Meniti Alur Imajinasi
Nikmati, Pahami, dan Beraksi
Wednesday, January 04, 2012
Menelusuri Fondasi Setia Hati
di
8:28:00 AM
![]() |
| Ki Ngabehi Surodiwiryo |
Setia Hati bisa disebut sebagai organisasi yang lengkap. Mengajarkan bagaimana cara keluar dari permasalahan hidup, dengan menggabungkan kebutuhan jasmani dan rohani. Dua kebutuhan itu lalu dilebur dalam gerak indah untuk pertahanan diri, yang akhirnya diberi nama pencak silat. Pencak silat dalam arti untuk pertahanan lahir batin, bukan untuk gubrak-gabruk adu fisik.
Adalah Ki Ngabehi Surodiwiryo yang punya inisiatif untuk melahirkan ajaran Setia Hati. Di Jl Gajah Mada No 41, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, ajaran ini mulai diperkenalkan oleh pria flamboyan yang akrab disapa Eyang Suro itu pada khalayak pada tahun 1903.
Thursday, December 15, 2011
Pohon Mangga di Depan Rumah
di
11:54:00 AM
SEISI kampung tahu kalau pohon mangga di depan rumah, yang ditanam Bapak lebih dari sepuluh tahun lalu itu, adalah pohon paling dahsyat. Setiap kali berbuah, selalu saja bikin keki yang melihat. Mangganya gumandul, sangat lebat. Bahkan bisa saja jumlah buahnya nyaris sama dengan daunnya.
Antara dua-tiga bulan lalu adalah puncaknya musim mangga. Pohon di depan rumah begitu seksi. Sangat menggoda. Tetangga kanan-kiri pada melirik. Orang luar kampung yang melintas di depan rumah selalu menancapkan pandangan pada pohon itu. Mereka terkesima.
Saudara-saudara dan sahabat pun demikian. Jauh-jauh mereka datang, berkumpul, bersenda gurau, berbagi cerita di rumah kecil kami ini sambil menyinggung-nyinggung mangga yang begitu wah itu. Karena mangga itu tidak mungkin habis kami makan sekeluarga, kami membagikannya.
Bapak tidak pernah berniat menjualnya, padahal tak cuma sekali-dua kali pemborong menawarnya. Kata Bapak, mangga itu adalah rezeki yang harus dibagikan, bukan diuangkan.
Tuhan menumbuhkan mangga itu untuk merekatkan dan mengikat persaudaraan. Saudara dalam bentuk luas, yaitu orang-orang yang mau bersama kita, siapapun itu; saudara kandung, kerabat, tetangga, kawan, kenalan, rekan kerja, siapapun itu. Kerekatan itu bisa dibangun dengan berbagi. Salah satu caranya, membagikan buah musiman tersebut.
Antara dua-tiga bulan lalu adalah puncaknya musim mangga. Pohon di depan rumah begitu seksi. Sangat menggoda. Tetangga kanan-kiri pada melirik. Orang luar kampung yang melintas di depan rumah selalu menancapkan pandangan pada pohon itu. Mereka terkesima.
Saudara-saudara dan sahabat pun demikian. Jauh-jauh mereka datang, berkumpul, bersenda gurau, berbagi cerita di rumah kecil kami ini sambil menyinggung-nyinggung mangga yang begitu wah itu. Karena mangga itu tidak mungkin habis kami makan sekeluarga, kami membagikannya.
Bapak tidak pernah berniat menjualnya, padahal tak cuma sekali-dua kali pemborong menawarnya. Kata Bapak, mangga itu adalah rezeki yang harus dibagikan, bukan diuangkan.
Tuhan menumbuhkan mangga itu untuk merekatkan dan mengikat persaudaraan. Saudara dalam bentuk luas, yaitu orang-orang yang mau bersama kita, siapapun itu; saudara kandung, kerabat, tetangga, kawan, kenalan, rekan kerja, siapapun itu. Kerekatan itu bisa dibangun dengan berbagi. Salah satu caranya, membagikan buah musiman tersebut.
Wednesday, December 14, 2011
Situs Berita-Jejaring Sosial dalam Satu Paket
di
12:54:00 PM
ANDA ingin menjadi jurnalis? Melaporkan banyak hal yang terjadi di sekitar Anda? Menganalisa, mungkin? Atau beropini? Bahkan menambah jaringan pertemanan? Meleburlah bersama adakita.com. Situs yang lahir di sebuah kota kecil tapi dinamis, di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah bernama Madiun.@dakita.com adalah sebuah portal yang menggabungkan dua tren pola komunikasi yang sedang digandrungi di dunia maya: situs berita dan jejaring sosial. Menu utama @dakita.com memang layaknya sebuah portal berita. Eits, tapi jangan salah. Berita yang kita sajikan di sini bukan hanya informasi yang diproduksi oleh internal situs, tapi lebih diutamakan dari pengunjung @dakita.com.
Semua bisa menyumbang informasi apa saja tentang semua hal yang mungkin penting bagi banyak orang tapi luput dari bidikan wartawan. Dan inilah yang disebut dengan citizen journalism, jurnalisme yang melibatkan publik untuk berperan aktif.
Wednesday, September 28, 2011
Syarat Administrasi
di
5:48:00 PM
Ini cerita dari sebuah kota kecil.
Sebut saja namanya Pipit. Umurnya 3 tahun. Bocah yang masih dalam tahap mengenal dunia ini kebetulan mbrojol dari rahim seorang ibu yang suaminya hanya berpenghasilan Rp 400 ribu per bulan. Sesuai dengan standar taraf hidup di Indonesia, keluarga Pipit hidup di bawah garis kemiskinan.
Suatu hari badan Pipit panas tinggi. Obat penurun panas yang dibeli bapaknya di warung pracangan tak mampu menurunkan panasnya. Tiga hari tiga malam Pipit tak bisa tidur tenang. Badannya digerogoti demam luar biasa. Kondisi yang sangat menyiksa untuk bocah seumuran dia.
Sebut saja namanya Pipit. Umurnya 3 tahun. Bocah yang masih dalam tahap mengenal dunia ini kebetulan mbrojol dari rahim seorang ibu yang suaminya hanya berpenghasilan Rp 400 ribu per bulan. Sesuai dengan standar taraf hidup di Indonesia, keluarga Pipit hidup di bawah garis kemiskinan.
Suatu hari badan Pipit panas tinggi. Obat penurun panas yang dibeli bapaknya di warung pracangan tak mampu menurunkan panasnya. Tiga hari tiga malam Pipit tak bisa tidur tenang. Badannya digerogoti demam luar biasa. Kondisi yang sangat menyiksa untuk bocah seumuran dia.
Monday, September 26, 2011
Catatan Iseng Panas-panas
di
4:04:00 PM
Mindset keagamaan sekarang benar-benar mbeleset. Umat, yang mengaku sangat percaya Tuhan, malah sama sekali tak punya rasa takut pada dzat serba-Maha itu. Tapi lebih takut pada imam, se-mbeleset apapun ajarannya. Padahal, jelas-jelas seorang imam itu nggak ada apa-apanya dibanding Tuhan. Lha imam itu kan juga ciptaan Tuhan.Ini catatan kecil tentang ke-tak takut-an umat pada Tuhan, dan lebih memilih tunduk pada imam. Daripada jadi fitnah yang terkesan menjelek-jelekkan orang lain, saya contohkan saja diri saya sediri.
Tuesday, June 21, 2011
Seharusnya...
di
4:13:00 PM
DALAM situasi yang sama, setahun lalu mungkin saya akan mengumpat. Ya, karena menunggu adalah situasi yang paling tidak diharapkan. Apalagi tidak jarang menunggu itu harus berakhir dengan kecewa. Menunggu naskah yang tak jarang harus hadir dalam bentuk yang “mengerikan” kendati dalam proses pengerjaannya sudah terkawal penuh.
Tapi itu setahun lalu. Saat ini saya memilih untuk bersyukur dan bersabar. Toh, barangkali “anak-anak” masih mendapat rintangan di lapangan, persis seperti yang pernah saya alami di masa-masa itu. Maka dari itu, kini adalah saat yang tepat untuk memahami mereka, dan belajar untuk bersabar menghindari marah.
Tapi itu setahun lalu. Saat ini saya memilih untuk bersyukur dan bersabar. Toh, barangkali “anak-anak” masih mendapat rintangan di lapangan, persis seperti yang pernah saya alami di masa-masa itu. Maka dari itu, kini adalah saat yang tepat untuk memahami mereka, dan belajar untuk bersabar menghindari marah.
Subscribe to:
Posts (Atom)


