Loading...

Monday, November 23, 2009

Eliot Ness


MUNGKIN, kalau di Indonesia sekarang ini ada orang seperti Eliot Ness, perkara Anggodo tak akan berlarut-larut dan menggelinding liar makin panas. Pria itu adalah penegak hukum jempolan, yang tak pernah tersentuh uang haram. Dan dia tahu bagaimana menggebuk mafia dengan cara yang seharusnya.

Ness adalah pemimpin Tim Antikorupsi (satuan khusus pemberantas korupsi, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi di Indonesia) yang punya tugas utama mengobrak-abrik pengemplang pajak di Chicago, Amerika Serikat, tahun 1920-an.

Hasil tangkapannya yang paling fenomenal adalah mafioso kelas kakap bernama Alphonse Gabriel “Al” Capone –biang borok penggelapan pajak yang juragan pabrik minuman keras sekaligus dedengkot perdagangan gelap. Dengan duitnya yang seolah tak pernah habis, Capone membeli perlindungan politik dan hukum dari polisi-politisi dan pejabat korup.

Friday, November 20, 2009

Layang-Layang




Ketika pertama kali kata ”politik” mampir di telinga kecilku, rasa ingin tahu mendorongku untuk bertanya pada Bapak –yang sedang sibuk membereskan berkas salah satu partai oposisi di era Orde Baru yang beliau ikut merawatnya; ”Politik itu apa sih, Pak?”

Beliau hentikan sejenak beres-beres berkas. Lalu Bapak tampak berfikir. Mungkin mencoba mencari analogi jawaban yang pas, yang bisa diterima otak 7 tahunku. Dan Beliau menjawab; ”Politik itu bermain layang-layang.”

Thursday, November 19, 2009

Dongeng Sebelum Tidur


Mbah Minah dari Banyumas


Perempuan lanjut itu akrab dipanggil Mbah Minah. Umurnya 65 tahun. Dia tinggal di Banyumas, Jawa Tengah. Entah mimpi apa perempuan ini sampai dia harus “meringkuk” sebagai tahanan rumah karena memungut 3 buah kakao yang jatuh di pekarangan perkebunan tak jauh dari rumahnya. Dia dituduh maling dan kena jerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.

Tuesday, November 17, 2009

Menguliti Logika Penyelamatan Bank Century





MUNGKIN tulisan ini agak telat karena sudah banyak dibahas di berbagai media. Tapi terlepas dari keterikatan waktu itu, dari kaca mata awam saya, upaya penyelamatan ini seperti menuju pada sebuah logika “nakal”.

Tulisan ini saya petikkan dari buah pikir beberapa pakar yang tertuang di berbagai artikel (karena saya tak punya kompetensi di bidang ini sehingga tak pantas melontarkan teori sendiri), dan coba saya jahit sedemikian hingga membentuk sebuah cerita tentang indikasi pembobolan duit negara.

Sunday, November 15, 2009

Skandal Watergate: Trik Konyol Presiden Paranoid




MENCERMATI fenomena di Tanah Air beberapa waktu belakangan, lama-lama suasananya seakan menjurus pada pengulangan skandal superbesar yang meletup di Amerika Serikat (AS), negara yang mengklaim sebagai kiblat demokrasi, empat dekade lalu. Di mana perkara tersebut menyeret petinggi negara, dan berujung pada pengunduran diri kepala negara. Peristiwa pertama dan satu-satunya sejak kemerdekaan AS 4 Juli 1776. Cerita bernama skandal Watergate.

Ini adalah skandal politik terhebat di abad 20, rangkaian dari perpecahan-perpecahan, upaya tutup menutupi, dana sogokan, tipu muslihat, daftar hitam, paranoia presiden, rekaman ilegal dan kata-kata yang dihapus (mengingatkan kita pada pembukaan rekaman Anggodo Widjojo dengan beberapa oknum aparat penegak hukum kelas atas di Mahkamah Konstitusi (MK), juga rekaman pemeriksaan Antasari Azhar dan Wiliardi Wizar yang terkesan dipotong).

Akibat skandal megaheboh jelang pemilihan presiden 1972 itu pula Richard Nixon jadi presiden pertama, dan sejauh ini satu-satunya, yang mengundurkan diri dari jabatannya.