilih para mafioso baru sebagai bahan revisi perjanjian lama di masa awal "kerja sama" adalah merayu pemilik wilayah agar mau membantu mengembangkan, bahkan terlibat langsung, dalam rencana bisnis mereka dengan Iming-iming tambahan laba. Biasanya, mafia yang mengambil keputusan ini melihat peluang bisnis yang lebih menggiurkan daripada yang sedang dijalankannya, tapi menemui banyak hambatan. Seperti kurang modal atau tak punya jaminan keamanan untuk masuk ke sana. Dan semua masalah itu hanya bisa dibereskan oleh kekuatan dan kekuasaan pemilik wilayah.
Dalam hubungan bisnis ini, bisa juga penguasa yang awalnya tak tertarik menggeluti bisnis yang dijalankan mafia baru lama-lama berminat. Setelah mencuri ilmu dari anggota konglomerasi paling bungsu itu, di mana bagi penguasa upaya tersebut adalah hal yang sangat mudah, bisa saja si orang kuat benar-benar ikut menyelami bisnis yang sama persis dengan bidang yang digeluti mafioso lain.
Kalau situasinya begini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi.
Pertama, timbul persaingan tak sehat antara dua keluarga yang menjalankan bisnis serupa. Mereka berebut pasar. Bisa juga memantik perang jalanan yang biasanya makan korban dari kedua kubu yang berseteru. Situasi bisa memburuk ketika wajib setor menyetop pasokan upeti lantaran merasa dicurangi ketika pemilik wilayah latah.
Akan jadi lebih parah lagi jika komunikasi kedua pihak kurang sehat lantaran masing-masing keluarga terlalu fokus pada bisnis masing-masing hingga tak punya waktu untuk saling mengunjungi. Lebih parah lagi kalau tak pernah ada proses komunikasi antar-famili sama sekali.
Putusnya koneksitas selalu melahirkan curiga berlebihan, bahkan hasrat saling membabat. Terutama dari kubu mafia yang wajib setor, ketika lama-lama merasa terhina karena diwajibkan menyerahkan laba hasil kerja keras sekaligus simbol kehormatan keluarga (status yang selalu dijunjung tinggi oleh nyaris semua mafioso) pada keluarga yang sebelumnya asing sama sekali.
Pihak yang wajib setor terus menerus berusaha mencari peluang untuk menelikung pemilik wilayah. Di antara hubungan kerja sama yang terpaksa itu spionase bekerja untuk mengukur kekuatan sasaran. Kalau kesimpulan intelijen menyebutkan si pemilik wilayah ternyata tak begitu kuat --baik dari sisi jumlah anggota, simpatisan, maupun modal-- sesegera mungkin disusun strategi untuk mengambil alih tempat si penguasa atau kudeta.
Biasanya upaya pemberontakan diawali dengan membujuk orang-orang dekat penguasa yang hendak disingkirkan agar bersedia membantu mereka dengan tawaran pekerjaan dan gaji yang lebih baik. Ketika umpan iming-iming itu disambut baik, peluang berhasilnya kudeta sangat besar. Dan kalau keluarga penguasa wilayah kurang peka menangkap gejala-gejala upaya makar ini, mereka harus rela kehilangan pengaruh, kekayaan, dan martabat --tiga hal utama yang selalu diperebutkan atau dipertahankan mati-matian oleh semua klan mafia.
***
SETELAH Bruno Tasci menghilang di balik pintu ruang pertemuan resmi si rumah mewah keluarga Corleone dari Sisilia, buru-buru Sony, yang tak lagi bisa menahan diri dan penasarannya, protes; "Tapi, Papa, itu 20%. Sangat menguntungkan kita!"
Vito si negosiator tanpa tanding dan lihai melihat peluang itu menjawab anaknya dengan nada yang masih tanpa emosi. "Keluarga Corleone tak akan pernah terlibat dalam bisnis narkoba, sampai kapan pun atau berapa pun besar keuntungan dari situ." Matanya yang agak sipit menatap tajam pada anak sulungnya. Godfather menyampaikan pesan bahwa keputusannya mutlak, melalui sorot tajam matanya. Si anak hanya bisa diam tanpa ekspresi, lalu mengangguk tanda menurut.
"Ingat, Sony: jangan sekali-sekali mengatakan apa yang kau pikirkan di depan orang lain," Don Corleone memperingatkan calon penerus posisinya dalam keluarga itu karena menilai si sulung dari empat bersaudara lebih memilih menggunakan emosi dari pada berpikir dengan hati-hati.
"Baik, Papa," jawab Sony singkat, lalu meninggalkan ruang pertemuan sembari masih membawa rasa penasaran yang beralih menjadi kecewa.
Percakapan pada suatu sore dalam sebuah rumah mewah dan megah di Chicago, Amerika Serikat, ketika mayoritas sektor perekonomian Negeri Paman Sam itu dikuasai penuh oleh kongsi keluarga mafia imigran dari Italia, di medio 1960-an itu, adalah sebuah adegan elegan yang dibayangkan Mario Puzzo lalu dituangkannya dalam salah satu bab karya tulis monumental bertajuk "The Godfather". Adegan yang "sangat khas mafia" itu divisualkan dengan cerdas oleh Copolla dalam seri pertama film trilogi dengan judul yang sama dengan buku yang disadur. Kian terkesan cerdas dan hidup.
***
MUNGKIN sebagian kecil penyimak drama ini, yang kebetulan tertarik pada cara pandang kepala keluarga Corleone yang selalu berlandaskan argumen logis akan bertanya: alasan rasional Vitto manakah yang membuatnya menolak tawaran Bruno Tataglia? Satu-satunya alasan yang terungkap eksplisit, hanya pernyataan "keluarga Corleone tak akan pernah menjalankan bisnis narkoba". Tapi, apa latar belakang keputusan tersebut?
Memang tak disebutkan jelas secara verbal. Tapi, kalau menyimak latar belakang, pandangan hidup, maupun cara pandang Corleone terhadap keluarga, di mana ikatan darah selalu jadi pertimbangan utama kepala keluarga dalam menentukan metode untuk mengambil keputusan,alasan itu akan muncul.
Dalam drama keluarga mafia itu Vitto memang digambarkan selalu berusaha menempatkan keluarganya dalam posisi paling terhormat di tengah masyarakat. Mafioso satu itu juga merasa penuh kasih sayang. Dia selalu membantu orang yang mendatanginya sebagai saudara dan selalu menolak mereka yang menghampirinya sebagai kolega bisnis. Apalagi yang menawarkan sejumlah uang. Bagi Vito, kehormatan dan persaudaraan jauh di atas segalanya.
Nah, berpatokan pada cara pandang Vitto tentang kerelasian dan bagaimana dia menempatkan diri, jelas si Don dari Sisilia punya alasan menolak tawaran Bruno Tataglia . Ada dua alasan bagi seorang Don Corleone untuk menolak.
Pertama, Tataglia mengajukan penawaran melalui perantara. Bagi Vitto yang ingin bersaudara dengan siapa saja, cara ini dirasanya menghina. Tataglia terkesan ingin menjaga jarak dengan menghindari tatap muka langsung dengannya. Dia selalu memandang sebuah keluarga yang sengaja menjaga jarak dengan keluarga lain punya maksud buruk. Vito tak akan sudi mengambil risiko mengorbankan keselamatan keluarganya ketika harus berhubungan dengan mafia berbahaya.
Keluarga mafia mana pun yang pernah terlibat perjanjian atau kerja sama dengan Tataglia selalu bangkrut atau keluarga mereka dihabisi dalam skenario pembunuhan berencana. Kemungkinan ini tentunya akan dihindari oleh Vitto.
Kedua, Corleone membina hubungan baik dengan pejabat negara level atas. Karena itu dia merasa perlu menjaga citra bersih keluarga.
Dia tak ingin mencari untung dengan memanfaatkan kewenangan para penentu kebijakan tersebut, kendati kalau mau dia bisa mendapatkan itu dengan mudah dibantu uangnya yang kian hari menumpuk makin tinggi --keuntungan dari semua bisnisnya yang legal: hotel, tempat wisata, dan prostitusi berizin)
Bisa jadi upaya menjaga citra demi kehormatan keluarga inilah yang mengajak Vito menolak melindungi bisnis narkoba, meski dijanjikan pemasukan dalam jumlah besar. Dia memilih bisnis yang secara hukum tanpa risiko. Memang, tangan Vito muda pernah berdarah-darah ketika harus membangun usahanya dari nol. Keras memang cara dia, tapi itulah satu-satunya metode yang dia kuasai ketika itu.
Dengan analisis yang aku simpulkan setelah merangkai beberapa variabel yang muncul di antara alur lakon The Godfather, Vito punya alasan yang kuat untuk menolak Tataglia. Keputusannya sudah bulat: tolak bisnis narkoba, meski keputusan itu mengecewakan anak sulungnya yang bertemperamen tinggi.
Aku sendiri begitu terkesima pada sosok Vito Corleone, bapak semua mafia yang membangun kejayaannya dari nol itu. Terutama pada secuplik fragmen yang aku kutip di bagian terdahulu catatan ini. "Jangan pernah mengatakan apa yang kau pikirkan pada orang lain." Pesan yang sederhana, tapi begitu dalam dan bijak.
Terlepas dari karakternya yang cenderung pendiam bahkan misterius, di mana ayah tiga putera dan seorang putri ini hanya berbicara jika benar-benar dirasanya perlu, pesan Senor Vito untuk anak sulungnya yang meledak-ledak itu memang banyak benarnya. Pada intinya dia sangat mengagungkan kehati-hatian dan keputusan yang benar-benar matang setelah melalui pertimbangan yang rasional.
Seperti yang terbangun dalam plot drama pergulatan manusia rekaan Mario Puzzo itu, bekal Vito Corleone hingga sukses menjadi pebisnis yang menguasai sebagian besar pasar minyak zaitun lintas Amerika-Italia, hotel, prostitusi, dan perjudian di Chicago itu karena sikap dan pola pikir yang terus menerus ditransfer pada anak-anaknya itu. "Jadilah seorang yang rasional dan jangan pernah mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranmu".
Hal berharga yang akan didapat siapapun yang bisa mengejawantahkan amanat Si Godfather itu adalah tak akan pernah menyesali keputusan dan selalu memenangkan segala hal. Bahkan, saking pedenya pada cara berpikir dan keputusannya, Don Vito Corleone "selalu memberikan tawaran yang tak akan bisa ditolak oleh siapa pun".
Memang "slogan" mantan penjaga toko kelontong sebuah lingkungan kecil Chicago di tahun 1940-an itu terkesan angkuh. Tapi dia selalu bisa membuktikan mottonya tersebut. Tak ada satu pun pihak yang terlibat negosiasi atau transaksi dengan Vito Corleone berhasil menyeret laki-laki sayang keluarga itu dalam kemauan mereka. Pasti keputusan ayah kandung Sony, Pedro, Michael, dan Constanza alias Conie yang diikuti.
Kalau bapak angkat Tom Hagen bilang "tidak", semua bak diwajibkan menggeleng. Dan saat figur yang memandang laki-laki yang selalu meluangkan waktu untuk keluarga adalah pria sejati tersebut memutuskan"iya", siapa pun seperti diharuskan ikut mengangguk. Pada kenyataannya, dengan menuruti keputusan Don Corleone itu selalu saja berada dalam situasi yang tepat. Mereka yang sekubu dan mengikuti arus dedengkot mafia Chicago itu selalu merasa keputusan mereka tepat.
Keputusan tepat yang diambil oleh pemikiran matang lazimnya memang menghadirkan hasil sempurna. Rumah mewah, kerajaan bisnis di wilayah strategis dalam sebuah negara adidaya, keluarga (yang awalnya) harmonis (tapi harus berakhir tragis sepeninggal Sang Don), adalah rentetan hasil dari sebuah proses berpikir yang matang.
***
"JANGAN mengatakan apa yang kau pikirkan pada orang lain," adalah sebuah upaya mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa menggagalkan kita mencapai tujuan. Untuk mencapai sebuah cita-cita seseorang harus punya rencana yang tak perlu digembar-gemborkan sebelum ada jaminan harapan itu pasti tercapai.
Ketika kita membiarkan semua orang tahu apa tujuan kita dan bagaimana rencana kita untuk mencapainya, saat itu juga kemungkinan kita gagal mencapai maksud itu menganga lebar. Kalau kita mempersilahkan semua orang tahu apa yang akan kita lakukan, itu sama artinya kita menelanjangi diri sendiri dan siap dipermalukan.
Apalagi kalau mengingat kita tak pernah tahu isi hati orang lain, pun mereka yang secara kasat mata tampak "dekat" atau "mengerti" kita. Selalu ada kemungkinan orang lain menyimpan segudang iktikad buruk pada kita dengan dalil yang tak pernah kita ketahui, sementara wajahnya menawarkan persahabatan. Di balik mimik yang begitu menenangkan pun masih mungkin sebuah niat jahat memasang kuda-kuda untuk menyerang kita dan meluluhlantakkan kita di saat yang tak pernah kita duga sama sekali.
Dengan alasan itulah Vitto Corleone memilih menyimpan sendiri semua rencananya dan mewujudkannya diam-diam tanpa menyita perhatian orang lain. Orang-orang baru sadar ketika merasakan langsung hasil dari tujuan itu.
Pada bagian kedua trilogi The Godfather, dikisahkan bagaimana rapinya Vito muda menyimpan rencana besarnya. Ketika masih hidup sebagai kepala keluarga miskin dengan seorang istri dan dua anak yang menggantungkan penghidupan pada gaji seorang penjaga toko kelontong kecil di sebuah wilayah kecil di Chicago, Vito selalu mencari cara untuk membawa Maria, istrinya, dan anaknya pada sebuah kehidupan yang lebih layak secara ekonomi. Dia harus mendapat banyak uang, hal yang tak akan pernah dia wujudkan selama masih berkutat menjaga toko kelontong ala kadarnya.
Dia seolah menemukan inspirasi tentang apa yang harus dilakukannya ke depan ketika sedang menikmati pertunjukan dalam sebuah gedung teater sederhana bersama temannya. Ketika pertunjukan hendak mencapai klimaks, tiba-tiba seorang pria paruh baya bertubuh tambun, dengan jas dan pentalon putih, lengkap dengan topi berwarna sama, masuk seenaknya di deretan kursi terdepan dan berdiri lama di situ. Pandangan Yang duduk di bangku deretan belakang, termasuk Vito dan temannya, terhalang.
Teman Vito langsung meneriaki orang itu agar cepat duduk. Bukannya menuruti permintaan untuk duduk, masih sambil berdiri dia menoleh ke sumber suara dan menatap tajam tanpa ekspresi. Begitu melihat wajah pria yang semaunya sendiri itu, teman Vito langsung gelagapan dan buru-buru minta maaf. Orang itu adalah Don Fanucci, preman misterius yang ditakuti orang sekota.
Fanucci orang yang tak banyak bicara. Kepribadiannya adalah sebuah misteri yang sulit terungkap. Dia adalah pribadi tertutup yang kemuannya sulit diprediksi. Dengan ekspresi wajah yang selalu dingin dan kepribadian misteriusnya, Fanucci menjadi sosok yang ditakuti. Berbekal pencitraan diri itulah Fanucci bisa mendapatkan apa yang dia mau dari seluruh penjuru kota. Uang, benda yang ketika itu sangat dibutuhkan Vito tapi sangat sulit didapat, bisa dikumpulkan dengan mudah oleh Fanucci. Vito melihat sendiri pengelola gedung pertunjukan yang harus setor rutin ke si Don.
Keesokan harinya setelah mengenal sosok Fanucci untuk pertama kali, tiba-tiba Vito terpaksa dipecat dari toko kelontong karena pemiliknya "harus" memberikan tempatnya pada keponakan Don Fanucci. Sebelum dia keluar toko berstatus pekerja yang di-PHK dengan sekantung besar roti sebagai pesangon sekaligus tanda maaf dari pemilik toko karena memecatnya lantaran tak berani menolak kemauan Don Fanucci, tapi dia tolak, dia melihat dengan tenangnya Fanucci minta jatah pada pemilik toko kelontong yang usahanya sedang kembang kempis dan baru saja memberi keponakannya pekerjaan.
Vitto tak suka dengan premanisme ala Fanucci itu. Selama si Don ada, orang selingkungan bakal sengsara dan senantiasa ketakutan. Nuraninya sebagai penyelamat langsung bekerja: Fanucci harus dilenyapkan. Tapi dia tak pernah mengungkapkan rencana itu pada siapapun, bahkan istrinya sekalipun.
Vitto mulai mempelajari segala hal tentang Fanucci dengan sembunyi-sembunyi. Dia perlu melakukan itu agar Fanucci bisa dibunuh dengan rapi. Karena Vitto tak ingin "niat baik"nya menghilangkan penyebab ketakutan warga selingkungan itu malah membawanya pada masalah.Vtito menguntit si preman hingga berhari-hari.
Dari proses observasi tersebut, Vito menyimpulkan: Don Fanucci adalah seorang penyendiri penggemar sepi yang berhasil membangun sebuah karakter penuh misteri, dingin, tanpa kompromi. Dia jarang sekali berbincang dengan orang. Hanya bersuara kalau dia rasa benar-benar penting. Fanucci seolah tak mengizinkan seorang pun mengenal pribadinya. Dia adalah jenis individu "yang tak pernah diketahui orang lain" dan penyendiri.
Ekspresinya yang senantiasa dingin itu memperkuat karakternya sebagai sosok yang menakutkan. Umumnya orang mengungkapkan apa yang dirasakannya melalui ekspresi wajah. Senang terungkap melalui senyum atau tawa, sedih, marah, penasaran, benci, puas, dengan bentuk ekspresi masing-masing yang lazimnya mudah dipahami.
Tapi, ketika wajah seseorang nihil ekspresi, apa itu artinya? Kalau mimik yang jadi parameter suasana hati, muka tanpa ekspresi itu diartikan oleh banyak orang sebagai wajah orang yang tak punya perasaan. Datar. Kejam. Raja tega. Sadis. Kesan itulah yang ditangkap semua orang --kecuali Vito-- di sebuah lingkungan kecil bagian Chicago itu tentang Fanucci. Tak ada yang berani menyentuh Fanucci dan enggan berurusan dengannya. lantaran khawatir akan mengalami hal buruk atau celaka.
Hanya Vito yang punya penilaian lain tentang si preman. Mengutip logika Power and Knowledge ala filsuf genealogis Prancis, Michel Foucault, ketika Fanucci tak mengijinkan orang untuk "mengetahui" bagaimana dia, dia leluasa bergerak bebas karena tidak ada yang "kekuasaan di luar dirinya" yang bisa membatasi dia. Bisa semau gue. Dan bisa melakukan apapun seperti yang dimau tanpa harus ada kekuasaan yang membatasi adalah sebuah situasi yang
Menurut Foucault, umumnya, ketika kita kita "mengetahui" sesuatu, itu sama artinya dengan kita "menguasai" dan bisa mengendalikannya. Contoh, ketika kita tahu atau mengenal kepribadian seseorang, misalkan suka menyendiri, saat itu juga kita bisa menguasainya. Kita tahu apa yang dia maksud atau tuju sekaligus apa yang dihindarinya. Kita tahu apa yang bisa membuatnya sedih atau gembira.
Seorang penyendiri selalu menghindari interaksi dan keramaian. Dia perlu suasana sepi. Ketika ada orang lain yang kebetulan punya masalah atau tak senang dengan si penyendiri yang pemarah itu, dan ingin membuatnya tersiksa, mudah, seret paksa saja dia ke tepi jalan protokol kota besar saat jam sibuk. Dia pasti tak nyaman dan marah-marah dan orang yang tak senang dengan sikap penyendirinya jadi senang. Si penyendiri harus mengalami situasi yang tak diinginkannya setelah kemauannya diketahui orang lain. Setelah orang lain tahu tentang dia.
Ketika kita membiarkan orang lain kenal kita, saat itu juga kita mengizinkannya "menguasai" kita, di mana salah satu bentuknya adalah, orang lain yang tak suka kita berhasil bisa "menghalangi" kita untuk mencapai tujuan. Orang itu memanfaatkan kelemahan kita setelah dia mengenal kita. Atau setelah dia tahu kita.
Vitto pun menyimpulkan, maksud Fanucci membangun karakter individu yang tertutup agar bisa berbuat sesuka hati. Dia tak pernah membiarkan orang lain tahu kelemahannya. Fanucci tak pernah mengizinkan orang lain menguasainya. Di saat bersamaan justru dia bisa menguasai rasa takut orang lain dengan misterinya. Kepribadian Fanucci yang penuh rahasia dan asing bagi siapa saja menjaminnya bisa melakukan atau merencanakan apa saja untuk mencapai tujuan tanpa direcoki orang lain.
Vitto sendiri sebenarnya punya potensi untuk membangun kepribadian yang tak tertebak. Dia terbiasa mandiri dan sendiri dan tak pernah mengungkapkan apa yang direncanakannya. Upaya memata-matai Fanucci itu tak pernah diketahui siapapun, termasuk istrinya sendiri. Setelah mempelajari Fanucci, Vitto pun berminat menyadur caranya. Tapi, untuk bisa menjadi "Fanucci" yang bisa berbuat apa saja sesuai versinya sendiri, dia harus menyingkirkan Fanucci si preman yang merasa harus dipanggil dengan predikat Don.
Setelah yakin skenarionya akan berjalan lancar berdasarkan beberapa pertimbangan, pada sebuah hari ketika jalanan kota dimeriahkan suara musik pengiring karnaval Ave Maria, Vitto menghabisi Fanucci di apartemennya. Dia tembak tubuh tambun si Don enam kali menggunakan pistol yang ditemukannya secara tak sengaja. Tak ada saksi dalam peristiwa tersebut. Enam kali suara letusan pistol Vitto tenggelam di antara musik Ave Maria yang begitu riuh. Setelah menghabisi Don kampung itu dan mengambil tumpukan uang hasil rampasan (karena memang sangat butuh alat tukar tersebut setelah lama harus nganggur gara-gara Fanucci), Vitto kabur dan menghilangkan barang bukti.
Skenarionya berjalan sempurna karena dia tak pernah menceritakan rencana itu pada siapa saja, bahkan sang istri. Dia bekerja dalam diam dan menuai hasil yang sempurna. Polisi tak pernah bisa mendeteksi di tangan siapa Fanucci mati. Rencana Vitto memang sangat matang. Tak ada setitik petunjuk pun tertinggal.
Bermodal uang hasil kejahatan Fanucci itu Vitto merintis bisnis minyak zaitun, yang selanjutnya membawa dia menjadi Don Corleone yang kharismatik, pemurah, dan merencanakan segala hal dengan rapi. Rencana yang tak pernah gagal karena tak pernah diceritakannya pada siapapun.
Vitto Corleone adalah orang yang bekerja dengan perhitungan yang matang. Karena dia tahu; pembual tak akan pernah jadi pemenang.

0 komentar:
Post a Comment